
Ketika langit mulai menggelap, sekolah pun telah usai. Seluruh murid bersiap untuk kegiatan mereka selanjutnya, yaitu kegiatan klub.
Berbeda dengan murid lain, Lucas sebagai murid pindahan tidak masuk ke klub apapun. Lagipula hanya tersisa enam bulan, masuk atau tidaknya dia dalam sebuah klub tidak terlalu berarti.
Lucas berjalan di area luar sekolah. Dia berjalan santai seperti biasa, namun tetap waspada.
Benar dugaannya. Seseorang mengintai SMA Darien sejak tadi.
Lucas tidak tahu siapa target mereka namun setelah mendengar cerita Liyuna dia menjadi sedikit khawatir. Ia berjalan mendekati salah seorang pengintai lalu dengan cepat mendorongnya dibalik tembok dan menutup jalan keluar agar mereka bisa berbicara.
Namun karena tindakan Lucas yang tiba-tiba, orang tersebut berusaha untuk menyerang Lucas dengan melayangkan tinjunya. Dengan cepat Lucas menghalau segala serangan yang mengarah padanya.
Lucas berhasil mengunci pergerakan orang tersebut dengan memelintir tangannya kebelakang dan mencengkram nya erat-erat.
"Apa mau mu?" Tanya orang tersebut, ia menatap Lucas dengan raut wajah yang tajam.
"Seharusnya itu menjadi pertanyaanku."
"Dasar sialan! Siapa targetmu?" Orang itu berusaha memberontak namun karena tangannya telah terkunci dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia adalah seorang bodyguard yang telah dilatih secara profesional dan tidak mungkin seorang murid SMA biasa bisa melumpuhkannya. Orang yang ada dihadapannya sekarang pasti bukanlah seorang murid biasa.
"Jangan salah paham. Aku melakukan ini karena kalian terus mengintai area sekolah. Jadi, siapa yang kalian targetkan?"
Mendengar pertanyaan Lucas, body guard tersebut langsung menyadari sesuatu.
"Kami tidak menargetkan siapapun. Kami adalah body guard yang di sewa untuk menjaga seseorang."
Mata Lucas sedikit memincing mendengar ucapan orang tersebut. Bagaimana mungkin seorang body guard profesional memberitahu pekerjaan mereka dengan semudah ini. Benar-benar tidak profesional.
"Siapa majikan kalian?"
"Kami tidak bisa memberitahunya."
"Kalian bekerja untuk Obelian's Circle?"
Kedua mata body guard tersebut terlihat membulat sempurna setelah mendengar apa yang Lucas katakan.
Bagaimana mungkin seorang bocah SMA sepertinya mengetahui tentang Obelian's Circle. Meski Obelian's Circle adalah perusahaan internasional, mereka tidak diketahui oleh orang-orang biasa karena semua yang meminta penjagaan dari mereka kebanyakan orang-orang dengan status dan kekuasaan yang cukup besar.
Tapi anak SMA sepertinya tahu tentang Obelian's Circle?
Lucas melepaskan body guard itu setelah tahu bahwa dia dari Obelian's Circle. Walau tidak memberitahu secara gamblang, Lucas bisa membaca raut wajah orang tersebut.
Setelah itu Lucas langsung pergi meninggalkan body guard tersebut sendirian dibalik tembok.
"Hei! Bagaimana kau mengetahui tentang Obelian's Circle?"
Lucas menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang tanpa membalikkan tubuhnya. Rambut peraknya terlihat bersinar dan mata ungunya terlihat begitu indah. Sudut bibirnya membentuk seringai, menambah kesan misterius disekitarnya.
"Bagaimana aku mengetahuinya? Tentu saja aku sangat tahu. Sembilan tahun aku tinggal dalam neraka, mustahil bisa melupakannya."
Lucas berjalan semakin menjauh, hingga lama kelamaan punggungnya menghilang dari pandangan.
Dia tidak menanyakan siapa majika body guard tersebut karena Lucas bisa menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka tadi. Sepertinya, dia harus bertemu dengan orang itu untuk mengetahui detail informasi yang ada. Sembilan tahun sudah berlalu dan ada banyak hal yang tidak dia ketahui.
***
Yuriel terlihat berdiri di bawah anak tangga yang ada di kediaman Castris. Entah kenapa suasana terlihat sangat tenang dan hanya ada dia yang berdiri di tempat ini.
Yuriel mencoba untuk melihat keadaan sekitarnya namun tidak ada apapun. Semua terlihat begitu gelap dan sepi.
Lalu tiba-tiba saja lampu menyala terang dari atas, membuat mata Yuriel sedikit silau. Dihadapannya ia melihat sesuatu yang sering menghantui dirinya.
Ah, ini adalah sebuah mimpi.
Yuriel tidak tahu sudah berapa kali dia melihat adegan ini dalam mimpi. Yuriel tidak pernah menghitungnya namun dia sering melihat hal ini.
Tangisan menyayat hati pria itu selalu menusuk jantungnya, membuatnya terpaku dan mematung.
Ini adalah pemandangan yang tidak dia sukai. Yuriel tidak menyukainya.
Lelaki itu terlihat terus-terusan meminta maaf pada wanita yang ada dipelukannya. Dia meminta pengampunan dari wanita itu.
Yuriel melihat kebawah, ia memakai high heels berwana emas dan gaun dengan warna senada. Rambutnya ditata rapi dan ada hiasan yang terbuat dari permata menempel di kepalanya.
Lalu ketika Yuriel kembali melihat ke depan, mencoba untuk memastikan identitas dari lelaki dan wanita tersebut. Tiba-tiba saja ia berpindah tempat.
Kali ini ia melihat ada banyak sekali orang-orang berkumpul di sebuah ruangan. Di paling depan, terlihat sebuah foto seseorang yang sangat ia kenal dan disekelilingnya ada berbagai bunga menghiasi. Di sebuah meja panjang juga terdapat banyak sekali bunga lily putih, orang yang berdatangan memakai pakaian serba hitam sebagai tanda berkabung.
"Ini sangat mengejutkan. Aku tidak menyangka dia melakukan hal ini."
"Bagaimana bisa wanita sehebat dia melakukan hal ini?"
"Aku dengar tunangannya..."
Sayup-sayup Yuriel bisa mendengar apa yang orang-orang itu bisikkan. Ini bukanlah pertama kalinya Yuriel mendengar hal seperti itu. Karena itulah Yuriel tidak merasa terganggu.
Seorang lelaki berpakaian hitam formal memasuki ruangan, dia membawa setangkai bunga lily dan meletakkannya di meja. Ia terlihat memandangi foto wanita itu dengan tatapan sedih namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya.
Orang itu selalu saja seperti itu. Sesedih apapun dia, air mata tidak pernah keluar dari pelupuk matanya. Yuriel sempat berpikir, apakah mungkin dia bukan manusia?
Meski begitu, Yuriel tidak bisa mencibirnya. Pria itu baru saja kehilangan seseorang yang dia cintai karena kesalahannya sendiri.
Mungkin itu sedikit tidak benar. Yuriel juga turut andil dalam kematian wanita itu. Yuriel juga bersalah, dia adalah seorang pendosa yang berhak untuk diberi hukuman.
Yuriel melihat bunga lily putih yang ada di tangannya. Ia hendak menaruh bunga tersebut di atas meja, menemani bunga lainnya namun tiba-tiba saja adegan berpindah ke sebuah gudang tua.
Dia berdiri dibawah derasnya air hujan yang mengguyur bumi. Baju yang ia kenakan basah kuyup terkena air hujan, rambut lurusnya lepek terkena air namun tidak mengurangi kecantiknnya.
Yuriel bisa mendengar suara halilintar yang menggelegar dan terkadang membuat langit malam bercahaya.
Tidak jauh berbeda dari apa yang dia lihat sebelumnya. Lagi-lagi dia melihat oeang itu mati di depan matanya. Meski kali ini Yuriel berhati-hati, orang itu tetap mati dan meninggalkan Yuriel.
Yuriel ingin semua berhenti saat ini juga. Dia ingin kembali dan terbangun dari mimpi buruk ini.
"..riel... Yuriel..."
Seseorang menepuk-nepuk pundak Yuriel, membuatnya terbangun dari mimpi buruk yang terus menerus menghantuinya.
"Kegiatan klub sudah selesai. Lebih baik kau cepat bangun dan segera pulang."
Dia adalah salah satu anggota klub melukis, Yuriel menatapnya sejenak lalu melihat keluar jendela.
Langit sudah mulai menggelap dan sepertinya dia baru saja ketiduran.
Yuriel membereskan semua peralatan yang tadi ia gunakan ke loker yang sudah disediakan. Dia mengambil tasnya dan langsung pergi menuju parkiran untuk mencari Noel.
Angin musim gugur berhembus dan menyapu wajahnya dengan lembut. Rambut lurusnya yang berwarna coklat berkibar dengan sangat indah. Daun gingko berjatuhan di atas kepalanya, menambah kesan seperti sebuah lukisan.
Setelah mengalami mimpi seperti itu, Yuriel merasa tidak bersemangat namun dia tidak bisa melakukan apapun. Ingatan tersebut adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam otaknya dan mustahil untuk dihapus.
Saat ini Yuriel hanya bisa berharap supaya mimpi seperti tadi tidak sering muncul.
TBC
[A/N : Sedikit penjelasan karena siapa tahu ada yang bertanya-tanya. Jadi di chapter 83 itu sidah time skip di musim gugur bukan semi lagi seperti chapter 82]