Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 147 - Pasukan Penyelamat



Angin laut berhembus semakin kencang, seiring semakin malamnya hari.


Liyuna mulai merasakan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya. Dia sendiri tidak yakin apakah dirinya bisa bertahan sedikit lebih lama lagi. Luka akibat kecelakaan yang sebelumnya tidak terasa, kini mulai membuat Liyuna kesakitan. Tubuhnya seolah baru saja tertabrak oleh sebuah truk.


Meski begitu dia tidak boleh menyerah. Padahal dia sudah sejauh ini, Liyuna harus bisa bertahan hingga akhir.


Harry berjalan mendekati Liyuna, namun Biern yang berada di depannya mengangkat belati yang ada ditangannya sebagai bentuk peringatan.


"Ah, kau orang yang membantunya, ya?"


Melihat Biern, Harry jadi teringat akan perkataan staff yang memberi laporan padanya.


Seorang tamu yang membantu Liyuna kabur. Jadi dialah orangnya.


Harry menatap wajah Biern sejenak, lalu matanya menampakkan sekelebat cahaya singkat, seolah baru mengenali sesuatu.


"Kau... Bukankah kau orang itu?"


Harry memegang dagunya sembari kembali mengingat-ingat kepingan memori di masa lalu, "....orang yang terlibat dalam insiden Frozen December."


Wajah Biern tidak berubah sama sekali mendengar ucapan Harry.


"Kenapa kau ada disini?" Ekspresi wajah Harry berubah dengan cepat, matanya melotot dan bibirnya membentuk seringai yang begitu menakutkan.


"Sudah sejak lama kau memata-matai aktivitas Cerberus. Aku membiarkanmu karena sepertinya kau tidak berniat untuk mengacaukan bisnisku. Tapi apa ini? Kau bekerja sama dengan Castris?"


Liyuna menatap kearah Biern. Dia tidak mengenali siapa Biern, jadi tidak mungkin dia membantu hanya karena Liyuna adalah bagian dari keluarga Castris.


"Jangan salah paham. Aku tidak ada hubungannya dengan keluarga Castris." Biern mulai membuka suara.


Dia tidak peduli apa yang Harry ucapkan, namun sepertinya saat ini dia harus mengulur waktu.


Mata Biern mengarah pada sebuah tonjolan yang ada di balik jas yang Harry pakai.


Sebuah revolver. Tebakan Biern tidak mungkin salah. Sepertinya dia harus mulai berhati-hati. Akan sulit jika Harry sudah mulai bermain dengan senjata api.


"Tidak ada hubungannya? Lalu bagaimana kau menjelaskan tindakanmu saat ini?"


"Hanya saja, aku tidak bisa diam saja melihat kau menyiksa seorang anak di bawah umur."


"Hahaha... Apa itu karena pekerjaanmu sebelumnya? Kau memiliki rasa keadilan yang sia-sia."


Tawa Harry terdengar begitu menyeramkan. Liyuna dapat merasakan ejekan yang tersirat.


Mata biru Liyuna menatap punggung Biern. Dia penasaran tentang identitas Biern yang sebenarnya. Jika dilihat dari reaksi Harry yang terlihat kenal dengan Biern, sepertinya Biern memiliki agendanya sendiri.


Mungkin saja dia membantu Liyuna bukan karena kebaikan hatinya. Meski begitu, Liyuna tidak akan menyia-nyiakan bantuan dari Biern.


Liyuna akan mengingat wajah Biern dan mematrinya dalam ingatan. Jika suatu hari nanti mereka bertemu kembali, Liyuna pasti akan membalas bantuannya.


Yang terpenting saat ini adalah bertahan hidup. Bagaimana cara Liyuna bisa bertahan hidup dalam situasi ini.


Saat ini mereka berada di tengah lautan. Kabur dengan menerjunkan diri ke laut bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Itu adalah tindakan bodoh yang membuang nyawa dengan percuma.


'Andai saja ada bantuan yang datang dari udara...'


Tentu saja harapan Liyuna tidak mungkin terwujud. Tanpa adanya GPS, Liyuna tidak yakin Papa-nya dapat menemukannya.


"Yah, itu tidak penting sekarang karena kau akan segera mati." Harry melepas pengaman senjata api yang ada ditangannya.


Tubuh Biern seketika menegang. Sehebat apapun dia dalam bela diri, tetap saja manusia tidak akan bisa melarikan diri dari senjata api. Apa lagi posisi Biern saat ini sedang tidak diuntungkan karena ada Liyuna dibelakangnya.


Harry mengarahkan revolver kearah Liyuna. Hanya dengan beberapa detik, peluru bisa menembus kepalanya kapan saja.


Liyuna yang tidak tahu harus lari kemana lagi, mulai putus asa. Dia sudah sampai di ujung geladak. Tak ada jalan untuk kabur.


Tiba-tiba saja, suara benturan yang begitu keras terdengar. Dari arah belakang, Liyuna dapat melihat sosok Nava. Dia dengan lihai melumpuhkan beberapa penjaga yang ada disana dan berusaha untuk mendekati Harry.


Feon yang sejak tadi hanya diam, menghentikan pergerakan Nava. Tinju mereka saling beradu satu sama lain, namun Nava tidak kalah.


Dia bisa menyeimbangi Feon yang merupakan tangan kanan Harry. Walau begitu jika situasi ini terus berlanjut, Nava pasti akan kalah.


Harry melirik kearah belakang, melihat siapa orang yang Feon lawan.


"Apa itu bawahanmu? Hebat juga kalian bisa menyusup sampai sejauh ini."


Itu bukanlah sebuah pujian. Harry mengatakannya dengan nada sarkastik yang mengejek.


Ketika Harry hendak menekan revolver, sebuah pisau melesat dengan kecepatan tinggi, membuatnya melepas revolver secara refleks.


"Pemimpin!!" Teriak Feon khawatir.


Melihat bagaimana punggung tangan Harry yang tergores pisau dan mengeluarkan darah, Feon merasa bersalah.


"Dasar ******!" Umpatnya pada Nava, orang yang melempar pisau barusan dengan presisi luar biasa.


"Heh! Anjing yang tidak bisa melindungi majikannya patut untuk dibuang." Ejek Nava pada Feon yang dinilai tidak kompeten.


"Aku akan membunuhmu!" Suara Feon mulai terdengar sangat menakutkan. Sorot matanya menajam bagai pisau yang siap digunakan untuk memotong daging.


Dia memasang kuda-kuda untuk melawan Nava. Saat ini, dia sudah mulai serius.


Nava yang melihat hal itu, juga mulai serius. Dia bisa merasakan aura berbahaya yang terpancar pada Feon.


Detik berikutnya sebuah tinju dengan kecepatan luar biasa mendarat di pipi Nava, membuatnya sedikit mundur.


Feon kembali mendaratkan pukulan kedua, namun Nava berhasil menghalaunya.


"Cih." Nava mendecakkan lidahnya dengan kasar.


Kekuatannya tak sebanding dengan Feon. Meski begitu dia harus bertahan.


Di sisi lain, Harry yang sejak tadi memperhatikan tangannya yang berdarah juga mulai bergerak kembali.


Dia menjentikkan jarinya. Lalu, beberapa saat kemudian segerombolan penjaga berbaju hitam mengurung Liyuna dan Biern hingga mereka tidak memiliki jalan keluar lagi.


"Biern!" Teriak Nava khawatir ketika melihat kepungan yang dilakukan oleh Harry.


"Kemana kau mengalihkan pandanganmu?!" Melihat adanya kesempatan, Feon langsung memukul mundur Nava hingga tubuhnya terpental menatap dinding.


Dia melirik kearah Biern berada, namun Nava tidak menemukan sosoknya karena terhalang oleh lautan penjaga berbaju hitam.


Feon berjalan mendekati Nava. Dia menginjak punggung belakangnya hingga dia tidak bisa bergerak.


"Dasar amatir. Inilah akibatnya jika kau kehilangan fokus saat bertarung."


Nava tidak bisa membantah ucapan tersebut. Sebagai seseorang yang sudah dilatih secara profesional, dia mengakui kesalahannya.


Nava terlalu larut dalam perasaan. Tidak seharusnya dia mengkhawatirkan Biern. Dibanding dengan siapapun juga, Nava paling tahu dengan kekuatan Biern.


"Menyerah saja, sudah tidak ada jalan keluar lagi." Ucap Harry menyarankan.


Ia menginjak revolver yang tadi terjatuh dengan kakinya, seperti tidak memiliki niat untuk mengambilnya kembali.


"Menyerah? Kata itu tidak pernah ada dalam kamusku."


"Begitu, ya? Sayang sekali."


Harry memerintahkan bawahannya untuk membuat Biern dan Liyuna semakin terpojok, mereka berjalan mendekat dan menyusutkan jarak.


Ketika salah seorang penjaga yang paling dekat dengan Liyuna berusaha untuk meraihnya, Biern memukul mundur orang tersebut.


Sepertinya kali ini Biern sudah membuat keputusan. Dia mencoba untuk memukul mundur pasukan yang Harry bawa sehingga menjauhi Liyuna.


Melihat Biern yang mulai melawan, tentu saja para penjaga tidak membiarkan dia begitu saja.


Karena mereka sudah tersudutkan, para penjaga tidak merasa khawatir dengan kehadiran Liyuna. Mereka tahu kalau Liyuna tidak akan bisa kabur, makanya mereka akan fokus pada Biern terlebih dahulu.


Tembok penghalang besar memang harus disingkirkan.


Liyuna yang melihat kekacauan tersebut, berusaha untuk menjauh. Dia tahu kalau Biern berusaha menarik perhatian para penjaga supaya tidak mengganggunya.


Namun, melihat tatapan Harry yang seolah tidak masalah dengan hal itu membuat Liyuna merinding.


Saat ini dia merasa seperti seekor tikus yang tersudutkan dan siap dimangsa oleh predator.


'Aku takut...'


Ini pertama kalinya Liyuna jujur dengan perasaannya. Saat ini dia mulai merasakan rasa takut yang begitu luar biasa.


Dia merasa putus asa dan tak tahu harus bagaimana lagi.


'Papa...'


Dia hanya bisa berharap, Karl dapat menemukannya secepat mungkin.


Dari kejauhan, ditengah suara ombak yang terus terdengar. Ada sebuah suara bising yang membuat Liyuna tanpa sadar mencarinya.


'Suara ini...'


Suara yang begitu familiar. Liyuna pernah mendengar suara ini secara dekat.


Tiba-tiba saja, dari arah belakang, seseorang menjenggut kepalanya.


"Aakkkh!!!" Liyuna yang merasa kesakitan tidak bisa menahan teriakan yang keluar dari mulutnya.


Rambutnya ditarik kebelakang oleh salah satu penjaga, lalu tubuhnya dihantamkan dengan begitu keras ke besi pembatas, membuat pandangan Liyuna mulai berkunang-kunang.


Dia menatap ke bawah, melihat ganasnya ombak malam yang menggebu-debu.


Berakhir sudah, hanya dengan sekali dorongan, Liyuna pasti akan terjatuh. Dan jika itu terjadi, sudah dapat dipastikan bahwa Liyuna akan mati.


Kehidupan keduanya yang dia pertahankan selama ini, akan segera berakhir.


'SADARLAH! LIYUNA!!'


Suara teriakan berusan menyadarkan Liyuna. Itu adalah suara milik Liyuna asli yang sudah dewasa. Liyuna dengan gaun merah yang sering dia temui dalam mimpi.


'Tidak! Aku tidak boleh mati sekarang!'


Setelah sadar akan pikiran buruknya, Liyuna mencoba untuk memberontak. Namun tenaganya tidak cukup kuat apalagi setelah semua yang telah dia lalui.


Ketika tubuh Liyuna mulai terdorong, tiba-tiba saja beban berat yang menindihnya menghilang.


Gluduk—


Penjaga yang tadi menjenggut kepalanya tergeletak tak sadarkan diri dengan dahi berlubang.


Melihat lubang tersebut, Liyuna tahu apa yang baru saja terjadi. Dia telah mati. Seseorang telah menembaknya.


Liyuna mengigit bibir bawahnya hingga berdarah. Dia berusaha untuk tidak berteriak dan panik.


Matanya menatap kearah datangnya tembakan. Walau dia tidak mendengar suara tembakan, namun Liyuna tahu bahwa ada tembakan dari arah datangnya suara bising tersebut.


"Apa?! Apa yang baru saja terjadi?"


"Dia tertembak!!"


"Seseorang menembaknya!!"


Para bawahan Harry yang melihat kematian rekannya, mulai mencari sumber tembakan. Namun mereka tidak dapat melihat siapapun ditengah gelapnya lautan malam.


Berbeda dengan mereka, fokus Harry langsung teralihkan pada sebuah objek yang mulai mendekati kapal.


Matanya menyipit melihat objek yang datang entah dari mana.


Mata biru Liyuna, menangkap sebuah objek yang tidak asing di udara. Sebuah helikopter.


Pasukan penyelemat sudah datang!


Tanpa sadar mata Liyuna sedikit berkaca-kaca karena terharu. Itu pasti pasukan yang Karl kirim untuknya.


Syukurlah, sepertinya dia masih bisa bertahan hidup sedikit lebih lama lagi.


TBC