
Setelah beberapa hari, berita menghebohkan tersebut mulai sedikit mereda, meski masih banyak orang yang membicarakan tentang pengadopsian Yuriel di internet.
Suasana di sekolah Liyuna pun sudah mulai kondusif. Orang-orang sudah tidak memperhatikan Yuriel seperti beberapa hari yang lalu dan tidak mengucilkannya karena jika dilihat dari sikap Liyuna yang dekat dengannya, hubungan mereka pasti tidak seburuk pemberitaan.
Terlihat sekali kalau Liyuna sangat menyayangi dan menghargai Yuriel. Yuriel pun juga sama, ank dengan wajah bak malaikat itu juga tidak memiliki kesan yang buruk selain statusnya. Dia terlihat sangat ramah dan selalu sopan pada siapapun. Jika dilihat dari manner-nya, tidak akan ada yang mengira kalau dia adalah anak adopsi. Yuriel memiliki aura seperti anak yang terlahir dalam keluarga elit.
Saat semua anak kelas dua sudah duduk rapi di ruang kesenian. Seperti biasa, Yvette mencari tempat duduk disebelah Liyuna, begitu juga dengan Yuriel. Dia tidak ingin berjauhan dengan kakaknya dan ingin berada di dekatnya.
Liyuna asli adalah orang sangat sangat pandai melukis, bahkan berdasarkan cerita dalam game, dia sering mengadakan pameran kesenian. Namun Liyuna yang sekarang tidak terlalu bisa melukis, lukisannya tidak buruk namun juga tidak bisa dibilang bagus karena dia lebih bisa menggunakan tangannya untuk kerajinan atau pun menjahit.
Untung saja dia mengambil alih tubuh Liyuna sebelum dia bisa menunjukkan keahliannya dalam melukis, jadi tidak akan ada yang curiga padanya.
Hari ini, guru kesenian di sekolah Liyuna meminta mereka untuk melukis sesuatu yang menurut mereka berkesan.
"Lukisan kalian harus memiliki arti atau alasan mengapa kalian melukis hal itu."
Guru kesenian kembali memperjelas instruksi yang sebelumnya sudah ia berikan. Hari ini sedikit berbeda dari biasanya, dia ingi muridnya melukis sesuatu yang memiliki arti khusus untuk si pelukis.
"Jika sudah selesai, kalian bisa menulis maksud dari lukisan kalian di kertas dan mengumpulkannya di meja depan."
"Baik, kami mengerti Bu Guru."
Semuanya berucap bersamaan. Seni adalah hal paling dasar yang biasanya dimiliki para Nona dan Tuan Muda dari keluarga kaya. Bisa dibilang, seni adalah hobi umum yang biasanya dimiliki oleh anak-anak yang berasal dari keluarga terpandang selain bermain alat musik. Jadi, tidak mereka tidak akan kesulitan untuk melukis sesuai permintaan sang guru.
"Yuna sudah tahu akan melukis apa?" Tanya Yvette, dia menyeret kursinya mendekat ke Liyuna.
"Aku belum tahu."
Liyuna memegang pensil untuk melakukan sketsa di kanvas, namun dia masih bingung ingin melukis apa. Sejak datang ke dunia ini, dia belum menemukan sesuatu yang membuatnya merasa terkesan.
Sama seperti Yvette, Yuriel juga sepertinya sedikit penasaran dengan apa yang akan Liyuna lukis.
"Bagaimana denganmu, Yuriel?"
Yuriel menatap Yvette sejenak, "Aku juga belum memutuskannya."
Yvette menghela napas panjang. Ia juga masih belum ada gambaran ingin melukis apa.
Ketika beberapa murid mulai membuat sketsa, ketiga orang ini masih belum menggerakkan tangan mereka. Namun, diantara ketiganya Yvette lah yang pertama kali menggerakkan tangannya untuk membuat sketsa. Ia teringat akan suasana liburan musim panas kemarin bersama dengan Liyuna. Laut yang indah dan juga udara yang sangat hangat, serta angin berhembus yang membuatnya merasa sangat nyaman.
Yvette memutuskan untuk melukis pantai ia lihat bersama dengan Liyuna saat itu.
Disisi lain, Liyuna juga mulai membuat sketsa. Sejak datang ke dunia Red String, ada satu hal yang sellau ia pikirkan dan memutuskan untuk menggambarnya. Itu bukanlah gambar yang sulit untuk dibuat.
Sedangkan Yuriel masih memikirkan konsep lukisan yang akan dia buat. Dia bingung sekaligus ragu untuk melukis apa yang saat ini sedang ia pikirkan. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Yuriel memutuskan untuk membuat sketsa. Meski itu akan mengingatkannya lada sesuatu yang sangat ingin ia kubur jauh-jauh dalam ingatan. Yuriel merasa dia harus menerimanya, sebanyak apapun ia berusaha, ingatan itu tidak akan hilang. Karena itu lah, dari pada susah-susah menghapusnya dari ingatan lebih baik ia menerima dan mencoba untuk hidup berdampingan dengan ingatan tersebut.
Liyuna mulai menggores kanvas kosong yang ada dihadapannya dengan pensil. Ia mulai membuat sketsa tipis yang nantinya akan ia warnai dengan cat akrilik yang sudah disediakan oleh sekolah.
Suasana di ruang kesenian sangatlah tenang karena semua murid fokus pada apa yang sedang mereka kerjakan. Yang terdengar hanyalah suara AC yang menyala dan suara gesekan antara kanvas dan pensil.
Kanvas yang tadinya berwarna putih bersih kini mulai tergores warna abu-abu dari pensil. Guru kesenian terlihat berputar-putar untuk melihat hasil sketsa murid-muridnya. Sebagai seorang guru kesenian di sekolah ternama, dia merasa sedikit terkejut dengan kemampuan anak-anak yang diajarnya. Hampir semua bisa menggambar dengan baik, mungkin ada beberapa yang terlihat kurang namun masih berada di atas kemampuan anak seumuran mereka.
Pendidikan untuk anak-anak di sekolah ini memang sangat lah luar biasa. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal sulit sejak kecil dan seni bisa dijadikan hobi belaka. Jika berbicara secara jujur, seni bukanlah sesuatu yang murah. Semua alat yang digunakan memiliki harga yang cukup tinggi, hal ini tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang ekonominya tidak berkecukupan. Meski begitu, seni juga bisa dilakukan dengan apapun karena itu lah semua orang yang menyukainya dengan sepenuh hati pasti bisa melakukannya dengan baik meski tidak memakai barang yang mahal.
Liyuna mulai menuangkan cat akrilik ke palet yang terbuat dari kayu. Ia mulai bermain-main dengan warna.
Tidak hanya Liyuna saja, Yuriel dan Yvette juga terlihat sudah memasuki tahap pewarnaan.
Seperti biasa, Yvette yang memiliki banyak tenaga dengan semangat melihat lukisan milik Liyuna. Dia sedikit terkejut melihat Liyuna hanya menggambar sebuah benang wol yang tergulung.
"Benang wol?" Tanya Yvette penasaran.
"Benar, lukisan ini menandakan sebuah hubungan yang terikat." Jelas Liyuna.
Liyuna tidak ingin menjelaskan secara detail tentang maksud dari lukisannya karena apa yang ia lukis melambangkan dunia yang saat ini ia masuki, dunia Red String. Benang wol merah yang tergulung melambangkan dunia yang kini menjadi realitanya dan benang yang mungkin saja mengikat takdirnya.
"Ternyata Yuna memiliki pemikiran yang unik, ya."
"Kamu sendiri melukis apa?" Liyuna menggeser kursinya mendekat kearah Yvette.
Yvette melukis pemandangan laut yang begitu menyegarkan, mengingatkannya pada pantai yang pernah mereka kunjungi musim panas lalu.
"Ini mengingatkanku pada liburan musim panas kemarin."
"Benar sekali! Liburan kemarin sangat membekas diingatan ku, makanya kau melukis laut."
Liyuna dan Yvette bernostalgia tentang liburan mereka kemarin sebelum akhirnya memutuskan untuk menengok karya buatan Yuriel.
Wajah Liyuna terlihat sangat terkejut ketika melihat lukisan Yuriel, begitu juga dengan Yvette. Mereka tidak menyangka gadis seceria Yuriel menggambar sesuatu yang suram seperti ini.
Dalam lukisan Yuriel, terlihat seorang wanita berambut hitam yang wajahnya tak di gambarkan karena tertutup oleh poni sedang berdiri di tengah kanvas. Kedua tangannya menyatu di perut karena terikat oleh tali merah yang menyambung ke lehernya. Mata wanita itu terlihat meneteskan air mata darah yang menambah kesan horor.
"Yuri..." Panggil Liyuna dengan suara lembut.
Yuriel menengok kearah Liyuna, "Ada apa kak?"
"Kenapa kau menggambar sesuatu seperti ini?"
Paham dengan maksud Liyuna, Yuriel segera menjelaskan maksud dari lukisannya.
"Wanita dalam lukisan ini adalah seseorang yang aku kenal. Selama hidupnya dia selalu terikat dengan sebuah penderitaan, dia tidak bisa bergerak leluasa meski memiliki segalanya."
Mendengar penjelasan Yuriel, entah kenapa Liyuna merasa sedih. Baginya yang dulu adalah seorang player, dia memahami semenderita apa Yuriel dalam game. Liyuna juga yakin wanita dalam lukisan tersebut tak lain adalah Yuriel sendiri. Dia pasti sedang menggambarkan tentang dirinya sendiri. Liyuna merasa sedih dan tanpa sadar memeluk Yuriel.
Dalam hatinya dia mengutuk developer game yang senang sekali membuat tokoh protagonis menderita.
"Maaf jika aku membuat kakak takut."
Berbeda dengan Liyuna yang berpikir bahwa lukisan itu adalah Yuriel sendiri, Yvette yang sejak tadi melihat lukisan Yuriel masih merasa tidak percaya.
Kedua matanya terlihat melebar dan bergetar.
'Dibandingkan dengan Yuriel, bukan kah wanita itu lebih mirip dengan Yuna?'
Yvette bergidik ngeri ketika menyadari apa yang barusan ia pikirkan. Tidak mungkin anak sebaik Yuriel menggambar Liyuna dengan tema segelap itu. Iya, itu pasti hanya kebetulan.
Yuriel tidak mungkin mengharapkan kemalangan datang pada Liyuna, benar bukan? Karena Yuriel adalah adik yang disayangi olehnya.
**TBC
^^^Next:^^^
^^^Chapter 47 - Luka yang Dimilikinya^^^