
Yuriel dan Allen segera melakukan apa yang Victor perintahkan tanpa menanyakan alasannya. Bagaimana pun juga ini adalah rencana yang Victor buat dan hanya dialah yang mengerti sesuatu seperti ini.
Dengan sangat hati-hati, Yuriel dan Allen menghindari pintu yang terlindungi oleh jeruji besi.
Seperti yang Victor katakan sebelumnya, bisa saja ditempat ini dipasangi oleh sebuah sensor. Jika sensor itu menganggap mereka sebagai tamu tak diundang, bisa-bisa rencana mereka menjadi berantakan.
"Aku menemukannya." Ucap Yuriel.
Setelah mencari kesana kemari, akhirnya dia menemukan sebuah instalasi listrik di pojok ruangan jauh dengan pintu masuk maupun pintu berjeruji besi.
Dengan segera Victor menghampiri tempat itu. Ia mengeluarkan alat-alat yang bisa digunakan untuk mematikan aliran listrik.
"Apa tidak apa-apa jika kita mengutak-atiknya?" Tanya Allen yang berdiri dibelakang Victor untuk melihat apa yang akan dia lakukan.
"Tidak masalah. Jika listrik disini mati, sensor tidak akan menyala dan kita bisa masuk dengan mudah."
Mendengar hal itu, Allen tidak punya pilihan lain selain mempercayai Victor.
Beberapa saat kemudian, Victor berhasil mematikan aliran listrik. Lampu berwarna kuning yang menerangi ruangan mati, membuat mereka tenggelam dalam kegelapan.
Untung saja Yuriel dengan sigap mengambil senter dari tas Victor sehingga mereka tidak kesulitan untuk berjalan.
"Lalu, bagaimana cara kita membuka jeruji besi ini?"
Ketiga anak muda itu menatap jeruji besi yang terlihat kokoh di depan mata. Ini pertama kalinya bagi mereka mencoba untuk membuka sesuatu seperti itu.
Victor mengeluarkan sebuah alat yang jika ditekan akan mengeluarkan api. Sebuah flame gun portable ia gabungkan dengan mini gas.
"Meski kecil, flame gun ini cukup pans karena sudah aku modifikasi. Semoga saja gembok ini bisa meleleh."
Tidak ada pilihan lain selain melelehkannya. Gembok yang ada di jeruji besi bukanlah gembok biasa yang bisa di buka dengan jepitan rambut.
Gembok itu terlihat melekat di jeruji besi sehingga memerlukan alat khusus untuk membukanya. Namun karena Victor tidak mempunyai alat tersebut, dia tidak punya pilihan lain selain membakarnya hingga meleleh.
Klang—
Tesss—
Tesss—
Gembok meleleh dengan sempurna. Karena lelehan besi yang panas, Victor tidak bisa memegang dengan sembarangan. Karena itulah ia membuka jeruji besi dengan sebuah tongkat besi seperti linggis yang ia bawa.
"Akan kubantu."
Allen membantu Victor dengan mengambil sebuah tongkat kayu yang ada disamping jeruji besi.
Dengan kekuatan dua orang laki-laki, pintu terbuka dengan mudah. Setelah itu, mereka bertiga harus bisa membuka pintu selanjutnya.
"Pintu disini menggunakan sidik jari." Ucap Yuriel sembari mengamati pintu terakhir.
Ya, semoga saja itu adalah pintu terakhir.
"Tenang saja, aku bisa membukanya." Victor mengeluarkan alat lain dari tasnya.
Kali ini dia menekan kunci pintu menggunakan jarinya. Tentu saja pintu langsung menolak akses karena tidak cocok dengan sidik jari yang seharusnya.
[ACCESS DENIED]
Victor menempelkan sebuah alat ke kunci tersebut. Alat itu tersambung pada ponselnya.
Victor segera mengetikkan sesuatu pada ponselnya dengan cepat. Yuriel yang melihat hal itu tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang Victor lakukan.
Yuriel sudah melihat kehebatan Victor selama ini. Dia melirik kearah Allen selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus pada Victor.
'Bagaimana bisa dia menemukan orang berbakat sepertinya.'
Klik—
[ACCESS ACCEPTED]
[UNLOCKED]
Pada akhirnya pintu dapat terbuka dengan mudah. Tanpa berbasa-basi lagi, Victor membuka pintu tersebut dan segera masuk ke ruangan yang lebih dalam.
Disanalah mereka melihat sebuah tempat mirip dengan penjara. Sebuah jeruji besi dan ruangan sempit dibaliknya.
Rambut putih Lucas terlihat sangat kontras dengan tempat menjijikkan ini. Dan detik itu juga, Yuriel menghela napas lega karena akhirnya menemukan apa yang mereka cari.
Dengan begini, Liyuna tidak perlu berlama-lama disini.
"Lucas?"
***
"Apa?!"
"Senior Lucas tidak ada disini?"
Liyuna terkejut dengan ucapan Irina. Padahal jelas-jelas sebelumnya Lucas berkata dia akan pulang ke Rusia.
Jadi bagaimana mungkin dia tidak ada disini?"
"Ah, maksudku dia tidak ada di lantai atas."
"Lalu dimana dia berada?"
"Ruang bawah tanah."
Mendengar ha itu, Yvette tanpa sadar memekik karena terkejut. Kalau benar Lucas ada di ruang bawah tanah maka seharusnya Allen dan yang lain sudah bertemu dengan mereka.
Barusan, Hajunlah yang menyela Irina dan menjawab pertanyaan dari Liyuna.
Liyuna menatap punggung Hajun yang membelakanginya. Irina yang sadar bahwa Hajun mulai ikut campur menatapnya dengan tajam.
"Haaah..." Hajun menghela napas lelah.
Dia berdiri dari posisinya dan berdiri berhadapan dengan Irina secara langsung.
"Jangan bertindak bodoh." Ucap Irina memperingatkan.
Kedua tangan Hajun masih diborgol, jadi percuma saja jika dia berniat ingin memberontak.
Mencoba memanfaatkan situasi, Liyuna berusaha untuk menyalakan earphone yang ada di telinganya. Sejak tadi dia memakai earphone tersebut namun itu dalam keadaan mati jadi dia tidak bisa mendengar apa yang sedang terjadi diseberang sana.
Wireless earphone yang dia pakai adalah earphone hasil modifikasi dari Victor dimana dia tidak akan mendengar suara dari seberang jika tidak dinyalakan. Meski begitu jika Victor menyalakan earphone yang dia pakai maka dia bisa mendengar suara Liyuna.
Irina menyadari gerak-gerik Liyuna yang aneh karena tiba-tiba saja dia mendekatkan tangannya ke kepalanya.
Jika sekilas dilihat, Liyuna berusaha merapikan rambutnya namun intuisi Irina berkata lain.
Dengan cepat dia bangkit dari tempat duduknya dan menyibak rambut Liyuna
PLAKK—
SREEET—
"!!!"
"Yuna!!"
Liyuna terkejut dengan tindakan Irina yang tiba-tiba, dia tidak bisa bereaksi dengan cepat sehingga earphone yang dia pakai ketahuan.
Alasan kenapa earphone yang dia pakai tidak ketahuan adalah karena Liyuna menyembunyikannya dibalik rambut panjangnya yang bergelombang. Karena warna earphone itu sama dengan rambutnya maka akan mudah untuk disembunyikan.
Namun kali ini dia ketahuan, Irina melihat earphone yang ia pakai.
Irina melepas earphone dari telinga Liyuna dan menatapnya.
Itu adalah earphone dengan logo petir yang asing.
"Dengan siapa kau berhubungan?"
Meski ketahuan Liyuna berusaha untuk berpura-pura tidak mengerti.
'Akan lebih baik jika aku berpura-pura bodoh.'
"Tolong kembalikan, saya sedang mendengarkan lagu." Ucap Liyuna dengan tegas.
Raut wajahnya sangat datar sehingga mudah untuk membohongi seseorang, namun tidak bagi Irina. Hal seperti ini tidak akan bisa mengecohnya.
"Kalau begitu mari kita dengarkan musik seperti apa yang sedang kau dengarkan." Sudut bibir Irina terangkat, dia terlihat sangat menikmati situasi saat ini.
Irina memakai earphone tersebut dan menemukan tombol on.
"Lucas?"
Sebuah suara seorang gadis muda terdengar dari earphone tersebut. Dari suaranya yang terdengar sedikit jauh, Irina tahu bahwa pemilik suara yang dia dengar bukanlah orang yang memakai earphone satunya.
"Bagaimana kalian bisa kesini?"
Kini Irina juga bisa mendengar suara putranya.
"Itu tidak penting sekarang, kita akan segera keluar dari sini."
Suara lain menanggapi pertanyaan Lucas.
"Hah? Bagaimana cara kalian masuk ke tempat ini? Apa kalian tahu ada sebanyak apa sensor penjagaan di sekitar tempat ini?"
"Kami hanya perlu mematikan sensor penjagaan."
Suara terakhir terdengar begitu jelas dan keras. Dialah orang yang memakai pasangan earphone yang satunya.
'Mematikan sensor penjagaan katanya? Jadi mereka berhasil masuk keruangan itu?'
"Ada tiga orang di ruang bawah tanah. Apa mereka komplotanmu?"
Merasa tertangkap basah, Liyuna maupun Yvette tidak bisa menjawab. Sepertinya memang mustahil membohongi orang seperti Irina. Dia bukan seorang pemimpin perusahaan besar tanpa sebuah alasan.
"Sepertinya kalian memiliki orang yang cukup hebat, ya."
Irina membuka laptopnya yang ada di meja dan langsung menyambungkannya dengan cctv yang ada di sel Lucas. Dan benar saja, ada tiga orang tak dikenal sedang berusaha membuka sel yang dihuni putranya.
"Hmm... Cctv diberbagai tempat tiba-tiba mati dan ada beberapa yang rekamannya di manipulasi. Teman kalian cukup hebat karena bisa membobol sistem Obelian's Circle.
Meski kebobolan, anehnya Irina masih bersikap tenang. Malahan dia terlihat sangat menikmati situasi saat ini.
"Apa perlu teman kalian aku undang kesini sekalian?" Tanyanya.
Irina tersenyum dengan sangat lebar namun entah kenapa Liyuna malah merinding melihatnya.
TBC