Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 88 - Mimpi Atau Premonisi?



Lampu di kamar Zion terlihat telah dimatikan. Kamar tersebut diselimuti oleh kegelapan yang tak terhindarkan namun karena gorden jendela dibiarkan dibuka, cahaya bulan dalat masuk dan memberi sedikit pencerahan.


Zion terlihat tertidur dengan lelap di tempat tidurnya. Sejak sore tadi, dia merasa sangat lelah dan memutuskan untuk istirahat lebih awal.


Ketika membuka kedua matanya, Zion menyadari bahwa dia sudah tidak berada di dalam kamarnya.


Ia melihat keadaan disekitarnya yang penuh dengan orang-orang berpakaian formal.


"Presdir, jam 10 anda harus menghadiri rapat dengan Perusahaan K."


'Presdir?'


Zion melihat kearah samping dan menangkap sosok yang sangat dia kenal.


Jay terlihat memakai setelan formal, ditangannya ada beberapa dokumen. Dia terlihat berbeda dari Jay yang ada di ingatannya. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sudah berumur sekitar 30 tahun dan pembawaannya yang jenaka sudah menghilang. Dia terlihat sangat serius dan kacamata yang ia pakai membuat Zion semakin merasa asing.


Jay bukanlah orang yang memiliki rabun jauh, jadi aneh baginya melihat Jay memakai kacamata.


"Aku mengerti."


Zion merasa terkejut ketika dia menjawab ucapan Jay. Tubuhnya bergerak sendiri dan semua terjadi begitu saja.


Zion dan Jay masuk ke dalam elevator, sesekali ada orang yang menyapa Zion dan membungkukkan tubuh mereka sebagai tanda memberi salam.


"Selamat pagi, Presdir."


DING!


Elevator berhenti di lantai 50, Jay terlihat membukakan pintu untuk Zion.


Tubuh Zion bergerak dengan sendirinya, ia bisa melihat sebuah meja yang sangat familiar baginya. Sebuah meja yang sudah ia lihat sejak kecil.


Kedua matanya membulat dengan sempurna ketika ia melihat papan nama yang ada di meja.


Altzion Ravenray.


Zion tidak mungkin salah mengenali meja yang ada dihadapannya. Sejauh yang ia ingat, lantai 50 dari perusahaan Ravenray adalah lantai khusus untuk Presdir dan meja yang ada dihadapannya saat ini adalah meja yang ayahnya gunakan.


Sejak kecil, Zion sering berada di ruangan ini dan melihat ayahnya bekerja jadi tidak mungkin ingatannya salah.


Zion duduk di kursi dan menatap Jay yang berdiri tak jauh darinya.


Saat ini Zion menyadari bahwa semua ini adalah mimpi. Tidak mungkin dia menjadi seorang Presdir, tidak, meskipun ia akan mejadi Presdir dimasa depan mustahil itu akan terjadi dengan cepat. Saat ini dia terlihat masih cukup muda, wajahnya bahkan tidak seperti seseorang yang berada di umur lebih dari tiga puluh lima tahun.


Bip.. Bip..


Ponsel Jay berbunyi, dengan segera dia mengangkat telepon. Setelah mendengar informasi dari penelpon, Jay mematikan ponselnya. Ponsel yang saat ini dia gunakan adalah ponsel khusus untuk bekerja jadi biasanya yang menelpon adalah seseorang yang memiliki hubungan bisnis atau rekan kerja Raven Group.


"Presdir, Nona mengatakan ingin bertemu dengan anda."


'Nona?'


"Izinkan dia masuk ke ruangan ku."


Mendengar ucapan Zion, Jay langsung menelpon bagian resepsionis dan memintanya untuk memberikan perlakuan terbaik untuk Nona.


Beberapa menit kemudian, seorang wanita masuk ke dalam ruangan Zion. Jay yang melihat hal itu langsung meminta izin untuk keluar dan memberi keduanya waktu untuk bersamanya.


"Ada apa?"


Zion terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan. Suaranya terdengar sangat lembut dan perhatian, bahkan tidak terasa dingin dan datar seperti biasanya. Dia merasa sangat asing karena dia tidak pernah melembutkan suaranya untuk seseorang.


Wanita itu terlihat tersenyum. Zion tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas namun dia memiliki rambut panjang yang terlihat halus dan berkilau.


Zion memundurkan kursinya sedikit, memberi ruang untuk wanita yang saat ini berdiri disampingnya.


Wanita itu memeluk Zion yang masih duduk, "Tidak ada, aku hanya merindukanmu."


Keduanya saling bertatapan, atmosfir di ruangan menjadi semakin panas. Zion mendekatkan wajahnya pada wanita itu dan menatap bibirnya yang terlihat lembut dan kenyal.


Melihat Zion yang sedang menatap bibirnya, membuat tubuh wanita itu merasa sedikit panas. Dengan berani ia menempelkan bibirnya dengan bibir Zion. Melihat wanita yang saat ini berstatus sebagai tunangannya dengan berani menciumnya, Zion tidak bisa tinggal diam.


Zion membuka bibirnya dan mengigit bibir bagian bawah wanita itu hingga membuatnya sedikit memekik. Ketika mulut wanita itu terbuka, Zion tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut wanita itu.


Lidah keduanya saling bertarung dan mereka saling bertukar saliva.


Zion memiliki skill mencium yang sangat baik, hal ini membuat wanita itu tidak sadar mengeluarkan suara aneh.


Zion memegang kepala wanita itu dengan lembut dan memperdalam ciumannya. Wanita itu terlihat meremas pakaian Zion dengan erat karena merasa sedikit sesak. Zion yang menyadari hal itu langsung menghentikan ciuman yang ia lakukan dan memberikan jarak antara bibir mereka.


Benang yang terbuat dari saliva terlihat menyambung dari kedua bibir mereka. Wajah wanita itu memerah dan ia terlihat sedang mengambil napas. Zion yang melihat hal itu entah mengapa merasa sangat senang. Ia mengusap bibir wanita itu dengan tangannya untuk memutus benang saliva.


Wanita itu menatap Zion dengan wajah memerah, bibirnya terlihat sedikit bengkak karena pertempuran yang baru saja terjadi.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini di ruang kerja?"


"Siapa yang menyuruhmu untuk menggodaku?"


"Aku tidak melakukannya!" Bantah wanita itu.


Ia tidak bisa menahan rasa malu. Tunangannya itu memang terlihat seperti seorang pria elegan bermartabat di depan umum, namun sebenarnya ia memiliki sifat buas yang jarang ditunjukkan pada siapapun.


Zion tersenyum melihat wanita yang ada dihadapannya tersipu malu dan memeluknya dengan erat. Pelukan yang mereka lakukan terasa begitu hangat dan nyaman.


Ketika Zion membuka matanya, hanya ada kegelapan yang ia lihat. Ia menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan apa yang barus aja terjadi.


'Mimpi macam apa itu?'


Zion terlihat bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Ia membuka kulkas dan mengambil air mineral lalu meminumnya. Tidak peduli sebanyak apa air yang dia minum, tubuhnya masih terasa sangat panas akibat mimpi barusan.


Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan memimpikan hal seperti itu dengan seorang wanita. Selama dua puluh enam tahun dia hidup, dia bahkan tidak pernah memiliki wanita disampingnya.


Dan lagi, wanita yang ada di mimpinya entah kenapa membuatnya merasa sedikit aneh. Padahal dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Haaah... Ini bisa membuatku gila." Gumamnya sembari menyapu rambut hitamnya kebelakang.


"Apa kau mabuk?"


Allen terlihat berdiri di hadapan Zion. Melihat wajah Zion yang terlihat memerah, Allen berpikir bahwa Zion sedang mabuk karena tidak seperti Zion yang biasanya.


Melihat kehadiran Allen, Zion langsung membenarkan ekspresi wajahnya dan kembali meminum air mineral.


"Apa maksudmu? Mana mungkin aku mabuk."


"Kalau begitu minggir, aku mau ambil minum."


Zion langsung berjalan menjauh dan kembali ke kamarnya sembari membawa botol air minum yang belum sempat ia habiskan. Allen terlihat menatapnya dari belakang namun ia tidak menoleh.


Setelah punggung Zion tidak terlihat, Allen mengambil sebotol air minum dan membuka penutupnya.


Tadi ia terbangun karena mendapat mimpi buruk dan berniat untuk mengambil air minum namun ia tidak menyangka akan bertemu dengan Zion dengan wajah asing seperti itu.


Yah, itu semua juga bukan urusan Allen. Terserah Zion mau melakukan apa.


Setelah semua kembali ke kamar masing-masing, lampu dapur kembali dimatikan. Kegelapan kembali menyelimuti kediaman Ravenray. Sejak kejadian empat tahun yang lalu, keamanan Ravenray semakin diperketat dan semua pekerja diperbolehkan untuk tidak tinggal di area mansion jika mereka merasa takut.


Empat tahun berlalu, namun semua berubah dengan begitu cepat.


TBC


[A/N: Mungkin setelah ini Zion akan sering muncul karena dia satu-satunya tokoh yang paling jarang di ceritakan oleh author😉 dan mungkin update tiga hari sekali ini akan berlangsung full di bulan November ini. Author sedang pusing pala berbi harus bikin draft buat journal article😭]