
Liyuna dan Yvette merebahkan tubuh mereka di kasur empuk berukuran king size. Mereka menatap atap kamar untuk beberapa menit, sebelum akhirnya Liyuna membuka suara.
"Yvette, terima kasih sudah mau menjadi temanku."
Yvette terkejut mendengar ucapan Liyuna yang tiba-tiba. Dia tidak menyangka Liyuna akan mengatakan hal se-random itu disini. Namun, Yvette juga merasa senang mendengar apa yang diucapkan Liyuna. Hatinya terasa sangat hangat dan dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Harusnya aku yang mengatakan hal itu. Jika kita melihat dari posisi, orang seperti aku tidak mungkin bisa berteman dengan keluarga elit peringkat atas seperti Castris karena jaraknya terlalu jauh dengan Vlistha." Yvette memberi jeda ucapannya, dia menoleh kearah Liyuna sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke langit-langit atap kamar.
"Namun apa yang dianggap mimpi oleh banyak orang, bisa terwujud karena kebaikan Yuna. Jadi, Yuna tidak perlu berterima kasih padaku." Lanjutnya.
Apa yang Yvette katakan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir Liyuna dan dia bisa berteman. Pikiran seperti berteman dengan keluarga peringkat atas adalah hal yang tidak pernah terlintas di benaknya sebelumnya. Namun hal itu berubah ketika Liyuna mengulurkan tangannya untuk Yvette. Dia memutuskan untuk menghancurkan dinding yang selama ini membuat orang menjauh dan mengasingkan Liyuna. Dia tidak peduli dengan konsekuensinya karena Yvette tahu bahwa Liyuna bukan orang yang suka melakukan sesuatu tanpa alasan.
"Apa berteman dengan Liyuna adalah sesuatu yang bisa dianggap hanya mimpi?" Tanpa sadar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Liyuna.
Sejak dia mengambil alih tubuh Liyuna, dia selalu terpikirkan hal itu. Meski Liyuna kaya raya, dia tidak memiliki teman. Meski dia cantik, tidak ada satupun yang mau mendekatinya. Liyuna terlihat seperti orang yang dikucilkan dan dijauhi oleh semua orang. Karena itu lah dia penasaran dan akhirnya telah mendapatkan jawaban dari apa yang selalu ia pikirkan.
'Berteman dengan Liyuna seperti sebuah mimpi.'
"Ya, berteman dengan Yuna memang seperti sebuah mimpi. Banyak orang berpikir jika Yuna hanya akan berteman dengan seseorang dengan posisi yang sama."
"Apa itu sebabnya orang-orang menjauhiku?"
"Benar, mereka takut dan tidak berani melewati batas. Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Mereka bersikap seperti itu juga karena orang tua mereka memberi peringatan agar berhati-hati di depan Yuna."
Yvette yang kelihatannya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu sebenarnya sangatlah jeli. Dia dapat memahami alasan kenapa orang-orang menjauhi Liyuna dan dia merasa semua orang telah salah menilai Liyuna. Jika saja mereka berani melewati batas tersebut, mereka akan tahu seberapa baiknya Liyuna dan Yvette juga yakin bahwa mereka pasti akan sangat terbantu jika mereka sedang dalam masalah karena Liyuna pasti akan mengulurkan tangan untuk siapapun yang meminta tolong dan siapapun yang siap untuk ditolong.
"Kalau begitu, terima kasih karena telah berani melewati batas." Liyuna tersenyum tulus. Sejak dia masuk ke dunia Red String, dia sering merasa khawatir dan dia tidak tahu banyak tentang keadaan disini karena yang dia tahu hanyalah pengetahuan yang ada di game saja. Untungnya, secara alami dia bisa berbicara menggunakan bahasa di Negara ini dan tidak punya kesulitan dalam menulis hurufnya. Meski meras aneh, tapi dia bersyukur. Akan jadi masalah besar jika dia sampai tidak tahu cara menulis dan berbicara menggunakan bahasa Ibu nya.
"Yuna." Panggil Yvette.
"Hmm?"
"Jika suatu hari nanti, semua orang memalingkan punggung mereka pada Yuna. Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, tidak peduli dengan apa yang orang katakan, aku akan selalu mempercayai dan berada dipihakmu."
Mendengar ucapan Yvette, Liyuna sedikit terkejut. Ia jadi ingat bahwa dunia ini berputar di sekeliling Yuriel dan hanya akan memihaknya. Liyuna yang ditakdirkan menjadi seorang wanita jahat di game akan bernasib buruk, begitu juga dengan Yvette yang selalu ada dipihaknya. Yvette yang sejak awal selalu membelanya, Yvette yang sejak awal selalu menemaninya, dan Yvette yang sejak awal mendukungnya juga akan mengalami hal yang sama. Nasib buruk akan jatuh padanya jika Liyuna membiarkan semua berjalan sesuai dengan alur game. Dia menginginkan hal itu, dia tidak ingin Yvette yang sejak awal baik padanya mengalami nasib buruk seperti dirinya dalam game.
Namun Liyuna juga tidak ingin melepaskan tangan Yvette. Kebaikan dan ketulusan yang dia berikan pada Liyuna, dia ingin menggenggamnya dan terus seperti itu sampai kapan pun.
Tanpa sadar air mata Liyuna mengalir deras. Dia tidak bisa membayangkan masa depan dimana Yvette terluka dan masa depan dimana dia akan mati. Meski sudah membulatkan tekat untuk berteman dengan para target dan menganggap Yuriel sebagai keluarganya, Liyuna tahu bahwa semua tidak semudah itu. Apa lagi, sebelum dia ada di dunia ini, dia belum selesai memainkan hidden route. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Liyuna di dalam rute tersebut dan dia tidak tahu bagaimana endingnya.
Liyuna tidak ingin semua berakhir begitu saja. Dia akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan happy ending untuk dirinya sendiri dan bertahan hidup hingga akhir.
Mendengar Liyuna yang menangis tersedu-sedu, secara refleks Yvette bangun dan melihat keadaan Liyuna. Dia terlihat begitu terkejut karena Liyuna tiba-tiba menangis. Selama ia mengenal Liyuna, Yvette belum pernah melihat dia menangis. Bahkan ketika dia jatuh dari tangga, dia tidak menangis kesakitan. Yvette tidak tahu harus berbuat apa.
"Yuna?! Yuna kenapa menangis?"
Yvette memegang bahu Liyuna dan melihat kedua mata Liyuna terpejam dan air mata mengalir dari sana. Yvette benar-benar tidak tahu harus berbuat apa karena Liyuna tiba-tiba saja menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak akan membiarkan semua berjalan seperti yang seharusnya. Aku pasti akan mencari cara untuk mendapatkan happy ending untuk semua orang." Gumam Liyuna dengan sangat lirih namun Yvette dapat mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Detik berikutnya, Yvette lagi-lagi dibuat terkejut oleh Liyuna.
Liyuna memeluk Yvette dan mengalungkan kedua tangannya di leher kecil milik Yvette. Sambil menangis, Liyuna berkata "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Yvette yang masih tidak mengerti apa yang Liyuna ucapkan hanya bisa menurutinya, "Benar, mari kita berusaha sebaik mungkin."
Meski tidak mengerti, Yvette merasa bahwa Liyuna selama ini selalu memendam penderitaannya sendiri. Makanya dia ingin mengubah semua itu dengan merubah dirinya. Ya, Liyuna yang saat ini berbeda dengan Liyuna yang dulu pertama kali ia temui. Yvette merasa senang dengan perubahan baik Liyuna dan ingin Liyuna terus seperti ini. Ia ingin Liyuan lebih jujur pada dirinya sendiri dan tidak memendam semuanya sendirian.
Yvette membalas pelukan Liyuna dan mereka terdiam seperti itu sampai beberapa saat hingga akhirnya Liyuna memutuskan untuk melepas pelukannya dan menyeka air matanya.
Liyuna merasa sedikit malu karena tiba-tiba menangis tanpa alasan gang jelas dan membuat Yvette kebingungan.
"Maaf." Ucap Liyuna.
"Tidak apa, aku malah merasa senang Yuna mau menunjukkan perasaan Yuna yang sebenarnya di hadapanku."
Liyuna tersenyum mendengar hal itu, "Kalau begitu, untuk seterusnya aku akan melakukannya."
Setelah kejadian itu, Liyuna langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Kedua matanya terlihat sedikit memerah karena habis menangis. Liyuna dan Yvette lalu turun ke bawah untuk makan malam. Karena Karl dan Sara belum pulang, mereka makan malam hanya berdua saja.
"Aura Yuna terasa sangat berbeda dari sebelumnya." Ucap Yvette ditengah-tengah makan malam.
Liyuna yang mendengar hal itu terlihat terkejut. Dia tidak menyangka Yvette akan mengatakan hal itu secara terus terang.
"Maksudnya?"
"Bagaimana ya menjelaskannya. Yuna yang dulu itu terlihat sangat dingin dan acuh terhadap sekitar. Namun Yuna yang sekarang terlihat lembut tapi terasa sangat jauh."
"Terasa sangat jauh?"
"Hmm... Maksudnya, terlihat seperti seseorang yang tiba-tiba saja muncul di suatu tempat dan merasa sangat asing dengan semuanya."
Liyuna menghentikan seluruh kegiatannya. Dia menatap Yvette dengan seksama karena terkejut dengan ucapannya. Dia tidak menyangka Yvette akan menyadari hal seperti itu karena memang Liyuna yang sekarang memiliki jiwa yang berbeda dengan Liyuna yang sebelumnya.
"Apa itu sesuatu yang buruk?" Liyuna mencoba untuk tidak menampakkan rasa terkejutnya dan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Tidak juga, malahan lebih baik Yuna yang sekarang karena dia mau memperlihatkan apa yang dia rasakan secara jujur. Jika Liyuna yang dulu, dia selalu memendam semua sendirian. Aku tidak suka melihat Yuna yang seperti itu karena terasa sangat kesepian."
"Kalau begitu, aku akan terus menjadi Yuna yang seperti saat ini dan akan berhenti membuatmu khawatir."
"Aku senang mendengarnya. Aku juga akan selalu jujur dengan apa yang ku rasakan dan selalu ada di sisimu."
Mereka melanjutkan makan malam dalam kebahagiaan. Kedua gadis kecil tersebut terlihat berbincang-bincang dan tertawa, melupakan segala table manner yang pernah mereka pelajari dan bersikap layaknya anak berumur tujuh tahun pada umumnya.
TBC