
Semua terdiam ketika mendengar nama marga Yuriel. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak, bahkan ada yang menyalahkan pendengaran mereka.
Ya, mereka pasti salah dengar. Apa maksudnya 'Castris'? Anak itu seorang Castris? Bagaimana mungkin??
Semua meragukan ucapan Yuriel, beberapa diantaranya diam-diam melirik ke arah Liyuna. Melihat raut wajah Liyuna yang tidak berubah, mereka semakin penasaran.
Siapa sebenarnya Yuriel ini?
"Semuanya, karena Yuriel baru bergabung disini jadi bantu dia jika sedang dalam kesulitan, ya." Ucap wali kelas meminta murid-muridnya untuk membantu Yuriel untuk beradaptasi di lingkungan baru.
"Nah, Yuriel bisa duduk di kursi yang kosong."
Yuriel menuruti ucapan wali kelas, dia berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang ada di kelas. Satu-satunya kursi yang memang telah disiapkan untuknya.
Setelah Yuriel duduk, wali kelas memulai pelajaran jam pertama. Yuriel sudah memiliki buku paket karena sebelumnya ketika melakukan registrasi sudah diberi sepaket dengan seragam jadi tidak perlu meminjam buku murid lain.
Pelajaran berjalan seperti biasanya, namun sesekali murid yang ada di kelas Liyuna melirik ke arah Yuriel dan juga Liyuna.
Liyuna dan Yuriel memiliki ciri-ciri yang berbeda, warna rambut mereka pun sangat kontras apa lagi warna mata mereka. Murid lain mencoba menebak apa hubungan kedua orang tersebut, meski mereka terlihat berbeda dan tidak mirip mereka memiliki nama marga yang sama. Sejak mereka lahir sampai sekarang, keluarga Castris tidak lah banyak, mereka dapat dihitung dengan jari. Tidak ada yang tahu kenapa jumlah mereka sangat sedikit, yang pasti keluarga Castris banyak yang meninggal di umur yabg cukup muda.
Di umur yang cukup muda, Karl mengambil alih Castris Group dan menjadi kepala keluarga, cincin berlian berwarna biru safir yang ada di jari telunjuknya menunjukkan kekuasaannya di keluarga Castris. Menurut rumor, kedua orang tua Karl masih hidup namun mereka tinggal cukup jauh dari Kota Elisien. Mereka memutuskan untuk menyendiri di kota kecil dan tidak ada yang tahu keberadaan pastinya. Berbeda dengan orang tua Karl, orang tua Sara masih tinggal di Kota Elisien. Tak berbeda jauh dengan Karl, Sara juga berasal dari keluarga yang cukup berpengaruh. Meski pengaruh mereka tak sebesar Castris, mereka bukanlah keluarga yang bisa dianggap remeh.
Ketika berita mengenai pernikahan mereka tersebar, semua orang tidak terlalu terkejut. Semua orang tahu segigih apa Karl mencoba untuk meluluhkan hati Sara. Sara bukan lah tipe orang yang mudah memberikan hatinya, meski Karl berasal dari keluarga terpandang yang memiliki kekuasaan melebihi keluarganya, Sara tidak langsung menerimanya. Butuh waktu bertahun-tahun untuknya menerima perasaan Karl.
Ketika mengingat kisah mereka berdua, tidak ada seorang pun yang bisa membayangkan bahwa Yuriel adalah anak tidak sah Karl. Karena itu lah semua penasaran dengan Yuriel, meski begitu mereka mencoba untuk tidak terlalu memperlihatkannya karena mereka juga khawatir pada Liyuna.
Meski dulu mereka tidak terlalu menyukai Liyuna, mereka tetap merasa iba dengannya. Liyuna bukanlah orang yang suka menindas jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak iba padanya, malahan mereka sendiri lah yang salah menilai. Agar tidak berada di sisi buruknya, murid lain akan berusaha untuk menghindari Yuriel.
Waktu tak terasa bergulir dengan sangat cepat, bel istirahat pun mulai terdengar berbunyi. Semua anak meninggalkan ruang kelas dan pergi ke kantin untuk makan siang.
Dengan secepat kilat, Yvette menghampiri meja Liyuna.
"Hei, Yuna. Siapa anak itu? Dia tadi berkata Castris." Bisik Yvette dengan suara kecil.
Liyuna menatap Yvette sejenak sebelum memutuskan untuk berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri meja Yuriel.
"Yvette perkenalkan, dia adalah Yuriel adikku."
Mendengar ucapan Liyuna barusan, Yvette tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Mulutnya terbuka sangat lebar dan kedua matanya melotot tak percaya. Yvette merasa baru saja tersambar petir di siang bolong. Dia tidak bisa mempercayai apa yang barusan ia dengar. Dengan kaku, ia menoleh kearah Yuriel, kepalanya menoleh dengan sangat kaku hingga terlihat seperti robot.
"Halo, perkenalkan namaku Yuriel, adik kak Yuna." Ucap Yuriel memperkenalkan dirinya dengan suara lembut. Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah secerah matahari, membuat siapa saja yang melihatnya merasa silau.
Setelah semua informasi yang baru saja ia dapat tercerna dengan baik di otaknya, Yvette menatap Liyuna dengan tatapan sedih. Pasti perasaan Liyuna saat ini sedang tidak baik karena tiba-tiba memiliki adik seumuran dengannya.
Kekhawatiran Yvette sangatlah sia-sia. Sebaliknya, Liyuna malah senang memiliki seorang adik dan sudah sejak lama dia menanti hal ini.
"A-- ah, iya. Perkenalkan aku Yvette, sahabat Yuna." Ucap Yvette terbata-bata, ia masih tidak bisa memproses semua ini dengan baik.
Suasana di meja sangat tidak mengenakkan. Yvette yanng biasanya terlalu bersemangat dan cerewet menjadi pendiam, sedangkan Liyuna yang memang tidak banyak omong makan dengan sangat elegan seperti biasanya. Di sisi lain, Yuriel terlihat dengan senang menyantap makan siang yang barusan ia pesan. Beberapa murid yang sedang makan siang di kantin melirik ke meja Liyuna dengan secara terang-terangan, mereka tidak menyembunyikan rasa penasaran mereka sedikit pun.
Setelah selesai makan, Yuriel berkata ingin ke kamar mandi.
"Kalau begitu akan ku antar." Ucap Liyuna menawarkan diri untuk mengantar Yuriel ke kamar mandi namun yang mengejutkan adalah Yuriel menolak kebaikan Liyuna, membuatnya merasa aneh karena Yuriel adalah anak baru jadi mustahil mengetahui letak kamar mandi.
"Tadi aku melihatnya saat berjalan ke sini." Ucap Yuriel mencoba untuk meyakinkan Liyuna.
Mendengar ucapan Yuriel barusan, Liyuna mempercayainya karena kamar mandi terdekat memang ada di samping kantin. Liyuna memutuskan untuk menunggunya di kantin bersama dengan Yvette.
Setelah punggung kecil Yuriel tak terlihat, banyak sekali murid yang memberanikan diri untuk mendekati Liyuna. Tiba-tiba saja, murid-murid sudah mulai bergerombol disekitar Liyuna. Hal ini membuatnya sangat terkejut karena sebelumnya tidak ada murid yang mau mendekatinya.
"Nona Liyuna, anda pasti sedang merasa sangat kesulitan." Ucap salah seorang siswi. Dia berdiri di depan Liyuna dengan memasang wajah kasihan.
Liyuna yang melihat itu menjadi bertanya-tanya.
Apakah dia barusan mengasihani Liyuna? Dia? Yabg seorang villainess itu?
"Benar! Nona, kami pasti akan berada di pihakmu." Sahut yang lainnya.
"Kami pasti akan membuatnya kapok."
"Kami tidak akan membiarkannya merebut posisi mu."
"Sebutan Nona Castris hanya cocok untuk Nona Liyuna."
"Benar, Nona tidak perlu khawatir."
Liyuna tidak bisa fokus dengan apa yang murid lain bicarakan karena suara mereka saling bertubrukan. Yang pasti, mereka mencoba untuk menyemangatinya karena suatu hal.
"Kenapa kalian seperti ini? Kalian membuat Yuna merasa tidak nyaman." Ucap Yvette mencoba untuk memecah kerumunan.
Tidak ada seorang pun yang mendengarkan Yvette. Mereka sangat sibuk dengan Liyuna. Setelah mendengar berita menghebohkan dari kelas Liyuna, banyak yang mulai merasa iba dengannya dan memutuskan untuk berpihak padanya. Orang-orang yang awalnya masih skeptis dengan Liyuna kini sudah berubah berkat kedekatannya dengan Lucas dulu. Ya, sebesar itu lah efek Lucas dalam kehidupan sosial di sekolah ini. Sejak awal Lucas memiliki banyak kenalan dan koneksi di sekolah, ditambah sifatnya yang cerita dan baik membuat semua orang menyukainya. Bisa dikatakan, hampir tidak ada yang membenci anak laki-laki itu.
Ketika orang-orang melihat Liyuna dekat dengan Lucas, mereka merasa sangat aneh. Mengapa juga Lucas mau berteman dengan anak seperti Liyuna? Awalnya mereka berpikir bahwa Lucas yang memang dari sananya sudah baik mencoba untuk membuat Liyuna di sukai namun pikiran mereka salah. Lucas mah berteman dengan Liyuna karena memang dia anak yang baik. Walau awalnya mereka masih merasa ragu untuk mendekati Liyuna, sekarang ketika posisinya sedang tidak bagus mereka ingin mendukungnya.
Yuriel harus bersiap menghadapi pasukan pendukung Liyuna yang tiba-tiba saja terbentuk. Jika Yuriel mundur sedikit saja, dia pasti akan jatuh terjungkal. Nasib seorang protagonis memang lah seperti itu, memiliki banyak pembenci yang hanya membenci tanpa ada alasan yang jelas.
TBC
^^^Next :^^^
^^^Chapter 40 - Yuriel di Sekolah III^^^