Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 54 - Musim Semi Keenam



Angin segar musim dingin mulai berhembus. Kelopak bunga sakura beterbangan karena hembusan angin, mewarnai jalanan aspal kota Elisien dengan warna merah muda yang begitu menyegarkan mata dan langit biru tanpa awan pagi ini menambah kesan seperti dunia lain. Pemandangan yang begitu indah seperti berada dalam dunia kartun Jepang.


Seperti biasa, musim semi adalah musim yang cukup sibuk bagi kebanyakan orang yang berstatus sebagai pelajar. Di musim ini mereka masuk tahun ajaran baru yang berarti kenaikan kelas dan juga penerimaan siswa baru. Dingin dan sepinya musim salju terasa seperti terobati ketika melihat bunga sakuran yang berjatuhan. Banyak orang menjadikan musim ini sebagai musim piknik, ya, banyak yang pergi ke taman kota maupun Viss River untuk berpiknik. Apa lagi udara sudah mulai menghangat, sangat cocok untuk melakukan aktivitas di luar rumah.


Tidak berbeda jauh dengan sekolah lainnya, hari ini adalah hari dimana SMP Lunaria menerima murid tahun ajaran baru. Di depan gedung sekolah, terlihat banyak sekali mobil-mobil terparkir untuk mengantarkan siswa dan siswa yang baru saja diterima masuk ke sekolah tersebut.


Liyuna yang saat ini berumur 12 tahun adalah salah satunya. Ia ditemani oleh Yuriel mendaftar ke SMP Lunaria dan saat ini keduanya sedang berada di gedung auditorium, tempat dimana upacara penerimaan murid baru diadakan.


Gedung auditorium mulai di penuhi oleh murid baru yang datang sedikit demi sedikit. Liyuna dan Yuriel memilih duduk di barisan tengah agar tidak terlalu mencolok namun sepertinya hal tersebut sangatlah sia-sia. Dimana pun mereka berada, mereka selalu menjadi pusat perhatian. Apa lagi sekarang Liyuna dan Yuriel sudah memasuki usia remaja. Wajah cantik mereka yang dangat bertolak belakang semakin terlihat sangat memesona.


Laki-laki maupun perempuan, selalu melirik kearah kakak dan adik itu. Mereka terpukau akan kecantikan bak dewi yang dimiliki keduanya. Apa lagi jika melihat status mereka sebagai anak konglomerat ternama, sungguh tidak ada celah sedikitpun.


"Selama pagi semua, senang bertemu dengan kalian di pagi yang cerah ini. Saya selaku kepala sekolah menyambut kedatangan kalian dengan hangat. Semoga..."


"Kak." Bisik Yuriel.


"Ada apa?"


"Yvette dimana? Tumben sekali tidak bersama kakak?" Tanya Yuriel penasaran.


Yvette selalu menempel pada Liyuna jadi ketika dia tidak melihat keberadaan Yvette, Yuriel merasa sangat penasaran dan baginya itu adalah pemandangan yang aneh.


"Sepertinya, Yvette sedikit terlambat." Ucap Liyuna dengan suara lirih.


Tadi pagi, Yvette mengiriminya pesan kalau dia akan terlambat karena adiknya menghilangkan kartu siswa miliknya.


"Apakah dia akan melewatkan upacara penerimaan murid baru?"


"Aku tidak tahu, semoga saja dia akan seger datang."


"Dan mari kita sambut siswi dengan nilai ujian masuk tertinggi untuk memberikan pidato, kepada saudari Liyuna Aris Castris, dipersilahkan untuk naik keatas panggung."


Liyuna langsung bangkit dari tempat duduknya. Di dalam game, seharusnya Yuriel lah yang akan memberi pidato namun saat ini Liyuna menggantikan perannya. Jiwa yang ada ditubuh Liyuna saat ini berbeda dengan jiwa yang sebelumnya, dia tidak akan meninggalkan belajar hanya karena merasa iri dengan Yuriel. Ya, walau Liyuna di dalam game sebenarnya adalah orang yabg pintar, dia langsung meninggalkan belajar ketika Yuriel datang.


Semua orang bertepuk tangan menyambut Liyuna yang saat ini sudah bersiap-siap memberi pidato.


"Selamat pagi teman-teman, bersama dengan bunga sakura yang berjatuhan kita menyambut tahun ajaran baru. Saya merasa sangat senang bisa bergabung dengan kalian semua di SMP Lunaria dan berharap untuk ke depannya..."


Setelah selesai memberi pidato singkat, Liyuna kembali ke tempat duduknya.


"Yvette?!"


Liyuna terkejut melihat Yvette yabg sudah duduk manis di kursi sebelah. Sebelum memberi pidato, Liyuna ingat bahwa kursi itu tidak di duduki oleh Yvette.


"Aku meminta untuk tukar kursi." Seperti bisa membaca pikiran Liyuna, Yvette langsung menjelaskan.


"Kak Yuna, kau terlihat keren tadi." Puji Yuriel sambil memberi dua jempol pada Liyuna.


"Terima kasih." Liyuna kembali duduk.


Mereka bertiga kembali memperhatikan acara hingga selesai. Setelah semua acara selesai, seluruh murid baru diperbolehkan untuk bereksplorasi agar minggu depan ketika sekolah sudah resmi masuk mereka tidak akan tersesat. Meski sudah ada denah, masih banyak yang sulit untuk mengingat letak beberapa ruangan karena memang SMP Lunaria sangat luas, apa lagi SMP dan SMA nya bersebelahan. Terkadang, kita bisa melihat anak-anak SMA Lunaria dari kejauhan.


Murid-murid mulai keluar dari gedung auditorium dan berpencar untuk bereksplorasi, begitu juga dengan Liyuna dan yang lainnya. Sejak SD, mereka bertiga selalu bersama-sama seperti tak terpisahkan. Liyuna selalu berjalan ditengah karena Yvette maupun Yuriel tidak mau mengalah untuk dekat dengannya.


Langkah kaki Liyuna tiba-tiba terhenti karena seseorang mengalungkan tangannya ke lehernya, membuat Liyuna sedikit terdorong ke belakang. Yvette dan Yuriel yang melihat hal itu langsung siap siaga, siapapun yang berani menyentuh Liyuna akan mereka pukul.


"Apa aku telah membuatmu menunggu lama?"


Suara itu berbisik tepat ditelinga Liyuna, membuat wajahnya sedikit memanas. Apalagi dengan jarak tubuh mereka yang sangat dekat, Liyuna tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Bahkan di kehidupan sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan anak laki-laki.


"Haa?!" Pekik Yvette yang terkejut melihat siapa pelaku yang memeluk Liyuna dengan seenak jidatnya.


Liyuna menoleh kesamping, kedua matanya menangkap sosok familiar yang ada di ingatannya, bedanya kini anak laki-laki tersebut sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat rupawan. Wajah mereka berdua terlalu dekat, hingga membuat Liyuna sedikit salah tingkah.


"Aku tidak pernah menunggumu untuk kembali." Ucap Liyuna sambil melepaskan tangan Allen yang melingkar dilehernya.


Allen tersenyum licik melihat Liyuna yang sedikit salah tingkah karenanya.


Orang-orang yang melewati mereka tiba-tiba saja menoleh dan berbisik-bisik. Melihat Allen yang berdiri begitu dekat dengan Liyuna membuat semua orang terpesona. Kedua orang tersebut benar-benar terlihat seperti sepasang boneka.


"Kau sudah kembali?" Tanya Yvette yang masih tidak percaya kalau orang yang ada dihadapannya adalah Allen.


"Tentu saja, kau tidak mungkin berpikir kalau aku akan menetap di Kanada kan?"


"Kau!!" Ucap Yvette dengan suara yang begitu kesal. Entah kenapa Yvette terlihat sangat marah sekali pada Allen.


"Apa kau tahu gara-gara kamu yang tiba-tiba pindah, Yuna jadi terlibat rumor tidak mengenakkan?"


Allen menatap Yvette dengan wajah datar, "Kenapa itu menjadi salahku? Bukannya sejak awal Yuna memang selalu terlibat rumor murahan seperti itu?"


Mendengar ucapan Allen, tidak ada yang bisa melawan. Apa yang Allen katakan memang benar, sejak dulu Liyuna memang selalu terlibat rumor murahan karena statusnya sebagai putri tunggal keluarga Castris.


Allen menyadari bahwa ada satu orang tambahan yang sebelumnya tidak ada. Ketika kedua matanya menatap sosok Yuriel yang berdiri tak jauh darinya, matanya mulai menggelap. Ekspresi easy-going yang tadi dia perlihatkan tiba-tiba menghilang, bibirnya yang tadi melengkung pun kini menjadi garis lurus. Liyuna menyadari ada yang aneh dengan sikap Allen ketika melihat Yuriel namun Yuriel terlihat seperti tidak sadar akan tatapan dingin yang diberikan oleh Allen, ia malah tersenyum dengan cerah kepada Allen, membuat Allen tatapan Allen semakin tajam.


Liyuna tidak mengerti kenapa Allen bersikap itu ketika bertemu Liyuna, padahal seharusnya keduanya memiliki hubungan yang baik. Tapi dari yang Liyuna lihat, Allen seperti membenci Yuriel.


"Ah! Kenalkan, dia adikku Yuriel." Liyuna tidak mau melewatkan kesempatan ini.


Ini adalah kesempatan bagus untuk saling memperkenalkan dua tokoh utama kepada satu sama lain.


"Adik?" Gumam Allen dengan suara lirih.


Yuriel memperkenalkan dirinya dengan sangat antusias, dia juga mengulurkan tangannya pada Allen namun Yuriel tidak mendapatkan respon positif.


Melihat hal ini, Yvette menjadi sedikit kesal karena di bertindak tidak sopan pada adik Liyuna.


"Hei, ada apa dengan sikap tidak sopan mu?"


Melihat Allen yang tidak mau menjabat tangannya, Yuriel tersenyum canggung. Ia menarik tangannya dan berusaha menenangkan Yvette.


"Memangnya ada apa denganku? Aku sellau seperti ini."


Mendengar hal itu Yvette tidak bisa melawan. Ia kembali sadar kalau Allen memang memiliki sifat yang tidak sopan dan selalu berbuat seenaknya. Kenapa juga dia bisa berpikir kalau Allen sudah berubah?


"Hei, jangan seperti itu dengan adikku." Ucap Liyuna memperingati Allen.


Meski Liyuna tidak tahu kenapa Allen tiba-tiba menampakkan durinya pada Yuriel, Liyuna tetap tidak bisa menerimanya. Mereka adalah tokoh utama yang seharusnya memiliki hubungan yang baik antara satu dengan yang lainnya, bukan hubungan buruk seperti ini.


Apa mungkin Allen seperti ini karena ini pertama kalinya mereka bertemu? Sepertinya tidak.


Di dalam game, Liyuna dan Allen seharusnya sudah bertunangan tahun ini dan ketika mereka pertama masuk SMP, Allen akan jatuh cinta dengan Yuriel dan mulai mengabaikan Liyuna yang selalu menempel padanya.


Apakah perasaan tidak suka Allen juga termasuk efek kupu-kupu yang disebabkan oleh Liyuna? Liyuna sendiri juga tidak tahu.


Allen tiba-tiba saja menggenggam tangan Liyuna dan menariknya menjauh dari Yvette dan Yuriel. Hal ini membuat Yvette menjadi was-was, dia berniat untuk mengejar Allen namun dihentikan oleh Yuriel.


"Kenapa kau menghentikan ku?"


Yuriel tidak menjawab pertanyaan dari Yvette dan malah tersenyum padanya. Yvette merasa aneh dengan sikap Yuriel dan tidak mengerti dengan jalan pikirnya.


Ketika Yvette kembali melihat kearah perginya Allen dan Liyuna, ia sudah kehilangan sosok tersebut. Kini Yvette tidak bisa mengikuti kedua orang itu dan ia tidak bis berhenti khawatir pada Liyuna karena sifat Allen yang menurutnya terlalu liar.


"Lebih baik kita menunggu mereka di tempat lain." Ucap Yuriel menyarankan.


Karena sudah kehilangan jejak Allen dan Liyuna, mau tidak mau dia mengikuti apa kata Yuriel. Mereka berdua duduk dibawah pohon sycamore.


"Kenapa kau menahanku tadi?" Tanya Yvette. Dia tidak bisa membiarkan Yuriel begitu saja karena menurutnya apa yang Yuriel lakukan barusan tidak benar. Seharusnya mereka mengejar Liyuna dan menyelamatkannya.


"Aku hanya berpikir kalau mereka ingin berbicara secara empat mata."


Yvette tidak menjawab, ia hanya menatap Yuriel tanpa mengatakan apapun.


Kalau diingat-ingat, ada kalanya Yuriel bertindak aneh. Salah satunya seperti hari ini. Yvette tidak mengerti jalan pikir Yuriel, meski dia sering terlihat sangat polos sampai tidak tahu apapun, kadang-kadang Yuriel memiliki tatapan mata yang mengerikan. Liyuna tidak pernah melihat hal itu karena dihadapannya Yuriel selalu bersikap menurut dan patuh. Yvette pernah melihatnya sekali, tatapan mengerikan yang terkesan seperti menyembunyikan pisau dibalik tangan. Seperti ular yang melilit leher seseorang dan menjulurkan lidah berbisanya, seolah-olah mengatakan kalau dia bisa menggigit orang itu kapan saja.


Meski begitu Yvette mencoba untuk tidka terlalu memikirkannya karena sejauh ini Yuriel tidak pernah melakukan hal yang bisa melukai Liyuna. Malahan, Yvette berpikir kalau Yuriel sangat menyayangi Liyuna lebih dari apapun. Hal itu bi7sa dilihat dari matanya yang selalu terlihat semakin bercahaya ketika berada di dekat Liyuna.


Yvette tidak ingin mencurigai Yuriel karena Liyuna sangat sayang padanya namun Yvette juga tidak bisa menghilangkan firasat buruk yang dia miliki ketika berada di dekat Yuriel.


"Sambil menunggu, ayo kita makan keripik kentang yang aku bawa." Yuriel membuka tasnya dan mengambil plastik berisi keripik kentang dari sana.


Melihat Yuriel yang terlihat tidak memiliki niatan lain, Yvette langsung menghilangkan pikiran buruk yang tadi sempat hinggap di otaknya.


"Rasa apa?"


"Rasa rumput laut."


Mereka berdua makan keripik itu bersama sembari menunggu Liyuna untuk kembali. Sejak dulu, Yuriel memang selalu seperti ini. Dia selalu membawa makanan ringan di tasnya dan berbagi dengan orang yang ada di dekatnya. Dia juga sering sekali membawa biskuit kesukaan Liyuna.


Di sisi lain, Liyuna yang tiba-tiba ditarik oleh Allen mencoba untuk melepaskan diri darinya namun hasilnya nihil. Perbedaan kekuatan mereka terlalu besar membuat Liyuna tidak bisa lepas dari cengkraman Allen.


"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Liyuna.


Allen tidak menjawab pertanyaan dari Liyuna dan terus menarik tangannya. Liyuna benar-benar tidak tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Allen namun dia tidak ingin terseret dalam arus yang dia buat oleh Allen.


Liyuna sedikit kebingungan ketika melihat Allen berjalan kearah menara jam besar yang ada di tengah-tengah halaman sekolah. Ia tidak tahu kenapa Allen mengajaknya ke tempat seperti ini.


Keduanya berjalan menuju belakang menara jam dan Liyuna dapat melihat ada sebuah pintu kecil di sana. Allen membuka pintu itu dengan kunci yang entah ia dapatkan dari mana.


"Kenapa kau bisa memiliki kunci itu?" Tanya Liyuna yang terkejut melihat Allen memiliki kunci yang seharusnya hanya dimiliki oleh penjaga.


"Aku membelinya."


Membeli??


"Maksudmu kau menyogok penjaga?"


Allen tidak menjawab, ketika pintu berhasil ia buka, Allen menyuruh Liyuna untuk masuk. Awalnya Liyuna tidak mau karena di dalam sangat gelap namun ketika Allen menyalakan lampu dia bisa melihat ada tangga di dalam menara jam tersebut.


Liyuna masuk ke dalam dengan perlahan dan melihat-lihat seisi ruangan yang ada di dalam menara jam.


Kosong.


Tidak ada satupun perabotan atau furnitur didalamnya, yang Liyuna lihat hanyalah tangga yang menujun ke ruangan atas tempat jam berada.


"Ayo naik."


TBC


[A/N : Sejauh ini siapa tokoh yang menurut kalian menarik?]