Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 77 - Penyelidikan



Melihat kenyataan mengerika tepat di depan matanya, Allen mencoba untuk menenangkan diri. Meski apa yang saat ini dia lihat mengingatkannya kembali pada sebuah ingatan yang ingin dia kubur, Allen tetap harus bisa mengontrol dirinya.


Ia mengambil ponsel dari saku mantel yang ia pakai dan menelpon Zion. Semua terjadi begitu saja. Allen juga tidak mengerti kenapa dia memberitahu Zion terlebih dahulu mengenai kejadian ini dibanding ayahnya. Setelah telepon tersambung, Allen langsung memberi tahu apa yang dilihatnya. Lalu ia juga menelepon ayahnya.


"Jangan langsung menghubungi polisi. Hubungi Yuda Harvenhelt terlebih dahulu untuk menangani masalah ini." Ucap Eldo, suaranya terdengar bergetar ditelinga Allen.


Setelah Allen mendengar bahwa sambungan telepon telah terputus, ada sebuah pesan masuk dari Eldo.


'Nomor Yuda Harvenhelt.'


Allen mengerti kenapa ayahnya meminta dia untuk menghubungi Yuda dibandingkan dengan polisi. Semua karena ayahnya tidak ingin membuat kekacauan di kota Elisien. Jika ada orang yang tahu bahwa kejadian besar seperti ini menimpa keluarga Ravenray, pastinya orang-orang akan mulai panik terutama mereka yang tinggal di Elisien.


Yuda adalah seorang detektif dengan kemampuan hebat, Allen mengakui hal itu karena dengan cepat dia bisa menuntaskan insiden pembunuhan yang hampir menghilangkan nyawa Liyuna. Tak lama setelah kejadian itu, Yuda berhasil menangkap pemimpin dari organisasi tersebut dan menjebloskannya ke penjara. Allen tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan hal itu namun dia adalah orang yang bisa dipercaya.


Allen segera menghubungi Yuda dan memberitahu apa yang terjadi. Setelah mendengar konfirmasi dari Yuda kalau dia akan datang, Allen mematikan ponselnya dan duduk di lantai dimana tidak ada darah menetes dan mayat tergeletak.


Belum sampai dia duduk, Allen menghentikan langkahnya. Dia melihat ada sebuah tulisan di samping jasad Almera. Sebuah tulisan berwarna merah pekat. Mata Allen mencoba mencari sesuatu dan benar saja, jari telunjuk Almera juga terbalut dengan darah yang berarti Almera lah yang menulis pesan di meja dengan darahnya.


Allen berjalan mendekat, mencoba untuk membaca apa yang Almera tinggalkan di detik-detik terakhirnya.


TARGETNYA ADALAH CASTRIS


Kedua mata Allen membulat dengan sempurna. Melihat nama Castris disebut, pikiran Allen jadi kemana-mana.


'Dulu juga...'


***


Zion terlihat duduk di bandara. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang mulai dingin. Dia tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang mulai memerah karena udara dingin yang menusuk, jika dibiarkan lebih lama mungkin saja dia akan terkena hipotermia.


Seorang petugas bandara datang menghampirinya dan memberinya selimut setelah atasan memberitahu mereka untuk membantu memberikan akomodasi sebaik mungkin pada Zion.


Zion hanya terdiam dan membiarkan petugas bandara melingkarkan selimut hangat ditubuhnya. Tidak peduli sekeras apa dia mencoba tenang, dia tidak mungkin bisa bertahan. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Ibunya.


Banyak hal muncul di kepala Zion. Mengapa Ravenray diserang? Apa yang Ravenray perbuat hingga mengalami hal ini? Dan siapa yang telah mereka provokasi?.


Tiba-tiba saja, suara pengumuman terdengar begitu jelas ditelinga Zion. Ia menautkan kedua tangannya dan mengepal erat-erat.


“This is an announcement for passengers on flight 250 to Elisien. The flight has been delayed due to snow storm. The flight crew has arrived at the gate, but the ground crew is still de-icing the wings of the aircraft. Our new departure time is 11:30 PM.”


Mendengar pengumuman barusan, Zion tidak bisa melakukan apa-apa. Dia mencoba untuk menghubungi Allen namun ponselnya tidak bisa di jangkau.


Kali ini, Zion hanya bisa pasrah menunggu hingga dia bisa kembali ke Elisien dan melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi.


Kesan pertama Yuda terhadap Allen tidak terlalu baik. Mereka pertama kali bertemu di pesta anniversary Raven Group dan kala itu Allen menunjukkan sifat yang sangat kekanakan. Menurut pandangan Yuda, Allen adalah tipe orang yang suka seenaknya sendiri tanpa memikirkan resiko. Sebagai orang yang lebih tertarik dengan orang yang memiliki insting kuat, Yuda lebih memilih mendekatkan diri dengan Zion daripada Allen.


Namun entah bagaimana kedua kalinya dia bertemu Allen di Alkelan, kesan pertama yang sudah tertanam di otaknya seolah hanya ilusi yang dia buat sendiri. Allen berubah menjadi seperti orang lain, tidak hanya tindakannya namun juga aura yang ada disekelilingnya. Hal itu membuat Yuda terkejut namun dia tidak terlalu memikirkan hal itu karena namanya manusia pasti akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.


Saat ini dia berdiri dihadapan Allen yang tidak menampakkan ekspresi sedih ataupun ketakutan sedikitpun seolah-olah yang baru saja mati bukanlah orang yang ia kenal melainkan orang asing. Yuda menatap Allen sejenak sebelum akhirnya meminta untuk diizinkan masuk ke dalam mansion untuk penyelidikan.


Di dalam Yuda melakukan penyelidikan sebaik mungkin tanpa meninggalkan satu sudut pun. Sebagai seorang manusia yang diberi kelebihan, Yuda selalu menggunakan kemampuannya dengan efektif agar bisa menangani semua kasus dengan cepat.


Setelah mengecek semua jasad yang ada di kediaman Ravenray, Yuda dapat menyimpulkan bahwa semuanya mati karena tertembak. Ia lalu mengambil salah satu peluru yang ada di tubuh jasa dengan memasukkan jarinya yang sudah dibalut dengan sarung tangan ke tubuh yang berlubang dan mencungkil peluru yang tertanam di sana.


Seketika itu juga sarung tangan yang ia pakai berlumuran dengan darah. Yuda mencoba memperhatikan peluru itu dengan seksama dan memasukkannya ke sebuah wadah berisi air agar darah yang menempel terbilas. Setelah itu dia memutar-mutar peluru dan menemukan tanda yang tidak asing.


"Lagi-lagi mereka." Gumam Yuda sembari memasukkan peluru tersebut ke wadah plastik yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Sejak beberapa tahun terakhir ini, Yuda selalu terlihat dalam kasus organisasi kriminal yang dikenal dengan nama Cerberus. Akhir-akhir ini organisasi mereka sering sekali melakukan pembunuhan dan mereka selalu saja meninggalkan jejak secara sengaja, seolah-olah mereka memang ingin ditemukan.


Peluru dengan simbol anjing berkepala tiga adalah salah satu bukti kuat bahwa identitas penyerang adalah mereka. Tidak ada orang lain yang mengetahui simbol ini selain beberapa petinggi di kepolisian, tim Aegis, dan juga dirinya.


Yuda tidak tahu apa yang sebenarnya mereka incar karena tindak kejahatan yang selalu mereka lakukan sangatlah acak sehingga sangat sulit untuk tahu apa yang mereka inginkan.


Namun sepertinya hal itu akan berakhir hari ini. Yuda melihat tulisan yang ditinggalkan Almera di meja dengan darahnya.


Yuda memang sudah curiga sejak Liyuna diserang di danau Alkelan dan sepertinya, kecurigaannya menang benar. Cerberus sedang mengincar keluarga Castris dan ia yakin mereka tidak akan berhenti hanya dengan ini.


Dan mungkin saja alasan mereka membunuh Almera yang merupakan bagian dari keluarga Ravenray yang tidak memiliki hubungan dengan Castris adalah karena dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.


Yuda menyembunyikan mulutnya dibalik telapak tangannya, ini adalah pose ketika Yuda sedang memikirkan sesuatu dengan serius.


"Mungkinkah Nyonya Almera tahu identitas sebenarnya dibalik Cerberus?" Gumam Yuda ketika sebuah pikiran yang sangat tidak masuk akal masuk ke otaknya.


Ya, tidak ada alasan lain. Almera bernasib seperti ini pasti karena dia telah mengetahui siapa pelaku dibalik pembunuh bayaran yang berusaha membunuh Liyuna dan mungkin saja, pelaku tersebut ada hubungannya dengan Cerberus.


Menyadari bahwa apa yang dia pikirkan sangat luar biasa, Yuda tanpa sadar menyeringai. Matanya bersinar seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Ya, inilah wajah sebenarnya dari detektif muda yang jenius. Ketika dia menemukan kebenaran yang baru, ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang bahagia.


"Liyuna, sepertinya kita akan sering berhubungan mulai sekarang."


Yuda sangat menantikannya. Sejak bertemu dengan Liyuna waktu itu, dia merasa sangat tertarik. Seorang anak berumur 8 tahun yang memiliki aura sangat dewasa dan misterius, membuatnya begitu tertarik. Yuda tidak sabar dengan cerita menarik yang akan dia lalui setelah ini bersama dengan Liyuna.


Saat itu, Yuda tidak tahu bahwa apa yang dia inginkan akan menjadi sesuatu yang sangat ia benci.


TBC