
Keluarga Castris merupakan salah satu keluarga konglomerat yang menopang perekonomian Negara Zen. Bersama dengan keluarga Ravenray yang memiliki sejarah panjang, kedua keluarga tersebut telah dikenal oleh seluruh elemen masyarakat.
Berbeda dengan keluarga Ravenray yang sudah ada sejak beberapa generasi, Castris adalah keluarga yang baru muncul. Mereka tidak memiliki sejarah yang panjang, bahkan saat ini hanya memiliki dua generasi. Walau begitu, kemampuan keluarga Castris tidak bisa dibantah, dengan pertumbuhan yang begitu cepat, Castris mampu bersaing dengan keluarga Ravenray dan Harvenhelt yang sudah ada sejak lama.
Tentu saja, pencapaian itu tidak lepas dari kemampuan luar biasa yang di tunjukkan oleh sang Kepala Keluarga saat ini, Leto. Dia merupakan pendiri dari Castris Group, sekaligus ayah dari Karl dan juga Harry.
Dengan kepemimpinannya yang luar biasa, Castris Group mulai melebarkan sayapnya hingga sebanding dengan keluarga terpandang lainnya.
"Harry, apa yang sedang kau lakukan di sana?"
"Oh, kakak? Aku sedang membaca sejarah Castris Group."
"Sejarah apanya? Bahkan perusahaan kita saja belum berdiri lama." Karl duduk di samping adiknya yang sedang membaca buku di sofa.
Bulan ini sudah memasuki musim panas. Harry yang memang tidak menyukai cahaya matahari selalu menghabiskan waktu di perpustakaan. Sedangkan kakaknya, Karl selalu sibuk dengan pelatihan sebagai seorang penerus.
Bagi mereka berdua, sangat sulit untuk menghabiskan waktu bersama. Padahal masih ada banyak waktu untuk Karl mengambil alih Castris Group.
"Yah, aku hanya penasaran. Bagaimana bisa keluarga yang dulunya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Ravenray dan Harvenhelt tiba-tiba bisa berdiri berdampingan." Harry membuka-buka buku ditangannya, dia terlihat sangat serius berpikir.
"Bukannya ini aneh?"
"Hmm... Memang sih, tapi itu bukan tugas kita untuk mencari tahu."
"Apakah kakak hanya akan diam saja dan menerima? Aku sih, tidak mau. Aku ingin tahu semuanya."
"Hei, hati-hati kalau bicara. Bagaimana jika Ayah mendengarmu? Kau bisa dihukum jika mempertanyakan hal sensitif seperti itu."
"Ayahkan hanya sayang pada kakak. Aku yakin jika Ayah tahu, kakak tidak akan di marahi. Semua pasti akan menjadi salahku."
"Jangan bicara seperti itu, Ayah menyayangi kita semua."
Harry membuang wajahnya dengan kesal. Walau dia sangat menyayangi kakaknya, terkadang Harry merasa kakaknya sangatlah tidak peka dan menyebalkan. Padahal sudah jelas bahwa Ayah tidak menyukainya.
Namun Harry yang saat itu masih berumur 14 tahun tidak membantah ucapan kakaknya. Dia tidak ingin bertengkar dengan kakaknya hanya karena masalah kecil.
Harry tidak peduli jika Ayahnya tidak menyayanginya. Baginya, yang terpenting adalah kasih sayang yang diberikan oleh sang kakak. Harry merasa bahwa, asalkan kakaknya selalu menyayangi dan mendukungnya, itu sudah cukup.
"Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Ya? Biasa saja kok. Tidak ada yang menarik."
"Sebentar lagi, aku akan lulus. Aku sedikit khawatir meninggalkanmu sendirian di sana."
"Apaan sih?! Memangnya aku anak kecil. Nanti juga, kita akan satu sekolah lagi. Dua tahun bukan waktu yang lama."
"Kau jangan buat masalah selama aku tidak bersamamu."
"Sudah kubilang aku bukan anak kecil!"
Karl tertawa mendengar ucapan dari adiknya. Baginya, apa yang Harry ucapkan sangatlah lucu.
"Jangan tertawa!!"
"Maaf."
"Kakak menyebalkan! Aku mau kembali ke kamar!!" Harry membawa buku yang dia baca ke kamarnya, meninggalkan Karl yang masih duduk di sofa menatap cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela.
Pintu kamar di buka dengan kasar oleh Harry. Dia meletakkan buku yang ada di tangannya ke meja dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hingga akhirnya, dia tertidur tanpa melanjutkan bacaannya.
...***...
"Sebagai putra keluarga Castris, kalian harus mengikuti segala peraturan yang ada. Apa kalian mengerti?" Suara tegas seorang pria paruh baya terdengar dengan begitu jelas di telinga.
Saat ini, Karl dan Harry sedang berdiri menghadap Ayah mereka, Leto.
"Kami mengerti." Keduanya menjawab secara bersamaan.
"Sebelum kalian berusia 18 tahun, jangan pernah menggunakan nama Castris dengan seenaknya." Leto kembali memperingatkan kedua putranya.
"Apa kau mengerti, Harry?"
Tubuh Harry tersentak tatkala namanya dipanggil.
"Saya mengerti, Ayah."
Setelah itu hari berlalu seperti biasanya. Kedua Castris bersaudara menjalani hidupnya masing-masing dan tidak ada hambatan apa pun meski mereka tidak bersama.
Hingga pada suatu hari, kejadian itu terjadi.
"Kyaaa~ darah!!"
"Apa yang terjadi?!"
"Ha-harrioth telah membunuh seseorang!!!"
"Aaakkkh—"
Teriakan histeris puluhan orang terdengar bercampuran membuat suasana semakin gaduh.
Seorang anak laki-laki tergeletak di lantai dengan darah yang menggenang. Di sisi lain, Harry terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Mari kembali ke beberapa waktu yang lalu, sebelum kekacauan terjadi....
"Apa maksudmu?" Harry menaikkan alisnya dengan tajam.
"Sudah kubilang, Castris itu keluarga yang kotor."
"Ha?!"
"Apa kau tidak tahu kalau posisi yang mereka miliki itu karena pekerjaan kotor?"
"Omong kosong, jaga bicaramu!"
"Aku tidak berbohong. Ayahku sendiri yang mengatakannya. Kalau tidak begitu, mana mungkin keluarga antah berantah seperti itu menduduki posisi tertinggi."
Mendengar nama keluarganya yang dijelekkan, Harry mulai terbawa emosi. Dia menarik kerah seragam teman sekelasnya dan langsung melayangkan tinjunya.
"Akh! Apa-apaan kau!"
Tidak ada satu pun yang tahu kalau Harry merupakan bagian dari keluarga Castris karena menang identitasnya di sembunyikan.
Itu adalah salah satu peraturan yang ada dalam keluarga. Menyembunyikan identitas dan membangun koneksimu sendiri tanpa bantuan Castris.
Harry tidak peduli dengan hal lainnya, dia kembali melayangkan tinjunya. Teman sekelasnya juga tak mau kalah, dia membalas tinju Harry dengan pukulan yang begitu kuat.
Semakin lama, perkelahian semakin memanas. Kedua anak laki-laki yang terbawa emosi itu saling memukul dan menendang.
Hingga hal yang tak terbayangkan terjadi. Anak laki-laki yang bertengkar dengan Harry, tidak sengaja terjatuh dari lantai 2 karena terpleset. Harry yang saat itu masih berada di lantai dua hanya bisa menyaksikan dalam diam.
Anak yang masih berumur 14 tahun itu terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi.
Murid lain mulai berkumpul karena mendengar ada suara dentuman keras. Lalu mereka melihat anak laki-laki yang bermandikan darah di lantai satu, dengan Harry yang menatap ke bawah dari lantai dua.
Karena kejadian itulah, mereka menyimpulkan degan seenaknya dan membuat Harry menjadi penjahatnya.
Kejadian siang itu, terdengar langsung oleh telinga Leto. Harry yang saat itu berada di sekolah langsung di panggil ke ruang kerjanya.
Sedangkan anak yang terluka langsung di bawa ke rumah sakit. Untung saja, nyawanya berhasil di selamatkan.
Namun, nasib Harry sedikit berbeda. Kini dia berdiri dihadapan Ayahnya yang terlihat begitu murka.
TBC