Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 143 - Barang Lelang



Bruk—


Tubuh Liyuna dilempar dengan kasar masuk ke dalam sebuah sel.


Ia menunduk untuk menenangkan detak jantungnya yang terus berdegup dengan kencang.


Perlahan namun pasti, nafasnya mulai kembali teratur.


"Tenang dan menurutlah!"


Bunyi suara sel yang kembali di kunci masuk ke dalam gendang telinganya. Liyuna menatap Harry yang mulai menjauh dengan ujung matanya.


Disinilah dia sekarang, di dalam sebuah sel yang berisi orang-orang asing yang tak dia kenal.


Liyuna mencoba untuk menatap orang-orang yang berada di dalam sel satu persatu.


Ada anak kecil, remaja, pria dewasa, dan juga seorang wanita. Semuanya terlihat seperti seseorang yang sudah kehilangan semangat untuk hidup.


Liyuna juga dapat melihat bekas air mata dan luka di tubuh mereka. Tidak peduli mau itu anak-anak atau orang dewasa.


Melihat keadaan orang-orang tersebut, Liyuna menyadari sebuah kenyataan yang begitu mengejutkan.


Harry... Melakukan perdagangan manusia.


Kembali ke aula pelelangan. Terlihat seorang pria memakai tuxedo berwarna putih berdiri diatas panggung.


Dia menyalakan mic yang ada dihadapannya dan mulai menyapa para tamu.


"Selamat malam, para tamu yang terhormat. Pelelangan akan dimulai sebentar lagi. Diharap, para tamu yang terhormat sudah siap."


Dari salah satu bangku para tamu, seorang pria terlihat menatap tajam MC yang akan membuka acara.


Dia adalah pria dengan jari tidak utuh sebelumnya.


Lampu tiba-tiba dimatikan, seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan. Tiba-tiba saja, sebuah cahaya menyoroti panggung dimana MC sedang berdiri disana.


Itu adalah satu-satunya lampu yang menyinari ruangan yang gelap ini.


Para tamu undangan yang sudah tidak sabar untuk melihat barang-barang lelang, duduk di kursi mereka dengan penuh semangat.


Melihat katalog yang disediakan, pelelangan malam ada banyak sekali barang langka.


"Apa Tuan dan Nyonya sudah melihat katalog yang kami berikan?" Tanya MC, ditangannya ada sebuah katalog.


Sembari membuka-buka buku katalog tersebut, si MC berbicara, "Mungkin banyak dari para tamu yang terhormat sudah melihatnya. Pelelangan malam ini berbeda dari sebelumnya. Ada banyak sekali barang langka yang sulit untuk dicari."


Para tamu mengangguk pelan mendengar ucapan MC sebagai tanda setuju. Memang, pelelangan malam ini berbeda dari biasanya.


"Di kapal luar biasa ini, Red Diamond. Kami membawa sebuah harta nasional yang pastinya akan membuat Tuan dan Nyonya tertarik."


Para tamu yang mendengar hal itu mulai sedikit heboh. Mereka berbisik satu sama lain dengan tamu yang lainnya, berusaha menebak-nebak harta Nasional seperti apa yang mereka miliki.


"Dan tentu saja, tidak lupa dengan barang paling istimewa yang akan kami keluarkan di akhir acara."


Semua orang yang mulai tertarik kembali diam. Tidak ada satupun yang tidak tertarik dengan barang terakhir dalam pelelangan.


Biasanya, barang yang dikeluarkan terakhir adalah barang yang begitu istimewa dan hanya ada satu di dunia.


Jika melihat dari katalog, harta nasional yang sebelumnya disebut ada dalam buku tersebut. Selain barang terakhir, semuanya ada di dalam katalog.


Hal ini menandakan bahwa barang terakhir nilainya lebih tinggi dari harta nasional.


Para tamu mulai tersenyum memikirkan seberapa istimewa barang tersebut.


"Apakah ini pertama kalinya Tuan ikut dalam pelelangan?"


"Tidak, ini yang ketiga kalinya."


"Saya, Lea." Wanita itu memperkenalkan dirinya.


Tentu saja, itu bukanlah nama aslinya melainkan nama samaran yang selalu ia gunakan ketika mengikuti kegiatan jual-beli di pasar gelap.


"Biern." Jawab pria itu dengan singkat.


Lea tersenyum ketika tahu bahwa pria di sampingnya meladeninya dengan sabar.


Sejak tadi dia sudah menyadari bahwa pria disampingnya memiliki tubuh yang bagus.


Selain itu, Lea juga penasaran dengan jari-jari pria itu yang sepertinya hilang.


Sebagai seseorang yang sangat menyukai hal-hal menegangkan, Lea merasa tertantang. Dia meyakini bahwa pria di sampingnya bukanlah pria sembarangan.


'Tidak buruk jika menjadikannya mainanku.'


"Apakah ada barang yang membuat anda tertarik?" Lea mencoba bertanya kembali.


Jika ada dia berniat untuk mendapatkannya dan memberikannya pada Biern. Siapa tahu, jika dia melakukan hal ini Biern mau bermalam dengannya sekali.


"Tidak ada yang menarik di katalog. Mungkin saya akan menunggu hingga barang terakhir dikeluarkan."


"Ah, selera anda cukup tinggi rupanya."


Melihat bagaimana Biern sama sekali tidak tertarik dengan barang-barang di katalog membuat Lea semakin tertarik.


Meski Biern hanya terdiam dan tidak menanggapinya, Lea tahu dari gerak-geriknya bahwa Biern saat ini sedang merasa bosan.


Jika barang langka di katalog tidak dapat menggerakkan Biern, itu berarti baginya barang tersebut hanyalah sebuah sampah.


Sepertinya Lea telah menemukan tangkapan yang begitu besar.


"Sekali lagi, selamat malam para tamu yang terhormat. Dengan ini, secara resmi saya buka acara pelelangan pada malam hari ini."


Suara MC kembali menyita perhatian para tamu. Lea yang sejak tadi berusaha mendekati Biern pun juga ikut mengalihkan fokusnya.


"Baik, kalau begitu, barang pertama."


Seorang wanita berpakaian formal mendorong sebuah troli yang di tutupi oleh kain putih. Ia berhenti tepat ditengah panggung.


Sreeek—


MC menarik kain putih yang menutupi, memperlihatkan sebuah patung pahatan yang ukurannya tidak lebih dari 25 senti. Patung itu di lindungi oleh sebuh box kaca yang terlihat sangat kokoh.


"Goddess of Dream, karya seorang pemahat terkenal para abad ke-17. Seperti informasi yang sudah kami cantumkan dalam katalog, patung ini kami ambil langsung dari Yunani."


Para tamu yang tertarik dengan patung itu, menggenggam papan mereka dengan erat.


"Harga kami mulai dari $10,000."


Seorang tamu mengangkat papannya sebagai tanda bahwa dia menginginkan benda itu.


"Nomor 20, $10,050."


Orang lain juga ikut mengangkat papan mereka.


"Terima kasih, Mr. Rabbit, $110,000."


"Nyonya nomor 31, $110,050."


"Nomor 11, $120,000."


MC menunggu orang lain mengangkat papan mereka, namun sepertinya sudah tidak ada lagi yang tertarik.


"$120,000 going once,"


"$120,000 going twice,"


Tetap tidak ada pergerakan.


"$120,000 sold."


Tok!


Palu diketuk sebagai tanda bahwa barang telah terjual.


Barang yang dikeluarkan dalam pelelangan biasanya berurutan dari yang paling biasa ke yang paling langka.


Harga $1200 itu termasuk harga murah untuk pembukaan. Karena itulah, biasanya para tamu yang mengincar barang langka akan menunggu hingga barang yang mereka inginkan keluar.


Terkadang, ada juga yang memakai trik licik supaya lawan menghabiskan uang di awal lelang. Dengan begitu, orang tersebut dapat mendapatkan barang yang dia incar dengan mudah.


Namun tidak semua orang mudah untuk di tipu karena semua orang yang menghadiri pelelangan ini adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan.


Yang berarti, untuk mempertahankan posisinya, mereka memiliki kemampuan intelejensi yang tinggi sehingga tidak mudah untuk ditipu.


Acara pelelangan terus berjalan seperti semestinya. Satu persatu barang di keluarkan dan terjual.


Biern yang sejak tadi hanya diam, menatap bosan barang-barang itu. Bukan ini yang dia cari.


Satu-satunya alasan kenapa Biern ada disini adalah desas-desus mengenai barang luar biasa yang akan di lelang. Dia mendengar dari seseorang kalau ada sebuah barang bagus yang bisa membuat siapa saja yang memilikinya bisa mendapatkan apapun.


Sebuah barang yang mustahil ada. Namun Biern tertarik dengan hal itu. Di Zen, hanya ada satu barang yang bisa membuatnya mendapatkan apapun yang dia inginkan.


Sorot matanya mulai menggelap, jika pemikirannya benar maka dia harus mendapatkan barang itu. Tidak peduli seberapa tinggi harganya.


TBC