Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 75 - Malam Natal Berdarah



Waktu bergulir dengan sangat cepat. Setelah kejadian mengerikan malam itu, Liyuna berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah darinya, mungkin yang menjadi pembeda saat ini adalah kehadiran Liam yang resmi menjadi body guard pribadinya. Saat di sekolah Liam akan berjaga disekitar sekolah dan mencoba untuk tidak mengusik kehidupan pribadi Liyuna. Liyuna sendiri tidak tahu kalau ternyata Liam adalah orang yang sangat profesional dan bisa diandalkan.


Hubungannya dengan Allen pun semakin baik, begitu juga dengan Yuriel dan Yvette. Bisa dibilang, kini mereka berempat adalah sahabat yang telah merasakan perasaan hidup dan mati bersama.


Kehidupan sekolah Liyuna pun tidak terlalu buruk, dia bisa menjalani semua tugas yang diberikan oleh OSIS dan bisa mempertahankan nilainya.


Musim berganti dengan sangat cepat. Salju putih turun menyelimuti kota Elisien. Jalanan kota dihiasi dengan lampu-lampu dan hiasan natal, terdengar lantunan musik yang terdengar cukup merdu.


Malam natal adalah malam paling romantis di Elisien, bahkan melebihi hari valentine. Banyak pasangan datang dan turun ke jalanan kota hanya untuk sekedar berjalan-jalan maupun makan malam. Jadi, tidak heran jika kalian melihat ada banyak pasangan di malam itu.


Liyuna telah membuat janji dengan yang lainnya untuk menghabiskan waktu bersama di malam natal. Mereka pergi ke pusat kota untuk melihat berbagai macam atraksi dan festival.


Tubuh kecil Liyuna dibalut dengan mantel musim dingin yang sangat tebal, dilehernya melingkar sebuah syal berwarna merah yang menutupi separuh wajahnya. Yuriel berdiri disampingnya memakai pakaian yang tak kalah tebalnya, lagi pula ini adalah musim dingin, orang bodoh macam apa yang tidak memakai baju tebal.


Suhu udara menjadi semakin dingin, Liyuna menyatukan kedua tangannya sembari meniupnya pelan.


"Kau kedinginan?" Tanya Allen ketika dia melihat Liyuna meniup kedua tangannya.


"Sedikit." Jawab Liyuna jujur. Karena buru-buru, dia jadi lupa tidak memakai sarung tangan. Kedua tangannya jadi terasa sangat dingin.


Suhu udara di musim dingin memang tidak terlalu cocok untuk tubuhnya yang lemah. Meski dalam beberapa tahun ini kesehatannya meningkat, terkadang Liyuna tidak bisa menahan suhu di musim dingin dan juga musim panas.


Melihat Liyuna yang kedinginan, Allen menjadi khawatir. Dia melepas sarung tangan yang dia pakai dan memberikannya pada Liyuna.


"Pakai ini."


Liyuna merasa tidak enak mengambil sarung tangan Allen jadi dia menolak dengan halus.


"Tidak apa, pakai saja."


Melihat Allen yang terlihat sangat tulus, Liyuna menerima sarung tangan Allen dan mengucapkan terima kasih.


"Kenapa tidak beli saja yang baru? Kenapa juga kak Yuna harus memakai sarung tangan bekasmu?" Tanya Yuriel, dia menatap Allen dengan tatapan sedikit sinis.


Yuriel tidak bermaksud jahat, hanya saja dia tidak senang Allen memberi Liyuna sesuatu yang telah dia pakai.


"Ah, benar juga. Lebih baik aku beli saja. Aku takut Allen akan kedinginan." Ucap Liyuna menyetujui ucapan Yuriel.


Dari pada meminjam sarung tangan orang lain dan membuat orang itu kedinginan, bukankah lebih baik jika dia beli sarung tangan baru.


"Itu hanya akan membuang waktu, aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."


"Terima saja, Yuna. Jika nanti Allen kedinginan kita tertawaan saja, siapa suruh dia sok kuat." Ucap Yvette. Dia tidak sabar melihat Allen kedinginan karena kesalahannya sendiri.


Setelah itu, mereka berempat memutuskan untuk makan hot pot di sebuah kedai kecil yang tidak terlalu ramai. Di musim dingin seperti ini, paling enak makan makanan hangat dan hot pot adalah pilihan terbaik.


Yvette memasukkan semua bahan yang dia suka ke dalam hot pot dan yang lain juga mengikutinya. Di sela-sela makan, mereka mengobrol santai seperti biasanya.


"Kapan kakakmu pulang ke Elisien?" Tanya Yvette.


Secara refleks, Liyuna menatap Yvette dengan tatapan terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Yvette bisa dengan berani menanyakan hal sensitif seperti itu. Namun Allen terlihat tidak terganggu sama sekali setelah mendengar pertanyaan Yvette.


"Aku dengar dia lulus dengan nilai terbaik di jurusannya." Ucap Yuriel. Dia pernah mendengar hal ini dari Karl beberapa waktu yang lalu. Saat itu Karl sedang berbicara dengan kepala keluarga Ravenray membicarakan tentang bisnis dan tidak sengaja menyeret nama Zion.


"Ya, begitulah. Tidak ada yang perlu kalian perhatikan."


"Oh ya, setelah lulus SMP kalian akan melanjutkan ke SMA mana?" Tanya Liyuna, dia mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan supaya suasana tidak terlalu canggung.


"Hmmm... Aku belum memikirkannya."


"Kalau aku sih, sudah pasti ke sekolah yang sama dengan kak Yuna." Ucap Yuriel sembari memeluk tangan Liyuna dengan erat.


"Aku juga sama. Aku akan selalu mengikuti Yuna!" Yvette juga tidak mau kalah dengan Yuriel, dia akan mengikuti kemana pun Liyuna pergi.


"Kalau begitu, kita mendaftar di sekolah yang sama saja." Ucap Allen menyarankan setelah kebanyakan dari mereka memilih sekolah yang sama dengan Liyuna.


"Tapi aku khawatir dengan nilaiku." Ucap Yvette sedih, dibandingkan Liyuna dan Yuriel, nilainya sangatlah rata-rata dan biasa saja.


"Bagaimana kalau kita belajar bersama?"


"Aku setuju dengan Yuna! Ayo belajar bersama mulai sekarang dan targetkan sekolah paling bagus di Elisien."


Mereka menghabiskan hot pot yang mereka pesan bersama. Setelah itu, mereka pergi ke sebuah tokoh kecil untuk membeli kado natal bersama lalu saling menukarnya.


Keempat anak berumur 12 tahun itu merasa sangat puas telah bermain semalaman. Tidak ada satupun orang yang tahu jika peristiwa besar telah terjadi di malam yang penuh kebahagiaan ini.


Di sepanjang jalan masuk menuju pintu gerbang, banyak sekali orang-orang berpakaian pelayan maupun penjaga berjatuhan di tanah dengan pakaian mereka yang dilumuri darah. Salju putih yang turun menutupi tubuh mereka yang sudah tak bernyawa berubah menjadi merah karena darah. Sungguh pemandangan yang begitu mengerikan.


Pintu rumah yang terbuat dari kayu gaharu yang di cat putih terlihat begitubegitu mewah dan elegan. Pintu besar itu terbuka dengan sangat lebar, menampakkan pemandangan dalam rumah yang begitu gelap.


Malam itu, rumah besar yang dihuni oleh puluhan pelayan dan pekerja lainnya terlihat begitu gelap. Tidak ada satupun lampu yang menyala dan menyinari rumah besar yang biasanya terlihat sangat berkilau dibawah sinar lampu.


Puluhan pelayan yang bekerja di dalam rumah tersebut terlihat tergeletak di atas lantai. Tubuh mereka menjadi semakin dingin seiring dengan suhu yang semakin mendingin.


Disepanjang jalan, yang hanya bisa terlihat mayat yang berlumuran darah dan tubuh yang berkubang karena peluru. Tubuh-tubuh yang sudah kehilangan nyawa itu mati dalam posisi yang berbeda-beda. Ada yang tubuhnya menyangkut di tangga, ada juga yang tubuhnya tersangkut di atas lampu candelier, dan ada juga yang mati tepat di depan pintu masuk, memperlihatkan betapa putus asanya mereka untuk bertahan hidup.


Seorang wanita cantik terlihat tergeletak di atas sebuah meja besar di ruang tamu. Tubuh ya dipenuhi oleh lubang peluru dan baju mewah yang ia kenakan basah oleh darah yang mengucur deras dari tubuh ya yang berlubang. Kedua matanya terlihat terbuka lebar namun terlihat sangat kosong. Rambut panjangnya terlihat sangat berantakan namun tidak mengurangi kecantikan yang dia miliki. Tubuh itu mulai dingin dan membiru, tubuh yang sudah kehilangan nyawa tidak bisa mengmabalikan rasa hangat.


Di samping jasad wanita itu ada sebuah pesan yang ia tulis dengan darahnya sebelum ajal menjemput. Meski dia harus mati, dia ingin semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya mengenai pelaku dibalik penyerangan di danau Alkelan, Almera berusaha untuk memberitahu suaminya namun tiba-tiba saja saat dia lengah, puluhan orang bersenjata datang mengepung kediaman Ravenray dan menyerang mereka tanpa ampun tanpa meninggalkan satu orang pun saksi.


Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia mencoba untuk meninggalkan sebuah pesan. Karena tidak ada tinta, Almera menulis pesan tersebut dengan darahnya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.


Malam ini akan menandai awal dari perjalanan berliku Liyuna untuk tetap bertahan hidup.


Kebenaran dan penyesalan bercampur aduk menjadi satu. Dunia Red String yang dia anggap sebagai game, mulai menunjukkan wajah aslinya dan mengancam keselamatan semua orang.


TBC