
Di pagi jari yang cerah, kediaman Ravenray terlihat sangat sepi dan sunyi. Semenjak Nyonya Besar di rumah itu tiada, para pelayan dan pekerja yang baru di rekrut memilih untuk tidak menetap disana. Walaupun mereka tahu bahwa semua itu hanyalah kecelakaan dan tidak mungkin terjadi lagi, namun mereka masih saja merasa takut.
Tidak ada yang tahu, kapan bayang-bayang mengerikan itu dapat hilang di kediaman ini.
Zion terlihat sedang membaca koran di ruang santai, ditemani oleh kepulan asap dari kopi hangat di meja.
Kacamata dengan frame emas bertengger di atas hidung mancungnya yang sempurna. Kemeja putih yang ia pakai terlihat sedikit longgar, memperlihatkan tulang selangkanya.
Siapapun yang melihat gambaran ini akan berpikir seberapa agungnya dia. Pria berumur 26 tahun itu memiliki tempramen yang berbeda dari pria seumurannya yang lain.
Sesekali, pelayan yang mendapat shift pagi lewat untuk melakukan bersih-bersih.
"Tuan Muda, ini kue keringnya."
Pelayan paruh baya yang bekerja belum lama ini menyodorkan sepiring kue kering di meja. Meski i masih baru, ia tahu kalau Tuan Muda keluarga Ravenray sangat suka memakan meminum kopi di pagi hari, ditemani oleh kue kering yang baru saja keluar dari oven.
"Terima kasih."
Zion tidak menatap pelayan tersebut, pandangannya fokus pada koran yang ada ditangannya.
Pelayan tersebut langsung meminta izin untuk undur diri. Masih ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Dimana Allen?"
Eldo terlihat sedang membenarkan kancing manset di ujung kemejanya. Kepala keluarga Ravenray ini terlihat memakai setelan rapi, ia sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Mungkin masih di kamarnya."
"Aku berangkat dulu, nanti kau menyusul saja. Jangan lupa kita akan ada rapat pukul 9 pagi."
Eldo tidak menanyakan tentang Allen lebih jauh. Ia meminta Zion untuk berangkat setelahnya.
"Aku mengerti."
Pandangan Zion tak lepas dari punggung Eldo yang semakin menjauh.
Sejak hari kelulusannya, Zion resmi bekerja di Raven Group. Ia memulai dari bawah, hingga akhirnya kini ia bisa memiliki jabatan yang lumayan tinggi. Meski begitu, dia tidak bisa bekerja seenaknya karena tanggung jawab besar yang harus dia emban.
Suatu hari nanti, dialah orang yang akan membawa Raven Group. Dia adalah orang yang akan memikul segala beban dari Raven Group, karena itulah dia harus tetap waspada.
Meski jabatan Presdir nantinya akan menjadi miliknya, Zion tetap harus berusaha sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang-orang. Dia tidka boleh lengah dan dia tidka boleh terlihat lemah.
Tiga puluh menit kemudian, Zion bersiap untuk pergi ke kantor. Ia menghabiskan kopinya dan memakan beberapa potong kue kering. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia memakai kemeja hitam, dengan kancing manset berwarna merah rubi.
Jas merah maroon dan celana yang berwarna senada memeluk tubuhnya dengan erat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah.
Zion mengambil kunci mobil diatas meja lalu berjalan menuju basement di bawah rumahnya.
Berbeda dari kebanyakan orang, Zion lebih senang menyetir sendiri. Dia menyetir sebuah Porsche dengan finishing platinum silver metalic yang tidak begitu mencolok namun memiliki harga ratusan dolar.
Sesampainya di kantor, Zion langsung pergi menuju ke ruangannya. Di sana ia disambut oleh sesosok pria seumuran dengannya yang tak asing lagi baginya.
"Pagi!" Sapa pria berambut pirang yang berdiri tak jauh dari ruangan khusus milik general manajer, Altzion Ravenray.
"Apa ada jadwal penting hari ini?"
Zion tidak membalas sapaan pria itu dan langsung menanyakan jadwal yang harus ia lakukan hari ini.
"Jam berapa?"
"Jam 1 siang di restoran Raiten."
"Baiklah, nanti beri aku notifikasi lebih lanjut."
"Dimengerti."
Melihat Zion yang langsung masuk dalam mode serius, Jay tidak bisa kembali untuk bercanda. Teman yang telah ia kenal sejak masa SMA itu memang susah sekali untuk diajak bersenang-senang. Dia selalu terlihat serius dan kaku namun meski begitu, Jay menaruh rasa hormat padanya karena dia selalu menepati janjinya.
Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu ketika mereka masih SMA, Zion pernah menjanjikan sebuah posisi untuknya. Posisi dimana dia berada tepat di samping Zion, sebuah posisi yang tidak bisa di dapatkan begitu saja oleh orang biasa.
Tentu saja, posisi seperti itu tidak bisa ia dapatkan dengan mudah. Ia harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik, mengalahkan ribuan kandidat lainnya dan menjadi nomor satu. Prestasi yang ia kumpulkan selama empat tahun terakhir di universitas tidaklah sia-sia.
Zion menepati janjinya dan membawanya untuk selalu berada di sampingnya. Meski saat ini posisi Zion bukanlah yang tertinggi namun dia tidak berniat untuk ingkar. Semua yang dia ucapkan pasti akan dia laksanakan, karena itulah Jay menghormatinya. Meski pria itu terlihat sangat serius dan kaku, Jay tidak mempermasalahkannya. Dia yang sudah mengenal Zion sejak dulu merasa mampu untuk menanganinya.
"Bagaimana dengan progress dari divisi lain?"
"Semua sudah ada di laporan."
Zion menaruh tas kerjanya di atas meja dan langsung membaca dokumen-dokumen yang sudah menumpuk.
Jay sebagai sekretaris pribadinya membantu sebisa mungkin pekerjaan Zion agar cepat selesai. Dia juga beberapa kali terlihat mengangkat telepon dan membuat janji bisnis untuk Zion.
Pemandangan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing. Setiap hari keduanya bekerja saling berdampingan untuk menyelesaikan banyak hal.
Saat pertama kali Zion masuk bekerja, orang-orang terlihat waspada dengannya. Bagaimana pun juga identitasnya sebagai putra sulung keluarga Ravenray tidak bisa di sembunyikan. Sejak ia berumur belasan tahun, ia sudah diperkenalkan dikalangan pebisnis lainnya.
Tidak hanya itu saja, posisinya sebagai pewaris utama dari Raven Group membuat semua orang semakin tidak berani padanya. Namun ketika semua dijalani, ketakutan-ketakutan yang mereka miliki tidak pernah terjadi. Zion terlihat sama seperti karyawan lainnya, dia membangun pondasi dari bawah dan mencari kepercayaan dengan tangannya sendiri.
Mungkin yang membuatnya berbeda adalah dirinya yang mampu membuat keputusan dengan cepat namun memiliki resiko paling rendah. Jujur saja, tidak semua orang bisa seperti itu. Banyak yang merasa kagum dengannya dan penasaran bagaimana Presdir membesarkannya. Namun tak sedikit juga yang merasa sedikit ngeri. Setiap keputusan yang dia buat, tidak peduli siapa yang akan menerima akibatnya, asalkan itu mengentungkan perusahaan, Zion pasti akan melakukannya.
Hatinya yang kuat dalam mengambil keputusan, penilaian yang cermat, dan emosinya yang stabil di setiap kesempatan membuatnya naik ke posisi yang lebih tinggi.
Bahkan rumornya, dia seharusnya mendapat promosi di umurnya yang ke 24 tahun namun ia tolak dengan alasan ingin belajar lebih banyak. Tidak banyak orang sepertinya yang benar-benar bekerja dengan baik dan menikmati setiap prosesnya.
Putra sulung keluarga Ravenray itu selalu bisa memukai semua orang dengan prestasi dan kecakapannya. Membuat senior lain merasa tidak percaya diri dan terancam.
Setiap mata selalu melihatnya, memerhatikan setiap gerak gerik yang dia lakukan, menunggu saat dimana dia membuat kesalahan dan menjatuhkannya.
"Sebentar lagi meeting dengan Presdir akan dimulai, lebih baik anda segera ke ruang meeting sekarang." Jay mengingatkan Zion tentang meeting penting dengan Presiden Direktur, Eldo Ravenray.
Meski Jay sendiri tahu bahwa Zion tidak akan mungkin lupa mengenai pertemuan-pertemuan penting, namun tetap saja ini adalah bagian dari pekerjaannya.
"Aku mengerti, tolong bereskan berkas yang sudah aku selesaikan ke tempat lain."
"Baik, saya mengerti."
Zion meninggalkan ruangannya dan pergi menuju ke ruang meeting. Kini hanya Jay yang sibuk membenahi berkas yang berada di ruangan.
Jay tidak tahu kapan Zion akan meninggalkan ruangan ini dan pergi ke ruangan yang lebih tinggi namun untuk saat ini ruangan ini akan menjadi tempat dimana mereka menghabiskan separuh harinya di kantor.
TBC