Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 149 - Liyuna



Mata biru Liyuna mengedar ke seluruh sudut yang ada. Tempat penuh cahaya yang begitu menyilaukan, serta gazebo emas dengan seorang wanita bergaun merah disana.


"Hei..." Panggil Liyuna dengan suara yang lembut.


Wanita yang biasanya bersikap dengan penuh percaya diri kini terlihat begitu kecil. Ia duduk memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya disana.


"Kau baik-baik saja?"


Tidak ada jawaban. Wanita itu enggan menjawab pertanyaannya.


"Hei..." Panggilnya sekali lagi.


Karena tidak digubris, Liyuna akhirnya berjalan mendekati wanita itu lalu duduk tepat disebelahnya.


"Apa yang membuatmu sedih?"


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Wanita itu diam seribu bahasa dengan memeluk lututnya.


"Kau tidak mau menceritakannya padaku?"


Selama beberapa saat, hanya ada keheningan diantara keduanya. Kedua perempuan yang menyandang satu nama, 'Liyuna' kini saling berhadapan untuk kesekian kalinya.


"Aku... Aku hanya merasa lega,"


Akhirnya ada jawaban. Dengan suara yang lirih, wanita itu menjawab sembari menunjukkan wajahnya yang sejak tadi tidak dia lihatkan.


"Aku kira aku akan mati lagi disana."


Deg—


Ucapan barusan, membuat hati Liyuna merasa sedikit nyut-nyutan. Dia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Liyuna asli.


Namun mendengar kata 'lagi' membuatnya memikirkan banyak skenario.


"Apa maksudmu?"


Tatapan keduanya saling bertemu. Mata biru yang sama, seperti sebuah langit di pagi hari. Terlihat begitu indah dan menawan.


"Sebelumnya kau pernah bertanya kenapa bisa mengambil alih tubuhku kan?"


Waktunya telah tiba. Ini adalah saatnya Riana yang mengambil alih tubuh Liyuna mengetahui semuanya.


Riana meneguk ludahnya dengan kasar, saat ini dia mencoba menyiapkan diri untuk mengetahui kebenarannya.


"Kenapa baru sekarang?"


"Aku rasa ini waktu yang tepat."


Tiba-tiba saja, tubuh Liyuna asli terlihat mulai menghilang seperti sebuah debu yang mulai bertebaran.


"Apa yang terjadi padamu?!"


"Kekuatan jiwaku mulai menghilang. Masa depan telah berubah."


"Apa ini karenaku?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan lalu menjawab, "Bukan, semua ini adalah proses yang tidak bisa dihindari. Meski tanpa dirimu sekalipun, aku tetap akan menghilang."


Liyuna asli mulai berbicara dengan serius. Saat ini, dia harus menceritakan segalanya dalam waktu yang singkat ini.


"Dulu aku pernah mengatakannya padamu. Aku adalah kau dan kau adalah aku. Apakah kini kau mengerti apa maksudnya?"


Riana tidak menjawab. Jujur saja, dia masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan itu. Namun saat ini, mungkin dia bisa menerkanya.


"Alasan mengapa kau bisa mengambil alih tubuh Liyuna adalah karena jiwa yang kau miliki merupakan bagian dari jiwa yang Liyuna miliki."


Riana tidak mengerti perkataan barusan.


Jiwanya adalah bagian dari jiwa milik Liyuna? Apa juga maksudnya. Riana sama sekali tidak mengerti.


"Apa yang kau lihat dalam mimpi selama ini adalah sebuah ingatan. Itu bukan hanya sebuah mimpi belaka. "


Riana terdiam, lalu menjawab dengan jujur. "Kalau hal itu aku sudah menduganya. Itu adalah ingatan milikmu kan?"


Liyuna asli tersenyum, "Bukan hanya ingatanku, tapi juga milikmu."


Ekspresi gadis itu seketika berubah kebingungan, "???"


Semakin lama berbicara, Riana semakin bingung. Pembicaraan kali ini benar-benar membingungkan baginya.


Liyuna asli berdiri dihadapan Riana. Dia menatap Riana yang sedang duduk dengan serius.


"Pernahkah kau berpikir bahwa dunia yang selama ini kau anggap sebagai game adalah dunia nyata? Dan kau... Orang yang mengambil alih tubuh Liyuna, itu bukanlah suatu kebetulan."


Riana mendengarkan dengan seksama.


"Karena kau adalah Liyuna itu sendiri."


Liyuna asli tiba-tiba memeluk Riana. Ketika keduanya berpelukan, sebuah cahaya menyilaukan mengendar dari tubuh Liyuna asli.


Bagaikan kepingan puzzle yang mulai menyatu satu persatu, Riana mendapatkan sebuah ingatan-ingatan yang selama ini terkunci.


Seperti mimpi buruk yang tidak bisa hilang dari ingatan, dia merasakan bagaimana rasanya mati berkali-kali.


.


.


.


"Teganya! Teganya kau melakukan ini padaku, Allen!!"


"Katakan padaku sekarang juga jika kau memang tidak mencintaiku!"


"Yuri, kenapa kau melakukan hal ini padaku?"


"Kenapa kalian semua mengkhianatiku?!"


...


"Maafkan aku, kak Yuna."


"Aku tidak akan berhenti hanya untukmu."


...


"Allen, katakan padaku. Apa tidak bisa kau lepaskan dendammu dan kita hidup bersama?"


"Tidak masalah jika kau bukan pewaris. Aku ingin hidup bersamamu."


....


"Sudah terlambat, aku tidak bisa berhenti. Jika rasa dendam ini menghilang, aku tidak tahu bagaimana cara untuk hidup."


"Yuna, jika saja kau tidak kehilangan hak warismu, mungkin kita bisa bersama."


....


"Kau pikir aku kehilangan hak waris karena siapa?!"


"Aku telah menyerahkan segalanya hanya untukmu!!"


...


"Kak Yuna, menyerahlah. Ayah tidak akan memilihmu. Jangan salahkan orang lain, salahkan dirimu sendiri karena terlalu baik."


...


"Kau telah mengingkari janjimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu."


...


"Jangan khawatir, aku pasti akan menyelematkanmu."


...


"Detektif, aku tidak tidak bisa membiarkan adikku mati."


"Maaf karena tidak bisa menepati janjiku."


...


"Aku menyukaimu!"


"Aku tidak bercanda!! Dengarkan aku dulu, hei! Hajun!!"


...


"Aku tidak berminat pada anak kecil."


...


"Kita hanya berbeda dua belas tahun! Dan juga, aku bukan anak kecil!! Aku sudah 22 tahun."


...


"Aku tidak punya pilihan lain. Ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan."


...


"Hai, aku Lucas!"


...


"Di kehidupanmu selanjutnya, aku harap kau bahagia."


.


.


.


Kepalaku terasa begitu sakit seakan mau pecah. Ingatan yang sebelumnya terlupakan menyerang isi kepalaku bak sebuah peluru yang terus menerus memaksa untuk masuk.


Air mata yang sebelumnya mengering mulai berjatuhan membasahi pipi. Nafasku mulai tersengal-sengal bak habis lari maraton.


Dadaku terasa begitu sesak dan sakit.  Aku tidak bisa berpikir dengan jernih.


Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menangis sembari meremas dada yang mulai terasa sakit.


"Uh..."


"Huhu..."


Entah bagaimana aku mulai terisak. Tangisan memilukan terdengar menyayat hati.


Aku adalah Liyuna. Liyuna adalah aku.


Selama ini Liyuna bukanlah sekedar karakter game yang pernah kumaikan.


"Huhu... Hiks... Hiks..."


Tanganku menutup kedua mata yang mulai tidak bisa mengontrol air mata yang keluar.


Aku tidak ingin melakukan apapun. Saat ini aku hanya ingin menangis.


Akhir menyedihkan dari seorang wanita jahat dalam game bukanlah sebuah cerita karangan belaka, melainkan sebuah kenyataan.


Berkali-kali waktu terulang, Liyuna selalu saja mati. Hingga pada akhirnya aku bereinkarnasi ke bumi.


Namun takdir yang terus mengikatku tidak mau membiarkanku sendiri. Takdir itu kembali menarikku ke dunia ini.


Akhirnya aku mulai paham. Alasan mengapa tubuh Liyuna sangat lemah saat kecil bukanlah karena dia mudah sakit-sakitan, melainkan karena jiwa kami yang mulai saling bergabung.


Sejak awal ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Ada sebuah kekuatan yang selalu menarikku dalam takdir menyedihkan ini.


Dan sekarang, aku harus bisa mengubahnya. Aku harus mengubah takdir menyedihkan ini.


Dengan menghindari segala macam bendera kematian, aku harus berubah. Aku tidak bisa menjadi seperti Liyuna yang ada di game.


Ingatan yang selama ini terkunci, telah memberiku banyak pelajaran. Dalam seluruh kehidupan yang terus berulang, aku tidak pernah berubah. Tidak ada perubahan sama sekali dalam diriku.


Karena itulah, saat ini aku harus berubah. Dengan begitu, Liyuna yang lama tidak akan ada lagi.


Liyuna yang lemah dan tidak tahu apa-apa tidak akan pernah ada lagi. Aku akan bertahan hidup dan menjadikan kehidupan kali ini yang terakhir.


Ini adalah janjiku untuk berubah.


"Yuna!"


Di sela-sela tangisanku, suara Mama terdengar begitu kacau. Detik berikutnya, aku merasakan pelukan hangat darinya.


"Ada apa sayang? Apa kau merasa sakit?" Sembari bertanya, Mama memegang wajahku yang basah dengan air mata.


Sepertinya Mama baru saja sampai. Wajahnya tetlihat sangat khawatir ketika melihatku menangis tersedu-sedu.


"Mama..." Panggilku.


Air mataku tidak mau berhenti. Meski dadaku terasa semakin sesak, aku tidak bisa menghentikannya.


"Iya, katakan pada Mama."


"Sakit..."


Hanya itu jawabanku. Sembari memegang dadaku yang sesak.


"Sakit, Ma..."


"Akan Mama panggilkan Dokter."


Mama memencet tombol emergency yang ada disamping tempat tidur. Tak lama kemudian, Dokter beserta beberapa perawat datang membawa perlengkapan medis.


Setelah beberapa saat, akhir tangisanku mulai berhenti.


"Bagaimana keadaan Putri saya, Dokter?"


"Nona Liyuna harus banyak istirahat. Luka di kedua pergelangan tangannya cukup parah, tulangnya sedikit meradang. Lalu luka dalam yang Nona dapatkan karena kecelakaan juga membutuhkan waktu untuk sembuh. Akan lebih baik jika Nona bisa menghindari kegiatan yang berat-berat."


Dokter menjelaskan keadaanku pada Mama. Karena sejak tadi sibuk menangis, aku jadi tidak sadar seberapa sakit tanganku.


Kedua mataku menatap pergelangan tangan yang dibalut dengan perban.


Benar, luka ini kudapatkan karena orang itu. Pamanku yang tidak pernah kuketahui keberadaannya selama ini.


Dari ingatan yang aku dapatkan, tidak ada satupun yang memperlihatkan Paman. Namun kehidupan kali ini, aku bertemu dengannya.


Aku harus segera memastikan hal ini pada Papa. Karena langkahku selanjutnya, bergantung pada jawaban Papa.


Setelah selesai memeriksa, Dokter meinggalkan ruanganku.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Sekarang aku baik-baik saja, Ma."


Mama menggenggam tanganku dengan erat. Dia terlihat sangat kelelahan.


"Dimana Papa, Ma?"


"Papa sedang mengurus sisa-sisa kejadian kemarin. Karena ini adalah kasus yang besar, mungkin Papa akan terlambat berkunjung."


"Bagaimana keadaan kak Noel dan Liam? Apa mereka baik-baik saja?"


"Noel baik-baik saja, lukanya tidak terlalu parah karena ada airbag. Sementara Liam, dia sedang mendapatkan perawatan intensif karena luka tusukan."


Melihat wajahku yang murung, Mama mencoba untuk menghiburku.


"Ini bukan salah Yuna, jadi jangan memasang wajah seperti itu. Noel dan Liam pasti tidak akan senang melihatnya."


Aku hanya bisa mengangguk pelan. Peristiwa kali ini, membuatku sedikit terguncang.


"Oh ya, sebentar lagi teman-temanmu akan datang."


"Yvette?"


"Benar, Yvette, Allen, serta Yuriel akan datang mengunjungimu."


"Ma, aku tidak ingin bertemu dengan mereka." Mama terlihat sangat terkejut.


Ini pertama kalinya aku menolak kehadiran teman-temanku. Namun kali ini, aku tidak bisa menemui mereka. Ada yang harus kulakukan sebelum bertemu dengan mereka.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi apakah Mama bisa tahu alasannya?"


"Jika Papa sudah kembali. Aku ingin bertrmu dengan Papa terlebih dahulu."


TBC