Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 148 - Meninggalkan Red Diamond



Dudu... Dudu... Dudu...


Suara bising dari baling-baling helikopter tak bisa membuyarkan konsentrasi tinggi Yuda.


Dia menghabiskan masa mudanya di Akademi dan melakukan berbagai macam pelatihan ekstrim untuk sampai ke titik ini.


Hanya suara bising dari baling-baling tidak akan bisa membuatnya kehilangan fokus.


Saat ini, ditangannya ada sebuah senapan sniper. Ia memakai baju tactical yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang berasal dari militer.


Rambutnya ia tata ke atas supaya tidak menghalangi pandangan. Yuda yang saat ini, memiliki kesan yang berbeda dari biasanya. Ini adalah Yuda yang berada dalam mode bekerja.


"Buka pintunya."


Yuda mengetuk pintu helikopter dengan ringan, tanpa menatap orang yang dia ajak bicara.


Di kursi pilot, terlihat sebuah rambut perak yang indah. Lucas yang sedang fokus mengemudikan helikopter langsung menekan sebuah tombol tatkala mendengar ucapan Yuda.


Saat ini mereka sudah dekat dengan target.


"Posisi kita berada sekitar 1 kilometer dari target." Lucas menatap sebuah layar yang ada dihadapannya dan memberitahu informasi barusan pada Yuda.


"Aku tahu, aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini."


"Apakah kita harus mendekat sedikit lagi?"


Lucas tidak tahu seberapa hebat kemampuan membidik Yuda, karena itulah ia bertanya.


"Tidak perlu. Dengan jarak sedekat ini, kemungkinan aku meleset adalah 0%," ucap Yuda dengan percaya diri.


"Aku harap kau memang sehebat itu." Gumam Lucas.


Memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yuda adalah siswa terbaik di Akademi. Dia selalu memecahkan rekor yang sebelumnya pernah ada.


Jarak 1 kilometer bukanlah suatu yang sulit baginya, karena sejauh ini dia mampu menembak dengan jitu dari jarak lebih dari 2 kilometer.


"Bagaimana kondisi disana?"


Yuda mengawasi geladak kapal dengan kaca pembesar yang ada di senapannya. Dari sana, ia bisa melihat sekacau apa geladak kapal Red Diamond saat ini.


Mata amber-nya berusaha mencari sosok familiar, mencari gadis berambut hitam yang selalu menarik perhatiannya.


Ketika netranya menangkap sosok tersebut, hatinya merasa lega. Namun semua itu tak berlangsung lama.


Seorang pria dengan luka di mata terlihat sedang mengancam gadis itu, Liyuna.


Yuda mengenali wajah pria itu. Entah sudah berapa kali ia membaca berkas mengenai pria tersebut. Dia merupakan salah satu buronan paling dicari oleh pemerintah, pemimpin organisasi kriminal besar, Cerberus.


Saat ini Yuda harus bersikap tenang dan menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.


Namun, sikap tenangnya seketika hancur tak tersisa ketika dia melihat Liyuna yang hampir jatuh dari kapal.


Tanpa aba-aba dia langsung menekan pelatuk dan melesatkan peluru tak bersuara ke arah orang yang hampir menjatuhkan Liyuna.


Detik itu juga, orang tersebut kehilangan nyawanya.


"—!!!" Lucas yang melihat tindakan tiba-tiba Yuda terlihat sangat terkejut.


Padahal sampai beberapa waktu yang lalu Yuda selalu bersikap tenang dan sabar.


Sebenarnya apa yang dia lihat sampai kehilangan kesabaran seperti itu?


Di sisi lain, Hajun yang duduk tak jauh dari posisi Yuda yang sedang menembak, secara garis besar paham apa yang sedang terjadi. Pemicu tindakan Yuda pasti adalah apa yang Yuda lihat.


"Kau menemukannya?" Tanya Hajun. Suaranya terdengar begitu datar dan tenang.


"Iya. Sepertinya proses penyelamatan tidak akan sulit melihat target ada di luar."


"Jadi kita tidak perlu turun ke kapal?"


"Aku rasa tidak perlu."


Kembali pada Liyuna...


Saat ini gadis itu sedang menutup matanya dengan erat. Ia memegang besi pembatas dan berjongkok di ujung kapal untuk menghindari tembakan.


Sejak tembakan pertama diluncurkan, tembakan lain datang bertubi-tubi.


Seluruh bawahan Harry yang tadi hendak menyeret Liyuna dengan paksa mulai berpencar untuk mencari perlindungan. Berbeda dengan mereka yang terlihat panik, Harry terlihat bisa saja.


Dia tidak terlihat takut atau merasa terancam. Liyuna tidak mengerti kenap dia bisa sepercaya diri ini. Harry adalah seorang buronan yang paling di cari, jika seseorang menangkapnya pasti akan mendapat hadiah yang begitu luar biasa.


"Apa yang terjadi?" Dari kejauhan, Feon terlihat sangat kebingungan.


Para bawahan satu persatu mulai tumbang, dia yang berada cukup jauh dari tempat kejadian jadi tidak tahu apa yang terjadi.


"Pemimpin!" Panggilnya.


Melihat Harry yang diam mematung ketika bawahannya tumbang, Feon merasa cemas.


Tidka hanya itu, bahkan Harry tidak mengambil kembali senjata api yang tadi ia jatuhkan.


"???" Feon mengernyitkan dahinya karena Harry tidak memberikan respon.


Ketika melihat rekannya tumbang satu persatu, dia mencoba melihat apa penyebabnya. Dan hasilnya, sebuah peluru menembus tepat di kepala seluruh korban.


"Apa?!"


"Dimana dia?!"


"Cepat cari penembak jitu itu!!"


Nava yang sejak tadi tidak bisa bergerak karena ditindih oleh kaki Feon mulai bisa bergerak walau sedikit.


Sepertinya kejadian barusan membuat fokusnya pecah.


Ini adalah kesempatan!


Dengan lihai, Nava mencengkram kaki Feon dan membantingnya ke lantai. Feon yang tidak siap, terbanting dengan mudah.


"Uuughh..." Erangnya menahan sakit.


"Biern!" Panggil Nava dengan suara kencang.


Melihat bagaimana situasi saat ini, mereka harus cepat melarikan diri. Biern memahami tindakan Nava dengan mudah, dia meninggalkan sisi Liyuna dan bergerak mendekati Nava.


Dudu... Dudu... Dudu...


Suara helikopter mulai mendekat, membuat seluruh orang panik. Mereka mengira heli tersebut milik pihak kepolisian dan takut jika tertangkap.


"Pemimpin, lebih baik kita mundur sekarang juga!" Feon berjalan tertatih mendekati Harry.


Saat ini mereka sudah tidak punya pilihan lain selain mundur. Jika Harry sampai tertangkap, semua akan menjadi rumit. Apa lagi saat ini di kapal masih ada banyak sekali tamu dengan identitas yang tidak biasa.


Harry menatap kearah datangnya helikopter sejenak, "Sepertinya kau benar. Ayo kita mundur terlebih dahulu."


Feon menghembuskan nafas dengan lega. Syukurlah Harry mau mendengarkannya.


Liyuna yang sejak tadi jongkok lemas di pojokan, menatap helikopter yang berdiri diatasnya.


Sebuah tangga tali di turunkan, tak berapa lama kemudian sosok pria berambut putih kotor turun dari sana. Ia memegang tangga tali dengan erat.


Helikopter turun sedekat mungkin dengan posisi Liyuna. Ketika dirasa jarak sudah cukup, Hajun mengulurkan tangannya pada Liyuna.


"Ayo naik, aku akan membantumu." Ucapnya.


Yuda yang sejak tadi membawa senapan sniper, mengarahkannya pada Harry untuk berjaga-jaga jikalau dia melakukan sesuatu.


Namun di sela-sela bidikan, Yuda menangkap sosok yang tidak asing baginya. Yuda menurunkan senjatanya dan menatap orang tersebut dengan seksama.


Meski hanya terlihat punggung dan rambutnya, Yuda sangat mengenali orang itu.


"Jadi kau sungguh masih hidup?!"


Semakin lama, punggung Biern semakin menghilang. Dia melarikan diri dengan Nava dan berusaha mencari sekoci di lantai bawah.


Liyuna memandang tangan Hajun. Dengan susah payah, ia berdiri dan meraihnya.


Ketika Liyuna meraih tangannya, Hajun menarik tubuhku Liyuna dengan begitu mudah seolah tubuhnya sangat ringan seperti kapas.


Hajun melingkarkan satu tangannya ke pinggang Liyuna dan menggunakan tangan lain untuk memegang tangga tali.


"Pegang yang erat." Keduanya bergelantungan di udara ketika helikopter yang Lucas kemudikan mulai naik.


Harry melihat kejadian itu dengan wajah datar. Dia terlihat sangat tenang dan tidak terganggu dengan apa yang terjadi.


Feon menarik tubuh Harry dengan ringan dan memintanya untuk masuk ke dalam kapal.


Melihat adanya seorang sniper, posisi Harry sangat tidak diuntungkan dan sangat rawan. Dia bisa menjadi sasaran empuk sniper tersebut untuk dijatuhkan.


Helikopter membawa Liyuna menjauh dari Red Diamond. Meski samar, dia bisa merasakan tatapan Harry yang tidak pernah lepas darinya.


Liyuna mengalungkan tangannya ke leher Hajun dan memeluknya dengan erat. Saat ini tubuhnya sudah mencapai batas, ia benar-benar berada dalam kondisi yang sangat lemah.


Sreeek—


Bersamaan dengan kesadaran Liyuna yang mulai mengabur, kakinya tidak bisa menahan beban tubuhnya dan terpleset dari anak tangga.


Untung saja, Hajun sangat kuat. Dia bisa dengan mudah menahan tubuh Liyuna agar tidak terjatuh.


Ketika kapal Red Diamond sudah mulai tidak terlihat, mentari mulai menampakkan dirinya, menerangi malam gelap yang selama ini membelenggu Liyuna.


Sedikit demi sedikit, kesadarannya mulai menghilang. Liyuna tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Yang pasti, dia kehilangan kesadaran.


Malam yang begitu panjang akhirnya berakhir. Perjalanan Liyuna baru saja dimulai.


Dengan memegang kunci baru mengenai identitas Harry, kehidupannya yang damai telah berakhir.


Satu persatu rahasia yang selama ini disembunyikan, mulai terkuak. Pilihan seperti apa yang dia buat akan  menentukan masa depan yang baru.


Dia adalah penjahat wanita yang berusaha untuk bertahan hidup.


Surviving as the Villaines.


TBC