Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 78 - Almera Menemukan Kebenaran



Malam itu setelah Allen keluar untuk bermain dengan teman-temannya, Almera kembali mengunci diri di kamarnya. Sejak kejadian percobaan pembunuhan di danau Alkelan, Almera selalu berusaha mencaritahu siapa dalang dibalik kejadian itu.


Almera merasa bahwa dalang yang melakukan tindakan keji itu berhubungan dengan investigasi yang Zion lakukan selama ini. Entah itu insting atau apa namun Almera merasa bahwa kasus ini tidak segera diselesaikan dan pelaku sebenarnya tidak segera di tangkap, semua akan menjadi semakin rumit. Karena itulah dia selama beberapa bulan terakhir ini selalu mengurung diri di rumah untuk melakukan investigasi.


Petunjuk paling kuat yang Almera miliki saat ini adalah sebuah artikel tua yang berhubungan dengan keluarga Castris. Meski Almera tidak tahu apakah artikel itu memuat berita yang valid atau tidak, dia tetap mencoba untuk mengorek informasi dari sumber manapun.


Dia membaca artikel-artikel lama yang masih ada di internet dan menemukan fakta bahwa banyak artikel serupa yang telah dihapus dari internet dan hanya menyisakan sedikit artikel tidak terlalu penting yang jika dibaca seperti berita hoax.


Berdasarkan apa yang berhasil Almera kumpulkan, 15 tahun yang lalu keluarga Castris mengalami kecelakaan besar yang hampir merenggut nyawa Karl. Kedua orang tua Karl juga mengalami luka parah kala itu karena mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang. Meski mereka berhasil selamat, sopir yang mengemudikan mobil kehilangan nyawanya sehingga tidak bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Sebenarnya itu adalah berita yang sangat menghebohkan kala itu. Almera yang masih muda juga mengikuti berita kecelakaan tersebut karena selalu muncul di televisi namun hal yang membuat Almera terkejut adalah ada sebuah artikel lama yang mengatakan bahwa seseorang selain sopir di duga meninggal dalam mobil tersebut.


Itu adalah berita yang sama sekali tidak pernah ia dengar. Bahkan saat dulu pun tidak ada satupun media nasional yang membahas adanya orang yang meninggal selain sopir. Jikalau memang ada, Almera tidak bisa menebak siapa orang tersebut karena mobil yang mereka tumpangi adalah mobil khusus untuk anggota keluarga Castris yang berarti hanya keluarga Castris lah yang bisa menaikinya.


Menurut Almera, keluarga Castris hanya terdiri dari tiga generasi saja, yaitu orang tua Karl, Karl sendiri, dan juga Liyuna. Dan berdasarkan apa yang ia ingat, generasi kedua keluarga Castris hanya Karl saja dan tidak ada orang lain selain dia.


'Tapi... jika saja, mungkinkah...'


Saat itu kepala Almera dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang begitu absurd. Kemungkinan yang seharusnya tidak terjadi.


Tiba-tiba saja pintu ruangannya dibuka dengan kasar oleh salah seorang pelayan hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras dan membuat Almera pecah dari lamunannya.


Dia melihat pelayan itu berdiri terengah-engah di depan pintu, bajunya terlihat sangat basah karena keringat membuat Almera mengernyitkan alisnya.


"Ada apa?" Tanya Almera.


"Nyonya! Nyonya harus segera pergi dari sini. Tidak, Nyonya harus sembunyi!"


Almera seketika berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar suara pelayannya bergetar ketakutan, dia mendekati pelayan tersebut dan dengan lembut memintanya menjelaskan situasi dengan tenang.


Setelah pelayan itu sedikit tenang, dia mulai menceritakan apa yang sedang terjadi. Dari pintu masuk, sekelompok orang bersenjata memaksa masuk ke ke diaman Ravenray dan berhasil menembus penjagaan dengan membunuh seluruh orang yang mereka lihat. Saat ini kediaman Ravenray sedang sangat kacau dan semua pelayan berhamburan pergi dan berusaha untuk menyelamatkan diri namun orang-orang tersebut menembak siapapun tanpa pandang bulu.


Pelayan yang saat ini ada dihadapan Almera adalah pelayan yang Almera ambil dari panti asuhan Astraea. Dia sangat setia pada Almera dan bersedia menyerahkan nyawanya pada Almera. Karena itulah dia tidak melarikan diri dan langsung pergi mencari Almera untuk memberitahu apa yang sedang terjadi.


Mendengar ucapan pelayan tersebut, Almera menjadi sedikit khawatir. Jika dia melarikan diri saat ini, ia sangat yakin bahwa semua pelayan akan dibantai. Namun jika dia tidak segera kabur, nyawanya juga pasti akan terancam. Setelah beberapa menit merasa bimbang, akhirnya Almera memutuskan untuk tidak melarikan diri.


"Anda tidak boleh melakukan hal itu. Anda harus pergi dari sini sekarang juga." Pelayan itu memaksa Almera untuk melarikan diri namun Almera sudah memantapkan tekadnya.


"Jika aku melarikan diri, bagaimana nasib pelayan yang lain? Aku tidak bisa menyelematkan dirimu sendiri an mengorbankan mereka."


Pelayan itu tidak bisa membantah, akhirnya dia menyetujui keputusan Almera namun ia harus bersama dengannya.


Mereka berdua keluar dari ruangan Almera dan dengan segera pergi menuju elevator, namun seseorang telah menggunakan elevator untuk pergi menuju lantai tempat dia berada.


Ding!


Pintu elevator terbuka, pelayan yang sejak tadi mengikuti Almera dengan sigap langsung berdiri dihadapan Almera untuk melindunginya.


Almera menatap orang yang berada di dalam elevator, dengan perlahan orang itu berjalan mendekati mereka.


Ini pertama kalinya dia bertemu dengan pria sepertinya. Dia memiliki wajah yang rupawan meski di matanya ada bekas luka dan mata birunya yang sangat bersinar mengingatkannya pada seseorang.


Pria itu memakai setelan berwarna hijau tua yang terbuat dari kain kualitas terbaik. Sepatu kulit yang ia pakai terlihat berkilau dibawah sinar cahaya lampu. Rambutnya di tata begitu rapi kebelakang dan di mulutnya ada sebuah rokok yang menyala. Pria itu menyapit rokok tersebut dengan kedua jari tangan kanannya dan menghembuskan kepulan asap dari mulutnya dengan sangat elegan.


"Selamat malam, Nyonya Ravenray. Sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu." Pria itu menatap Almera dengan tatapan tanpa ekspresi.


Dari suaranya saja, Almera bisa merasakan tekanan yang begitu kuat dan mengerikan. Saat ini Almera menyadari bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Orang tersebut pasti tidak akan membiarkannya hidup karena telah melihat wajahnya.


"Benar, ini pertama kalinya kita bertemu namun anda telah datang secara tidak sopan."


Almera tidak melihat adanya fluktuasi emosi dari pria itu ketika dia mengatakan hal tersebut. Pria itu tetap terlihat tenang dan berdiri dengan percaya diri dihadapannya.


"Maaf tidak bisa melakukan kunjungan secara formal, namun anda telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak anda lakukan."


Pikiran Almera langsung tersambung pada investigasinya mengenai pelaku dibalik penyerangan Liyuna dan sepertinya orang yang ada dihadapannya ini adalah pelaku yang ia cari.


"Saya juga tidak menahan diri. Lagipula, ini menyangkut anak saya."


"Anak anda? Sejauh yang saya ingat Tuan Muda Allencio bukanlah putra anda."


Almera menggertakkan giginya mendengar apa yang pria itu katakan. Meski Allen bukan anak kandungnya, dia memiliki sedikit afeksi untuknya namun memang benar apa yang dikatakan pria itu. Almera mencari tahu bukan karena itu berhubungan dengan Allen melainkan kemungkinan bahwa masalah ini akan menyeret Ravenray.


"Saya menganggap Allen sebagai putra kandung saya sendiri."


Reflek pria itu juga tidak kalah cepat, dengan mudahnya dia menangkis serangan si pelayan dan menendang perutnya hingga ia terlempar jauh di dekat tangga.


Saking kerasnya tendangan pria itu, si pelayan sampai memuntahkan darah. Almera yang melihat hal itu merasa khawatir dan berusaha untuk membantunya namun langkahnya dihentikan dengan sebuah teriakan keras.


"Nyonya, cepat kabur sekarang lewat tangga!" Teriak pelayan itu.


Melihat matanya yang dipenuhi oleh determinasi, Almera tidak bisa melawannya dan memutuskan untuk melarikan diri lewat tangga. Ketika dia mendekati tangga, Almera melihat ada banyak sekali tubuh para pelayan yabg bekerja untuk Ravenray terbaring kaku di lantai.


Almera tak kuasa melihat pemandangan mengerikan ini. Karpet mahal yang menghiasi rumahnya kini berubah menjadi hitam karena menyerap darah semua orang yang jatuh di sana.


Ketika Almera berusaha untuk menuruni anak tangga, tiba-tiba saja rambutnya ditarik kebelakang hingga ia terjungkal. Pria itu dengan tenaganya yang begitu kuat menarik rambut Almera hingga berantakan.


Tidak hanya disitu saja, dia menarik Almera menjauh dari tangga dengan menyeretnya. Almera yabg merasa kesakitan hanya bisa menggigit bibirnya, menahan semua perlakukan kejam pria yang tiba-tiba mendatangi rumahnya.


Ketika mereka sudah cukup jauh dengan tangga, pria itu melepaskan rambut Almera. Seketika itu juga Almera bersandar pada pagar pembatas, dari sini ia bisa melihat ruang tamu di rumahnya yang ada di lantai satu.


"Kenapa kau berbuat sejauh itu?"


"Sudah ku bilang, kau seharusnya tidak penasaran tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu."


Kali ini mereka berdua sudah melupakan sopan santun dan berbicara secar informal antara satu dengan yang lainnya.


"Mata biru itu... jangan bilang kau..."


Dor!


"Kkhh..."


Almera mengerang kesakitan ketika tangannya tanpa ampun ditembak oleh pria dihadapannya.


"Sudah ku bilang, kau tidak perlu tahu tentang hal itu."


"Sudah ku duga, kau..."


Dor!


Almera kembali menahan rasa sakit di tubuhnya ketika tembakan kedua melesat begitu saja dan menembus tubuhnya.


Melihat situasi yang genting, Almera tahu bahwa tidak mungkin dia bisa selamat kali ini. Orang yang ada dihadapannya ini memiliki satu tujuan, yaitu keluarga Castris namun diiringi dengan tujuannya itu, dia tidak akan segan menghancurkan segala hal yang menurut ya menganggu.


Awalnya Almera tidak yakin dengan identitas pria itu namun sekarang dia yakin setelah melihat bagaimana reaksi pria tersebut.


Jika dia memang harus mati sekarang, Almera tidak ingin mati begitu saja. Dia akan meninggalkan sesuatu yang bisa membantu mengungkap kebenaran yang sebenarnya.


"....."


Almera terlihat membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu tanpa suara namun ia tahu bahwa pria yang ada dihadapannya bisa membaca gerakan mulutnya dan mengerti dengan apa yang ia katakan.


Dor!


Dor!


Almera sudah tidak bisa menahan tubuhnya karena tenaganya sudah semakin menghilang. Tubuhnya terjatuh melewati pagar pembatas, terjun bebas di atas udara dan berhenti tepat di atas permukaan meja yang keras.


Brak!


Almera tidak tahu seberapa banyak tulangnya yang patah dan seberapa banyak waktu yang dia miliki saat ini.


Dengan sisa-sisa tenaganya, ia ingin menuliskan identitas sebenarnya pelaku tersebut namun belum sampai ia menulis semua yang dia inginkan, Tuhan telah memanggilnya.


Harry menatap Almera dari atas, seperti biasa dia tidak menampakkan ekspresi apapun namun matanya terlihat begitu dingin dan kejam. Dia membiarkan apa yang Almera tulis dan pergi bersama dengan pasukannya, meninggalkan kediaman Ravenray yang kini telah dibanjiri dengan darah.


Bagi Almera, tidak masalah jika dia harus kehilangan nyawanya sekarang asalkan semua keluarganya selamat. Ya, dengan pesan singkat yang dia tulis, dia yakin Zion akan berhasil memecahkannya. Lagi pula, apa yang dia hasilkan saat ini berkat investigasi yang Zion lakukan. Sebagai seorang Ibu, Almera sangat mempercayai kemampuan Zion. Dia adalah anaknya yang paling dia sayangi dan dia berharap di masa depan, keluarga Ravenray bisa menjadi keluarga yang utuh.


Lembaran hidup Almera tutup diusia 45 tahun. Ini adalah tragedi pembunuhan terbesar sepanjang sejarah kota Elisien dan mengingatkan kembali pada insiden Frozen December yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.


TBC