
Cahaya matahari masuk melewati jendela Prancis yang tidak tertutupi oleh gorden. Gorden berwarna emas itu diikat kesamping dengan rapi.
Liyuna terlihat tenggelam dalam buku yang ia baca, sedangkan Yvette terlihat menikmati kue kering yang tadi di bawakan oleh pelayan. Yvette bukan lah tipe orang yang suka membaca, jadi dia merasa setengah hati saat membaca. Namun dia tidak membenci suasana perpustakaan yang sangat tenang dan tidak ada suara yang terdengar sedikit pun.
Mau dilihat seberapa lama pun, perpustakaan yang ada di kediaman Castris sangat lah luar biasa. Perpustakaan dua lantai dengan buku yang berjumlah ribuan. Di setiap lantai pun ada tempat untuk membaca yang sangat nyaman; sofa empuk, bean bag, dan juga AC.
Yvette juga ingin punya tempat seperti ini dirumahnya karena bisa dia jadikan sebagai markas persembunyian. Namun hal itu tidak akan terwujud karena perpustakaan yang ada di rumahnya tidak sebesar dan seluas milik Castris. Yah, sejak awal seharusnya dia memang tidak membandingkan keduanya.
Setah mereka puas berada di perpustakaan, Liyuna mengajak Yvette untuk mencari seorang pelayan karena Liyuna membutuhkan bantuan.
"Bisa tolong persiapkan kamar untuk Yvette?" Tanya Liyuna pada seorang pelayan.
Pelayan tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Liyuna dengan positif.
Yvette merasa sedikit kecewa karena dia harus tidur di kamar tamu. Dia kecewa bukan karena kamarnya jelek atau apa, kamarnya bahkan lebih bagus dari yang ia punya di rumah. Namun Yvette ingin sekali tidur bersama Liyuna. Ia ingin bersama Liyuna untuk malam ini.
Liyuna yang melihat wajah Yvette sedikit lesu langsung bertanya, "Ada apa?"
Yvette spontan menoleh ke arah Liyuna. Dia ragu untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Wajahnya terlihat sedikit kesusahan karena tidak bisa memutuskan.
"Katakan saja." Ucap Liyuna yang sadar bahwa Yvette sedikit sungkan untuk berbicara.
"Ah, itu..."
Yvette terlihat ragu-ragu namun akhirnya ia memasang muka tegas setelah memutuskan untuk mengatakan apa yang ia inginkan.
"Tidak bisakah kita tidur bersama?"
Mendengar hal ini, Liyuna terlihat sangat terkejut. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak menyangka Yvette akan meminta untuk tidur bersama dengannya. Dia bukannya tidak mau, hanya saja Liyuna juga memikirkan privasi Yvette. Liyuna tidak mau Yvette merasa privasi nya terganggu karena tidurnya dengannya.
"Kamu serius?"
"Iya, aku ingin tidur bersama Yuna."
"Baiklah kalau begitu."
Liyuna tersenyum kecil. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia akan tidur bersama seorang teman. Hal seperti ini tidak pernah ia bayangkan di kehidupan sebelumnya karena dia tidak punya teman. Yah, tidur bersama dengan anak panti tidak bisa dihitung sebagai tidur bersama teman bukan?
Liyuna memanggil pelayan yang tadi ia minta menyiapkan kamar tamu dan membatalkannya. Liyuna mengatakan kalau Yvette akan tidur dengannya malam ini. Pelayan tersebut dengan patuh mengiyakan apa yang Nona-nya minta. Dia langsung meminta izin untuk undur diri dan melakukan pekerjaan lain. Liyuna pun langsung memberi izin, tidak lupa mengatakan maaf karena merepotkan. Pelayan itu sedikit terkejut namun dengan senyuman ia mengatakan tidak apa-apa. Nona yang dia layani memang sangat baik dan sopan, bahkan pada pelayan sepertinya. Dia merasa beruntung dapat melayani orang seperti Liyuna dan keluarga Castris. Mereka adalah orang kaya namun baik hati dan tidak pernah berbuat semena-mena. Benar-benar cerminan orang kaya yang sesungguhnya. Tidak heran media tidak pernah memberitakan hal buruk tentang mereka.
Liyuna dan Yvette pergi ke kamar Liyuna yang ada di lantai 2. Mereka menaiki elevator yang terlihat sangat mewah. Elevator tersebut terbuat dari emas yang terlihat mengkilap. Di dalamnya ada karpet beludru yang siap menyapa kaki siapapun yang masuk dan di samping kanan dan kirinya ada pegangan yang juga terbuat dari emas. Tubuh Liyuna dan Yvrette terpantul jelas pada dinding berwarna emas elevator, membuat siapapun merasa sedang melihat kaca.
Sebenarnya di kediaman castris juga ada anak tangga. Namun tangga tersebut jarang digunakan dan hanya dibuat untuk keadaan darurat saja. Tentu saja, tangga tersebut juga tak kalah bagusnya dengan interior lain.
DING
Pintu elevator terbuka. Liyuna dan Yvette langsung pergi menuju tempat yang ia tuju, yaitu kamarnya.
Sesampainya di kamar, Yvette disuguhi kamar yang bahkan lebih luas dari miliknya. Ditengah kamar Liyuna ada kasur berukuran king size dengan sprei berwarna putih yang dihiasi pola bunga-bunga berwarna emas. Setelah Yvette melihat kediaman Castris, dia bisa menyimpulkan bahwa warna dominan yanga ada disini adalah emas dan putih. Yvette juga melihat pintu yang terbuat dari kaca. Ukurannya cukup besar dan jika pintu itu dibuka, kita bisa melihat balkon dengan kursi dan meja untuk santai. Disebelah kiri ruangan juga ada pintu untuk kamar mandi dalam dan juga pintu untuk walk in closet yang tentunya tak kalah luas dengan kamar ini.
"Oh ya, karena kamu hanya bawa satu piyama, aku akan meminjamkan piyama ku untukmu. Semoga saja ukurannya pas." Ucap Liyuna.
Dia membuka pintu berwarna coklat gelap yang ada di sebelah kiri dari pintu masuk kamarnya. Setelah pintu dibuka, Yvette disuguhi pemadangan yang diidam-idaman kan para pra wanita –walk in closet super mewah yang diisi oleh pakaian dari luxury brand dan juga pakaian dari desainer ternama. Yvette merasa sangat terkejut dan tanpa sadar kedua matanya terlihat bersinar.
Liyuna yang melihat ini tersenyum kecil. Ekspresi yang ditampakkan Yvette sama dengannya saat ia pertama kali melihat walk in closet milik Liyuna asli. Dia belum pernah melihat walk in closet sebelumnya jadi dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Walk in closet milik Liyuna memanglah sangat luar biasa. Dari pakaian, sepatu, tas, perhiasan, aksesoris, semua ada. Tidak hanya itu, semua yang ada di dalamnya berasal dari merek-merek terkenal yang biasanya hanya bisa dia lihat pada artis. Selain itu, beberapa diantara juga merupakan barang limited edition dari desainer terkenal di Elisien. Itu adalah hal gang wajar karena Sara juga seorang desainer terkenal jadi banyak sekali kenalannya yang selalu memberikan barang hasil karya mereka untuk Liyuna. Apa lagi, Liyuna memiliki wajah yang cantik, hal itu bisa dijadikan investasi karena jika Liyuna memakainya untuk bersosialisasi dengan keluarga elit lainnya, secara tidak langsung akan menjadi promosi dan nama mereka akan melambung tinggi.
"Yvette pilih saja yang kamu suka." Ucap Liyuna sembari membuka salah satu pintu wardrobe.
"Aku tidak tahu harus memilih yang mana." Jawab Yvette setelah melihat banyak sekali piyama milik Liyuna.
"Bagaimana jika yang ini? Aku belum pernah memakainya." Liyuna mengambil salah satu piyama yang terbuat dari satin berwarna biru tua. Piyama itu terasa sangat lembut di kulit sehingga tidak akan menimbulkan iritasi.
"Eh?? Aku merasa tidak enak jika memakainya."
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku masih punya yang lain. Aku tidak mungkin memintamu memakai apa yang sudah pernah ku pakai."
Mendengar ucapan Liyuna, Yvette merasa sangat senang. Ia merasa begitu dihargai dan dihormati oleh Liyuna. Di dalam hatinya, ia akan terus setia dan berjanji akan selalu ada untuk Liyuna.
"Baiklah, terima kasih Yuna."
Sebenarnya, ini belum saatnya mereka tidur, namun Liyuna terlalu bersemangat untuk melakukan sleepover dengan Yvette sehingga ia ingin mengakomodasi segala kebutuhan Yvette saat dirumahnya termasuk piyama tidur.
Setelah memilih piyama, Liyuna mengajak Yvette untuk tiduran di kasur sebentar sebelum makan malam siap.
TBC