
"Hei, berjalanlah menjauh dari kita." Bisik Liyuna pada Allen.
Allen mengangkat alisnya ketika mendengar ucapan aneh dari Liyuna.
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Kau tidak lihat? Semua orang memandang kita karena kau."
Apa yang Liyuna katakan memang benar, semua orang menatap kearah mereka dan mulai berbisik-bisik. Awalnya Liyuna merasa biasa saja karena sejak SD dia juga sudah menjadi pusat perhatian –walau dalam hal yang berbeda. Namun kali ini dia tidak bis merasa acuh karena dia bisa mendengar sedikit dari apa yang orang-orang bisikkan.
"Apa mereka super model?"
"Apa maksudmu? Kau tidak mengenal siapa mereka?"
"Kau lihat gadis yang ada ditengah itu?"
"Maksudmu gadis yang sangat elegan seperti ratu itu?"
"Benar yang itu. Dia adalah pewaris tunggal Castris Group, Nona Liyuna Aria Castris. Bisa-bisanya kau tidak tahu."
"Kau serius?"
Bisikan-bisikan seperti itu lah yang Liyuna maksud.
"Laki-laki yang ada dibelakang dia juga tak kalah terkenal."
"Siapa memangnya? Dia terlihat seperti seorang berandalan."
"Asal bicara, ya kau ini! Dia adalah anak termuda di keluarga Ravenray, Allencio Ravenray."
Mendengar namanya disebut, Allen langsung menjatuhi mereka tatapan menyeramkan membuat siapapun langsung tidak berani untuk membuka mulut.
"Tidak usah pedulikan mereka, anggap saja mereka tembok."
Sesampainya di kantin, mereka langsung memilih tempat duduk yang kosong. Kondisi kantin pada siang ini sangatlah padat karena ini adalah hari dimana semua murid baru diperbolehkan bereksplorasi sepuas hati jadi kebanyakan dari mereka akan menetap di sekolah sampai sore. Ditambah ada murid senior yang juga sudah melaksanakan pembelajaran seperti biasa, kantin yang ramai adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan meski kantin ini sangat luas dan bisa memadai hampir seluruh murid.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau terus mengikuti Yuna?" Tanya Yvette yang penasaran mengapa Allen hari ini terus mengikuti Liyuna.
"Memangnya kenapa?"
"Haa?? Kau tanya kenapa? Kau tidak ingat, ya dulu hampir membuat Yuna terluka parah?"
Yuriel baru mengetahui bahwa Liyuna pernah hampir terluka karena Allen, ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang nampak penasaran.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yuriel sembari memasukkan sepotong chicken katsu dengan sumpit.
"Dulu Yuna pernah terjatuh dari tangga karena tidka sengaja di dorong oleh Allen." Jelas Yvette namun nampaknya dia belum selesai berbicara.
"Apa benar itu tidak sengaja? Jangan-jangan kau senga..."
"Aku tidak sengaja." Belum sempat Yvette melanjutkan ucapannya, Allen sudah memotong.
Allen tidak suka jika di tuduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan. Insiden dulu itu murni karena ketidaksengajaan. Saat itu ia sedang dipenuhi amarah dan tidak bisa berpikir dengan jernih, ia juga tidak memperhatikan orang yang ada di sekitarnya. Allen sendiri juga tidak menyangka ada orang bodoh yang berani mengintervensi dirinya saat sedang berkelahi. Tidak ada orang lain seberani Liyuna karena orang lain bisanya mengabaikan dirinya bahkan menghindarinya ketika sedang marah.
"Ternyata ada kejadian seperti itu." Yuriel menutup mulutnya karena terkejut. Ia menatap Liyuna dengan mata berkaca-kaca mirip sekali dengan anak anjing.
Liyuna mengelus puncak kepala Yuriel dengan lembut, "Aku tidak apa-apa. Itu kejadian lama."
Liyuna tidak ingin membuat Yuriel khawatir makanya ia mencoba untuk membuat Yuriel tenang.
"Kakak harus selalu berhati-hati."
"Iya, aku janji akan selalu berhati-hati."
Melihat kedekatan Yuriel dan Liyuna, Allen terlihat tidak menyukainya. Ia menatap Yuriel dengan matanya yang tajam, jika tatapan mata bisa membunuh seseorang, Yuriel pasti sudah mati.
Meski sadar bahwa Allen menatapnya dengan tatapan tidak suka, Yuriel berpura-pura tidak tahu. Yuriel tidak ingin bersusah-susah membuat Allen menyukainya karena baginya itu tidak terlalu penting, yang Yuriel inginkan hanyalah tetap dekat dengan Liyuna.
Yuriel akan melakukan apapun agar Liyuna tidak menatapnya dengan mata penuh kebencian karena dia sangat menyayanginya.
Tiba-tiba saja terdengar suara speaker yang menandai adanya pengumuman berbunyi, membuat seluruh murid yang ada di kantin menghentikan aktivitas untuk mendengarkan pengumuman yang akan disampaikan.
"Selamat siang, untuk siswi bernama Liyuna Aria Castris di mohon untuk datang ke ruang kepala sekolah dengan segera."
"Saya ulang, untuk siswi bernama Liyuna Aria Castris di mohon untuk datang ke ruang kepala sekolah dengan segera."
Setelah memberikan pengumuman seperti itu tidak terdengar suara apapun lagi. Liyuna yang namanya dipanggil merasa sedikit heran. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun, jadi kenapa dia dipanggil.
"Kalau begitu aku akan ke ruang kepala sekolah dulu."
"Tapi makanan mu belum habis." Ucap Yuriel yang merasa khawatir karena Liyuna belum menyelesaikan makan siangnya.
"Tidak apa-apa, aku tidak bisa membiarkan kepala sekolah menunggu bukan?"
"Kenapa kau harus memedulikan kebaikan orang lain? Perhatikanlah dirimu sendiri terlebih dahulu." Ucap Allen sembari memberi sepotong roti yang tadi ia beli pada Liyuna.
"Makan ini untuk mengganjal perut."
Liyuna menerima pemberian dari Allen dan langsung memakannya.
"Terima kasih."
Setelah memakan roti tersebut Liyuna langsung bergegas menuju ruang kepala sekolah.
Setelah sosok Liyuna menghilang, Yvette tiba-tiba saja berteriak.
"Aaaah!"
"Ada apa?" Tanya Yuriel yang terkejut mendengar Yvette yang tiba-tiba berteriak.
"Aku lupa kalau ketua klub teater meminta member untuk berkumpul di ruang klub."
"Klub teater? Kau sudah bergabung dengan klub?"
"Benar, kebetulan ketua klub teater adalah kenalanku jadi aku bisa langsung bergabung."
"Kalau begitu aku pergi dulu." Lanjut Yvette sembari bergegas pergi menuju klub teater.
Kini di meja hanya menyisakan Allen dan Yuriel, membuat suasana menjadi canggung. Yuriel tahu Allen tidak menyukainya namun itu tidak berarti Yuriel berpikiran sama. Yuriel hanya merasa tidak senang Allen memperlihatkan perasaan tidak sukanya secara terang-terangan seperti itu.
Yuriel menatap Allen yang saat ini sedang menyeruput amerikano dingin dari sedotan, ia bersiap untuk berdiri dan meninggalkan Yuriel sendirian.
Kedua mata Yuriel terlihat sedikit memincing ketika melihat Allen, cahaya yang tadinya ada di matanya pun kini mulai redup. Jika tidak ada Liyuna dia tidak perlu bertingkah seperti anak yang ceria. Apa lagi dihadapan orang yang dengan gamblang membencinya.
"Apa-apaan dengan tatapan mu? Kau tidak menyukaiku?" Tanya Yuriel membuat Allen melirik padanya.
"Itu hanya perasaanmu." Allen menjawab dengan suara yang begitu santai.
"Aku tidak merasa begitu. Kenapa kau menatapku dengan sangat agresif? Aku rasa ini pertama kalinya kita bertemu."
"Aku tidak perlu menjelaskannya padamu."
"Ha?!"
Mendengar Allen berbicara seperti itu, Yuriel semakin marah. Namun se-marah apapun dia, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sedang marah.
"Kau begitu karena kak Yuna?"
Yuriel sejak tadi sudah curiga bahwa Allen tidak menyukainya karena Liyuna. Entah itu karena dia dekat dengan Liyuna atau karena keberadaannya yang tiba-tiba muncul.
Allen mendengus mendengar pertanyaan Yuriel. Jelas sekali saat ini Allen sedang mengejek Yuriel secara terang-terangan.
"Apa kau sadar saat ini topeng mu terlepas?"
Tatapan Yuriel menjadi semakin menyeramkan setelah mendengar ucapan dari Allen. Atmosfir di meja saat ini benar-benar sangat menekan, tidak ada satu pun diantara mereka yang mau mengalah. Tidak Allen, tidak juga Yuriel. Mereka ingin memenangkan konfrontasi ini dan membungkam lawan bicara mereka.
"Apa maksudmu?"
"Berhentilah berakting dihadapan ku."
Allen saat ini sudah benar-benar berdiri, dia meletakkan kedua tangannya di meja dan mendekatkan tubuhnya kearah Yuriel, membuat bayangannya menutupi wajah Yuriel.
"Mana ada adik yang tega merampas segala sesuatu milik kakaknya."
Kedua mata Yuriel membulat sempurna setelah mendengar ucapan Allen. Dari ucapannya, ada satu hal yang Yuriel sadari, tapi... itu tidak mungkin bukan?
"Kau... jangan-jangan..."
TBC