
Kediaman Ravenray sangatlah tenang malam ini. Tidak ada satu pun pelayan maupun pekerja yang menimbulkan banyak suara. Tuan Muda mereka adalah orang suka suka keheningan. Jika ada sedikit suara yang menganggu, itu akan memperlambat kinerjanya.
Semua orang yang bekerja untuk keluarga Ravenray mengakui kehebatan Tuan Muda mereka, Altzion Ravenray. Meski masih sangat muda, dia adalah orang yang cakap dalam segala hal yang ia tangani.
Beberapa tahun yang lalu, kediaman Ravenray dikejutkan oleh kedatangan Tuan Muda Allen dan semenjak saat itu, Ravenray mulai berubah. Zion yang bisanya bersikap tenang dan rasional terlihat seperti orang yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menyalahkannya. Saat itu, Zion adalah remaja yang biasa yang belum bisa mengontrol perasaannya. Meski sejak insiden itu terjadi Zion mulai berubah, Allen tetap tidak bisa melupakan apa yang telah dia lakukan saat itu. Kebencian yang ada di hatinya, tidak bisa hilang begitu saja.
Dan dosa yabg telah Zion perbuat tak akan terhapus dengan mudah. Itu adalah dosa yang harus dia tanggung seumur hidup. Tidak peduli saat itu dia masih muda atau tidak, tindakannya adalah sesuatu yang benar-benar pernah terjadi.
Zion terlihat melepas blazer seragamnya dan menaruhnya di atas sofa kecil di sudut kamarnya. Dia menatap ke cermin dan melepas dasinya, membuangnya sembarangan di lantai.
Setelah melonggarkan kerah kemejanya, dia menjatuhkan tubuhnya keatas kasurnya yang empuk. Kedua matanya tertutup, dari wajahnya terlihat bahwa dia sedang letih.
Ia berencana untuk istirahat sebentar sebelum makan malam dan belajar, namun sepertinya keadaan tidak mengizinkannya untuk bersantai sedikit pun.
Ipad-nya tiba-tiba menyala dan suara dering telepon terdengar. Meski merasa lelah, Zion tetap harus mengangkat telepon tersebut. Ia berdiri dan duduk di kursi belajar dan menerima panggilan.
Ketika panggilan sudah tersambung, Zion bisa melihat wajah ayahnya yang terlihat duduk di kursi kerja. Kedua tangannya bertautan, memberi kesan serius di wajahnya.
"Selamat pagi, Ayah." Zion menyapa ayahnya dengan suara datar.
Jam di kamarnya menunjukkan pukul 8 malam, namun untuk Eldo yang berada di Kanada, di sana sudah pagi karena perbedaan waktu di kedua tempat.
"Aku baik-baik saja. Ada urusan apa Ayah menghubungiku?"
"Urusan bisnis di Kanada mungkin akan selesai sekitar 4 atau 5 tahun lagi. Ayah akan di Kanada sampai semua selesai, tapi tahun depan Ibu mu akan pulang."
"Bagaimana dengan Allen?"
"Dia akan disini sampai semua selesai, hanya Ibu mu yang akan pulang ke Elisien."
"Baik, aku mengerti."
Meski ayah dan anak itu terlihat kaku dan tidak terlalu dekat, pada kenyataannya mereka cukup akur. Eldo sangat mempercayai Zion dan selalu berbagi informasi tentang perusahaan padanya. Menurut Eldo, Zion adalah orang yang cakap dan mudah beradaptasi karena itu lah dia yakin suatu hari nanti Raven Group akan berada di tangan yang tepat.
"Ngomong-ngomong kau sudah memutuskan akan melanjutkan dimana?"
"Aku sudah memutuskannya."
"Aku mempercayai keputusanmu."
Eldo tidak perlu tahu keputusan apa yang diambil oleh Zion. Dia tahu kalau Zion pasti akan mengambil jalan yang terbaik karena sejak kecil dia sudah diajarkan untuk mengambil keputusan terbaik tanpa melibatkan perasaan dan selama ini Zion berhasil melakukannya.
Tidak, mungkin hanya sekali dia gagal melakukannya. Zion pernah kehilangan kendali atas emosinya dulu sekali dan sejak saat itu, dia tidak pernah menunjukkan kelemahan. Ya, insiden itu mungkin adalah kegagalan terbesar yang pernah Zion perbuat.
"Terima kasih sudah mempercayai keputusanku."
Zion hendak mengakhiri pembicaraan dan menutup sambungan, namun ia mengurungkan niat ketik mengingat berita yang cukup menghebohkan akhir-akhir ini.
"Ayah sudah mendengar berita tentang Castris?"
"Aku baru saja mendengarnya. Castris melakukan pergerakan aneh."
"Benar, menurutku juga pergerakan Castris sangatlah aneh."
"Apa mereka telah melakukan konfirmasi secara resmi?"
"Mereka belum melakukannya?"
"Bagaimana dengan media di sana?"
"Semuanya kacau karena berita tersebut. Apa lagi Castris tidak mengambil tindakan untuk meredam berita tentang mereka, semua semakin menjadi jadi."
Apa yang Zion katakan adalah kebenaran. Castris sama sekali tidak mencoba untuk meredam berita mengenai mereka. Tidak ada tanda-tanda bahwa Castris akan membungkam media, itu lah yang membuat semuanya semakin aneh. Berita ini sudah seperti arang yang mencoret nama baik Castris, namun Karl sebagai Kepala Keluarga tidak melakukan tindakan pencegahan, seolah mereka sengaja membuat kehebohan.
"Sepertinya sesuatu telah terjadi di Castris." Ucap Eldo, ia terlihat sedang sangat serius. Kedua alisnya mengerut, menandakan bahwa dia sedang berpikir keras.
"Belum ada informasi apapun selain yang telah diberitakan. Tapi aku setuju dengan Ayah. Tuan Karl bukan orang yang akan bertindak sembarangan."
"Aku tidak bisa memastikan semuanya secara langsung, kau awasi Castris. Jika mereka bergerak, segera hubungi aku."
"Aku mengerti."
Pembicaraan mereka hanya sampai di situ saja, Zion langsung memutus sambungan.
Ia terlihat berjalan kearah lemari yang ada di kamarnya dan melepas kemeja yang ia kenakan lalu melemparnya di keranjang tempat baju kotor yang sudah ia pakai.
Ketika memakai seragam, ia tidak terlihat seperti seseorang yang memiliki tubuh kuat namun ketika semua atasan yang ia kenakan terlepas, badannya terlihat sangat bagus karena sering berolahraga. Ia memiliki otot kuat di tangan dan dada bidangnya. Ia juga memiliki abs yang terbentuk dengan sangat bagus.
Zion memilih baju tidur yang terbuat dari satin yang lembut dan nyaman dipakai. Setelah berbicara dengan ayahnya, ia menjadi lebih penasaran tentang pergerakan Castris.
Selama ini dia menemukan hal yang mencurigakan tentang Castris. Keluarga yang selama ini jauh dari skandal itu menyembunyikan sebuah fakta yang tidak banyak orang ketahui namun Zion berhasil mengulik informasi tersebut. Meski itu adalah berita lama yang jejaknya telah terhapus, Zion yakin bahwa apa yang ia temukan berhubungan dengan tindakan yang Karl lakukan.
Insiden pengeboman Havelian Park adalah suatu kesengajaan yang dilakukan untuk memperingatkan seseorang. Kematian pelaku juga telah di rencanakan oleh seseorang. Lalu, jika disambungkan dengan insiden kecelakaan lain yang sering terjadi ...
"Semua mengarah pada satu titik." Gumam Zion lirih.
Ada seseorang yang diincar. Meski itu bukan Ravenray, namun Zion tidak bisa mencoret kemungkinan kalah Ravenray bisa saja terlibat. Keluarganya berada di nomor dua setelah Castris dan memiliki pengaruh yang cukup besar, tak kalah dengan Castris. Jika yang pelaku yang sebenarnya mengincar orang-orang dari kalangan atas, meski Zion tidak menyukainya, Ravenray pasti akan ikut terseret dan dia harus mencegah hal itu.
Tapi semua akan menjadi sulit karena dia akan melanjutkan studi di Luar Negeri.
Zion terlihat berjalan menuju meja belajarnya dan membuka tasnya. Ia mengambil surat undangan dari universitas ternama di Inggris. Jika dia menerima undangan tersebut itu artinya penyelidikannya harus berhenti, namun ia tidak bisa tinggal di Elisien karena ada sesuatu yang juga harus ia lakukan di Inggris.
Zion telah memantapkan pilihannya. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan goyah. 4 tahun, hanya 4 tahun saja. Ia berharap semua masih dapat dikendalikan ketika dia kembali ke Elisien.
Saat itu, Zion tidak tahu kalau pilihannya akan mengubah alur dari cerita yang telah di tentukan. Pilihan yang ia buat mengarahkan Ravenray pada insiden berdarah yang menghebohkan seluruh negeri dan menjadi titik awal dari semua tragedi yang akan terjadi.
TBC
^^^Next:^^^
^^^Chapter 46 - Wanita dalam Lukisan^^^