
Hujan deras mengguyur jalanan malam hari di kota Elisien. Hujan deras tersebut menahan debu-debu yang berada di aspal jalanan kembali ke tanah. Udara dingin terasa menusuk tulang ditambah dengan dinginnya air hujan bisa membuat suhu tubuh siapapun menurun.
Di sebuah tempat terbengkalai di kota Elisien, terlihat seorang laki-laki sedang duduk memeluk tubuh seorang wanita yang mulai memucat. Kedua tangannya yang kapalan karena seringnya dia gunakan untuk bekerja memegang tangan kecil wanita tersebut. Ia memeluk tubuh wanita itu dengan lembut dan mencium tangannya dengan hangat. Namun kehangatan yang ia miliki tidak bisa di transfer ke tangan dan tubuh dingin wanita tersebut.
Tubuh pria itu bergetar, ia menggigit bibir bawahnya dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah untuk meredam suara tangisannya. Ia menundukkan kepalanya mendekati wajah wanita yang berada dalam pelukannya, air matanya balapan dengan air hujan yang membahasi wajahnya. Air matanya tersapu bersih oleh air hujan, namun wajahnya yang terlihat begitu kesakitan menandakan seberapa menderitanya pria itu.
"Jangan... menangis..." Wanita itu berucap dengan suaranya yang begitu lirih. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara, namun dia tidak ingin meninggalkan pria yang saat ini sedang memeluknya begitu saja.
Pria itu tidak bisa menjawab, tenggorokannya tercekat, tidak ada suara yang keluar. Hatinya terasa sangat hancur, dadanya terasa sangat sesak, dia kesulitan untuk bernapas namun dia tidak ingin meninggalkan wanita itu sendirian.
Suara sirine dari mobil polisi dapat terdengar dari seluruh penjuru. Seluruh personel polisi yang datang mengamankan tempat kejadian dengan cepat.
Jika saja mereka datang lebih awal, mungkin masib wanita itu akan berbeda. Namun roda takdir sudah berputar, tidak ada yang bisa mengubahnya lagi.
"Hiks... jangan tinggalkan... aku... hikss."
Pria itu tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia menangis sejadi-jadinya melihat tubuh wanita yang menjadi cahaya di hidupnya kehilangan mulai kehilangan kesadaran.
"Maaf tidak bisa menepati janjiku." Suara wanita itu semakin lirih, kesadarannya pun perlahan mulai memudar.
Pria itu berteriak sekuat tenaga. Suaranya bahkan bisa mengalahkan sirine dari mobil polisi yang berbunyi. Tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya, semua hanya melihatnya dengan tatapan menyesal.
Tubuh wanita itu semakin dingin, kedua matanya tertutup dan dari bibirnya yang membiru ada banyak sekali bercak darah. Baju putih yang ia pakai kotor terkena lumpur dan juga darah. Meski begitu, wajahnya sangatlah bersinar. Dia adalah wanita yang sangat cantik.
Dengan napas terengah-engah, Yuda membuka kedua matanya perlahan. Jantungnya berdegup kencang dan pipinya basah karena air mata.
Dia mengambil napas panjang dan menuangkan air di gelas plastik yang ada di meja.
Benar-benar mimpi yang aneh. Baru kali ini Yuda memimpikan hal absurd seperti barusan. Seorang Yuda mana mungkin menangis karena perempuan, dia tidak habis pikir dengan mimpinya. Apalagi mimpi itu sampai membuat air matanya keluar, Yuda tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang pasti dadanya terasa sesak memimpikan hal itu.
Yuda kembali ke kasurnya untuk kembali tidur namun tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan sangat keras.
BRAK
"Bangun!"
Seorang wanita berdiri di depan pintu kamar Yuda. Ia memakai seragam lengkap seorang polisi wanita. Rambutnya pendek setelinga dan ia memiliki poni kesamping. Ia berkacak pinggang menatap Yuda yang sudah berada di balik selimut dengan tatapan dingin.
Suaranya menyiratkan nada memerintah, meski seorang wanita ia mengeluarkan aura yang sangat dominan.
Meski mendengar perintah wanita itu, Yuda tidak mau bangun. Ia berpura-pura tidur dan menutup kedua matanya, menganggap wanita itu transparan.
Wanita itu terlihat sangat marah karena diabaikan, ia berjalan menghampiri Yuda dan menarik kakinya dari selimut. Yuda yang masih kecil bisa dengan mudah ditarik, ia ditarik hingga jatuh dari kasur, membuatnya mau tidak mau harus bangun.
"Ganti pakaianmu sekarang juga."
Wanita itu tidak peduli dengan Yuda yang terlihat kesakitan karena habis terjatuh.
"Aku tidak mau."
Yuda menolak perintah dari wanita itu dan berniat untuk kembali tidur, namun wanita itu mendorongnya kearah lemari hingga membuat tubuhnya membentur pintu lemari.
"Aku tidak menerima penolakan."
Suara wanita itu tak kalah dingin dengan wajahnya. Meski Yuda adalah adik kandungnya, dia tidak peduli karena Yuda memang seharusnya mendengarkan ucapannya.
"Aku harus sekolah besok."
"Aku tidak butuh alasanmu itu. Aku lah yang memegang tali di lehermu."
Eris Harvenhelt tidak peduli dengan ucapan Yuda, baginya semua ucapan Yuda terdengar seperti suara seekor serangga.
"Jika kau tidak ingin semua orang tahu bahwa kaulah penyebab insiden Frozen December, maka dengarkan lah ucapanku."
Mata Yuda menggelap mendengar ucapan dari Eris. Lehernya terasa seperti ada tangan yang berusaha mencekik, kedua tangannya terasa seperti terborgol. Dia terjatuh dalam pusaran lubang hitam yang terus menyedotnya hingga rasanya ingin menjadi gila.
Eris adalah mimpi buruk yang selama ini membuatnya kesulitan untuk mempercayai orang lain. Di matanya Eris terlihat seperti monster bengis yang menguncinya dalam sangkar burung raksasa, membuatnya tidak bisa berkutik dan membantah.
Eris pergi keluar dari kamar Yuda dan menunggunya di ruang keluarga. Meski tidak mengatakan apapun, dia tahu kalau Yuda pasti akan mengikutinya.
Dengan langkah yang begitu berat, Yuda mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih rapi dan enak dipandang. Setelah ini, dia yakin kalau waktu tidurnya akan menghilang.
Eris segera berdiri ketika melihat Yuda dengan pakaian rapi datang ke ruang keluarga.
"Pilihan yang tepat."
Eris berjalan menuju garasi. Tanpa diperintah, Yuda mengikutinya dari belakang.
Di dalam mobil, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Yuda sendiri enggan berbicara dengan Eris, sedangkan Eris dia tidak ingin berdebat panjang lebar dengan adiknya. Asalkan adiknya menurutinya dengan patuh seperti seekor anjing, dia tidak akan memprovokasinya.
Sejak saat itu, Yuda terjatuh dalam perangkap jaring laba-laba yang dibuat oleh Eris. Tidak ada jalan untuk kembali dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Kedua orang tuanya tidak bisa menjadi penolong, apalagi kakaknya Ren. Semua orang selalu mempercayai keputusan Eris sebagai anak tertua dan menganggap semua tindakan yang dia lakukan adalah demi kebaikan Yuda.
Namun bagi Yuda sendiri, apa yang Eris lakukan membuatnya hancur. Seberapa kuat dia berlari, Eris bisa dengan mudah menarik tali yang ada dileher Yuda untuk kembali.
Dihadapan Eris, Yuda bukanlah seorang manusia melainkan alat untuk memuaskan ambisinya.
"Selamat datang ketua." Seorang polisi memberi hormat pada Eris yang baru saja datang.
Ia menyambut kedatangan Eris dengan penuh hormat dan kekaguman. Ketua tim Aegis itu adalah seorang wanita hebat yang telah menyelesaikan berbagai kasus sulit. Siapapun yang mendengar namanya pasti akan merasa kagum.
Itu adalah fakta yang mereka ketahui, dibalik semua keberhasilannya, ada seseorang yang harus bersusah payah melakukan segalanya.
Yuda menatap punggung Eris tanpa ekspresi. Dia tanpa sadar meningkat kembali bagaimana dirinya bisa terjebak dalam neraka ini.
Ya, duku dia terlalu naif dan mudah mempercayai orang. Dia tidak tahu kalau rasa percaya yang dia miliki akan mengantarnya pada mimpi buruk yang terasa tidak pernah berakhir.
TBC
^^^Next:^^^
^^^Chapter 48 - Masa Lalu Yuda^^^