Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 111 - Akhir Dari Ravenray



Sebuah mobil berwarna putih melaju begitu kencang di sebuah jalan dekat dengan tebing. Karena matahari audah mulai tenggelam dan jalanan dipenuhi dengan kabut, sangat sulit untuk melihat dengan benar.


Meski begitu, Eldo terus menginjak pedal gas, seolah tak peduli dengan keadaan disekitarnya. Saat ini dia sedang mengejar mobil berwarna hitam yang ada di depannya.


Sejak kematian istrinya, Eldo selalu mencari tahu alasan mengapa istrinya harus dibunuh dan siapa sebenarnya pelaku yang melakukan hal keji itu.


Dan sejak saat itu pula dia berubah menjadi sosok yang sangat asing, bahkan untuk putranya sendiri. Meski begitu, Eldo tidak peduli. Dia ingin mengetahui kebenarannya dan membalaskan dendam istrinya yang meninggal dengan sangat tragis.


Ckiiit—


Tiba-tiba saja mobil yang ada di hadapannya membelok dengan sangat tajam sehingga menutup jalan yang ada di depan sana. Eldo yang melihat hal itu secara refleks langsung menginjak pedal rem yang ada di mobilnya, membuat tubuhnya sedikit maju ke depan karen pemberhentian yang tiba-tiba. Untung saja dia memaki sabuk pengaman sehingga tubuhnya tidak terpental.


Beberapa detik berlalu. Tidak ada gerakan dari mobil yang ada di depannya. Eldo tahu bahwa mereka sudah sadar atas apa yang dia lakukan. Eldo juga tidak tahu apa yang akan terjadi padanya namun kemungkinan terburuknya adalah di akan berakhir sama seperti istrinya.


Meski begitu Eldo tidak akan menyesal, dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Seperti apa rupa dari pembunuh istrinya.


Eldo juga yakin meski dia sudah tidak ada di dunia ini, Zion akan mempu bertahan dan menggantikan posisinya. Eldo sangat percaya dengan kemampuan putranya itu dan dia yakin Zion akan melindungi Allen dengan baik. Walau keduanya memiliki hubungan yang kurang baik, Eldo tahu kalau Zion pasti akan melindungi adiknya.


Dan meskipun Allen adalah anak yang cukup impulsif, dia bukanlah orang yang bodoh. Eldo yakin dia bisa menerka apa yang terjadi hanya dengan melihat situasi.


Tiba-tiba saja pintu mobil yang ada di hadapannya terbuka. Seorang pria yang mengemudikan mobil keluar dengan memegang sebuah senjata api laras panjang.


Melihat hal itu, Eldo langsung mengerti satu hal.


Dia tidak akan selamat.


Dan karena mereka bersusah-susah untuk berhenti maka Eldo harus mengikuti apa yang mereka inginkan. Eldo keluar dari mobil dan berjalan sedikit ke depan.


"Kau tahu kan kalau kau tidak bisa kembali?" Tanya Feon.


Feon adalah salah satu anggota Cerberus yang sebelumnya mengenalkan Harry pada anggota penting lainnya. Bisa dibilang dia bertindak seperti tangan kanan dari Harry.


Eldo menatap Feon yang membawa senapan laras panjang tanpa ekspresi. Walau dia tahu bahwa ada kemungkinan dirinya tidak akan selamat.


Eldo percaya bahwa Zion bisa menggantikannya. Dia merasa bersalah pada putra-putranya namun dia sudah tidak bisa kembali lagi.


Tidak peduli seberapa banyak orang menyuruhnya untuk berhenti, Eldo tidak bisa melakukannya. Apalagi ketika mengingat semengerikan apa kondisi istrinya ketika di bunuh. Tubuhnya dipenuhi lubang peluru dan darahnya menetes membasahi lantai.


"Ya, aku tahu itu."


"Jadi, apa yang kau inginkan dari kami?"


"Aku rasa kau mengerti apa yang aku inginkan."


Feon melirik ke arah mobil, melihat sesosok pria yang duduk di kursi belakang dengan tenang.


"Aku bukan seorang cenayang. Jik kau tidak mengatakannya maka aku tidak akan tahu."


"Pria yang duduk dibelakangmu itu, apa dia yang membunuh istriku? Aku yakin kau sudah tahu identitasku."


Feon tidak menjawab.


Kaca mobil tiba-tiba saja turun, menampakkan sosok pria berambut hitam. Ia memakai setelan formal garis-garis berwarna hijau tua.


"Kau datang ke sini untuk membalas dendam?" Tanya pria itu.


Suaranya begitu asing ditelinga Eldo, sehingga membuatnya sadar bahwa dia tidak mengenal orang itu.


"Aku rasa membalas dendam bukan hal yang tepat. Jika aku bisa melakukannya, pasti sudah aku lakukan sejak dulu."


"Benar, kau tidak bisa melakukannya. Karena itulah kau berakhir seperti ini. Hanya bisa mengikuti kami."


Eldo terdiam, dia tidak bisa menyanggah ucapan pria itu.


"Lalu bagaimana? Apa yang kau inginkan dariku setelah berhasil mengikuti hingga sejauh ini."


"Aku memiliki sebuah pertanyaan."


"Kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk sebuah pertanyaan? Apa kau bodoh? Aku tidak menyangka Presdir Raven Group memiliki pemikiran dangkal seperti ini."


"Kau pasti tidak mengerti. Jika seseorang yang berharga bagimu meninggal dengan cara seperti itu, aku yakin kau juga akan kehilangan akalmu."


Eldo menatap pria yang duduk di mobil dengan tajam. Saat ini tekadnya sudah bulat dan dia siap menerima semua akibatnya.


"Jadi apa pertanyaanmu? Aku akan menghiburmu sebelum kau menemui ajal."


"Kenapa kau membunuh istriku?"


"Ah! Tentu saja, pasti itu pertanyaan mu krena sejak awal kau melakukan ini semua karenanya."


Pria itu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.


"Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Hanya saja dia mengetahui identitasku. Seharusnya dia tidak mencari tahu tentang hal itu."


"Hanya karena itu?"


"Ya, hanya karena itu."


Kedua tangan Eldo mengepal dengan sangat erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Ia mengigit bibir bawahnya hingga berdarah.


Eldo tidak bisa menahan perasaannya saat ini. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu. Bagaimana bisa dia membunuh istirnya hanya karena alasan bodoh seperti itu.


"Aku tidak bisa membiarkan siapapun tahu identitasku. Itu adalah hal terakhir yang paling tidak aku sukai."


"Identitasmu terbongkar bukan karena istriku, melainkan karena kecerobohanmu sendiri. Lalu kenapa kau menargetkannya?"


"Itu tidak benar, bukankah dia tahu identitasku karena putramu? Aku sudah membiarkannya selama bertahun-tahun dan aku tidak pernah menyangka kalau istrimu lah yang pertama kali memecahkan semua teka-tekinya."


Eldo tahu akan hal itu. Orang yang selama ini menyelidiki Cerberus adalah Zion. Awalnya dia melakukan hal itu karena penasaran namun dia tidak tahu kalau penyelidikan yang dia lakukan akan berakhir dengan kematian Ibunya.


"Meski begitu, kau sendirilah yang ceroboh. Kau membuat putra kami Allen dalam bahaya."


"Itu bukan suatu kesengajaan. Sejak awal tujuan kami hanyalah Castris."


"Kenapa kau mengincar mereka? Aku rasa alasannya berbeda dengan apa yang menimpa istriku."


"Kau benar. Aku melakukannya karena alasan yang berbeda."


Pintu belakang mobil terbuka. Pria itu berjalan keluar dan berdiri dibelakang Feon.


Eldo yang berdiri tak jauh dari sana dapat melihat dengan jelas rupa pria itu. Kedua matanya membulat dengan sempurna dan dia kehilangan kata-kata.


Wajah itu sangat familiar bagi Eldo. Namun dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kau... jangan-jangan..."


Harry menyeringai mendengar ucapan Eldo. Tak aneh jika Eldo mengenalinya.


"Selamat tidur panjang." Ucap Harry.


Tiba-tiba saja tubuh Eldo jatuh ke aspal. Dia terlihat tidak bisa bergerak dan lama kelamaan kesadarannya menghilang.


Meski begitu dia tetap mencoba untuk menatap Harry dengan tajam. Eldo tidak menyangka bahwa pelaku sebenarnya adalah dia.


Kesadaran Eldo mulai menghilang hingga akhirnya dia tidak bisa melihat apapun selain kegelapan.


"Masukkan dia kembali ke mobil, buat seolah-olah ini kecelakaan."


"Tapi jika mayatnya di otopsi pihak kepolisian akan mengetahui yang sebenarnya."


"Tidak masalah, lagipula mereka tidak akan bisa menangkap kita." Harry kembali ke dalam mobil.


Feon melaksanakan perintah Harry. Dia mengambil sarung tangan kulit dan membawa Eldo kembali ke dalam mobilnya. Sebelum menyalakan mesin mobil, Feon mengambil jarum bius yang ditembakkan oleh salah satu anggota Cerberus yang bersembunyi.


Anggota tersebut keluar dari persembunyiannya dan membantu Feon dalam melaksanakan tugas.


Hari itu, keluarga Ravenray kehilangan kepalanya. Menyisakan dua putra yang masih sangat muda, menjadikan mereka satu-satunya keluarga tanpa orang dewasa.


Sejarah kelam yang selalu menyelimuti keluarga Ravenray membuat semuanya tersadar bahwa tragedi selalu menyertai mereka.


TBC