Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 144 - Identitas Pemimpin Cerberus



Acara pelelangan berjalan dengan lancar. Hingga pada satu titik, barang-barang langka mulai sering dikeluarkan.


"Itu..."


Tamu mulai berbisik satu sama lain tatkala melihat sebuah perhiasan yang sangat berkilau dibawah cahaya lampu.


"Mermaid's Tears?!"


"Itu sungguh Mermaid's Tears?!"


"Aku tidak percaya ini."


Terutama tamu wanita. Tidak ada satupun diantara mereka yang tidak mengenal Mermaid's Tears.


Sebuah perhiasan yang begitu terkenal di seluruh dunia dan dikatakan sebagai perhiasan termahal karena teknik pembuatannya yang rumit. Tidak hanya itu, permata yang terpasang dalam perhiasan itu adalah pertama biru muda yang dikatakan paling langka di dunia.


Setiap wanita menginginkan perhiasan tersebut dan tidak terkecuali. Apa lagi jika mereka adalah orang yang memiliki banyak uang.


Pemikiran mereka sama, Mermaid's Tears harus berada bisa mereka dapatkan.


"Mermaid's Tears. Perhiasan paling mahal di dunia dan dikatakan paling sulit untuk di dapatkan. Lelang dimulai dari $150.000!"


Dengan suara penuh semangat, MC membuka dengan angka yang cukup fantastis.


"Nomor 44, $151.000!"


"Yang disana, nomor 1, $152.000!"


"Nomor 52, $153.000!"


"$154.000! $155.000! Tuan Croco, $200.000!"


"Nyonya Lily, $205.000!"


"Nomor 77, Nyonya Rose, $210.000!"


Para tamu mulai riuh tatkala angka semakin bertambah. Sepertinya tidak ada yang ingin mengalah pada benda satu ini.


"Tuan Croco, $250.000!"


MC menunggu selama beberapa detik untuk melihat apakah ada yang ingin menawar lagi.


"$250.000 going once,"


"$250.000 going twice,"


"$250.000 sold!"


Beberapa tamu bertepuk tangan ketika Mermaid's Tears berhasil di tawar dengan harga tinggi.


"Tuan Croco, sepertinya istri anda akan sangat senang mendapat hadiah ini." Ucap MC memuji.


Barang selanjutnya dikeluarkan satu persatu dan pelelangan berjalan dengan lancar terkendali.


Bahkan lukisan Endless Prayer sudah terjual dengan harga lebih dari $100.000, sebuah angka yang cukup fantastis.


Di sisi lain, Liyuna terlihat duduk memojok di dalam sel. Dia tidak tahu harus bagaimana karena saat ini, tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain menunggu.


Awalnya Liyuna berusaha untuk mengajak para tahanan yang sama dengannya untuk berbicara, namun usahanya sia-sia. Banyak diantara mereka yang berasal dari luar negeri.


Liyuna tidak tahu bahasa mereka. Selain itu, mustahil juga mengajak orang terluka untuk melarikan diri.


Walau begitu, Liyuna tetap berusaha berpikir positif. Dia mencoba untuk mengesampingkan kulit tangannya yang sobek hingga mengeluarkan darah.


"Bukankah kau Liyuna?"


Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok perempuan yang jauh lebih tua beberapa tahun darinya.


"Siapa?"


Liyuna tidak mengenali wanita itu. Tapi melihat bagaimana dia bisa berbicara menggunakan bahasa yang sama dengannya, kemungkinan besar dia juga warga negara Zen.


"Maaf terlambat memperkenalkan diri, aku Nava. Kau adalah Liyuna, pewaris sah keluarga Castris, kan?"


Nava, nama yang sangat asing bagi Liyuna.


"Kau mengenalku?"


"Aku rasa semua warga Zen mengenalmu."


Itu benar, Liyuna tidak menampik kenyataan bahwa semua orang mengenal dirinya.


"Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Nava.


"Oh, itu..." Liyuna terlihat sedikit ragu. Namun pada akhirnya memutuskan untuk berkata jujur.


"Aku diculik, lalu dibawa kemari."


Meski begitu, semua ini masih dalam perkiraan. Sejak awal tujuan Cerberus memanglah keluarga Castris.


Keluarga Ravenray hanya sedang tidak beruntung karena terseret dalam masalah.


"Kau sendiri bagaimana bisa tertangkap?"


Setelah melihat ada warga Zen selain dirinya, Liyuna tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Dia ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang mungkin saja bisa ia gunakan untuk bertahan hidup.


"Hmm... Saat itu aku sedang mabuk dan tanpa sengaja membuat seseorang marah. Lalu dia menyeret serta membawaku kemari."


Tentu saja itu hanyalah cerita karangan. Tidak ada alasan bagi Nava untuk memberi tahu Liyuna apa yang sebenarnya terjadi. Namun Liyuna juga tidak akan mengetahui fakta mengenai kebohongannya.


Liyuna merasa kasihan dengan Nava. Ternyata dia disini hanya karena tidak sengaja memprovokasi orang berkuasa.


"Sebenarnya tempat apa ini?"


"Melihat ada banyak jenis manusia yang ditangkap disini, kemungkinannya hanya satu."


Nava menatap mata Liyuna dengan penuh keseriusan.


"Perdagangan manusia!!" Keduanya berucap bersamaan.


Ya, tidak ada penjelasan lain mengenai hal ini. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Liyuna mengerti alasan kenapa ada banyak macam orang yang ditahan di sel ini. Apa lagi kalau bukan itu. 


Walau ia sudah punya firasat, Liyuna merasa enggan untuk mengucapkannya secara terang-terangan.


Orang yang membawanya kemari adalah seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Pamannya. Dia tidak ingin mempercayai hal buruk ini. Liyuna ingin percaya bahwa Pamannya tidak melakukan hal seperti itu.


Namun seberapa keras pun Liyuna berusaha untuk menyangkal, pada kenyataannya Pamannya memanglah bukan orang yang baik.


Beberapa waktu dia memperlihatkan banyak sekali barang langka. Semua barang itu merupakan barang yang mustahil di dapat jika tidak dengan cara kotor.


Liyuna tahu itu. Liyuna bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah orang yang telah hidup dua kali. Aneh jika dia tidak mengerti apapun.


"Apa tidak ada hal yang bisa kita lakukan untuk melarikan diri?" Tanya Liyuna dengan suara lirih.


"Tidak ada. Apakah kau tahu kita ada dimana saat ini?"


"Di lautan."


"Benar, karena kita berada di lautan maka mustahil untuk kabur. Meski kau bisa berenang sekalipun, tidak akan menjamin keselamatanmu."


Liyuna menggigit bibir bawahnya. Apa yang Nava katakan memang benar. Namun Liyuna tidak ingin berakhir dijual pada orang lain.


Liyuna tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia sampai dijual. Hal-hal buruk terlintas dalam benaknya, membuat, Liyuna semakin bertekad untuk menyelamatkan diri.


"Tapi tenang saja, pemimpin pasti bisa menyelamatkan kita."


"Pemimpin?"


Nava tersenyum kecil. Dia berjalan mendekati Liyuna dan berbisik lirih di telinganya.


"Kapal ini bernama Red Diamond. Sejak awal, tujuanku kemari adalah untuk menangkap Kepala Cerberus."


Mata Liyuna membulat sempurna tatkala mendengar apa yang Nava katakan.


Hanya dengan kalimat itu saja, Liyuna dapat mengetahui kalau alasan tertangkapnya Nava yang barusan adalah kebohongan.


Namun bukan hanya itu yang membuatnya terkejut, melainkan fakta bahwa Kepala Cerberus ada disini.


Kepala Cerberus... Apa itu berarti pemimpinnya?


Sudah lama Liyuna penasaran dengan Cerberus. Dia tahu kalau merekalah yang membuat keluarga Ravenray jatuh seperti sekarang. Merekalah alasan Ayah dan Ibu Allen meninggal dunia.


Tidak mungkin Liyuna tidak penasaran dengan mereka. Apa lagi kejadian buruk yang menimpa Tante Almera dahulu, nama Castris sempat disebut.


"Apa orang itu benar ada disini?" Tanya Liyuna penasaran.


"Tentu saja, tempat ini adalah miliknya."


"Apa mungkin untuk menangkapnya?"


"Kenapa tidak mungkin? Meski mustahil untuk menangkapnya saat ini, namun tempat ini akan menjadi bukti besar atas kejahatannya."


Kalau itu benar, apakah mungkin Pemimpin Cerberus sebentar lagi akan terungkap?


"Apakah kau sudah tahu identitasnya?"


"Kami sudah mengetahuinya."


"Siapa dia?"


"Harry."


TBC