
DUARRRR—
Seketika pandangan Liyuna mulai menggelap. Seseorang menindih tubuhnya hingga ia terjatuh ke jalan raya. Ia tidak sempat berteriak maupun memberontak.
NGIIIIING—
Telinganya berdengung dengan hebat, untuk sementara ia merasa indera pendengarannya seperti tidak berfungsi. Tidak hanya itu, ia mencium bau asap dan sesuatu terbakar membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Ketika ia membuka kedua matanya, yang ia lihat hanyalah kegelapan. Seseorang membuatnya menunduk dan menutupi tubuhnya.
Liyuna berusaha untuk melihat apa yang terjadi dan dia melihat Yuriel serta Yvette dalam keadaan yang sama dengannya. Mereka bertiga tiba-tiba saja ditindih dan terjatuh ke tanah.
"Uwaaaa—"
"Aaaaah..."
"Lari! Ayo cepat lari!"
"Huwaaah~ Apa yang terjadi?!"
"Sesuatu meledak! Ada yang meledak."
"Telingaku!!!"
Liyuna bisa mendengar suara panik dari orang-orang disekitarnya.
Suara tangisan, teriakan, dan jeritan ketakutan. Semua terdengar begitu jelas ketika indera pendengarannya mulai pulih.
"Apa yang terjadi?" Gumam Yvette yang mulai menyadari ada yang aneh.
Beberapa detik yang lalu, mereka menunggu hitungan mundur di layar yang sudah mendekati angka nol. Lalu mereka mendengar suara ledakan besar.
'Apakah barusan bukan suara kembang api?'
Mendengar suara-suara jeritan yang saling bertumpuk, Liyuna dapat memahami situasi yang sedang terjadi.
Sebuah insiden pasti baru saja terjadi dan suara ledakan barusan bukan berasal dari kembang api, melainkan hal lain.
Ia menatap ke arah tangan-tangan yang membuatnya jatuh ke tanah. Itu adalah tangan-tangan body guard yang berdiri di dekat mereka.
Entah bagaimana, mereka bereaksi dengan cepat dan langsung membuat Liyuna dan yang lainnya menunduk ke tanah dan melindungi tubuh mereka dari benturan orang-orang yang lari karena panik.
"Liam?" Panggil Liyuna dengan suara lirih.
Liam menatap Liyuna setelah sayup-sayup mendengar namanya dipanggil. Dia terlihat sedikit kesulitan untuk mendengar karena suara ledakan barusan namun ia berusaha untuk tetap profesional.
"Tidak apa-apa Nona, ada kami disini." Ia mencoba membuat Liyuna dan yang lainnya merasa tenan meski dia sendiri sebenarnya sedikit kesulitan menghalau orang-orang yang mulai berlarian melarikan diri karena panik.
Dari kejauhan, Liam dapat melihat asap tebal datang dari arah yang berlawanan. Ia juga dapat melihat beberapa orang terluka karena serpihan objek yang hancur dan jatuh tepat kearah mereka.
Liam menghela napas ketika sadar bahwa posisi mereka cukup jauh dari tempat kejadian. Namun itu tidak mengurangi fakta bahwa efek yang ditimbulkan sampai ke tempat ini. Buktinya, telinganya masih terasa berdengung tidak karuan.
Berbanding terbalik dengan orang-orang yang mulai melarikan diri karena ketakutan. Hajun yang sejak tadi berdiri tepat ditengah-tengah persimpangan jalan terlihat biasa saja. Ia hanya terlihat sedikit mengerutkan dahinya karena suara ledakan barusan mempengaruhi indera pendengarannya. Namun meski begitu, dia tetap berdiri tegak seolah tidak ada yang terjadi.
Ketika orang-orang sudah mulai meninggalkan persimpangan dan jalanan terlihat sedikit sepi. Para body guard yang melindungi Liyuna dan yang lainnya membantu mereka untuk berdiri.
"Lindungi Nona sampai ke mobil!" Liam sebagai pemimpin dari para body guard lain memberi perintah.
Meski dia masih muda, Karl mempercayakan semua padanya karena dia adalah orang yang bisa dipercaya dan kesetiannya tidak diragukan lagi.
Mendengar perintah dari Liam, body guard lain mulai melindungi ketiga Nona yang sejak tadi memegangi kepala mereka.
Yvette terlihat sedikit panik dan takut namun dia tidak berteriak histeris, begitu juga dengan Yuriel yang masih memasang wajah tenang.
Sesampainya di mobil, Liyuna dapat mendengar suara sirine mobil polisi, pemadam kebakaran, maupun ambulans. Melihat kobaran api yang membumbung tinggi ke langit, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Liyuna merasa bahwa dunia yang ia ketahui mulai menapaki jalan yang berbeda.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Noel yang duduk di bagian pengemudi.
Orang yang sudah lama bersama Liyuna sejak sepuluh tahun yang lalu itu terlihat khawatir dengannya.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Liyuna.
Ketika melihat keadaan Yvette dan Yuriel baik-baik saja, Liyuna menghela napas lega.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Yvette, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Walau dia terlihat baik-baik saja, kejadian barusan tetap membawa efek yang kurang baik.
"Aku tidak tahu, mungkin serangan dari pasukan teror?"
Setelah itu tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Mereka semua menatap keadaan persimpangan yang kacau usai bom meledak.
Hal ini mengingatkan Liyuna pada insiden beberapa tahun yang lalu di Havelian Park. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk tentang hal ini.
Di kejauhan, Hajun mulai pergi meninggalkan tempat kejadian. Dia terlihat tidak terluka dan ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak merasa takut sedikitpun, seolah yang baru saja meledak bukan bom melainkan petasan biasa.
Meski wajahnya terlihat datar, hatinya saat ini sedang kacau balau. Ia benar-benar marah saat ini.
Beberapa waktu yang lalu, ia menerima surat anonim yang memintanya untuk pergi ke persimpangan sebelum hitungan mundur berakhir. Dilihat dari suratnya saja, Hajun tahu bahwa itu kiriman dari Cerberus.
Sudah sejak lama dia mencoba mengendus bangkai mereka, jadi tidak aneh jika Cerberus mengetahui keberadaannya. Namun mereka berani-beraninya mencoba untuk mengancamnya.
Bom yang baru saja meledak adalah sebuah peringatan. Itu adalah peringatan yang ditujukkan pada Hajun. Mereka ingin Hajun berhenti untuk mengusik mereka namun bukan Hajun namanya kalau dia menurut.
Hajun melepas mantel yang ia pakai sembari berjalan menjauh dari tempat kejadian. Saat ini dia hanya memakai kemeja tipis berwarna putih dan vest abu-abu. Seolah suhu dingin tidak mempengaruhinya, Hajun melipat lengan kemeja yang ia pakai hingga memperlihatkan otot-otot tangannya.
Ia menyapu rambutnya keatas, mempelihatkan matanya yang dingin tak berperasaan.
Dari kejauhan, Titus terlihat berjalan mendekati Hajun. Setelah mendengar kerusuhan yang terjadi, ia langsung mencari keberadaan Hajun dan menemukan Hajun yang terlihat sedang marah.
Titus tidak mengatakan apapun, ia mengambil mantel yang ada di tangan Hajun dan membawakannya. Sebagai orang yang sudah lama bersama dengan Hajun, Titus tahu bahwa mengajaknya bicara hanya akan memperburuk suasana hatinya.
Bayangan mereka berdua yang berjalan menjauh dari kobaran api terlihat sangat misterius.
Ini adalah permulaan dari segalanya. Cerberus yang sebelumnya melakukan pekerjaan mereka secara diam-diam, mulai dengan berani menunjukkan taringnya.
Namun taring tersebut hanya ditujukan pada satu orang dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Ketika berita mengenai tragedi pembantaian empat tahun yang lalu mulai mereda. Cerberus mulai menimbulkan masalah lagi yang tak kalah menghebohkan.
Kedua mata tajam itu menatap kearah luar jendela. Melihat langit malam kota Elisien yang bersih tanpa ada satupun bintang.
Yuda memasukkan revolver dibalik pinggangnya dan memakai jaket seragam yang diberikan untuk agen rahasia sepertinya.
Mengambil topi hitam serta masker dengan warna senada dan keluar dari apartemen kecil miliknya, menuju ke tempat dimana para petinggi memintanya untuk datang.
Entah mengapa, tatapan matanya berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya itu, auranya juga terasa sedikit berubah.
Sesuatu telah terjadi pada Yuda selama empat tahun belakangan ini dan hal itulah hang mengubah dirinya menjadi seperti sekarang.
Berbeda dari sebelumnya yang terlihat seperti seorang anak muda yang tidak takut kehilangan akan sesuatu, kini Yuda terlihat seperti seorang pria dewasa yang telah membulatkan tekat untuk tidak kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.
Namun, itu adalah sebuah cerita yang masih jauh untuk diketahui.
TBC