
Beberapa hari berlalu sejak pesta anniversary Castris Group diadakan.
Suhu udara semakin menurun di akhir tahun. Jalanan kota Elisien yang diselimuti oleh salju putih terlihat sangat indah, seperti dunia fantasi yang terletak di utara.
Hiasan sisa-sisa hari natal juga masih dapat terlihat di sepanjang jalan. Sebentar lagi tahun baru akan datang, semua orang sudah siap menyambutnya dengan perasaan bahagia. Di tahun ini tidak ada banyak kejadian, membuat semua orang merasa bersyukur dan berharap tahun depan juga akan seaman tahun ini.
Satu persatu mobil mewah dengan harga selangit berhenti tepat di depan SMA Darien. Nona dan Tuan Muda keluar dari mobil yang mengantar mereka dan bersiap untuk pergi ke auditorium.
Mereka memakai jaket tebal yang bisa melindungi tubuh berharga mereka dari udara yang semakin dingin.
Sesampainya di ruang auditorium, mereka duduk sesuai dengan tempat duduk yang telah disediakan. Cahaya di ruang auditorium sengaja diredupkan supaya tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi dibalik layar.
Tamu-tamu penting yang diundang oleh sekolah duduk di kursi paling depan, tempat khusus untuk orang-orang penting.
Pentas seni SMA Darien adalah salah satu event yang paling dinantikan. Tidak hanya tamu undangan VIP, kritik, dan juga para pencari bakat diundang ke dalam acara ini.
Pentas seni SMA Darien menjadi salah satu acara yang paling bergengsi di Elisien. Siapapun yang memiliki ketertarikan dalam dunia seni, harus berpartisipasi dalam pentas seni ini. Siapa tahu, nanti mereka akan mendapat tawaran dari para pencari bakat.
Liyuna dan Yuriel duduk di kursi VIP yang jumlahnya terbatas. Mereka bisa duduk disini karena campur tangan Yvette dan tentu saja karena pengaruh keluarga Castris. Di samping Liyuna, Allen duduk dengan wajah tidak tertarik.
Dia tidak suka ikut dalam acara seperti ini namun karena Liyuna memaksa dia tidak enak hati untuk menolak.
Tidak ada dari mereka yang bisa menolak permintaan Liyuna.
"Sepertinya senior Lucas belum datang, ya?" Liyuna menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari eksistensi Lucas.
"Sepertinya begitu."
"Nanti juga dia akan datang sendiri." Ucap Allen dengan nada ketus.
Acara belum dimulai namun semua murid SMA Darien sudah mulai memenuhi ruang auditorium. Mereka melepas jaket ataupun mantel mereka di ruangan khusus dan memberikannya pada petugas agar barang mereka dapat disimpan dengan aman.
Di dalam auditorium, tidak ada satupun yang boleh memakai pakaian bebas. Mereka harus memakai seragam musim dingin mereka dan duduk tetap mematuhi peraturan dalam memakai seragam.
Meski disebut seragam musim dingin, nyata itu hanya seragam dengan kemeja putih tipis berlengan panjang yang dibalut dengan vest rajut yang tebal berwarna abu-abu. Rok nya pun sama saja dengan seragam musim semi dan juga musim panas, rok pendek berwarna abu-abu dipadu dengan stoking tebal berwarna hitam pekat.
Meski begitu, tidak ada satupun siswi yang merasa kedinginan karena di ruang auditorium ada mesin pemanas ruangan yang selalu menjaga suhu tubuh mereka. Sekolah bergengsi seperti SMA Darien tidak mungkin menelantarkan muridnya, apalagi kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga berpengaruh.
"Maaf aku sedikit telat."
Liyuna melihat Lucas yang baru saja datang. Rambutnya terlihat sedikit basah karena keringat, membuat Liyuna bertanya-tanya. Saat ini musim dingin namun Lucas berkeringat sebanyak itu, apa yang baru saja dia lakukan diluar sana?
"Senior, apa kau habis berlari?" Tanya Yuriel, ia juga merasa aneh melihat Lucas berkeringat di musim dingin.
Lucas duduk di samping Yuriel dan merapikan seragamnya dengan terburu-buru.
"Ah, tidak, bukan begitu. Aku tadi habis berolahraga."
"Senior berolahraga di malam hari?" Mendengar ucapan Lucas yang tidak masuk akal, Allen tidak menahan diri dan langsung menusuknya dengan pertanyaan yang cukup membebani.
"Olahraga seperti apa yang dilakukan di malam hari?" Tanya Liyuna penasaran.
Liyuna tahu bahwa Lucas memiliki tubuh yang kuat karena dia pernah digendong Lucas seperti sedang membawa kertas dan kemungkinan dia melakukan olahraga tidak berada dibawah angka nol, yang artinya kemungkinan besar dia melakukan olahraga.
Tapi malam-malam begini, olahraga macam apa yang bisa ia lakukan?
"Boxing, aku melakukan boxing."
"Wah, senior hebat juga ya." Yuriel terlihat kagum dengan pilihan olahraga Lucas. Baginya, Lucas terlihat seperti seorang laki-laki lemah karena wajahnya yang cantik, dia tidak mengira kalau olahraga pilihannya cukup berat.
"Aku baru tahu senior melakukan boxing."
"Ya, aku baru-baru ini menyukainya."
Lucas terlihat tersenyum namun Allen yang melihat hal itu menyipitkan matanya.
'Orang itu sedang berbohong.'
Dimata Allen, Lucas saat ini sedang berbohong. Dia tidak melakukan boxing dan Allen tahu betul arti senyumannya itu.
Allen mengernyitkan dahinya, ia menatap Lucas dengan seksama dan melihat ujung seragamnya ada bercak berwarna merah. Sebagai seseorang yang dulu sering beradu tinju dengan seseorang, Allen tahu betul bahwa itu adalah noda darah.
Dan benar saja prediksi Allen. Lucas memang sedang sedikit berbohong, namun tidak sepenuhnya berbohong. Dia berkeringat bukan karena habis melakukan boxing namun karena habis berkelahi.
Saat itu, Lucas sedang berjalan menuju SMA Darien. Ia memakai mantel musim dingin yang cukup tebal dan syal berwarna merah maroon dilehernya. Ditangannya ada segelas amerikano hangat yang menemaninya. Setidaknya itu bisa membuatnya tetap terjaga.
Namun diperjalanan, ia melihat banyak sekali genk motor yang sedang berhenti di dekat SMA Darien. Lucas yang tidak peduli berusaha untuk langsung lewat tanpa mempedulikan mereka.
"Kau yakin ini SMA-nya?"
Lucas bisa mendengar anak-anak genk motor itu sedang berbicara dari kejauhan.
"Aku yakin. Aku pernah melihatnya memakai seragam SMA Darien."
"Kau ingat siapa namanya?"
"Li... Li... Liana, atau apalah itu aku tidak ingat."
"Maksudmu Liyuna?"
Lucas mengehentikan langkahnya. Saat ini dia sudah berdiri cukup jauh di depan anak genk motor tersebut namun setelah mendengar nama yang begitu familiar keluar dari mulut kotor mereka, Lucas menghentikan langkahnya.
"Benar! Itu dia, Liyuna!"
Anak-anak genk motor itu tertawa terbahak-bahak setelah dapat mengingat nama Liyuna dengan benar.
Lucas menundukkan kepalanya, membuat kedua mata ungunya tertutupi oleh rambut peraknya.
"Kalian ada urusan apa dengan Liyuna?" Tanya Lucas dengan suara rendah.
Anak-anak genk motor itu terlihat tidak sadar bahwa yang berbicara adalah Lucas dan mulutnya terus menyerocos tanpa rem.
"Aku ingin mengajaknya berkencan, wanita cantik sepertinya sangat cocok dengan orang sepertiku."
"Hahaha~ kau benar, tidak hanya cantik tapi tubuhnya juga bagus."
"Hoooh."
Buuuugh—
"Aaakkkkhh...."
Lucas memukul anak yang mengatakan bahwa tubuh Liyuna sangat bagus. Lucas tidak bisa mendengar omong kosong seperti ini dan dia tidak akan menahan diri.
"Brengsek! Siapa kau!"
Lucas terlihat mengepalkan kedua tangannya, menimbulkan bunyi kretak pada tulang di jari-jarinya.
"Apa kau tahu siapa yang baru saja kalian bicarakan?"
Lucas mengangkat kepalanya, melihat orang-orang tidak bermoral dihadapannya dengan tatapan dingin. Wajahnya yang tersinari oleh bulan yang tidak tertutup oleh awan terlihat sangat menakutkan. Ini pertama kalinya Lucas menurunkan topeng yang selalu ia pakai dihadapan orang-orang.
Paaaak—
Duuuagh—
Bugghh—
Tidak ada satupun anak genk motor yang bisa menandinginya. Dalam sekejap, mereka telah terkapar di jalanan dengan wajah penuh darah dan luka.
"Nama yang barusan kalian sebutkan, tidak cocok keluar dari mulut kalian. Bahkan untuk memegang kakinya saja kalian tidak akan sanggup."
Lucas merapikan seragamnya yang kotor karena pertengkaran kecil tadi.
Hal seperti ini tidaklah sulit. Mereka hanya seorang amatir yang tidak memiliki dasar bela diri.
Namun karena Lucas harus memindahkan tubuh mereka yang sudah pingsan ke tempat yang tidak banyak dilalui orang, Lucas merasa sedikit lelah hingga mengeluarkan keringat.
Lucas tidak tahu kenapa genk motor seperti mereka mengincar Liyuna. Memang benar Liyuna sangat cantik dan menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada namun meski begitu, dia tetaplah sosok yang dikenal dikalangan masyarakat. Dia berasal dari keluarga konglomerat Castris yang memiliki reputasi baik dikalangan masyarakat.
Tapi, genk jalanan seperti mereka terlihat seperti tidak mengenalnya?
Lucas merasa sedikit aneh. Namun ia tidak memikirkannya lebih lanjut. Bisa saja mereka adalah orang yang jarang memperhatikan berita atau memang punya masalah kepribadian.
TBC