Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 94 - The Romancers



Ruang auditorium dipenuhi oleh murid-murid SMA Darien dari tahun pertama hingga tahun ketiga. Semuanya telah duduk manis di tempat duduk yang telah disediakan.


Berbeda dari sekolah biasa, SMA Darien menyediakan tempat duduk berkualitas tinggi dengan busa yang empuk. Sangat cocok dengan sebutannya sebagai sekolah bergengsi.


Beberapa menit kemudian, kepala sekolah berdiri di depan podium dan memberi sambutan hangat terutama pada tamu VIP yang telah susah payah mereka undang.


Pembawa acara membacakan susuan acara dari awal hingga akhir dan akhirnya memulai acara yang telah dinanti-nanti.


"Klub teater tampil sebagai penutup acara?" Tanya Liyuna.


"Sepertinya begitu." Jawab Yuriel.


"Bukankah itu tugas yang berat?"


"Mungkin mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan matang."


Menjadi penutup acara terkadang bukanlah suatu hal yang baik karena penampilan terakhir, ekspektasi orang akan semakin tinggi. Hal ini bisa menjadi boomerang jika klub teater tidak bisa menyamai kualitas penampil sebelumnya. Setidaknya mereka harus bisa satu tingkat di atas penampilan lain supaya tidak ada yang bisa mengkritik.


Liyuna merasa khawatir dengan Yvette. Dia yang mendapat peran sebagai pemeran utama wanita pasti akan mendapat sorotan dari seluruh penonton dan jika dia tidak berhasil membangkitkan karakter Sylvette dengan baik, dia akan menerima banyak sekali kritikan.


"Tenang saja kak, Yvette pasti baik-baik saja."


"Aku harap begitu."


"Kalau begitu, mari kita nikmati penampilan pertama dari klub orkestra."


Lampu auditorium seketika mati setelah pembawa acara resmi memulai acara pentas seni. Ketika lampu kembali dinyalakan, segala jenis alat musik klasik sudah siap di panggung.


Masing-masing anggota dari klub orkestra memegang alat musik yang biasa mereka mainkan.


"Memilih klub orkestra sebagai penampil pertama, anggota OSIS cerdik juga." Yuriel yang jarang memberi komentar terhadap sesuatu tiba-tiba mengomentari pilihan OSIS yang menurutnya sangat tepat.


"Yuri berpikir seperti itu?"


"Aku juga setuju dengan Yuriel. OSIS cerdik karena memilih klub orkestra." Lucas menyetujui ucapan Yuriel, baginya memilih klub orkestra sebagai penampil pertama adalah pilihan yang tepat karena seluruh anggota klub tersebut adalah orang-orang yang sudah didik secara oleh para profesional sehingga penampilan mereka tidak mungkin mengecewakan.


"Ya, seluruh anggota klub orkestra adalah orang-orang yang sudah dilatih oleh para profesional sejak kecil. Jadi, kecil kemungkinan mereka akan menampilkan penampilan yang tidak memuaskan."


Mendengar penjelasan Yuriel, Liyuna merasa sedikit mengerti. Murid di SMA Darien kebanyakan berasal dari keluarga terpandang dan banyak diantara mereka yang belajar seni karena menganggap bahwa seni adalah sebuah kegiatan yang elegan.


Sama seperti Liyuna dan Yuriel yang diajarkan bermusik, mereka yang bergabung dengan klub orkestra pasti juga melalui hal yang sama.


"Tapi beberapa anggota dilarang untuk mengikuti pentas seni ini."


"Eh? Kenapa begitu?"


"Karena beberapa diantara mereka adalah orang-orang yang ingi mengikuti kompetisi. Seseorang yang mengikuti kompetisi resmi dan mendapat sertifikat kemampuan tidak boleh tampi di acara seperti ini."


"Mereka tidak boleh tampil? Meski ini adalah acara yang cukup terkenal?"


"Benar, itu adalah sebuah peraturan yang telah dibuat oleh asosiasi. Bagaimana pun, mereka yang ingin mendalami musik secara profesional tidak boleh mengambil kesempatan orang yang hanya ingin menunjukkan musik sebagai hiburan."


Acara berjalan dengan cukup lancar. Setelah klub orkestra, masih ada banyak klub-klub lain yang menampilkan kebolehan mereka. Seperti klub tari modern dan tradisional, klub paduan suara, band SMA Darien, klub ballet, dan lainnya. Seluruh klub menampilkan sebuah penampilan spektakuler yang membuat Liyuna kagum


Di kehidupannya terdahulu, dia tidak pernah melihat pentas seni semeriah ini. Saat dia duduk di bangku SMA, pentas seni selalu diadakan di lapangan sekolah dan biasanya mengundang para artis Ibu Kota sebagai highlight utama. Sedangkan penampilan dari klub dijadikan sebagai penampilan sampingan. Yah, mungkin ada beberapa klub yang mendapat perhatian lebih namun mereka tidak menjadi fokus utama dalam pentas seni.


Hal ini sangat berbanding terbalik dengan SMA Darien yang memfokuskan pentas seni sebagai ajang pertunjukan bagi klub yang mereka naungi. Ini adalah pengalaman baru bagi Liyuna.


Akhirnya penampilan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Lampu auditorium dimatikan dan tirai yang sedari dati ditutup akan segera dibuka, tidak ada yang tahu apa saja yang terjadi dibalik tirai namun karena penampilan terakhir adalah klub teater, pasti mereka sedang melakukan persiapan.


Ketika tirai dibuka, lampu menyorot kearah Yvette yang berperan sebagai Sylvette dalam pertunjukan The Romancers. Ia memakai dress vintage berwarna putih dan berdiri disebuah bangku berkarat.



Panggung terbagi menjadi dua sisi dengan sebuah dinding tua yang dihiasi tanaman merambat dan juga bunga-bunga yang indah.


Disebelah kanan adalah taman pribadi milik Bergamin, ayah dari Percinet dan disebelah kiri adalah milik Pasquinot, ayah dari Sylvette.


Disebelah dinding tua tersebut, masing-masing ada bangku berkarat yang mana satunya di duduki oleh tokoh Sylvette yang diperankan oleh Yvette.


Salah satu anggota klub teater yang memainkan peran sebagai Percinet terlihat duduk di atas dinding buatan tersebut, dipangkuannya ada sebuah buku yang sedang ia bacakan untuk Sylvette yang saat ini sedang berdiri berdiri di atas bangku karatan.


"Is it not? Listen to what Romeo answers..." Pemeran Percinet terlihat membaca buku yang tadi ada di pangkuannya.


"It was the lark, the herald of the


morn, No nightingale: look, love, what envious streaks Do lace the severing clouds in yonder east.


Night's candles are burnt out, and jocund day Stands tiptoe on the misty mountain tops: I must


begone--"


Sylvette menghentikan ucapan Percinet, "Sssh!"


Seluruh penonton terlihat menikmati penampilan dari klub teater. The Romancers adalah drama yang cukup dikenal, seperti Romeo and Juliet. Mengkisahkan tentang sepasang insan yang saling mencintai namun terhalang oleh hubungan kedua ayah mereka yang tidak akur.


Namun siapa sangka, kedua ayah muda mudi itu telah melakukan kesepakatan untuk menerima satu sama lain meski mereka saling membenci karena mereka ingin putri dan putra mereka bahagian.


Sampai-sampai kedua ayah tersebut, Bergamin dan Pasquinot membuat sebuah rencana untuk menculik Sylvette dan melihat bagaimana Percinet menyelamatkan pujaan hatinya dengan sangat berani.


Berbeda dengan cerita Romeo dan Juliet yang berakhir tragedi, The Romancers memiliki ending yang bahagia dimana kedua pemeran utama wanita dan pria bisa bersama.


Ending seperti inilah yang ingin Liyuna raih. Dia ingin mendapatkan happy ending diakhir cerita yang penuh dengan tragedi ini.


Selama sepuluh tahun, dia berhasil mengubah jalan cerita yang sebenarnya. Dia tidak bertunangan dengan Allen maupun Zion dan hubungannya dengan target lain juga cukup baik.


Pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para penonton.


Malam tanggal 31 Desember, hanya beberapa jam sebelum tahun berganti. Tidak ada seorang pun yang tahu kalau tahun tersebut akan menjadi tahun paling sulit untuk Liyuna.


Rencana jahat yang mulai tumbuh dibalik bayang-bayang kota Elisien semakin mendekat. Tangan-tangan jahat yang ingin membuatnya menderita semakin dekat dengan lehernya.


Mereka terlena akan kedamaian sementara yang telah mereka rasakan. Tidak ada yang akan mengira kalau putri keluarga Castris akan mengalami hal seperti itu.


Jalan cerita memang telah berubah, namun kenapa Liyuna tetap berada dalam bahaya?


***


Hajun terlihat berdiri di tengah keramaian kota. Ditangannya ada sebatang rokok yang menemaninya sejak tadi. Ia menatap ke layar yang ada di sebuah gedung ditengah-tengah persimpangan jalan teramai di kota Elisien.


Disana terlihat sedang menghitung mundur waktu tahun baru.


Dia bisa merasakan bahwa sebentar lagi kota Elisien akan kembali kacau. Selama empat tahun terakhir, dia telah melakukan berbagai macam penyelidikan dan telah membuat estimasi kapan semua akan mulai bergerak.


Angin musim dingin berhembus membelai rambut Hajun. Kedua matanya menatap terus kearah layar dimana count down sedang berjalan.


Disisi lain, ditempat yang cukup terpencil di pinggiran kota Elisien, terlihat Yuda sedang berada di dalam sebuah ruangan gelap.


Tidak ada pencahayaan dari ruangan tersebut namun beberapa cahaya dari luar masuk melewati jendela yang dibiarkan terbuka, membuat ruangan sedikit terlihat.


Ditangan Yuda, ada sebuah senjata api yang baru saja ia isi dengan peluru. Sebagai seorang agen rahasia dari pemerintah, dia harus hidup dibalik bayang-bayang, jauh dari gemerlap kota. Situasi ini berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu namun Yuda tidak menyesal.


Ini adalah jalan hidup yang dia pilih.


Suara roda takdir yang mulai berjalan kembali terdengar seperti kunci yang terbuka.


Permohonan putus asa dari gadis itu membuat perubahan pada dunia. Ada sebuah alasan mengapa sesuatu terjadi di dunia ini dan semua yang terjadi kali ini adalah hasil dari permohonan yang dia buat.


Kesempatan terakhir untuk mengubah segalanya ada ditangan mereka masing-masing.


Gadis malang itu telah jatuh dalam kegilaan dan berakhir dengan membuat sebuah permohonan pertama dan terakhir yang dipenuhi oleh keputusasaan.


Untuk pertama kalinya dalam 5 kehidupan yang telah ia lalui, ia membuat permohonan.


Dan kali ini dia berada disebuah persimpangan takdir yang harus dia lalui.


TBC


[A/N: Setelah aku lihat jadwal lagi, ada kemungkinan mulai januari aku bakal sibuk sekali :( author berharap masih bisa nulis cerita ini sampai selesai].