Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 20 - Yuda Harvenhelt



Terdapat banyak sekali keluarga elit yang tinggal di Elisien. Tiga keluarga besar yang digadang-gadang sebagai keluarga terelit dari keluarga elit lainnya pun juga di tinggal di kota ini. Castris, Ravenray, dan juga Harvenhelt adalah nama keluarga yang paling dikenal masyarakat. Hampir setiap saat, marga-marga tersebut selalu berlalu lalang di layar televisi. Jadi, tidak aneh jika orang


bias apun juga mengenal mereka.


Kehidupan di kota Elisien cukup keras untuk orang yang tidak memiliki mental baja. Setelah menginjakkan kaki disini, semua akan menjadi pertarungan. Entah itu tentang harta, kecerdasan, maupun kreativitas. Masyarakat yang hidup di kota ini sangat kompetitif. Contoh gamblangnya, bisa kita lihat anak-anak SD yang sudah melakukan ini itu dari pagi hingga sore. Namun, semua itu sebanding dengan apa yang bisa didapatkan. Jika bis bertahan, maka kalian tidak akan kekurangan uang. Keluarga elit akan mempekerjakan kalian dengan gaji yang tinggi.


Tiga keluarga terelit di Elisien, tinggal di daerah area yang sama. Meski rumah mereka memiliki jarak yang cukup jauh karena ukuran dan juga tanah mereka yang benar-benar luas.


Kediaman Harvenhelt berdiri kokoh di tengah kota yang padat. Mansion dengan arsitektur keeropaan itu terlihat sangat mencolok karena warnanya, putih dan emas. Paduan warna yang terlihat sangat elegan.


Sejak tadi tadi pagi, Yuda hanya bersantai-santai tanpa melakukan apapun. Dihari minggu seperti ini, dia tidak ingin melakukan apapun. Ia hanya ingin bermalas-malasan sambil memakan cemilan.


Yuda mengambil keripik kentang dan memakannya perlahan, dia juga tiduran di sofa ruang tamu dengan sangat tidak elit. Seperti itulah sifat Yuda yang sebenarnya. Di luar dia terlihat sangat sopan dan berwibawa, namun dirumah dia terlihat sangat acak-acakan. Memang sangat mengejutkan, tetapi Yuda tidak terlalu ingin terkekang jika berada di luar rumah karena dia ingin menjadi diri sendiri, setidaknya ketika ia tidak di depan banyak orang.


Tiba-tiba seorang pria duduk di sofa depan Yuda. Dia terlihat melonggarkan dasinya dan menghela napas lelah. Tas yang tadi ia bawa ditaruh di meja yang terbuat dari kaca. Yuda tetap memasang wajah tidak peduli ketika melihat kakaknya yang kelelahan bekerja.


Kraus... Kraus...


Yuda memakan keripik kentang dengan kasar hingga menimbulkan suara. Kakaknya yang mendengar hal itu melihatnya dengan tatapan menilai, tetapi Yuda tidak peduli.


"Tumben pulang cepat." Ucap Yuda berkomentar.


"Kasus yang ku tangani sudah selesai, jadi aku langsung pulang."


Ren adalah pengacara kondang yang dikenal banyak orang. Klien yang dia tangani pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari politikus, pengusaha, pejabat, dan masih banyak lagi. Namanya masuk dalam jajaran pengacara yang menyelesaikan banyak kasus dengan sempurna, maka tidak heran jika Yuda merasa aneh melihat kakaknya yang sangat sibuk itu pulang cepat.


"Ngomong-ngomong sudah dengar beritanya?" Tanya Yuda sembari mengubah posisi tidurnya. Kini dia duduk dengan kedua kaki menyilang di atas sofa, tentu saja tidak lupa dengan keripik yang terus masuk ke mulutnya.


Mendengar pertanyaan dari Yuda, Ren sedikit berpikir. Tentu saja dia sangat tahu tentang berita mengejutkan yang terjadi akhir-akhir ini. Ya, apa lagi kalau bukan insiden pengeboman Havelian Park. Insiden itu menewaskan ratusan orang dan juga membuat puluhan orang lainnya terluka. Semua orang terkejut ketika mendengar berita itu karena Havelian Park adalah taman hiburan yang baru beberapa minggu di buka. Namun sampai sekarang, pelaku pengeboman belum bisa ditemukan karena ia kabur entah kemana. Tapi Ren yakin bahwa polisi pasti dapat menangkap kriminal itu dengan cepat


"Tentu saja, siapa yang tidak tahu tentang itu. Insiden itu membuat banyak orang membicarakannya."


Melihat reaksi Ren yang biasa saja membuat Yuda sedikit mengerutkan dahinya.


"Apa kau tidak berpikir insiden itu aneh?" Tanya Yuda kembali memancing.


"Aneh? Apanya yang aneh. Pelaku pengeboman pasti punya dendam terhadap keluarga Elian atau semacamnya."


Mendengar jawaban kakaknya, Yuda menjadi sedikit kecewa. Bagaimana mungkin seorang pengacara kondang seperti memiliki pikiran sempit seperti ini.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Sudah jelaskan, pelaku menargetkan taman hiburan yang baru saja dibuka, jika bukan karena dendam kenapa juga dia melakukan hal seperti itu. Dia pasti berpikir jika Havelian Park di bom, Elian akan mengalami kerugian."


"Yah, itu tidak salah sih, aku yakin Elian akan kehilangan banyak uang karena masalah ini."


"Ya, mereka memintaku untuk membantu mengurusi uang santunan untuk para korban. Pekerjaanku jadi bertambah, huft."


"Kau ingin ku pukul?!"


Yuda mengabaikan ancaman Ren dan kembali fokus pada keripik kentang yang ada ditangannya. Saat ini otaknya memikirkan banyak sekali skenario yang mungkin berhubungan dengan insiden ini.


"Ah, tapi... kalau kita lihat dari banyaknya insiden yang terjadi setahun belakangan, bukan kah aneh jika insiden-insiden buruk terus saja terjadi di Elisien?" Yuda kembali menanyakan apa yang ada dipikirannya saat ini. Instingnya berkata semua bukanlah kebetulan dan biasanya, instingnya tidak pernah meleset.


"Itu kan hanya kecelakaan yang bisa saja terjadi dimana pun, apanya yang aneh dengan itu. Manusia kan tidak bisa mengatur segala hal dengan sempurna."


"Maksudku itu, bagaimana jika semua insiden yang terjadi di sengaja?"


"Disengaja? Kau terlalu banyak membaca buku komik."


Mendengar kakaknya yang sedari tadi memberi respon negatif terhadap pendapatnya membuat Yuda makin kesal. Beraninya dia menganggap opini Yuda angin lalu.


"Bisa saja kan? Toh, insiden yang terjadi selalu melibatkan keluarga kalangan elit. Bagaimana jika ada pelaku dibalik semua ini dan menargetkan seseorang?"


"Maksudmu, insiden ini terjadi karena seseorang sedang ditargetkan?"


"Iya, bisa jadi begitu kan? Lagi pula semua terlihat janggal jika diperhatikan secara seksama."


Ren terlihat sedikit memikirkan perkataan Yuda. Meski ada kemungkinan seperti itu, Ren tidak ingin mempercayainya karena menurutnya orang gila macam apa yang berani main-main di kawasan milik para elitis Elisien. Jika memang ada dalang dibalik semua ini, orang itu pasti akan segera mati karena diburu.


"Sudahlah, jangan mengada-ada. Kau fokus saja pada belajarmu, jangan banyak membaca komik detektif."


"Aku kan memang ingin jadi detektif."


"Iya, iya. Tapi itu kan masih nanti, entah kapan akan terwujud."


Yuda yang merasa diremehkan Ren merasa sangat kesal. Yuda akan membuktikan bahwa dia bisa menjadi seorang detektif diusia muda dan menjadi detektif yang paling disegani. Lagi pula, Ren juga tidak lebih baik darinya. Meski dikatakan pengacara yang selalu menyelesaikan kasus dengan sempurna, dia tidak memiliki insting yang kuat jika ada sebuah kasus. Jadi, Ren tidak berhak mengatai Yuda seperti itu.


Untuk meredam kekesalan, Yuda kembali tiduran di sofa. Dia meletakkan plastik keripik kentang yang sudah habis dan mengambil ponselnya untuk bermain game. Ren pun juga hanya duduk saja dan menaruh jas yang tadi ia pakai di atas meja. Hubungan kakak adik ini tidaklah buruk, namun mereka juga sering saling menyerang karena Ren tidak terlalu suka dengan sifat santai Yuda dirumah. Sedangkan Yuda, tidak suka sifat Ren yang selalu serius dan instingnya selalu off.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Ren berdering. Dia diminta untuk kembali ke firma hukum karena ada urusan mendadak. Tentu saja, firma hukum tersebut milik keluarga mereka, Harvenhelt.


"Aku akan kembali ke firma hukum." Ucap Ren memberitahu Yuda yang sedang bermalas-malasan dan sibuk dengan ponselnya. Ren segera memakai kembali jasnya dan menenteng tas yang tadi ia taruh di meja.


"Oke." Balas Yuda tidak peduli.


Melihat kelakukan Yuda, Ren hanya bisa menghela napas. Ia benar-benar tidak tahan dengan sikap adiknya yang satu ini. Padahal saat di luar rumah, dia selalu bisa menjaga sikap dengan baik. Tetapi saat di dalam rumah, sikapnya berubah 180°. Ren benar-benar tidak habis pikir kenapa Yuda bisa seperti itu.


Setelah Ren pergi, Yuda kembali ke kamarnya untuk tidur siang.


TBC