
Angin musim panas berhembus dengan lembut. Suara jangkrik bernyanyi menemani Liyuna yang sedang duduk di jembatan penghubung danau dan daratan.
Air danau yang begitu jernih sehingga memantulkan cahaya rembulan, memberikan kesan seperti dunia fantasi yang menawan.
Setelah seharian bermain air dan api unggun, Liyuna merasa kelelahan namun entah mengapa dia tidak bisa tidur. Secara diam-diam dia keluar dari vila dan duduk di sini, melihat betapa indahnya bulan dibawah pantulan air. Udara di tempat ini sangat bersih sehingga membuat Liyuna yang hidup di tengah kota merasa nyaman.
Liyuna memegang syal yang ia gunakan untuk membungkus tubuhnya agar tidak kedinginan terkena udara malam di musim panas.
Tiba-tiba seseorang memegang bahunya, membuat Liyuna sedikit memekik karena terkejut.
"Maaf telah membuat Nona terkejut." Ucap Noel.
Saat dia melakukan patroli, dia melihat ada bayangan seseorang di dekat danau dan mendekatinya, dia tidak menyangka bahwa bayangan tersebut adalah Liyuna.
"Kak Noel."
Noel duduk di samping Liyuna dan menatap ke arah danau. Liyuna sendiri tidak merasa terganggu dengan kehadiran Noel karena sejak dia mulai bersekolah, Noel sudah menemaninya. Bisa dibilang, Liyuna melihat Noel sebagai sosok kakak laki-laki yang bisa diandalkan.
"Kenapa Nona belum tidur?"
"Aku belum bisa tidur."
"Apa Nona tidak merasa lelah?"
"Lelah, tapi aku tidak bisa tidur."
Suara jangkrik menemani mereka. Angin musim panas berhembus semakin kencang, membuat rambut Liyuna berantakan.
"Kak Noel sendiri kenapa belum tidur?"
"Saya juga belum bisa tidur."
Noel tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Liyuna. Dia tidak ingin Liyuna merasa khawatir. Sejak tadi Noel bisa merasakan adanya hawa keberadaan orang lain selain mereka berlima di tempat ini dan hal itu seharusnya tidak mungkin karena tempat ini sudah di sewa secara ekslusif.
Noel adalah salah satu anak yang besar dari panti Astraea, panti yang berada di bawah yayasan Castris. Semua anak di panti tersebut mendapat pendidikan yang lebih dari anak pada umumnya karena setelah keluar biasnya mereka akan langsung bekerja untuk keluarga yang memberikan sponsor pada mereka. Tentu saja mereka bisa menolak jika tidak mau namun Noel sendiri ingin bekerja untuk keluarga Castris. Karena itulah keselamatan Liyuna menjadi prioritas utama baginya.
Mata Noel menyipit ketika melihat ada titik merah di baju Liyuna, dengan tajam ia menatap arah datangnya titik merah tersebut. Noel berusaha untuk tidak membuat Liyuna waspada makanya dia dengan perlahan bergerak ke belakang Liyuna untuk menghalangi titi merah tersebut.
'Sniper?'
Noel mendadak menjadi sedikit tegang, ia tahu titik apa itu. Jika dia melakukan tindakan gegabah, Liyuna bisa saja terluka. Liyuna yang melihat Noel tiba-tiba bergerak dibelakangnya bertanya, "Ada apa kak?"
Noel memegang tangan Liyuna dan merengkuh tubuh kecilnya dalam pelukannya. Noel meminta maaf karen tiba-tiba tidak sopan dan meminta Liyuna dengan tenang kembali ke vila.
Liyuna tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang bertanya-tanya namun melihat Noel yang terlihat sangat serius, Liyuna tidak bisa menolak. Dia menganggukkan kepalanya perlahan dan kembali ke arah vila.
Tiba-tiba Liyuna merasakan ada sekelebat cahaya datang menghampirinya, secara refleks dia menunduk dan melihat ada pisau menancap tepat di tembok pintu vila yang akan Liyuna buka.
Seketika itu juga Liyuna jatuh ke tanah saking terkejutnya, dia mencengkram syal yang melingkari tubuhnya dengan sangat erat. Jantungnya berdegup sangat kencang dan napasnya mulai tidak teratur.
'Pisau???'
Akhir dari tokoh wanita jahat Liyuna yang ada di dalam game kembali memasuki otaknya. Liyuna adalah tokoh yang selalu mati dalam setiap ending dan apa yang barusan terjadi membuat Riana benar-benar ketakutan.
Dia melihat kebelakang, mencoba mencari Noel dan meminta tolong namun saat ia menoleh, Noel sudah tidak ada. Seperti dipukul oleh realita, Liyuna menyadari bahwa Noel menyuruhnya untuk pergi karena dia tahu ada seseorang yang berusaha membunuhnya. Tidak, mungkin saja targetnya bukan Liyuna melainkan orang lain sedang tidur dalam vila. Di tempat ini tidak hanya Liyuna saja yang berasal dari keluarga elit, jika bukan Castris maka targetnya adalah Allen.
Meski ketakutan, Liyuna memutuskan untuk berlari menjauh dari vila. Jika dia menjauh dan mengalihkan perhatian pembunuh bayaran padanya, orang-orang yang ada di vila akan selamat. Liyuna tidak mau mati namun dia juga tidak bisa melihat anak berumur 12 tahun mati dihadapannya.
Jiwanya yang sudah hidup selama lebih dari 18 tahun, tidak bisa membiarkan hal itu.
Dengan langkah tergesa-gesa, Liyuna masuk ke dalam hutan yang gelap. Dia tidak tahu harus pergi kemana namun seingatnya di dekat sini ada desa yang di tempati oleh penduduk setempat. Dia harus meminta pertolongan, dia harus menyelamatkan Noel dan yang lainnya.
Ditengah perjalanan, Liyuna mendengar ada suara semak-semak yang terinjak. Jantungnya berpacu semakin cepat, dia tidak berani melihat kebelakang untuk memastikan suara apa itu.
Tiba-tiba tubuhnya terdorong kebelakang, seseorang menarik syal yang ia pakai dengan sangat keras hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Liyuna melihat sosok yang menariknya, seluruh wajahnya tertutup oleh topeng hitam, begitu juga dengan pakaiannya yang serba hitam.
"Apa mau kalian?" Tanya Liyuna. Suaranya bergetar hebat karena rasa takut telah menyelimuti hatinya.
Orang tersebut tidak menjawab, dia berusaha untuk mengunci seluruh pergerakan Liyuna namun dengan cepat Liyuna menendang alat vital pria itu hingga dia jatuh kesakitan.
Liyuna sudah tidak peduli lagi, dia meninggalkan syal yang ia pakai dan melilitkannya di tangan pria itu dengan cepat lalu melarikan diri jauh ke dalam hutan.
Dor...
Di dalam hatinya, Liyuna tidak bisa menahan diri untuk tidak bersumpah serapah.
Saat Liyuna sudah memastikan bahwa tidak ada orang di dekatnya, dia kembali berdiri dan berjalan mencari desa. Tubuhnya kini sudah sangat kotor seperti tikus yang tercebur dalam got, badannya basah karen keringat dan tubuhnya memiliki banyak luka akibat sering bergesekan dengan semak-semak. Namun Liyuna tidak mempedulikan hal ini, kini tugasnya adalah meminta bantuan agar semua bisa selamat.
Karena terlalu lelah, kaki Liyuna tidak bisa bergerak dengan baik, tiba-tiba saja dia terpleset dan jatuh ke tebing dan tubuhnya berguling-guling. Melihat dirinya tidak bisa menghindari hal ini, Liyuna melindungi kepalanya supaya tidak terbentur batu. Dulu kepalanya sudah pernah terluka akibat jatuh dari tangga, dia tidak bisa membiarkannya terluka lagi.
Saat tubuhnya mencapai bawah, Liyuna sudah tak sadarkan diri.
***
Yuriel bangun dari tidurnya. Dia mencari Liyuna yang seharusnya ada tidur di sampingnya namun sayangnya dia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"Kakak..." Panggilnya dengan suara lirih.
Dor...
Sayup-sayup dia dapat mendengar suara yang terdengar seperti tembakan. Meski tidak terlalu terdengar dengan jelas namun Yuriel sangat tahu suara apa itu karena dulu sekali dia sering mendengar suara tersebut.
"Kakak!" Teriaknya.
Yuriel mulai panik karena tidak dapat menemukan Liyuna dan suara yang barusan ia dengar, membuatnya semakin tidak bisa berpikir dengan jernih.
Yvette terlihat terbangun ketika mendengar Yuriel berteriak, dia yang baru saja bangun berusaha untuk membuka matanya hang terasa berat.
"Yuriel, ada apa?"
Yuriel tidak menjawab, dengan langkah yang begitu tergesa-gesa dia membuka pintu kamarnya dan mengecek ruangan satu persatu.
"Kakak!"
Di kamar mandi tidak ada.
"Kakak!"
Begitu juga di dapur.
"Kakak!"
Di ruang televisi pun Liyuna tidak ada.
Yuriel semakin panik, jantungnya berpacu dengan sangat cepat layaknya berlari maraton.
Allen yang mendengar kegaduhan dari kamarnya, terbangun. Saat ia membuka pintu kamar, dia melihat Yuriel yang sedang mencari Liyuna seperti orang gila.
"Yuriel, ada apa?" Tanya Yvette sekali lagi, dia berdiri di depan pintu kamar, mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Kak Noel!" Yuriel terlihat semakin panik ketika melihat kamar Noel kosong.
Kamar Noel tidak mungkin kosong, dibandingkan dengan siapapun juga, Noel adalah orang yang setia pada Liyuna. Dia tidak mungkin meninggalkan Liyuna.
"Ada apa?" Tanya Allen mendekati Yuriel yang terlihat panik.
"Kakakku tidak ada di dalam vila!"
Mendengar hal ini Yvette langsung terbangun, ia membantu Yuriel mencari Liyuna namun hasilnya nihil. Liyuna tidak ada di dalam vila yang mereka tempati.
"Sudah kau cari di luar?" Tanya Allen.
Mendengar ucapan Allen, Yuriel langsung berlari ke pintu depan dan membukanya namun ia hanya di sambut dengan keheningan. Tidak ada tanda-tanda Liyuna maupun Noel.
Yuriel hendak berlari menuju danau namun langkahnya dihentikan oleh Yvette yang kini berdiri di sampingnya.
"Hei, kenapa ada pisau menancap disini?" Tanyanya.
Allen dan Yuriel dengan cepat melihat kearah yang Yvette tunjuk, dan benar saja, ada pisau menancap di sana.
Yuriel semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, pikiran-pikiran buruk hinggap dalam otaknya.
'Tidak mungkin! Kak Yuna...'
TBC