Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 67 - Emosi yang Tidak Stabil



Halaman depan SMP Lunaria dihiasi oleh bunga sakura yang berguguran. Pemandangan yang begitu indah layaknya lautan berwarna merah muda. Petugas kebersihan membersihkan beberapa kelopak bunga sakura yang berguguran dari jalanan supaya mudah dilewati oleh orang-orang.


Hari kedua tahun ajaran baru. Seluruh siswa masih bersemangat untuk belajar dan merasakan suasana sekolah, terutama murid yang baru saja diterima masuk di SMP Lunaria.


Di depan pintu gerbang, ada pengecekan kelengkapan seragam. Murid yang tidak memakai seragam lengkap akan dikurangi poinnya dan tentu saja namanya akan masuk dalam daftar murid berperilaku buruk.


Nilai sikap ini nantinya akan sangat berpengaruh dalam mencari pekerjaan, meski kebanyakan murid adalah seorang pewaris, mereka tetap harus memiliki catatan sikap yang baik agar bisa terhindar dari rumor dan berita bohong.


Allen dihentikan oleh salah seorang komite kedisiplinan karena ia tidak memakai dasi dan kemeja yang ia pakai terlihat sangat berantakan. Baru dua hari masuk, Allen sudah mendapat teguran. Benar-benar sesuatu yang tidak terlalu mengejutkan, bukan Allen namanya kalau dia patuh pada peraturan.


Dari kejauhan, terlihat Liyuna dan Yuriel sedang berjalan bersama. Mereka berdua melihat Allen yang sedang dihentikan oleh komite disiplin, namun Liyuna berpura-pura tidak mengenalnya. Yuriel yang melihat hal itu terlihat begitu senang, dia senang sekali melihat Liyuna tidak mempedulikan Allen.


"Yuna!" Teriak Allen memanggil Liyuna.


Semua orang menatap kearah Allen begitu juga Liyuna yang menghentikan langkahnya ketika mendengar bahwa Allen memanggilnya.


Tiba-tiba saja Allen berlari kearah Liyuna, meninggalkan anggota komite kedisiplinan yang sedang mengecek kelengkapan seragamnya.


Tangan Allen mengenggam tangan Liyuna, menariknya menjauh dari anggota komite kedisiplinan, melarikan diri dari cegatan.


Melihat hal ini, anggota komite kedisiplinan terlihat sedikit marah sembari menyuruh Allen untuk kembali namun teriakan mereka tidak digubris oleh Allen. Beberapa anggota komite kedisiplinan mengejar Allen namun mereka tidak bisa menangkapnya.


Yuriel yang melihat Allen dengan seenaknya menarik tangan Liyuna langsung ikut berlari mengikutinya daei belakang.


"Lepaskan tangan kakakku!"


Mereka bertiga berlarian di depan sekolah, diikuti oleh anggota komite kedisiplinan yang juga berlari dibelakang.


Murid lain yang melihat kejadian ini merasa bahwa mereka baru saja melihat adegan drama dimana seorang murid badung berlarian kesana-kemari menghindari pengecekan.


Sebagai orang gang terlahir dari keluarga elit, mereka jarang berlarian dengan tidak tahu etika seperti yang dilakukan Allen, Liyuna, dan Yuriel. Ya, mereka tidak pernah melarikan diri dari pengecekan kelengkapan seragam dan tentu saja tidak pernah melanggar peraturan yang ada. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau mencoreng nama baik keluarga mereka.


Namun apa yang Allen, Liyuna, serta Yuriel lakukan terlihat tidak biasa. Anak-anak yang terlahir dari keluarga paling elit berlarian kesana-kemari melarikan diri dari anggota komite kedisiplinan. Mereka tidak tahu bahwa Liyuna sebenarnya aadalah korban dari Allen.


Mereka berhenti tepat di depan kelas, anggota komite kedisiplinan yang sejak tadi mengekor mereka akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menulis pelanggaran yang Allen lakukan dalam buku sikap.


Liyuna terlihat kesulitan bernapas, sudah lama dia tidak berlari sejauh ini. Yuriel yang menyusul dari belakang memukul punggung Allen dengan sangat keras hingga menimbulkan suara.


Bugggh...


Liyuna menatap Yuriel dengan tatapan terkejut karena saat ini wajah Yuriel benar-benar berubah. Dia tidak pernah memasang wajah semarah ini sebelumnya.


"Apa-apaan kau?!"


"Kau?! Beraninya berbuat seperti itu!!"


"Apa?"


Allen terlihat bingung dengan sikap Yuriel yang tiba-tiba berubah menjadi kasar. Meski ekspektasi Allen terhadap Yuriel tidaklah tinggi namun tetap saja anak itu tidak akan bertingkah seperti ini dihadapan Liyuna. Bukankah dia sudah memutuskan untuk bertingkah seperti seorang malaikat di depan Liyuna?


Yuriel berteriak sekuat tenaga, ia menumpahkan segala kecemasan san kegelisahan yang menghinggapi hatinya sejak tadi malam. Liyuna yang melihat hal ini sangat terkejut, ia tahu jika mental Yuriel sedikit tidak stabil tadi malam, dia terlihat selalu memikirkan sesuatu setelah mereka membicarakan tentang Allen, namun Liyuna tidak pernah mengira bahwa Yuriel akan membentak Allen secara terang-terangan.


Murid lain yang mendengar suara teriakan Yuriel menjadi penasaran tentang apa yang sedang terjadi, mereka mulai menatap kearah Yuriel dan Allen secara terang-terangan.


"Apa kau bilang?! Kau ini tidak pernah mengaca, ya? Memangnya kau memperlakukan Yuna dengan baik? Dasar hipokrit!"


Yuriel hendak memukul wajah Allen dengan tinjunya namun tangannya dihadang oleh Allen. Karena perbedaan kekuatan yang begitu besar, Yuriel tidak berhasil memukul wajah Allen.


"Hati-hati kalau bicara! Beraninya kau mengatakan hal yang tidak-tidak tentang aku dan kakakku."


"Kapan aku melakukannya?"


Suara Allen tak kalah keras dengan Yuriel, dia juga muak dengan sikap Yuriel yang seperti ini. Meski Allen tidak tahu benar mengenai alasan Yuriel marah padanya namun Allen juga tidak mau menyerah begitu saja. Dia juga muak dengan Yuriel yang selalu berpura-pura baik di depan Liyuna.


Yuriel tidak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Awalnya dia merasa senang karena Liyuna mengabaikan Allen pagi ini, namun kesenangannya langsung menghilang ketika ia melihat Allen lagi-lagi menarik tangan Liyuna dan membawanya pergi.


'Beraninya dia...'


Sejak pembicaraan yang ia lakukan bersama Liyuna tadi malam, Yuriel selalu memikirkan satu hal. Allen pasti telah mengatakan sesuatu pada Liyuna sehingga dia mengajaknya berbicara tadi malam. Jika tidak, mengapa Liyuna tiba-tiba mempedulikan hubungannya dengan Allen. Liyuna bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, jika Yuriel tidak menyukai seseorang atau tidak bisa berteman baik dengan seseorang, Liyuna tidak pernah penasaran tentang alasannya. Dia hanya akan berkata, tidak usah mempedulikan orang yang tidak menyukaimu.


Namun tadi malam Liyuna berbeda. Dia meminta Allen untuk berbuat baik padanya dan mengkhawatirkan hubungan keduanya. Liyuna yang dia kenal tidak akan melakukan hal itu.


Yuriel tidak tahu kalau jiwa yang ada di dalam tubuh Liyuna adalah jiwa manusia dari dunia lain yang telah memainkan game Red String.


Kedua mata Yuriel diselimuti oleh amarah, Liyuna yang melihat hal ini mencoba menenangkannya dengan cara menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Liyuna memeluk Yuriel dari belakang dan membisikkan kata-kata lembut yang bisa membuatnya tenang.


Sebenarnya saat ini Liyuna merasa sedikit takut karena sifat Yuriel benar-benar berbeda dari yang ada di game. Dia juga tidak tahu apa yang telah membuat Yuriel marah sampai berteriak di depan umum.


Allen yang melihat Liyuna berusaha menenangkan Yuriel merasa sedikit tidak adil. Saat ini dialah korban dari sikap tidak jelas Yuriel. Tiba-tiba anak itu memarahinya di tempat umum dan membentaknya, Allen benar-benar tidak habis pikir.


"Tenanglah, Yuri." Bisik Liyuna dengan lembut.


Mendengar suara Liyuna yang begitu lembut, Yuriel menjadi sedikit tenang namun tiba-tiba dia memeluk Liyuna dan menangis tersedu-sedu, membuat Liyuna sangat kebingungan.


Liyuna merasa aneh dengan emosi Yuriel yang tiba-tiba tidak stabil dan berubah-ubah dengan cepat. Ini baru pertama kalinya Liyuna melihat Yuriel seperti ini, jadi dia tidak tahu harus bagaimana.


Allen yang melihat hal ini juga merasa ada yang aneh dengan sikap Yuriel. Seseorang yang selalu berpura-pura sepertinya tiba-tiba saja melepaskan topeng dan bertingkah seperti seseorang yang menderita bipolar.


Liyuna menepuk-nepuk pundak Yuriel perlahan-lahan, berharap supaya dia bisa sedikit lebih tenang.


Orang-orang yang melihat kejadian barusan mulai berbisik-bisik. Mereka tidak tahu apa yang membuat Yuriel bertengkar dengan anak kedua keluarga Ravenray namun hal itu membuatnya menangis. Mereka juga melihat bagaimana Liyuna berusaha menenangkan Yuriel dengan lembut, berpikir bahwa dia benar-benar orang berhati baik yang sangat menyayangi adiknya.


Tak lam kemudian, seorang guru datang karena seseorang melapor bahwa Nona dari keluarga Castris sedang bertengkar dengan putra kedua keluarga Ravenray. Sebagai sekolah bergengsi, mereka tidak bisa membiarkan kejadian memalukan ini tersebar begitu saja. Karena itulah guru tersebut membawa mereka bertiga ke ruang kepala sekolah.


TBC