Surviving As The Villainess

Surviving As The Villainess
Chapter 57 - Mimpi yang Terlihat Nyata



Yuriel tidak melanjutkan ucapannya. Dia yakin dengan apa yang barusan ia ketahui, Allen dan dia itu sama.


Yuriel berdiri dan meletakkan tangannya di meja, ia juga mendekatkan tubuhnya ke Allen, berusaha mengintimidasi balik. Tubuh keduanya sangat dekat namun keduanya memancarkan aura permusuhan.


"Orang seperti kau tidak berhak berkata seperti itu padaku. Bukan kah kau juga termasuk adik yang tidak tahu diri?"


Allen kini sudah memastikan satu hal yang selama ini membuatnya penasaran. Yuriel dan dirinya itu sama, mereka memiliki kesamaan.


Satu tahun yang lalu ketika Allen masih berada di Kanada, dia mengalami demam tinggi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. Melihat Allen yang terbaring lemah si tempat tidur, membuat Victor sangat khawatir. Ia terus menjenguk Allen setiap hari namun demamnya tak kunjung reda.


Allen saat itu berada di rumah sendiri. Ayahnya langsung pergi bekerja setelah memanggilkan dokter, sedangkan Ibu tirinya sudah kembali ke Elisien sejak beberapa tahun yang lalu. Victor merasa iba melihat Allen yang seperti ini, menurutnya Allen adalah anak yang malang. Meski memiliki banyak harta, ia tidak menerima kasih sayang yang semestinya di dapat anak seumuran mereka. Mungkin karena hal itulah yang membuat Allen memiliki sifat yang keras kepala karena tidak ada seorang pun yang memperingatkannya ketika ia melakukan sesuatu di luar batas. Jika dia berbuat masalah, semua akan segera selesai hanya dengan uang.


"Are you okay, boss?" Tanya Victor sembari berjalan mendekati tempat tidur Allen.


Setelah meminum obat dari dokter dan mendapat injeksi, wajah Allen sudah terlihat mulai membaik. Meski ia masih terlihat sangat kelelahan dan sedikit sulit untuk bernapas, itu lebih baik dari sebelumnya.


Pagi-pagi sekali, Victor mendapat telpon dari ayah Allen untuk menemaninya di rumah karena dia sedang sakit. Victor yang sudah terbiasa keluar-masuk dari rumah Allen tidak menolak, lagi pula hari ini adalah hari minggu, dia bisa bermain PS 5 milik Allen sembari menemaninya.


Namun Victor sangat terkejut ketika melihat keadaan Allen yang sangat buruk, dokter sendiri menyarankan kalau demam Allen tidak kunjung turun, dia harus langsung dibawa ke rumah sakit. Allen yang setengah sadar menolak dan meminta untuk dirawat di rumah saja, Eldo yang harus buru-buru pergi meminta tolong pada Victor untuk segera menelpon rumah sakit jika terjadi apa-apa pada Allen.


"Shut up, Vic!"


Allen membuka kedua matanya dan meminta Victor untuk diam sebentar karena kepalanya terasa sangat sakit sekali seperti habis di pukul oleh seseorang.


Allen memegangi kepalanya yang terasa sakit dan kembali mengingat-ingat apa yang semalam ia mimpikan. Ketika terbangun dari mimpi, Allen menangis sejadi-jadinya, dadanya begitu sesak hingga ia kesulitan untuk bernapas.


Tenggorokannya menjadi sangat serak karena terus-terusan menangis. Paginya ketika ia terbangun, tubuhnya masalah terserang demam tinggi.


"Aku akan mengambilkan air mineral."


Melihat Allen yang masih kesusahan untuk bergerak, Victor berinisiatif untuk mengambilkan air mineral di dapur. Sejak mengenal Allen, ini pertama kalinya dia jatuh sakit hingga tidak bisa bangun.


Victor merasa khawatir namun ia tidak bisa melakukan apapun selain membantu Allen supaya bebannya sedikit ringan dan dia bisa istirahat dengan tenang.


Setelah kembali ke kamar Allen, Victor melihat Allen sudah tidur lelap. Ia berusaha untuk tidak membangunkannya dan meletakkan air mineral yang ia ambil di atas meja.


Kembali lagi ke situasi Allen dan Yuriel. Keduanya masih mencoba untuk mendominasi satu sama lain, tidak ada yang mau kalah dalam pertarungan kali ini.


"Jadi begitu, ya. Kalau begitu, aku tidak perlu berususah-susah lagi. Kau menginginkan kakak ku? Kalau begitu, ayo kita bekerja sama."


Yuriel mengulurkan tangannya pada Allen namun ia hanya menatapnya dengan dingin. Allen tidak berniat untuk menyambut uluran tangan dari Yuriel karena dia tahu jika anak itu hanya akan membawa tragedi dalam hidupnya.


Meski Allen tidak menerima ajakannya, Yuriel tidak meras amarah sama sekali. Baginya, masih ada banyak waktu untuk meyakinkan Allen dan Yuriel yakin suatu hari nanti Allen akan menerimanya. Entah itu karena Liyuna ataupun Zion. Yuriel tahu seburuk apa hubungan Allen dan Zion dan dia mengetahui sesuatu yang bahkan tidak Allen ketahui.


***


Saat ini Liyuna berada di ruang kepala sekolah, beliau meminta Liyuna untuk duduk dan langsung mengutarakan keinginannya.


"Selamat atas pencapaian anda. Saya merasa senang Nona Liyuna bergabung dengan sekolah kami."


Liyuna mencoba memberitahu bahwa dirinya merasa tidak nyaman jika harus dipanggil dengan sopan oleh kepala sekolah.


Menyadari ketidaknyamanan Liyuna, kepala sekolah langsung meminta maaf.


"Maafkan saya yang tidak peka. Kalau begitu nak Liyuna, bapak sangat berharap nak Liyuna mau bergabung dengan Dewan Kesiswaan."


Liyuna terlihat berpikir sejenak. Ia tertarik dengan tawaran kepala sekolah karena dia belum pernah menjadi anggota OSIS di kehidupan sebelumnya. Meski dia anak yang berprestasi dan selalu mendapat peringkat pertama, dulu dia tidak pernah punya waktu untuk masuk organisasi. Dia terlalu sibuk mencari uang dan ikut part-time sana sini. Jadi, di kehidupan kali ini dia ingin mencoba untuk masuk organisasi.


"Baik, saya akan mencoba untuk mendaftar." Ucap Liyuna.


Kepala sekolah tersenyum puas mendengar jawaban Liyuna dan memberikan formulir pendaftaran padanya.


Setelah pembicaraan selesai, Liyuna langsung keluar dari ruangan dengan membawa formulir tersebut. Ia berniat untuk kembali ke kantin untuk memberitahu Yuriel dan yang lainnya kalau dia akan pergi ke ruang OSIS.


Sesampainya di kantin, dia hanya melihat Yuriel sendirian. Liyuna tidak melihat sosok Yvette maupun Allen dimana pun.


"Yuri, dimana yang lainnya?"


"Yvette ada janji dengan ketua klub teater, sedangkan Allen pergi entah kemana." Ucap Yuriel menjelaskan.


Yuriel menutupi kebenaran bahwa Allen pergi karena mereka baru saja beradu argumen dan saling mengintimidasi satu sama lain. Sampai mati pun, Yuriel tidak akan memberitahu Liyuna tentang kebenaran tersebut.


"Oh, begitu ya."


"Kepala sekolah bilang apa pada kakak?"


"Beliau memintaku untuk bergabung dengan OSIS."


"Wahh, kakak akan menjadi anggota OSIS?"


"Aku sedang mencoba untuk mendaftar. Setelah ini aku harus mengumpulkan formulir di ruang OSIS, Yuri mau ikut denganku?"


"Aku akan menunggu kakak di ruang musik."


"Baik lah kalau begitu. Nanti ku akan menyusul."


Liyuna dan Yuriel berpisah. Yuriel pergi ke ruang musik sedangkan Liyuna pergi ke ruang OSIS.


Alasan Yuriel tidak ikut dengan Liyuna adalah karena dia ingin memiliki waktu untuk menyendiri. Ada banyak hal yang harus dia pikirkan, setelah berbicara dengan Allen, Yuriel tahu bahwa dia harus merubah rencana. Allen adalah eksistensi yang bisa mengacaukan atau membuat rencananya berhasil.


Sebenarnya tidak hanya itu saja, ada eksistensi lain yang juga harus segera Yuriel dapatkan. Tidak peduli dia sama sepertinya atau tidak, yang pasti Yuriel harus bisa mendapatkannya. Hanya dia yang bisa Yuriel andalkan untuk tetap berada di samping Liyuna. Jika perlu, Yuriel akan menggunakan kelemahannya untuk mengikat leher orang tersebut.


Yuriel tidak suka jika dia tidak bisa mengendalikan seseorang, makanya dia akan melakukan segala cara untuk menggenggam tali yang ada di leher orang-orang agar patuh padanya.


TBC