
Sudah lebih dari lima belas menit Victor menunggu di bandara. Dia terlihat sedang duduk, di kepalanya ada headphone berwarna oranye yang begitu mencolok. Sesekali dia bersenandung mengikuti lagu yang ia dengar dari headphone.
Di mulutnya ada lollipop rasa lemon dan karena terlalu bosan dia memutar lollipop itu dengan lidahnya.
Beberapa waktu yang lalu, Allen menelpon dan memintanya untuk datang ke Elisien. Itu adalah permintaan yang cukup mengejutkan karena Allen jarang sekali meminta bantuannya jika memang tidak ada hl yang penting. Terakhir kali dia meminta bantuan sudah cukup lama sekali, ketika mereka masih anak-anak. Allen memintanya untuk meretas gadget milik kakaknya, Altzion Ravenray.
Namun sayang sekali Zion adalah orang yang cukup berhati-hati. Sepertinya dia juga tahu kalau ada yang meretas gadget miliknya. Karena itulah dia tidak menggunakan gadget itu.
Pasti ada suatu alasan mengapa Allen memanggil dan memintanya untuk menetap sementara di Elisien. Allen pasti memiliki sebuah rencana yang membutuhkan skill miliknya. Yah, dia juga tidak akan menolak jika Allen yang meminta karena berkat dia juga dia bisa mendapat pendidikan terbaik mengenai peretasan.
Dan juga, Victor adalah tipe orang yang suka dengan aktivitas yang bisa memacu adrenalin. Dengan dipanggilnya dia di sini, pasti akan ada hal-hal menyenangkan terjadi. Setidaknya, menyenangkan baginya.
Ponsel yang ada di saku celananya tiba-tiba bergetar. Victor langsung mengangkat telepon dan menunggu orang yang berada di sebrang sana berbicara.
"Aku sudah ada di tempat parkir."
Bip...
Belum sempat Victor menjawab, Allen sudah mematikan ponselnya.
Tanpa menunggu lama lagi, Victor langsung pergi menuju tempat parkir. Karena Allen mengatakan akan menjemputnya dengan motor maka ia telah mengantarkan kopernya dengan menyewa taksi beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya Victor ingin sekali langsung ke apartemen naik taksi tetapi Allen bersikeras memintanya untuk ikut dengannya.
Sepertinya ada sesuatu yang ingin Allen katakan padanya.
Di tempat parkir, Allen terlihat memakai pakaian serba hitam. Dia duduk diatas motor dan menunggu kedatangan Victor.
Dia memiliki alasan tersendiri kenapa meminta Victor untuk bertemu dengannya secara langsung. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan dan semoga saja Victor bisa melakukannya.
Namun karena permintaannya kali ini sangat berbahaya dan mungkin saja bisa membahayakan nyawanya, makanya Allen tidak kan memaksa jika Victor tidak menyanggupi permintaannya.
"Lama tidak bertemu." Victor datang menghampiri Allen, tanpa banyak basa basi Allen langsung melemparkan helm pada Victor.
"Kita akan kemana?"
"Ikut saja."
Victor tidak bertanya lebih lanjut lagi. Dia mengikuti ucapan Allen dan ikut bersamanya.
"Aku tidak menyangka akan berboncengan dengan seorang pria." Ucap Victor dengan nada bercanda.
Allen tidak membalas candaan dari Victor. Ia mengemudikan motornya dan pergi menjauh dari bandara menuju di sebuah jembatan yang ada di Kota Elisien.
Sesampainya di jembatan tersebut, Allen memarkirkan motornya di pinggir jalan. Ia berjalan mendekati pagar dan melihat kebawah kearah sungai yang sedang mengalir.
"Kau ingin berbicara ditempat seperti ini?"
"Akan lebih aman jika kita berbicara disini."
"Jadi ada apa?"
Victor berdiri di samping Allen, dia juga ikut melihat kearah sungai mengalir yang ada dibawah jembatan.
"Elisien ternyata indah juga, ya."
Netra Victor menatap lurus ke bayang-bayang kota Elisien yang terpantul dari sungai. Lalu ia menatap jauh ke depan, dimana ada banyak sekali cahaya lampu yang mengindikasikan bahwa disana adalah tempat dimana manusia tinggal.
"Aku membutuhkan kemampuanmu."
"Itu sih, aku juga sudah tahu. Tapi untuk apa? Sejak kau kembali ke Elisien kau tidak pernah meminta bantuanku sama sekali."
"Ada yang ingin aku cari tahu. Tapi jika kau menyanggupi permintaanku, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."
Kedua mata Victor membulat dengan sempurna ketika mendengar apa yang Allen ucapkan. Dia bukannya terkejut atau apa karena Victor sendiri tahu bahwa pekerjaannya memang sangatlah berbahaya namun dia merasa sedikit tidak percaya karena Allen mengkhawatirkannya.
"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Sejak awal pekerjaanku bukanlah sesuatu yang aman."
"Kalau begitu, aku anggap kau menyetujui untuk membantuku."
"Tentu saja. Aku kan sudah pernah bilang, kalau kau butuh bantuan katakan saja padaku. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, Boss."
Allen menghela napas dengan kasar setelah mendengar ucapan Victor. Sejak awal dia tahu bahwa Victor tidak akan menolak permintaannya. Sepertinya rasa khawatir yang dia miliki tidak terlalu berguna.
"Jadi apa permintaanmu?"
"?"
Allen membalikkan badannya dan menatap kedua mata Victor dengan tegas.
"Aku ingin kau mencari tahu pergerakan mereka."
"Cerberus... maksudmu dalang dibalik kematian Ibu tirimu?"
Victor kali ini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia tidka menyangka Allen akan memintanya untuk memata-matai organisasi kriminal seperti Cerberus.
"Iya, Cerberus yang itu."
"Alasannya?"
Allen terdiam, di otaknya terputar ingatan yang seperti roll film.
Di kehidupannya yang pertama, dia berhasil mengambil posisi tertinggi di keluarga Ravenray dan berhasil menekan pengaruh Zion. Namun wanita 'itu' mengatakan kalau di garis waktu yang lain, Allen secara sukarela membiarkan Zion berkuasa.
Ketika Allen kembali memikirkan hal itu, ia merasa ada kejanggalan. Kenapa dia membiarkan Zion begitu saja? Sebenarnya kenyataan apa yang tidak ia ketahui?
Dia yang memiliki ingatan tentang semua kehidupan yang telah ia jalani, memberi tahu Allen tentang sebuah kenyataan yang tidak ia ingat. Karena itulah, kali ini Allen harus menggunakan seluruh kartunya untuk melindungi apa yang dulu tidak bisa ia lindungi.
Melihat wajah Allen yang menjadi suram, Victor tidak berniat untuk menanyakan hal itu lagi. Setiap orang memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka katakan pada siapapun dan mungkin hal ini juga sulit bagi Allen untuk mengatakannya.
"Kalau tidak bisa mengatakannya, tidak usah kau katakan."
"Tidak, aku akan memberitahumu. Setidaknya kau perlu tahu alasan kau mempertaruhkan keamanan mu."
Allen mulai berbicara, namun dia meninggalkan fakta mengenai kehidupan masa lalunya. Meski diberitahu pun, belum tentu Victor akan mempercayainya.
Yang perlu Allen lakukan saat ini hanyalah memberi tahu poin-poin penting yang masuk akal.
"Jadi gadis bernama Liyuna ini kemungkinan besar jadi target mereka?"
"Ya, kemungkinan seperti itu."
"Tapi kenapa kau yakin dia yang menjadi target? Dari ceritamu masih ada satu putri lagi kan?"
"Putri satunya Yuriel adalah seorang anak angkat. Sangat kecil kemungkinannya bahwa dia yang menjadi target."
"Target mereka adalah keluarga Castris namun Cerberus malah membunuh anggota keluarga Ravenray..." Victor terlihat sedang berpikir dengan sangat keras, mencoba untuk menghubungkan benar merah yang ada.
"Apa menurutmu Ibu tiri mu mengetahui sesuatu?"
"Besar kemungkinannya. Dia pasti mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui."
"Misalnya identitas dari pemimpin Cerberus."
Allen hanya menatap Victor dengan kedua matanya yang datar, membuat Victor sadar bahwa tebakannya kemungkinan besar benar.
"Sepertinya pekerjaan kali ini akan sedikit sulit?"
"Kau tidak bisa?"
"Tentu saja bisa. Bukan Victor namanya kalau menyerah hanya karena hal seperti itu."
Setelah itu Allen mengantar Victor ke apartemen yang ia sewa. Karena untuk sementara waktu Victor akan tinggal di Elisien, dia harus memiliki tempat tinggalnya sendiri.
"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan katakan saja padaku."
"Tentu saja, aku tidak akan sungkan."
Victor masuk kedalam gedung apartemen dan Allen kembali menyalakan mesin motornya. Ketika bayangan Victor mulai menghilang di balik pintu, Allen menarik gasnya.
Kali ini tidak ada yang boleh terlewatkan. Semua harus berjalan seperti seharusnya dan dia harus bisa menghindari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Tidak ada satupun yang tahu bahwa kemungkinan terburuk yang ditakuti telah terjadi.
TBC