Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 117 - Noel dan Panti Astraea



23 tahun yang lalu...


Saat itu, salju turun dengan begitu lebat. Langit malam yang begitu gelap terasa sangat kelam.


Udara dingin terasa sangat tajam, menusuk sampai ke tulang-tulang.


Di depan pintu asuhan Astraea, terlihat seorang anak berumur 10 tahun. Ia berdiri di depan pintu masuk sembari memeluk seorang anak yang lebih kecil darinya.


Dilihat dari ciri fisik mereka yang mirip, kemungkinan besar mereka berdua adalah kakak adik. Sang kakak yang jauh lebih tua dari sang adik, memeluk tubuh kecil sang adik dengan erat. Ia berusaha membuat adiknya terlindung dari suhu udara yang sangat dingin.


Namun sepertinya apa yang dia lakukan sang kakak tidak berhasil. Terlihat kepulan asap ketika ia bernapas, memperlihatkan seberapa dingin udara malam ini.


Sang kakak menekan bel yang ada di pintu. Di tidak mengerti kenapa mereka harus menunggu di luar sampai berjam-jam padahal pihak panti sendiri yang menginginkan mereka untuk datang.


Sebenarnya kedua anak itu adalah penghuni pantai lain namun suatu hari seseorang datang dan mengadakan sebuah tes untuk anak-anak panti.


Noel yang saat ini mendapat penilaian tertinggi langsung diminta untuk pindah panti asuhan. Melihat dirinya akan pindah, Noel tidak bisa menerima begitu saja. Bagaimana pun juga dia memiliki seorang adik, dia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa adiknya.


Karena itulah ia meminta perwakilan dari panti Astraea untuk menerima adiknya juga. Setelah menyetujui permintaannya, Noel dengan senang hati pindah ke panti Astraea.


Noel ingat bagaimana ia pertama kali datang ke panti asuhan. Saat itu adiknya masih berumur 1 tahun, ia masih sangatlah lemah.


Kedua orang tuanya membuang mereka begitu saja. Mereka meninggalkan mereka di negara antah berantah yang tidak mereka kenal. Bahkan, saat itu Noel tidak bis berbicara menggunakan bahasa Zenis.


Dia yang saat itu masih berumur 9 tahun, tidak tahu harus berbuat apa selain pergi ke panti asuhan. Memanggil polisi pun percuma, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tuanya jika mereka kembali.


Jika ayah dan ibunya berani membuang mereka, itu berarti mereka tidak menginginkan dia dan adiknya. Mereka juga tidak akan peduli dengan apa yang akan terjadi dengan mereka.


Dan jika mereka kembali begitu saja, besar kemungkinan kedua orang tuanya akan melakukan tindakan yang lebih ekstrim.


Ya, lebih baik seperti ini. Tinggal di sebuah panti asuhan dan berlindung untuk sementara waktu.


Sejak dulu, Noel adalah anak yang cukup cemerlang. Kemampuan belajarnya sangatlah tinggi sehingga dia bisa dengan sangat mudah mempelajari bahasa Zenis. Hanya dengan satu tahun saja, Noel sudah bisa berbicara menggunakan bahasa Zenis dengan lancar.


Karena sudah lama berada di panti, Noel juga mendengar desas desus mengenai panti Astraea. Dikatakan, panti tersebut adalah panti asuhan terbaik di negara Zen karena sponsor mereka yang tidak main-main.


Keluarga konglomerat terkaya di Elisien lah yang membangun panti asuhan tersebut dan image mereka di depan publik sangatlah positif.


Hal inilah yang membuat Noel tidak ragu menerima tawaran untuk pindah panti asuhan. Jika dia pindah ke tempat yang lebih baik, maka adiknya bisa hidup dengan nyaman.


Saat itu, hanya pikiran seperti itulah yang selalu memenuhi pikirannya.


"Kalian sudah sampai?" Seorang wanita separuh baya membukakan pintu panti dan menyambut Noel. Dia memakai baju tebal yang sangat hangat, rambutnya dia kuncir kebelakang, menampakkan dahinya yang tak tertutup sehelai rambut pun.


"Selamat datang." Ucap wanita itu.


Dia tersenyum dengan begitu ramah dan mempersilahkan Noel untuk segera masuk. Wanita itu membawanya ke kamar dimyang akan  dia tempati.


"Apa kau tahu kenapa panti ini dinamakan Astraea?"


Noel menggelengkan kepala perlahan karena tidak tahu kenapa panti ini dinamakan Astraea.


"Kau tahu, Astraea adalah nama seorang Dewi Keadilan. Panti ini diberi nama yang sama dengan Dewi tersebut dengan tujuan untuk memberi keadilan pada anak-anak kurang beruntung sepertimu." Wanita itu menjelaskan apa maksud dari nama Astraea dengan sangat bersemangat.


"Jika ku bisa mengikuti semua peraturan yang ada di panti, aku yakin suatu hari nanti kau bisa mendapatkan banyak hal."


Wanita itu berhenti di salah satu pintu dan membukanya, menampakkan isi kamar yang sangat rapi dan bersih. Ada dua kasur di kamar tersebut dan sepertinya itu adalah kamar untuk Noel dan adiknya.


"Ini adalah kamar yang akan kau tempati dengan adikmu. Oh ya, aku adalah pengurus panti ini. Namaku, Elijah."


Ketika Noel sudah masuk ke dalam kamar, Elijah langsung menutupnya.


Noel menidurkan adiknya di kasur yang empuk dan hangat. Setelah memasuki kamar ini, Noel jadi tahu mengapa panti ini disebut sebagai panti terbaik.


Dilihat dari fasilitas dan bangunannya saja, panti ini jauh lebih bagus dari panti yang sebelumnya ia tempati.


Karena hari sudah malam, Noel merebahkan tubuhnya di kasur sebelah. Malam itu ia tidur dengan sangat nyenyak tanpa memimpikan apapun.


Keesokan harinya, Noel terbangun karena mendengar suara bel berbunyi. Ia dapat mendengar suara langkah kaki anak-anak pantai lainnya. Ketika membuka pintu, dia melihat banyak sekali anak panti yang berjalan di arah yang sama.


"Permisi, ini mereka akan pergi kemana?" Noel bertanya pada salah satu anak panti yang berjalan melewati kamarnya.


Anak itu menatap Noel dengan tatapan tidak percaya. Namun ia dengan cepat kembali memasang wajah tenang ketika melihat Noel yang masih memakai baju biasa.


"Bel yang barusan berbunyi adalah pemberitahuan untuk mengikuti tes harian."


"Tes harian?"


"Kau anak baru, ya? Lebih baik kau ikut dengan kami dan mengikuti tes. Setelah itu pergilah ke ruang kepala pengurus panti dan minta seragam."


Noel terlihat bertanya-tanya mendengar penjelasan dari anak tersebut namun anak itu sepertinya tidak ingin menjelaskan lebih jauh.


Sesampainya di ruang tes, Noel dapat melihat ada banyak sekali anak panti yang sudah duduk di meja masing-masing. Di hadapan mereka ada gadget dan stilus pen untuk menulis. Di samping mereka juga ada headphone yang tertata dengan rapi.


Ketika melihat anak-anak lain yang sudah duduk rapi di meja, Noel mulai menyadari sesuatu.


Semua anak di panti memakai baju yang sama, sebuah kemeja dengan krah biru muda dan juga celana dan rok berwarna senada.


Melihat hal itu, Noel langsung tahu bahwa itu adalah baju seragam. Anak yang tadi ia tanya juga menyebutkan sesuatu tentang seragam.


Pandangan Noel teralihkan pada sebuah nomor yang ada di dada sebelah kanan anak-anak panti. Disana tertulis nama mereka dan juga sebuah nomor.


"Nomor absen?" Gumamnya.


Tidak ada penjelasan lain selain itu adalah nomor absen.


"Kenapa kau tidak duduk?" Tanya seorang pengawas yang baru saja datang.


Noel melihat kearah pengawas dengan wajah bertanya-tanya. Melihat Noel yang tidak memakai seragam, pengawas tersebut langsung tahu bahwa dia adalah anak yang baru saja masuk karena mustahil anak lama tidak mengikuti peraturan.


"Kau! Duduklah di tempat yang kosong itu." Ucap pengawas sembari menunjuk satu tempat duduk yang kosong.


Noel dapat merasakan atmosfir yang cukup tegang. Dengan cepat, ia mengikuti ucapan pengawas ruangan dan duduk di tempat yang kosong.


Tes hanya berjalan selama 2 jam. Setelah tes usai, anak-anak bisa melihat hasil mereka di papan nilai yang ada di luar ruangan.


"Ah, tidak! Nilaiku turun."


"Bagaimana mungkin aku peringkat bawah?"


"Bagaimana ini? Aku tidak ingin turun peringkat."


Noel dapat mendengar anak-anak lain yang terlihat sangat frustasi melihat hasil test mereka namun ada juga yang terlihat puas dan senang.


Noel melihat kearah layar dan mencari namanya.


"Peringkat 20." Ucapnya lirih.


Jumlah anak yang mengikuti ujian adalah 30, sedangkan Noel saat ini berada di peringkat 20. Baginya itu bukan peringkat yang bagus namun juga bukan peringkat yang buruk.


"Kenapa aku bis keluar dari peringkat dua puluh atas?"


"Aku tidak mau menjadi peringkat bawah."


Setelah melihat peringkatnya, Noel tidak terlalu memikirkannya dengan keras. Ia langsung pergi ke ruang ketua pengurus panti untuk meminta seragam seperti yang anak tadi katakan.


"Ini seragammu." Ketua pengurus panti memberikan dua seragam untuk Noel.


"Satunya untuk adikmu."


"Terima kasih."


"Tadi kau sudah mengikuti tes harian?"


"Sudah."


"Bagaimana hasilnya?"


"Saya mendapat peringkat 20."


"Huh? Dua puluh, ya. Tidak buruk untuk hari pertama mu. Sebaiknya kau pertahankan peringkatmu, jangan sampai kau berada dibawah 20."


"Kenapa?"


"Karena itu adalah peringkat bawah."


"Bacalah peraturan panti yang ada di buku ini. Kau harus bisa beradaptasi karena ini adalah tempatmu yang baru. Setelah ini, pergilah ke ruang makan untuk sarapan bersama."


Noel mengambil buku pemberian kepala pengurus panti. Berdasarkan pembicaraan mereka, kepala pengurus panti bernama Verlon. Dia adalah pria paruh baya berumur lebih dari 40 tahun.


Noel kembali ke kamarnya untuk mengajak adiknya sarapan. Ia menaruh buku pemberian Verlon diatas kasur.


Ketika Noel meninggalkan kamar, buku yang Verlon berikan terbuka karena angin yang berhembus dan berhenti pada satu lembar bertuliskan.


'Peraturan'


Saat itu, Noel tidak tahu bahwa panti yang mengambil nama Dewi Keadilan itu sangat berbeda dari bayangannya.


Kehidupan nyaman yang dia impikan tidak pernah terjadi. Ia harus menunggu enam tahun untuk mendapatkan semua kebebasan yang dia inginkan.


TBC