Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 55 - Tempat Persembunyian



Liyuna menaiki anak tangga dengan perlahan dan Allen mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di atas, Liyuna dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa. Di ruang atas terdapat sebuah mini library dengan karpet beludru dan juga bean bag yang empuk. Di sana juga terdapat dispenser air dan juga wifi yang menempel di dinding. Liyuna tidak pernah menyangka kalau ada ruangan seperti ini di dalam menara jam.


"Kenapa bisa ada tempat seperti ini di dalam menara jam?" Tanya Liyuna penasaran. Ia penasaran darimana datangnya barang-barang yang nyaman untuk digunakan bermalas-malasan bisa ada disini.


Seperti menyadari sesuatu, Liyuna langsung berkata, "Jangan-jangan ini tempat kau bermalas-malasan?"


"Apa maksudmu? Ini adalah tempatmu."


Liyuna tidak mengerti maksud dari ucapan Allen. Bagaimana mungkin tempat seperti ini menjadi miliknya. Liyuna baru saja diterima di sekolah ini jadi tidak mungkin tempat ini adalah miliknya, sepertinya kepala Allen terbentur sesuatu.


"Ini." Allen memberikan kunci menara ini pada Liyuna.


"Kenapa kau memberikannya padaku?"


"Sudah kubilang tempat ini adalah milikmu."


"???"


Allen terlihat tidak mau menjawab kebingungan Liyuna. Ia malah duduk di bean bag yang ada di sudut ruangan dan menutup kedua matanya untuk tidur.


Liyuna merasa sedikit kesal karena Allen tidak menjelaskan apapun dan malah seenaknya tidur namun rasa kesalnya hilang ketika melihat ada banyak sekali buku-buku di rak.


Liyuna mengambil salah satu buku berjudul "Aku dan Dunia Lain." Buku tersebut mengingatkan Liyuna pada dirinya sendiri yang saat ini berada di dunia lain.


Liyuna duduk di bean bag kosong sebelah Allen dan mulai membaca buku tersebut. Kata demi kata Liyuna baca dan benar saja ia menjadi teringat kembali kalau ini adalah dunia dalam game yang pernah ia mainkan.


Karena terlalu tenggelam dalam apa yang ia baca, Liyuna tidak menyadari kalau Allen sudah bangun dan mendekat padanya. Allen penasaran dengan buku yang Liyuna baca.


"Kau tidak pernah berubah, ya." Ucap Allen mengomentari Liyuna secara tiba-tiba.


Mendengar Allen mengatakan dirinya tidak pernah berubah, Liyuna menjadi marah. Dia tidak tahu kenapa Allen tiba-tiba menyindirnya seperti itu.


"Apa maksudmu tidak berubah? Dalam beberapa tahun belakangan ini aku banyak berubah tahu."


Allen dapat merasakan amarah Liyuna keluar dari tubuhnya namun ia hanya membalas dengan kekehan kecil. Baginya, Liyuna saat ini terlihat sangat imut seperti kucing yang sedang ngambek.


Otak Allen kembali mengingat peristiwa satu tahun yang lalu sebelum dia pulang ke Elisien.


Kala itu dia bersiap untuk tidur setelah berbincang dengan Victor lewat video call. Malam itu, hujan turun dengan begitu lebat hingga ia bisa mendengar suara petir menyambar dari kamarnya. Jendela di kamarnya pun sedikit bergerak karena tiupan angin yang begitu kencang. Sejak dia datang di Kanada, ini pertama kalinya ia merasakan hujan selebat itu. Karena itulah Allen langsung bersiap untuk tidur dan segera mengakhiri percakapannya dengan Victor.


Ketika ia mulai tenggelam dalam mimpi, Allen melihat sesuatu yang membuatnya kehilangan akal sehat. Di dalam mimpinya itu dia menjadi seperti orang gila, berteriak sekuat tenaga dengan tangan penuh darah.


Sejak kejadian itu, Allen menjadi tahu satu hal. Di harus mengambil jalan lain untuk mencapai tujuannya.


"Hei." Liyuna menepuk bahu Allen dengan ringan, membuat kesadaran Allen kembali.


Pikirannya yang tadi pergi kemana-mana kini hanya terfokus pada Liyuna yang ada dihadapannya.


"Kenapa melamun?" Tanya Liyuna.


"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."


Liyuna mempercayai ucapan Allen dan mengembalikan buku yang sudah selesai ia baca kembali ke rak.


Allen mengikutinya dari belakang, membuat Liyuna sedikit tidak nyaman.


"Kenapa terus mengikuti ku?"


"Just because."


"Jangan mengikuti ku." Ucap Liyuna memperingati Allen.


Liyuna tidak senang dengan perubahan Allen. Dia tiba-tiba mengikutinya dan memperhatikannya, membuat Liyuna sedikit tidak nyaman. Padahal dulu saat masih SD, sifat Allen tidak seperti ini. Dia memiliki sifat pemberontak yang bahkan tidak akan meminta maaf jika tidak di suruh.


"Kau..."


"Apa?"


"Kau sudah berubah."


"Padahal dulu kau terlihat sangat tidak suka padaku."


"Kapan aku tidak suka padamu?"


Ekspresi Liyuna berubah menjadi terkejut mendengar ucapan Allen. Bagaimana bisa Allen melupakan hal itu, padahal saat itu mereka terlibat insiden yang hampir membuatnya mati.


"Kau lupa? Saat di rumah sakit setelah insiden di waktu SD, kau kan enggan menjengukku."


"Kau bahkan tidak bersungguh-sungguh saat meminta maaf." Lanjut Liyuna mencoba kembali mengingatkan bagaimana sifat Allen padanya dulu.


"Oh, waktu itu aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja mendorongmu, lagian kau ikut campur seenaknya."


"Jadi itu salahku?"


"Tentu saja itu salahku."


"Yuna, ayo kita cari makan siang." Ajak Allen setelah melihat waktu yang ada di jam tangannya.


Liyuna melihat jam yang ada di ponselnya dan benar saja sekarang sudah waktunya makan siang, bahkan sejak tadi Yvette terus menghubunginya. Sayang, ponsel pintar milik Liyuna dalam mode silent jadi dia tidak tahu kalau Yvette dari tadi mencarinya.


"Iya, ayo. Yvette dan Yuriel sudah mencari ku sejak tadi."


Menyadari Allen memanggilnya dengan nama Yuna membuat Liyuna menatap Allen.


"Liyuna." Ucap Liyuna menegaskan.


"???" Allen terlihat kebingungan dan tidak mengerti dengan maksud dari Liyuna memanggil namanya sendiri.


"Aku bilang panggil Liyuna, bukan Yuna."


"Apa salahnya dengan Yuna? Kan sudah kubilang, suatu hari nanti aku akan menjadi orang yang paling dekat denganmu." Ucap Allen sembari memegangi ujung rambut Liyuna dan menciumnya.


Apa yang Allen lakukan membuat wajah Liyuna memanas. Ia tidak menyangka Allen melakukan sesuatu seberani ini padanya. Ketika Liyuna sudah hampir meledak dan memarahi Allen, dia sudah melepaskan rambut Liyuna dan turun menuju anak tangga membuat Liyuna menelan kembali sumpah serapah yang hampir keluar dari mulutnya.


Allen terlihat tersenyum ketika turun kebawah namun sayangnya Liyuna tidak bisa melihat ekspresi Allen yang sangat jarang itu karena ia berjalan dibelakang.


Liyuna dan Allen bertemu kembali dengan Yvette dan Yuriel di bawah pohon sycamore. Liyuna bisa melihat Yuriel dan juga Yvette duduk di bawah pohon itu dan melambaikan tangan kearahnya.


"Maaf, apa kalian menunggu lama?"


"Benar, kenapa kalian lama sekali?" Yvette mengerucutkan bibirnya. Pada awalnya dia ingin bilang bahwa Liyuna tidak selama itu pergi namun akhirnya memutuskan untuk berkata sebaliknya.


Kenyataannya Liyuna pergi sangat lama, mungkin sekitar satu jam lebih dan Yvette tidak suka jika Allen seenaknya menarik Liyuna pergi.


"Sebagai permintaan maaf, makan siang kali ini biar aku yang traktir."


"Sungguh? Yuna tidak bisa menarik janjimu, ya."


"Tentu."


Walau bayar membayar makanan adalah hal yang cukup sepele bagi Yvette namun jika yang memberi adalah Liyuna dia tidak akan menolak.


"Kalau begitu, ayo kita makan siang bersama." Ajak Liyuna.


Mereka berjalan menuju kantin, Yvette melihat Allen mengikuti mereka dari belakang dan berbisik pada Liyuna, "Dia juga ikut?"


"Tentu saja aku ikut." Jawab Allen yang bisa mendengar dengan sangat jelas ucapan dari Yvette.


Mereka berempat berjalan bersama menuju kantin. Di sepanjang perjalanan mereka menjadi pusat perhatian karena visual mereka yang setara dengan idol. Liyuna dan Yuriel memang sudah tidak diragukan lagi, namun Allen dan Yvette juga tak kalah. Mereka memiliki aura unik tersendiri yang bisa dengan mudahnya menarik perhatian siapapun.


Sesekali Allen menatap tajam orang-orang yang menatap kearah mereka, dia tidak suka diperhatikan oleh orang-orang yang tidak ia kenal.


Berbeda dengan Liyuna, Yuriel, maupun Yvette, Allen adalah tipe anak berandalan yang sukanya memaki seragam acak-acakan tanpa dasi. Karena cara berpaikainnya yang seperti itu, Allen selalu dipandang sebagai anak badung. Melihat dia sekarang sedang berjalan bersama gerombolan Liyuna yang sangat patuh pada peraturan menjadi pemandangan unik tersendiri.


TBC