Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 28 - Penghuni Rumah Matahari



Liyuna langsung menoleh ke sumber suara yang baru saja memanggil namanya. Dia sedikit terkejut karena wanita itu setengah berteriak ketika memanggilnya. Yah, mungkin saja wanita itu terkejut melihat majikan yang mereka layani singgah di rumah para pelayan tanpa mengatakan sepatah katapun. Jadi reaksinya sangatlah wajar.


"Nona, kenapa anda bisa ada disini?" Tanya wanita itu. Dia berjongkok di depan Liyuna untuk menyesuaikan tinggi dan juga supaya kepala Liyuna tidak menengadah keatas untuk bertatapan dengannya.


"Um... aku..." Liyuna tidak yakin harus memberi jawaban apa.


"Aku tersesat." Dan akhirnya mengatakan bahwa dia tersesat. Alasan yang sangat bodoh, namun Liyuna tidak tahu harus berkata apa selain tersesat karena memang pada kenyataannya dia sampai di Rumah Matahari karena tidak sengaja.


"Hee?! Nona Liyuna??" Liam terlihat terkejut ketika tahu siapa identitas anak kecil yang ia ajak bicara sejak tadi. Dia tidak menyangka kalau anak itu adalah seorang Castris.


"Maksudmu, dia ini Liyuna Aria Castris?!"


PLAK


Wanita itu memukul punggung Liam pelan. Dia tidak tahu harus berkata apa karena Liam bertindak sangat tidak sopan saat ini. Namun ketika melihat Liyuna yang tersenyum canggung, wanita itu memutuskan untuk diam dan memperkenalkan Liyuna pada Liam.


"Benar, beliau adalah Nona Liyuna Aria Castris. Keturunan tunggal keluarga Castris dan pewaris sah Castris Group. Bersikaplah dengan sopan, Liam!"


Setelah mengetahui identitas Liyuna yang sebenarnya, Liam langsung meminta maaf karena sejak tadi sudah seenaknya mengajak Liyuna masuk dan berbicara.


"Tidak apa-apa, tidak usah terlalu formal denganku." Ucap Liyuna yang merasa tidak enak karena ia terlihat seperti seseorang yang masuk ke teritori orang lain tanpa diundang.


"Tapi, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Liam.


"Sudah ku bilang aku tersesat. Aku tidak tahu jika dibalik hutan ada rumah seperti ini."


"Ah! Ini adalah Rumah Matahari, Nona. Rumah ini adalah tempat tinggal semua orang yang bekerja di kediaman Castris." Ucap wanita menjelaskan.


Jika dilihat dengan seksama, wanita yang ada dihadapan Liyuna sangat familiar namun Liyuna tidak ingat siapa dia.


"Ngomong-ngomong nama saya Jenneth. Saya adalah salah satu dari banyaknya pelayan yang bekerja membersihkan rumah dan ruangan."


"Ah! Pantas saja kamu terlihat tidak asing. Pasti karena kita sering bertemu di dalam rumah." Ucap Liyuna sambil tersenyum kecil.


"Benar, Nona. Bagaimana kalau Nona duduk di ruang tamu? Saya akan siapkan teh untuk anda."


"Iya, terima kasih."


Liyuna melangkahkan kakinya ke ruang tamu, dipandu oleh Liam yang terlihat sudah tidak asing dengan Rumah Matahari.


"Kamu terlihat sangat tidak asing dengan Rumah Matahari. Apa kamu sering datang kesini?" Tanya Liyuna sambil menjatuhkan tubuhnya keatas sofa empuk.


Liam ikut menjatuhkan tubuhnya ke sofa, "Ya, begitulah. Aku sering mengunjungi kakakku disini."


"Aku tidak menyangka kau adalah seorang Castris. Padahal aku sudah mengatakan hal seperti itu." Liam menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu karena telah membicarakan tentang keluarga Castris sebelumnya.


Melihat hal ini, Liyuna sedikit terkekeh. Ia merasa Liam sangat lucu karena merasa malu dengan apa yang ia ucapkan. Padahal menurut Liyuna, dia tidak perlu merasa malu tentang apa yang dia inginkan.


"Tidak usah dipikirkan. Anggap saja aku tidak pernah mendengarnya."


Liam menghela napas lega. Dia merasa lega karena Liyuna terlihat seperti seseorang yang ramah dan tidak kaku.


Tak lama kemudian Jenneth datang membawa nampan berisi teko kecil dan gelas teh. Dia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan menuangkan teh untuk Liyuna.


"Ini adalah teh chamomile yang bisa membuat anda tenang." Ucap Jenneth.


Sebelum merasuki tubuh Liyuna, gadis berusia 18 tahun itu tidak pernah merasakan teh lain selain teh melati seharga sepuluh ribuan. Namun semenjak dia ada di dunia Red String, makanan maupun minuman mahal pun sudah ia rasakan. Awalnya dia merasa tidak cocok, namun dia bisa beradaptasi karena sudah setahun ada di dunia ini.


"Terima kasih." Ucap Liyuna sembari meminum teh hangat dari gelas keramik kualitas tinggi.


Bahkan tea set yang ada di Rumah Matahari pun memiliki kualitas tinggi, pastinya Castris memperlakukan pekerja mereka dengan sangat baik.


"Mana punyaku?" Tanya Liam yang juga ingin meminum teh.


Jenneth yang mendengar hal ini langsung melotot kearah Liam. Sejak awal dia tahu bahwa Liam ini sedikit liar dan susah diatur, tapi dia tidak menyangka bahwa Liam sampai bersikap tidak sopan dihadapan Liyuna.


Liyuna yang melihat Liam ingin meminum teh segera meminta Jenneth untuk memberinya, Liyuna pun juga menyuruh Jenneth untuk ikut duduk dan menikmati teh bersama. Akhirnya ketiga orang tersebut meminum teh bersama dan berbincang-bincang.


Jenneth terlihat sedikit terkejut dengan sikap Liyuna yang ramah dan tidak seenaknya sendiri. Meski masih muda, dia sangat sopan dan anggun, benar-benar mencerminkan seorang Castris.


"Nona Liyuna?!" Seseorang memekik terkejut karena melihat Liyuna duduk bersantai di ruang tamu milik Rumah Matahari. Orang tersebut berjalan menghampiri Liyuna dengan secepat kilat.


Liyuna yang mengenali orang tersebut langsung menyapanya, "Bibi Olla!"


"Nona kenapa ada disini?"


"Aku tersesat, Bi."


"Apa anda mau kembali? Ayo saya antar kembali."


"Aku mau disini sebentar lagi, Bi. Bibi istirahat saja."


Mendengar hal itu, Bibi Olla merasa sedikit tidak enak namun dia juga meras berterima kasih karena Liyuna memintanya untuk beristirahat. Saat tidak ada jadwal makan, biasa Bibi Olla kembali ke Rumah Matahari untuk beristirahat dan bergabung dengan pelayan lain yang sedang libur.


Bibi Olla pergi ke kamarnya untuk istirahat, lalu Liyuna dan yang lainnya melanjutkan obrolan mereka.


"Oh ya, siapa nama kakakmu, Liam?" Tanya Liyuna yang baru saja teringat kalau Liam pernah berkata bahwa kakaknya bekerja untuk keluarga Castris.


Liam menatap Liyuna sejenak, "Namanya..."


"Liam!"


Noel terlihat berjalan dengan cepat menuju ruang tamu. Ia memanggil nama Liam dengan suara yang cukup keras hingga membuat Liyuna sedikit terkejut. Liam yang merasa dirinya dipanggil menoleh kearah sumber suara dan melihat Noel yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah kesal.


"Sudah aku bilang jangan seenaknya mengunjungi Rumah Matahari." Omel Noel yang merasa sedikit kesal dengan tingkah Liam yang suka seenaknya sendiri.


Liam selalu mengunjungi Rumah Matahari untuk menemuinya, namun Noel tidak menyukai hal itu karena baginya Liam belum sah memiliki hubungan dengan keluarga Castris. Dia tidak bisa seenaknya menyelinap masuk ke kediaman Castris.


"Dia kakakku." Ucap Liam menyambung ucapannya yang terputus tadi.


Liyuna terlihat sedikit terkejut melihat bahwa kakak Liam adalah Noel; sopir pribadinya.


Noel yabg mendengar jawaban tidak nyambung dari Liam segera mengalihkan pandangannya ke Liyuna yang duduk di hadapan Liam. Dia terlihat begitu terkejut melihat Liyuna ada di sana. Ini pertama kalinya Liyuna keluar dari rumahnya seorang diri tanpa ditemani siapapun.


"Nona?!" Ucap Noel terkejut.


Liyuna hanya tersenyum kecil mendengar Noel memanggilnya.


"Halo, kak Noel! Ayo minum teh bersama."


"Nona kenapa bis aada disini?"


Liyuna yang sejak tadi mendengar pertanyaan yang sama mulai merasa sedikit bosan, "Apa aku tidak boleh berada disini?"


"Tidak, bukan itu maksud saya."


"Tidak usah terlalu dipikirkan. Lebih baik kita minum teh bersama."


"Sudahlah Noel, kau membuat Nona Liyuna tidak nyaman." Ucap Jenneth yang menyadari perubahan suasana hati Liyuna.


Mendengar ucapan Jenneth, Noel langsung ikut duduk dan minum teh bersama dengan Liyuna dan yang lain.


"Aku tidak tahu kalau kak Noel punya seorang adik."


"Benar Nona, saya punya seorang adik. Namanya Liam, dia juga dibesarkan di Panti Astraea sama seperti saya." Jelas Noel.


"Ngomong-ngomong Panti Astraea  itu tempat yang seperti apa?" Liyuna menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya penasaran. Sejak tadi, dia penasaran mengenai Panti Astraea.


"Itu adalah panti asuhan yang menampung anak-anak yatim piatu yabg kehilangan kedua orang tua mereka dan anak-anak malang yang hidup menderita. Panti itu adalah milik Castris dan di sponsori langsung oleh Castris Group." Noel mencoba menjelaskan dengan jujur namun tentu saja ada beberapa informasi yang tidak boleh ia beberkan pada Liyuna meski dia nantinya yang akan mewarisi seluruh harta Castris.


"Apa semua orang yang ada di panti itu merasa senang?"


Kedua mata Noel terlihat sedikit menggelap, namun akhirnya dia menjawab dengan suara datar, "Tentu saja, semua anak di panti mendapat bantuan yang tidak bisa dihitung banyaknya oleh keluarga Nona."


Mata Noel yang menggelap barusan tidak luput dari pandangan Liyuna. Berdasarkan apa yang Liam dan Noel katakan, Liyuna tahu bahwa Castris memang benar-benar membantu mereka. Jika tidak, mana mungkin Liam ingin berterima kasih pada Castris dan mana mungkin juga Noel mau bekerja untuk Castris. Namun Liyuna tahu jika ada sesuatu yang Noel sembunyikan


Liyuna mencoba untuk tidak terlalu memikirkan apa yang Noel coba sembunyikan. Dia menutupi perasaannya dengan senyuman, "Syukurlah kalau begitu."


Atmosfir di ruangan terasa sedikit berat. Tidak ada seorang pun yang mencoba untuk berbicara. Jenneth yabg tidak tahu apapun juga bisa merasakan perubahan suasana dan memutuskan untuk diam. Liam terlihat menundukkan kepalanya sambil meminum teh yang sudah terasa sedikit dingin.


Mungkin hari ini Liyuna tidak mendapatkan jawaban atas apa yang ia inginkan, namun suatu hari pasti ia akan mendapatkannya. Liyuna hanya perlu bersabar dan menunggu hingga waktu itu datang.


TBC