
Seminggu kemudian, proses perpindahan Yuriel telah dilakukan hingga tahap akhir dan telah selesai di review. Akhirnya, Yuriel bisa memulai hari barunya di sekolah yang sama dengan Liyuna.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali, diantar oleh Noel. Liyuna dan Yuriel duduk di kursi belakang. Yuriel terlihat sedikit cemas karena ini pertama kalinya ia sekolah di sebuah sekolah elit.
Liyuna yang melihat itu berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja dan Yuriel tidak perlu khawatir. Mendengar ucapan Liyuna yang begitu positif, Yuriel menjadi sedikit tenang. Ia menikmati perjalanan menuju sekolah dan untuk ke sementara, Noel juga akan menjadi sopir pribadi Yuriel. Liyuna lah yang mengusulkan hal itu karena sulit jika mencari sopir pribadi yang dapat dipercaya secara mendadak. Harus ada beberapa langkah agar orang yang bekerja untuk Castris benar-benar terverifikasi bahwa mereka aman dan bukan ancaman. Hal ini dilakukan agar keluarga Castris selalu aman dan jauh dari bahaya.
Mobil berhenti tepat di area parkir depan sekolah, Noel membukakan pintu untuk Liyuna dan juga Yuriel.
"Terima kasih." Ucap Yuriel dengan malu-malu.
Noel terlihat mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia menerima terima kasih dari Yuriel.
"Terima kasih kak Noel."
Liyuna berjalan menghampiri Yuriel yang terlihat terdiam melihat bangunan megah sekolah yang kental dengan struktur modern. Liyuna tidak tahu apa gang sedang dipikirkan Yuriel karena dia hanya diam dan menatap gedung sekolah dengan ekspresi biasa saja layaknya hal yang sudah biasa. Meski merasa aneh, Liyuna tidak terlalu memikirkannya, mungkin Yuriel merasa terlalu terkesima hingga tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Ayo kita masuk!" Ajak Liyuna, ia menggandeng tangan Yuriel dan sedikit menariknya untuk mengikutinya.
Tanpa protes, Yuriel mengikuti Liyuna. Yuriel terlihat biasa saja ketika melihat furnitur dan benda-benda mahal yang ada di sekolah. Wajahnya tidak menampakkan perubahan yang berarti. Gerak tubuhnya pun terlihat sangat santai dan alami layaknya orang yang sudah terbiasa dengan keadaan disekitarnya.
Murid lain yang melihat Liyuna berjalan dengan seorang anak yang tidak familiar terlihat terheran-heran. Putri satu-satunya Castris Group tidak pernah terlihat berjalan dengan orang lain selain Yvette dan juga Lucas sebelum dia pindah. Tampak jelas di wajah mereka yang sedang bertanya-tanya mengenai identitas asli dari anak cantik yang dengan akrabnya Liyuna tuntun.
Jika dilihat dari paras saja, anak itu tak kalah cantik dengan Liyuna. Rambutnya coklat kemerahan seperti daun yang berguguran di musim gugur, sedangkan matanya berwarna hazel seperti karamel. Pesonanya terlihat sangat kontras dengan Liyuna yang terlihat sangat dingin dan susah di dekati. Anak itu memancarkan aura bak malaikat baik hati.
Sejak Liyuna berteman dengan Lucas, kebanyakan murid di sekolah ini mencoba untuk mendekatinya karena sepertinya persepsi mereka tentang Liyuna salah total. Liyuna bukanlah orang hang dingin dan angkuh, hanya saja aura nya yang terasa seperti itu.
Liyuna tidak membawa Yuriel ke ruang kelasnya, melainkan ruang kepala sekolah agar wali kelas nanti bisa mengenalkannya pada murid lain. Di sekolah ini, sangat jarang ada murid yang masuk di tengah kelas seperti Yuriel karena biasanya mereka akan langsung terdaftar sejak pertama kali sekolah di sekolah dasar.
Liyuna mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan lembut namun tetap menimbulkan suara yang cukup agar kepala sekolah dapat mendengarnya.
Dari dalam ruangan terdengar suara kepala sekolah yang mempersilahkannya untuk masuk, tanpa ragu Liyuna membuka pintu. Kepala sekolah adalah seorang pria yang sudah tua, rambutnya putih dan wajahnya sudah berkeriput namun beliau memancarkan energi seperti anak muda. Beliau selalu bersemangat meski umurnya sudah tidak muda lagi dan beliau juga di sukai anak-anak karena sangat bijaksana.
Millon sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama kurang lebih 30 tahun, dulu dia hanya lah guru biasa namun karena prestasinya yang luar biasa, pemilik sekolah menjadikannya sebagai kepala sekolah.
"Ada perlu apa nak Liyuna?" Tanyanya sembari membenarkan kacamata bulatnya.
Ia terlihat habis membaca sebuah berkas karena di mejanya ada kertas tebal yang habis dibuka.
"Selamat pagi, kepala sekolah Millon. Saya membawa adik saya kemari."
Mendengar ucapan Liyuna, pandangan Millon langsung teralihkan. Ia melihat Yuriel yang berdiri di belakang Liyuna dan menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Meski wajahnya tidak berekspresi dia tidak memancarkan aura jahat maupun keangkuhan. Benar-benar anak yabg unik.
Yuriel memberi salam pada Millon dengan suara kecil. Millon pun membalas salamnya dan mempersilahkan Liyuna dan Yuriel untuk duduk.
Mereka berdua mengikuti ucapan Millon dan langsung membahas tentang kepindahan Yuriel. Millon meminta Yuriel untuk menunggu di ruang kepala sekolah sampai wali kelas datang menjemput sedangkan Liyuna diminta untuk kembali ke kelas.
Liyuna menuruti apa yang dikatakan kepala sekolah dan kembali ke kelas, namun sebelum itu dia mencoba untuk meyakinkan Yuriel bahwa semua akan baik-baik saja.
Yuriel hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Liyuna. Dia menatap punggung Liyuna yang semakin menjauh hingga akhirnya tak terlihat karena pintu tertutup.
Liyuna kembali ke kelas dengan perasaan yang cukup lega karena akhirnya dia sudah menyelesaikan tugasnya untuk membantu Yuriel. Jika ingatannya tidak salah, di dalam game Yuriel akan tidak akan memiliki banyak teman atau lebih tepatnya dia dikucilkan karena murid lain tidak ingin membuat Liyuna marah. Yvette sebagai sahabat setia Liyuna bahkan akan melakukan hal yang sangat buruk dan selalu menganggu kehidupan sekolah Yuriel. Untuk mencegah semua itu, Liyuna harus mencoba untuk menggeser sedikit alur cerita dalam game.
Sesampainya di kelas, dia di sapa oleh Yvette dengan suaranya yang ceria.
"Yuna, selamat pagi!"
"Selamat pagi, Yvette!"
Liyuna berjalan mendekati Yvette yang berdiri tak jauh dari bangkunya. Liyuna meletakkan tasnya di atas bangku dan duduk. Yvette juga melakukan hal yang sama dan duduk di bangku milik murid lain yang ada dihadapan Liyuna.
"Lama tidak bertemu, aku kangen sekali."
Mendengar hal itu Liyuna sedikit terkekeh dia juga membalas bahwa Liyuna juga kangen dengan Yvette. Terakhir kali mereka bertemu adalah liburan musim panas lalu dan terakhir menghubungi satu sama lain ketika pelaku pengeboman Havelian Park ditemukan tewas. Sejak saat itu keduanya begitu sibuk hingga tidak bisa selalu menghubungi.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Liyuna.
"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan Yuna?"
"Aku juga baik-baik saja."
"Oh ya, aku tadi dengar katanya Yuna berangkat dengan seseorang yang asing? Siapa dia?" Tanya Yvette penasaran.
"Nanti kau akan tahu sendiri."
"Heee? Tolong beritahu aku sekarang." Rengek Yvette.
Liyuna hanya terdiam dan tersenyum mendengar rengekan Yvette. Bukannya dia tidak mau memberi tahu, hanya saja Liyuna ingin Yvette mengetahui secara formal lewat wali kelas, baru nanti Liyuna akan memperkenalkan Yuriel secara pribadi.
Tak lama kemudian, wali kelas masuk ke kelas. Liyuna sebagai ketua kelas memimpin kelas untuk memberi salam pada wali kelas. Setelah itu, wali kelas meminta semuanya untuk kembali duduk dan mempersilahkan Yuriel untuk masuk.
Yuriel masuk ke kelas dengan langkah yang begitu anggun. Dia terlihat sangat percaya diri, wajahnya pun juga terlihat sangat berseri. Yuriel tersenyum ketika matanya tidak sengaja bertatapan dengan Liyuna. Murid-murid yang pertama kali melihatnya terlihat terpukau dengan aura bercahaya milik Yuriel. Dia adalah anak yang memancarkan aura tidak biasa di mata orang lain membuat mereka tidak bisa bekata-kata.
"Perkenalkan dirimu." Ucap wali kelas yang meminta Yuriel untuk memperkenalkan diri.
"Halo semuanya, perkenalkan namaku Yuriel Castris."
TBC
^^^Next :^^^
^^^Chapter 39 - Yuriel di Sekolah II^^^