Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 63 - Hari Pertama



Seminggu telah berlalu sejak upacara penerimaan siswa baru di SMP Lunaria. Hari ini adalah hari pertama Liyuna dan yang lainnya masuk ke sekolah secara resmi untuk belajar. Ditemani dengan bunga sakura yang berguguran di sepanjang jalan raya, Liyuna dan Yuriel berangkat ke sekolah bersama. Seperti biasa, Noel mengantar mereka tepat di depan gerbang sekolah.


Liyuna dan Yuriel berjalan bersama ke arah papan pengumuman untuk melihat dimana kelas mereka karena saat upacara penerimaan siswa baru, ruang kelas belum diumumkan.


Liyuna mencari namanya di papan dan melihat dia masuk ke kelas 1-1, begitu juga dengan Yuriel dan hal yang tidak begitu mengejutkan adalah Allen dan Yvette satu kelas dengan mereka. Benar-benar sangat klise, pemeran utama wanita dan pria pasti akan satu kelas.


"Oh, nama kita ada di kelas 1-1, kak." Ucap Yuriel dengan suara bersemangat. Dia sangat senang karena bisa sekelas dengan Liyuna.


"Ayo kita langsung ke kelas, kau masih ingat jalannya kan?"


"Tentu saja, saat upacara penerimaan siswa baru aku sudah melihat-lihat ruang kelas 1."


Keduanya langsung bergegas menuju ruang kelas yang akan mereka tempati selama satu tahun ke depan.


Ruang kelas 1 ada di lantai bawah jadi sedikit sulit untuk menemukannya jika tidak di cari dari jauh-jauh hari karena lantai bawah ada banyak sekali ruangan.


Sesampainya di kelas, Liyuna dan Yuriel langsung masuk, di dalam belum ada banyak orang jadi masih banyak kursi yang kosong.


Liyuna memilih kursi di barisan tengah karena menurutnya itu adalah barisan terbaik. Yuriel juga ingin duduk di bangku sebelah Liyuna namun dia kalah cepat dengan Allen yang tiba-tiba saja datang dan melemparkan tasnya ke bangku sebelah Liyuna.


Semua orang memandang Allen dengan tatapan tidak percaya karena barusan dia melempar tasnya dari pintu masuk ke barisan meja bagian tengah. Murid yang sudah datang dan duduk manis di bangku mereka masing-masing tidak pernah melihat ada seseorang melakukan hal seperti yang Allen lakukan. Apa yang Allen lakukan termasuk sesuatu tang tidak sopan dan tidak mencerminkan keluarga berkelas.


Yuriel yang melihat tas Allen ada di bangku sebelah Liyuna berniat untuk mengambilnya dan merebut tempat duduk tersebut namun Allen sudah datang dan dia mendorong tubuh Yuriel hingga ia jatuh terduduk di bangku belakang Liyuna.


Yuriel menatap Allen dengan sedikit rasa tidak suka namun dia segera mengembalikan ekspresinya seperti semula, ramah dan tidak berbahaya.


Allen tidak mempedulikan Yuriel dan langsung menempati tempat duduk yang sudah ia pilih dengan cara paksa.


Liyuna yang melihat tingkah Allen yang begitu kasar pada Yuriel merasa sedikit aneh.


Apa kah ini yang dinamakan love-hate relationship?


Ya, sepertinya sebelum Allen dan Yuriel benar-benar jatuh cinta satu sama lain mereka tidak pernah akur seperti anjing dan kucing. Hanya saja cerita itu tidak diceritakan dalam game.


"Kenapa kau seperti itu?" Tanya Liyuna pada Allen yang sekarang menjadi tetangga tempat duduknya.


"Memangnya aku kenapa?"


Bukannya merasa bersalah, Allen malah balik bertanya pada Liyuna. Liyuna sendiri sudah tidak terkejut dengan sikap Allen yang seperti ini karena dulu dia juga memperlakukan Liyuna dengan cara yang sama.


"Kau akan melukai hati Yuri jika bertindak kasar seperti barusan."


"Aku tidak peduli."


"Tapi aku peduli."


Allen menatap Liyuna dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


Tiba-tiba saja Allen mengacak-ngacak rambut Liyuna hingga berantakan. Liyuna secara refleks memegang tangan Allen yang mengacak rambutnya.


"Hei! Apa-apaan?!"


"Kau ini jangan terlalu peduli pada orang lain."


Liyuna menatap kedua mata Allen, entah mengapa Liyuna merasa bahwa kedua matanya menyiratkan sebuah kesedihan.


"Memang apa salahnya peduli pada orang lain? Yuri itu bukan orang lain, tapia adikku."


Senyum Yuriel merekah mendengar ucapan yang baru saja Liyuna lontarkan. Dia merasa senang karen Liyuna menganggapnya sebagai adik bukan orang asing.


Allen melepas tangannya dari rambut Liyuna. Dia mengatakan hal barusan dengan sangat bersungguh-sungguh membuat Liyuna tidak bisa membalas.


Liyuna tidak tahu alasannya tapi sepertinya Allen benar-benar tidak menyukai Yuriel. Padahal di game, dia sendiri yang membatalkan pertunangan dengan Liyuna hanya untuk bersama dengan Yuriel.


"Selamat pagi, Yuna!"


Yvette yang baru saja datang langsung menyapa Liyuna ketika pandangannya menemukan sosoknya.


Seperti biasa, Yvette adalah gadis kelebihan tenaga yang selalu ceria di setiap waktu membuat suasana yang tadinya hening dan tenang menjadi sedikit berwarna.


Dengan langkah yang pasti, Yvette berjalan mendekati Liyuna dan mengambil tempat duduk di depannya yang kebetulan belum si tempati oleh orang lain.


"Selamat lagi, Yvette."


"Pagi, Yvette."


Yuriel dan Liyuna menyapa balik Yvette.


Saru persatu murid kelas 1-1 datang dan memenuhi ruang kelas dan tak berapa lama kemudian, wali kelas 1-1 datang, beliau menaruh daftar hadir siswa di meja guru dan mengabsen satu persatu siswa dikelasnya.


Ketika wali kelas sudah memastikan bahwa semua murid hadir, beliau langsung menunjuk Yuriel untuk menjadi ketua kelas.


Wali kela sengaja memilih Yuriel dan bukan Liyuna karena menurutnya anak peringkat utama seperti Liyuna pasti sudah memiliki banyak sekali beban sehingga ia menginginkan siswa lain untuk mengemban tugas sebagai ketua kelas dan dipilihlah Yuriel sebagai murid peringkat kedua dalam ujian masuk.


Yuriel dengan senang hati menerima permintaan wali kelas, baginya jika itu adalah sesuatu yang bisa meringankan Liyuna sudah pasti akan dia terima.


"Kalau begitu, Allen yang akan menjadi wakilnya." Ucap wali kelas.


Seketika ruang kelas menjadi sangat sunyi, tidak ada satu pun yang membuka mulut karena pilihan wali kelas sangat lah tidak biasa.


"Aku menolak." Dengan tegas Allen menolak wali kelas. Ia tidak ingin menjadi wali kelas dan bekerja sama dengan Yuriel.


Namun wali kelas juga tidak ingin kalah, dengan ekspresi dan suaranya yang tegas dia menolak penolakan dari Allen.


"Bapak juga menolak penolakan Allen."


"Aku tidak ingin menjadi wakil ketua kelas."


"Kalau begitu, bisa Allen bicarakan dengan kepala sekolah."


Wali kelas mengancam Allen, walaupun wakil dan ketua kelas adalah wewenang wali kelas beliau bisa saja menggunakan hak khusus untuk melaporkan murid pada kepala sekolah karena di sekolah ini murid harus patuh pada peraturan yang ada.


Bagi siswa seperti Allen yang suka seenaknya, wali kelas diberikan wewenang khusus untuk membuatnya sedikit terkontrol dengan cara mengadukannya ke kepala sekolah dan juga orang tuanya. Meski Allen berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh, sekolah tidak akan tinggal diam jika dia terus membangkang.


Bagaimana pun juga sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu, jadi untuk anak yang tidak serius mereka bisa memberlakukan peraturan istimewa yang bisa membuat mereka patuh.


Mendengar ancaman wali kelas, Allen terpaksa menurut. Meski beliau melapor ke kepala sekolah pun sebenarnya Allen tidak peduli hanya saja jika ayahnya mendengar bahwa dia membuat masalah lagi, Allen pasti akan dalam kesulitan.


Dia yang sudah dikurung selama beberapa tahun di Kanada sudah merasa lelah dan tidak ingin pergi ke luar negeri lagi.


Apa lagi sekarang di Elisien ada sesuatu yang membuatnya ingin tetap tinggal dan juga ada seseorang yang harus ia awasi.


TBC


[A/N : Ceritaku ini membosankan gak sih temen-temen? Apa yang bisa aku tingkatkan supaya tidak terlalu membosankan?]