Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 72 - Kembali ke Vila



Noel saat itu sedang berpatroli untuk memastikan bahwa keadaan di sekitar mereka aman. Saat mereka pesta barbeque,  Noel dapat merasakan keberadaan orang lain selain mereka karena itulah dia menjadi sangat waspada. Dari kejauhan dia melihat Liyuna sedang duduk di jembatan. Karena khawatir, Noel mendekatinya dan memberitahu keberadaannya dengan memegang bahu Liyuna.


Liyuna saat itu terlihat dangat terkejut dengan kemunculan Noel yang tiba-tiba, lalu ia meminta maaf. Tidak lama setelah itu, Noel melihat ada titik merah di badan Liyuna. Dia tahu titik apa itu, itu adalah sebuah laser sniper rifle. Dengan cepat, Noel menutupi tubuh kecil Liyuna dengan tubuhnya dan memandang tajam kearah datangnya laser tersebut.


Noel meminta Liyuna untuk kembali ke dalam vila dan mencoba untuk mengalihkan perhatian namun ketika Liyuna hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba seseorang melempar pisau dari belakang. Noel yang masih berada di danau melihat orang yang mencoba melemparkan pisau dengan jelas dan ia langsung mengejar orang tersebut hingga masuk ke dalam hutan.


Noel tidak tahu apa yang terjadi dengan Liyuna setelah itu karena dia sibuk untuk membuat orang dihadapannya sibuk. Untungnya, penembak jitu yang tadi mengincar Liyuna sepertinya tidak berhasil melancarkan serangan karena Liyuna sudah berada di tempat dimana sulit untuk melakukan bidikan.


Noel melepas jaket yang ia pakai dan memasang kuda-kuda untuk menyerang orang dihadapannya. Mereka melakukan baku hantam dengan tangan kosong. Noel dengan lincah dapat mengimbangi pembunuh bayaran yang hampir membunuh Liyuna dan berhasil membuatnya sibuk. Walau Noel bukanlah seorang body guard profesional, namun dia pernah melakukan pelatihan saat berada di panti. Karena itulah kemampuannya tidak bisa dianggap remeh.


Dia termasuk salah satu anak panti yang bergabung sebelum kebijakan baru diterapkan. Karena itulah, kemampuannya dalam bertarung maupun bertahan hidup tidak akan kalah dengan orang lain. Bahkan bisa dikatakan bahwa dia memiliki kemampuan melebihi orang biasa. Meski ia pernah melakukan pelatihan, tetap saja sulit baginya untuk benar-benar mengalahkan seorang pembunuh bayaran profesional yang melakukan hal seperti ini untuk hidup. Saat Noel sedikit lengah, perutnya sudah terlubangi oleh pisau.


Saat itu Noel berusaha untuk kembali ke vila dan memperingatkan anak-anak, namun dia keburu tak sadarkan diri di hutan dekat vila karena kehilangan banyak darah.


Noel mencoba untuk membuka matanya perlahan-lahan. Keduanya matanya belum bisa melihat dengan jelas, semua masih terlihat sangat kabur.


"Ambilkan air minum untuk kak Noel."


***


Saat ini Liyuna benar-benar sedang merasa sangat bersalah. Dia kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika Noel memintanya untuk kembali ke vila.


'Dia tahu semuanya, kak Noel tahu kalau ada orang jahat mengincar kami.'


Liyuna berpikir bahwa Noel terluka karenanya. Ia semakin menyalahkan diri sendiri dan berharap bisa cepat kembali ke vila dan mencari Noel.


"Yuna, kau terluka." Ucap Yuda sembari menatap tubuh Liyuna yang begitu kotor karena tanah dan darah.


Yuda bisa melihat sekujur tubuh Liyuna penuh dengan luka karena saat ini Liyuna hanya memakai gaun tidur pendek yang tidak bisa benar-benar melindungi tubuhnya dengan baik. Sudut gaun yang dia kenakan juga terlihat sobek karena sesuatu.


"Aku baik-baik saja, yang terpenting saat ini adalah mencaritahu keadaan kak Noel."


Yuda sangat terkesan dengan sikap Liyuna saat ini. Dia lebih mementingkan keselamatan orang lain dibanding dirinya sendiri sedang terluka bahkan kesulitan untuk berjalan. Tidak hanya itu saja yang membuat Yuda terkesan melainkan juga karena sikap tenang Liyuna dalam menyikapi situasi ini. Meski tadi dia bertindak ceroboh karena hampir saja membeberkan lokasinya namun menurut Yuda itu adalah reaksi yang wajar bagi seseorang yang pertama kali melihat pembunuhan secara langsung. Malahan, aneh jika Liyuna bisa tenang dalam situasi tersebut.


"Pakai ini." Yuda menyodorkan mantel yang tadi ia pakai pada Liyuna.


Melihat tubuhnya yang memiliki banyak luka dan saat ini dia hanya memakai gaun tidur, Liyuna tidak menolak, "Terima kasih."


"Akan sangat sulit untuk mencarinya di dalam hutan."


"Pokoknya kita harus mencarinya sampai ketemu."


Liyuna memantapkan tekadnya. Saat ini mereka harus kembali ke vila dan mencari keberadaan Noel. Lagipula Noel terluka karena mencoba untuk menyelamatkan Liyuna namun Liyuna dengan bodohnya malah terluka.


Karena kesulitan berjalan, Liyuna memegang lengan Yuda sebagai tumpuan tubuhnya. Yuda juga tidak mempermasalahkan hal itu dan membantu Liyuna untuk berjalan.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Liyuna.


"Aku sedang menjalankan misi."


"Misi?" Gumam Liyuna.


"Ah benar juga, kau adalah seorang detektif." Lanjut Yuna.


Menyadari bahwa ucapan yang baru saja ia katakan adalah sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui, secara refleks Liyuna menutup mulutnya.


Sudut bibir Yuda tertarik keatas melihat hal itu, "Aku tidak tahu kalau kau tertarik denganku." Ia mencoba untuk menggoda Liyuna.


"Itu tidak benar! Aku tidak sengaja mengetahuinya." Meski terdengar seperti alasan yang bodoh, Liyuna tidak punya pilihan lain selain berbohong. Tidak mungkin dia memberitahu Yuda kalau dia melihat semuanya dalam game.


Yuda tahu bahwa Liyuna mencoba membual karena statusnya sebagai detektif adalah rahasia negara dimana hanya keluarganya yang tahu. Jika Liyuna mengetahui berarti dia melakukan investigasi khusus padanya dengan menyewa seorang private investigator atau mengetahuinya dari sumber lain yang tidak diketahui.


Yuda tidak berusaha untuk menggoda Liyuna lagi dan memilih untuk mengiyakan karena saat ini keadaan mereka sedang tidak mendukung untuk bercanda.


Tak lama kemudian, mereka sampai di vila. Liyuna sudah tidak melihat pisau yang tadi hampir membuatnya tertusuk yang berarti bahwa ada seseorang yang mengambilnya.


Yuda membuka pintu vila, suara pintu yang berderit membuat orang-orang yang berada di dalam vila semakin waspada. Allen yang berada di dekat pintu mencoba untuk menyerang Yuda dengan memukulnya namun serangannya dihentikan oleh Yuda dengan mudah. Meski Allen sering sekali bertarung, dia tetap tidak bisa dibandingkan dengan Yuda yang sudah terlatih.


"Allen berhenti!" Ucap Liyuna berusaha untuk menghentikan Allen agar tidak menyerang Yuda.


"Yuna!" Allen terlihat terkejut melihat Liyuna, ia secara refleks memeluk Liyuna dengan erat.


"Jangan memeluknya dengan erat, dia sedang terluka." Ucap Yuda mencoba untuk memberitahu Allen bahwa Liyuna sedang terluka jadi jangan terlalu membebani tubuhnya.


Allen langsung melepaskan pelukannya dan menatap Liyuna, benar saja, ia bisa melihat tubuh Liyuna yang memiliki banyak luka.


"Kau baik-baik saja?"


"Itu tidak penting sekarang, kak Noel..."


"Kak Noel ada di dalam bersama dengan Yuriel." Allen memutus ucapan Liyuna dan menunjuk kamar Noel.


Liyuna yang mendengar hal itu langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Noel yang terbaring di atas tempat tidur. Dia sudah membuka matanya namun terlihat begitu lemah, Yvette dan juga Yuriel menemani Noel dan memberinya segelas air.


"Kak Yuna!" Melihat Liyuna berada di depan pintu, Yuriel langsung berdiri dan memeluknya namun lagi-lagi Yuda menghentikan.


"Dia sedang terluka."


Yuriel melihat Liyuna dengan seksama dan benar saja tubuhnya dipenuhi dengan luka.


Liyuna tersenyum kepada Yuriel sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja dan berjalan mendekati Noel.


Melihat Liyuna dihadapannya Noel langsung mencoba untuk bangun.


"Kak Noel tidak perlu memaksakan diri."


"Maafkan saya karena tidak bisa melindungi Nona."


"Kak Noel tidak perlu meminta maaf. Karena aku, kak Noel jadi terluka."


"Ini bukan hal besar, sudah menjadi tugas saya untuk melindungi Nona."


Yuda yang melihat bahwa Noel terluka mendekat kearahnya dan memeriksa keadaan lukanya. Dia terkejut melihat luka Noel yang ditangani dengan baik.


"Siapa yang menangani lukanya?"


"Yuriel yang melakukannya." Jawab Allen yang saat ini berada di depan pintu kamar Noel.


Yuda terlihat terkejut mendengar jawaban Allen, dia tidak menyangka bahwa anak berusia 12 tahun bisa menghentikan pendarahan akibat tusukan pisau dengan baik. Sepertinya keluarga Castris tidak ada yang normal.


"Kau melakukannya dengan baik." Yuda memuji kemampuan Yuriel.


"Yuna?"


Terdengar suara Karl dari sambungan telepon yang masih menyala. Liyuna yang mendengar suara ayahnya langsung menatap tangan Yvette yang memegangi ponsel sejak tadi.


"Papa!"


Yvette yang peka terhadap keadaan Liyuna langsung berjalan mendekatinya dan memberikan ponsel padanya.


"Yuna sayang, tenang ya. Papa sebentar lagi akan sampai, Yuna bertahanlah sampai Papa datang." Suara Karl terdengar sangat lembut setelah mendengar suara putrinya. Saat ini dia bisa bernapas dengan sedikit lega karena Liyuna berhasil selamat.


Berbanding terbalik dengan suaranya yang terdengar lembut, saat ini Karl sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi hingga membuat mobil lain yang berada didekatnya melontarkan sumpah serapah. Meski begitu, Karl tidak terlaku peduli, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana dia bisa cepat sampai ke tempat dimana Yuna berada.


Setelah mendengar laporan bahwa tempat Liyuna dan tang lainnya berlibur diserang, Karl tidak bisa mempertahankan sikap tenangnya. Pikirannya terlalu dangkal, dia pikir jika sekitar vila telah ia sewa secara eksklusif, ia bisa melindungi Liyuna namun kenyataannya dia kecolongan. Dia bahkan tidak memberikan body guard untuk melindungi Liyuna sama sekali dan hanya ditemani oleh Noel.


Karl memutuskan untuk memberitahu Sara setelah kejadian ini selesai karena tidak ingin dia syok.


"Iya, Pa. Yuna akan menunggu dan bertahan."


Mendengar suara Liyuna yang stabil dan tidak bergetar, Karl menjadi sedikit lega.


"Bagaimana keadaan Yuna saat ini."


"Yuna baik-baik saja, Pa. Yuna berhasil selamat karena Tuan Muda Harvenhelt menolong Yuna."


"Tolong berikan ponselnya pada Tuan Muda Harvenhelt, Papa ingin bicara secara pribadi dengannya."


Liyuna langsung memberikan ponsel pada Yuda dan dia menerima ponsel tersebut lalu berjalan keluar vila untuk melakukan pembicaraan pribadi dan mematikan loud speaker.


TBC