Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 52 - Sebuah Janji



Liyuna menoleh kearah Yuda karena merasa dipandangi. Kedua mata mereka bertatapan membuat Liyuna sedikit terkejut dan canggung.


Liyuna merasa sedikit malu karena tadi dia sudah heboh sendiri karena menemukan safe-route untuk dirinya sendiri. Hal ini membuatnya lupa bahwa masih ada Yuda disampingnya.


"Kau tidak terlihat seperti anak berusia delapan tahun."


"???"


Liyuna sedikit terkejut mendengar ucapan Yuda. Dia tidak menyangka Yuda akan mengatakan hal seperti padanya dan Liyuna merasa sedikit takut. Jantungnya berdegup kencang dan ia hampir saja kehilangan sikap tenangnya. Bagaimana pun juga, dia memang bukanlah anak berumur delapan tahun biasa. Jiwanya adalah seorang gadis berumur 18 tahun yang berasal dari dunia lain.


Liyuna tidak menyangka Yuda dapat melihat keanehan dari sikapnya. Memang benar jika orang lain memerhatikan Liyuna dengan seksama, mereka pasti akan merasakan bahwa Liyuna berbeda dari yang lainnya. Tapi selama ini Liyuna bisa menyembunyikan segalanya dengan baik makanya saat ini ia meras sedikit terkejut.


Selama dua tahun terkahir ini dia sudah berusaha bersikap seperti anak berusia delapan tahun biasa, walau masih ada sikapnya di masa lalu yang tetap tidak bisa diubah namun dia sudah berusaha.


"Itu hanya perasaanmu saja, aku memang masih berumur delapan tahun saat ini."


"Hmm..."


Yuda terlihat sedikit skeptis dengan ucapan Liyuna. Dia menatap Liyuna dengan tatapan penasaran yang tidak bisa disembunyikan.


"Apa kau pernah melihat wajahmu di cermin?"


"Tentu saja."


"Jika kau pernah melakukannya, kau pasti tahu seperti apa sorot matamu terlihat di sana."


Liyuna semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Yuda. Sejak pertama kali masuk ke dunia Red String, tentu saja Liyuna pernah melihat wajahnya sendiri lewat cermin. Apa lagi saat tahu bahwa dia mengambil alih tubuh orang lain, tidak terhitung sebanyak apa Liyuna melihat ke cermin dan berharap semua hanyalah mimpi. Namun sebanyak apapun Liyuna melihat wajahnya di cermin tidak ada yang berubah, dia tetap berada di dunia ini dan tidak kembali pada dunia asalnya.


Yah, meski dia sendiri tidak yakin kalau tubuhnya di dunia sana masih hidup atau tidak.


"Apa maksudmu?" Dahi Liyuna mulai mengerut, kedua alisnya saling berdekatan.


Saat ini Liyuna sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan risihnya. Ia tidak terlalu senang dengan pertanyaan yang diucapkan oleh Yuda karena terasa seperti sedang mengulitinya sedikit demi sedikit. Bagi Liyuna yang menyembunyikan rahasia besar mengabaikan jati dirinya yang sebenarnya, pertanyaan Yuda terasa seperti menembus seluruh dinding pertahan yang selama ini dia bangun.


Pertanyaan yang sangat Liyuna takuti dann pertanyaan yang sangat sulit untuk ia hadapi.


"Kau memiliki sorot mata yang seharusnya tidak dimiliki seorang anak berusia delapan tahun." Ucap Yuda.


Liyuna tidak menjawab, ia menunggu Yuda untuk melanjutkan ucapannya.


"Mata itu hanya dimiliki oleh seseorang yang telah merasakan sulitnya bertahan hidup dan juga pahitnya dunia. Kau sebagai seorang putri tunggal dari keluarga terelit seperti Castris seharusnya tidak memiliki sorot mata yang seperti itu."


"Jadi maksudmu, aku sebagai seorang Castris mustahil untuk merasakan perasaan seperti yang tadi kau sebutkan?"


Liyuna sebenarnya juga setuju dengan ucapan Yuda. Sebagai anak tunggal dari keluarga konglomerat seperti Castris, hidupnya seharusnya jauh dari kata sulit. Apapun yang ia inginkan pasti akan langsung ia dapatkan namun sayangnya, jiwa yang ada di dalamnya saat ini adalah seorang gadis biasa yang sudah merasakan bagaimana sulitnya bertahan hidup sendirian. Sebagai seseorang yang harus mandiri sejak muda, dia sudah bisa merasakan sesulit apa mendapatkan uang untuk sesuap nasi.


Tidak terhitung banyaknya pekerjaan yang pernah ia coba. Segala pekerjaan yang tidak menganggu waktu sekolahnya, hampir semua pernah ia coba. Dia adalah orang yang telah menjalani semua itu sendirian, tentu saja dia tidak bisa menampik seluruh ucapan Yuda. Jika Yuda mengatakan hal itu, mungkin saja benar. Dia memiliki sorot mata yang seharusnya tidak dimiliki oleh Liyuna yang terlahir dengan sendok emas. Mata adalah jendela hati seseorang, tidak ada seorangpun yang bisa membohongi sorot mata mereka yang memancar.


"Sayang sekali tidak ada seorangpun yang bisa menilai apakah orang tersebut sudah pernah merasakan kesulitan atau tidak hanya berdasarkan sorot mata mereka dan juga terlahir dari keluarga yang memiliki hak istimewa tidak menjamin orang tersebut bahagia atau tidak."


Yuda terdiam mendengar ucapan Liyuna, dari ucapannya saja Yuda tahu kalau Liyuna memang bukan anak berusia delapan tahun biasa. Sebelumnya sudah dikatakan bahwa dia memiliki insting luar biasa yang tak kalah dengan Zion, ditambah lagi dengan kemampuannya yang mudah membaca situasi, gerak tubuh, sorot mata, dan juga bagaimana seseorang berbicara membuatnya semakin yakin kalau Liyuna berbeda dari kebanyakan orang lainnya.


Dan kata-katanya barusan...


"Atau mungkin kau sama sepertiku?" Gumam Yuda.


Liyuna tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Yuda katakan karena suaranya terlalu lirih. Yang pasti, Liyuna mendengar sesuatu seperti 'sama sepertiku'. Meski begitu Liyuna tidak mau melanjutkan obrolan dengan Yuda, ia takut jika semakin banyak dia berbicara Yuda akan semakin sadar akan perbedaan Liyuna dengan anak lainnya.


"Maaf jika aku menyinggung mu, aku harap kau mau memaafkanku."


"Tidak perlu meminta maaf, aku akan menganggap pembicaraan barusan tidak pernah terjadi."


Yuda terlihat tersenyum kecil mendengar balasan dari Liyuna. Ia merogoh kantung blazer-nya dan mengambil sebuah bros kecil bulat yang ditengahnya ada lambang timbangan. Jika dilihat itu terlihat seperti timbangan yang ada dalam zodiak libra.


Yuda memberikan bros kecil itu pada Liyuna dan hal ini membuat Liyuna bertanya-tanya.


"Anggap ini sebagai permintaan maafku. Jika suatu hari nanti kau butuh bantuan aku akan memberikan servis gratis khusus untukmu dengan syarat kau harus menyimpan bros itu."


Liyuna menatap bros yang kelihatannya terbuat dari emas pemberian dari Yuda. Liyuna tahu apa maksud dari bros ini karena di dalam game Yuriel juga pernah mendapatkannya. Bros itu menandakan janji yang Yuda buat untuk orang-orang tertentu. Karena di masa depan dia akan menjadi seorang detektif yang tidak mudah untuk ditemui maupun dimintai tolong, Yuda menggunakan bros itu untuk urusan 'khusus' yang harus ia penuhi. Dengan bros ini, Liyuna memiliki satu kesempatan untuk meminta tolong pada Yuda jika ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Tanpa sadar, Liyuna tersenyum lebar ketika menyadari bahwa kesempatannya untuk hidup semakin bertambah. Kesempatan hidup yang mulanya 0% kini bertambah menjadi 20% hanya dengan memiliki bros ini. Walau tidak mencapai 100% karena tidak ada yang tahu masa depan, tetap saja Liyuna merasa senang. Selain menyadari rute siapa yang harus Yuriel pilih agar dirinya selamat, hanya dengan mendapatkan bros ini membuat presentase kehidupannya bertambah sangat banyak.


Melihat Liyuna yang begitu senang hanya karena diberi bros yang harganya tak seberapa, Yuda merasa sedikit tertarik. Sebagai seorang anak orang kaya, Yuda tidak menyangka kalau Liyuna bisa senang hanya karena hal sekecil ini.


"Ini sungguhan bukan? Kau tidka boleh menarik ucapanmu!"


Mendengar ucapan Liyuna barusan, Yuda kembali menyadari sesuatu. Liyuna merasa senang bukan karena bros yang ia berikan melainkan karena ucapannya tentang akan memberi servis gratis padanya.


"Tentu saja aku bersungguh-sungguh."


"Kalau begitu ayo kita lakukan pinky-swear."


Liyuna mengajukan jari kelingkingnya pada Yuda dan memintanya untuk berjanji. Yuda terlihat sedikit terkejut melihat hal itu namun dia langsung menerima dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari milik Liyuna.


Meski terkadang Liyuna terlihat seperti orang dewasa namun terkadang dia juga terlihat seperti anak kecil. Hal ini membuat Yuda semakin tertarik dan penasaran mengenai rahasia apa yang Liyuna sembunyikan dan seperti apa sifatnya yang sebenarnya.


Malam itu, sebuah janji tak tertulis telah disepakati. Janji tersebut adalah janji yang nantinya akan menyelamatkan nyawa Liyuna dari ancaman dam membuatnya mengetahui wajah sebenarnya yang ada dibalik topeng yang Yuda kenakan.


Angin musim dingin semakin terasa menusuk karena hari sudah semakin malam. Meski salju pertama belum turun tahun ini, namun suhu udara sudah semakin menurun.


TBC