Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 91 - Terima Kasih Tehnya



"Maukah anda berdansa di lagu pertama dengan saya?"


Liyuna menerima uluran tangan dari Zion. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya kalau Zion akan mengajaknya berdansa.


Lagu dansa pertama mulai dimainkan, Zion memimpin Liyuna dan membawanya ke tengah-tengah lantai dansa.


Zion menaruh tangannya di pinggang ramping Liyuna dan mendekatkan tubuh mereka sedekat mungkin. Liyuna menaruh  tangannya di bahu Zion dan mendongakkan kepalanya keatas untuk melakukan eye-contact dengan Zion.


Zion juga melakukan hal yang sama. Ia menundukkan kepalanya, menatap lurus kedua mata biru Liyuna yang terlihat seperti berlian biru.



Detik itu juga, keduanya menjadi fokus utama di lantai dansa. Liyuna yang hampir tidak pernah berdansa di lagu pertama, kini berdansa dengan seseorang yang juga tak kalah mengejutkan.


Altzion Ravenray, putra sulung keluarga Ravenray yang digadang-gadang akan menjadi penerus selanjutnya. Di pergaulan kelas atas, Zion dikenal sebagai seseorang berhati dingin dan menjauhi wanita. Ia hampir tidak pernah bersosialisasi dengan seorang wanita di pesta dan hanya mau membicarakan bisnis dengan sesama pria.


Zion bukannya membenci wanita ataupun alergi dengan mereka namun Zion tidak suka bagaimana kebanyakan wanita mendekatinya hanya karena statusnya.


"Terima kasih atas tehnya waktu itu." Ucap Zion.


Liyuna terlihat terkejut mendengar Zion tiba-tiba mengucapkan terima kasih. Ia tidak ingat teh apa yang Zion maksud dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Empat tahun yang lalu Nona memberi secangkir teh pada saya."


Seperti bisa menebak apa yang sedang Liyuna pikirkan, Zion menjelaskan maksud dari perkataannya sebelumnya. Mendengar hal itu, Liyuna jadi teringat teh apa yang dia maksud.


Empat tahun yang lalu ketika Nyonya Almera meninggal dunia, Liyuna memberi secangkir teh pada Zion yang berdiri sendirian di depan makam Ibunya. Liyuna yang merasa iba pada Zion datang mendekatinya dan memberikan teh hangat yang seharusnya untuk dirinya sendiri.


"Ah, itu bukan hal besar."


Zion tanpa sadar tersenyum mendengar ucapan Liyuna dan wajah Liyuna seketika memerah melihat hal itu.


'Ah, dia juga bisa tersenyum.'


Selama ini Liyuna tidak pernah melihat Zion tersenyum. Walau mereka sering  bertemu di berbagai macam pesta, Zion selalu memasang muka datar tanpa ekspresi dan diselimuti aura yang mengatakan ia tidak mau di dekati.


Di dalam game pun, sepertinya Zion juga karakter yang sulit untuk tersenyum. Bahkan ketika sang heroine Yuriel menerima pernyataan cintanya, Zion sama sekali tidak tersenyum. Dia hanya berkata terima kasih telah menerimanya.


Jadi, ini merupakan hal baru nagi Liyuna. Melihat Zion tiba-tiba tersenyum, Liyuna tidak bisa mengendalikan perasaannya. Gadis normal sepertinya pasti akan terlena melihat pria tampan yang tersenyum.


"Mungkin bagi Nona itu bukan hal besar, namun bagi saya itu sesuatu yang sangat berarti."


Liyuna hanya terdiam, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa namun sepertinya Zion juga tidak mempermasalahkan reaksi Liyuna yang kurang. Saat ini dia hanya ingin berterima kasih pada Liyuna yang telah mengulurkan datangan padanya.


Meski tidak terlihat, Zion sebenarnya adalah orang yang tidak terlalu bisa mengekspresikan perasaannya dengan benar. Ketika pertama kali mendengar berita kematian Ibunya, ia tidak bisa mengendalikan diri. Ia kehilangan ketenangan sama seperti waktu itu. Ya, setiap dia kehilangan ketenangannya, hal buruk selalu terjadi. Karena itulah dia sering menelan perasannya dan tidak memperlihatkannya pada siapapun.


Hal itulah yang membuat orang-orang yang melihatnya berpikir bahwa dia adalah seseorang berhati dingin.


Dan ketika ia membutuhkan kebaikan dari orang lain, tidak ada yang mengetahuinya. Hanya Liyuna yang mendekati dan dan memberinya kebaikan itu. Zion merasa sangat berterima kasih. Berkat kebaikan Liyuna, dia bisa membereskan pikirannya yang mulai berkabut.


"Sepertinya Nona dan Allen berteman dengan baik."


Itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Zion membuat pernyataan yang sudah jelas jawabannya dan Liyuna sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab.


"Itu benar, kami berteman baik."


"Kalau begitu, Nona tahu bagaimana hubungan saya dengannya?"


"Tidak terlalu, kami hanya bisa menebaknya dari reaksi Allen."


Liyuna mengatakan hal yang jujur. Meski dia tahu kalau hubungan Allen dan Zion tidaklah baik namun semua itu ia ketahui melalui game. Pada kenyataannya dia tidak terlalu tahu seburuk apa hubungan mereka, ia hanya bisa mengira-ngira berdasarkan reaksi Allen setiap nama Zion disebut.


"Allen bukan tipe orang yang suka membicarakan masalah keluarganya." Lanjut Liyuna.


Bukan berarti Liyuna berusaha untuk membela Allen namun sebagai seseorang yang dekat dan berteman baik dengannya, Liyuna tidak ingin Allen disalah pahami lagi. Sudah cukup orang-orang yang tidak mengenalnya menilai Allen dengan buruk. Sebagai seseorang yang dekat dengannya, Liyuna ingin penilaian buruk yang diberikan pada Allen secara seenaknya berkurang.


"Nona benar. Meski ia sering berlaku kasar, anak itu tidak pernah menjelekkan keluarganya di depan umum."


"Aku rasa itu bukanlah hal baik untuk dikatakan oleh seorang kakak pada adiknya."


Zion terlihat sedikit terkejut melihat Liyuna yang bersikap agresif ketika menyangkut Allen. Detik itu juga, dia menyadari bahwa hubungan Allen dan Liyuna cukup baik hingga mampu membuatnya melindungi Allen.


"Itu bukan sesuatu yang bisa aku komentari."


Zion dan Liyuna berdansa mengikuti irama. Zion memutar tubuh Liyuna dan kembali memeluknya. Meski terlihat sangat sepele namun banyak tamu yang melihat keduanya dengan tatapan tertarik.


Melihat dua calon pewaris perusahaan terbesar di Elisien berdansa bersama membuat isi otak para tamu dipenuhi oleh teori gila.


Jika kedua keluarga paling berkuasa bersatu, apa yang akan terjadi pada kota Elisien?


Tentunya seluruh kota Elisien akan dilahap habis oleh kedua keluarga tersebut.


Sebuah pemandangan yang begitu langka, melihat dua anak muda berkedudukan paling tinggi saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.


"Apa Nona pernah mendengar tentang Cerberus?"


Mendengar sebuah nama sing disebut membuat Liyuna menjadi sedikit penasaran.


Ini pertama kalinya dia mendengar nama Cerberus dan sepertinya tidak ada nama tersebut di dalam game.


"Cerberus? Saya belum pernah mendengarnya."


Zion tidak menanggapi ucapan Liyuna, seolah-olah dia memutus topik pembicaraan mengenai Cerberus. Hal ini membuat Liyuna sedikit kesal karena Zion lah yang pertama kali menyeret nama Cerberus namun dia juga yang menghentikan pembicaraan ditengah jalan.


"Memangnya apa itu?"


"Bukan hal yang penting. Saya hanya sedikit tertarik dengan mitologi Yunani kuno."


Liyuna mengernyit tidak percaya namun dia membiarkan Zion berbicara sesukanya.


Setelah ini dia bisa mencari tahunya sendiri. Seseorang seperti Zion tidak mungkin menyebutkan sesuatu tanpa alasan.


'Ah ngomong-ngomong saat ini Zion seharusnya berumur...'


"Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi bolehlah saya tahu berapa umur Tuan Muda saat ini?"


"Saya sepuluh tahun lebih tua dari Allen."


'Jika sepuluh tahun lebih tua berarti benar dia saat ini berumur 26 tahun.'


'Tunggu dulu... jika dia berumur 26 tahun, itu berarti...'


Jika tidak salah, di dalam game Zion menjadi Presdir muda diumur 27 tahun. Namun saat ini Zion yang berumur 26 tahun tidak memiliki jabatan setinggi itu bahkan tidak ada tanda-tanda pengalihan jabatan dalam waktu dekat ini.


Hal ini membuat Liyuna kembali berpikir. Hanya dalam waktu satu tahun, Zion mampu merebut jabatan Presdir? Itu bukanlah hal yang mungkin terjadi begitu saja. Ada suatu hal yang Liyuna lewatkan namun dia tidak bisa mengingat apa itu.


Pergantian kedudukan yang begitu cepat bahkan tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya?


Liyuna telah melewatkan sesuatu namun seberapa keras pun dia berusaha mengingat, Liyuna tidak dapat menemukan apapun.


Karena terlalu fokus dengan pikirannya, Liyuna secara tidak sengaja menapak dengan sedikit tidak benar hingga membuatnya hampir terjatuh dari lantai.


Untungnya, Zion dengan sigap memeluk tubuh ramping Liyuna dan memeluknya mendekat. Liyuna sendiri juga refleks memeluk leher Zion.


"Maafkan aku."


"Sepertinya pikiran Nona sedang penuh dengan sesuatu."


"Maaf."


Beberapa menit kemudian, lagu dansa berakhir.


"Terima kasih telah berdansa dengan saya."


Setelah itu, Liyuna maupun Zion berpisah karena dansa sudah usai.


Ketika Liyuna hendak pergi dari lantai dansa, ia dihadang oleh seseorang. Liyuna hanya bisa melihat dada bidang orang tersebut dan setelan formal yang begitu familiar.


TBC


[A/N: Jangan lupa tinggalkan like/comment/vote✨]