
Malam ini cukup mengerikan. Nuansa rembulan yang abu dan Kepekatan malam yang mulai berkabut mendaki purnama itu bisa mengundang marabahaya apapun.
Suasana kota masih begitu ramai seakan tak pernah lelah walau mentari sudah tergantikan. Mereka tak bisa diam terus hilir-mudik dengan tempat-tempat wisata yang bertambah banyak.
Kiranya Wartel Park juga ikut dalam nominasi. Seorang wanita muda berkacamata itu tampak baru saja keluar dari Mall Center menenteng banyak Paper-bag di tangannya.
"Ini sangat menyenangkan." gumam wanita itu seraya berjalan berlonjak kaki kegirangan. Ia melihat keramaian di sekitarnya tetapi tak saling kenal.
Tujuannya sekarang adalah pulang kembali ke rumahnya. Ia harus segera mempersiapkan diri untuk besok karena malam ini sudah cukup memanjakan diri.
Seraya mengeratkan Mantel di tubuh kecilnya. Ia sudah memesan Taksi dan hanya tinggal menunggu di tepi jalan yang mulai sunyi.
Setelah beberapa lama. Ia berbinar melihat ada Mobil yang mendekat kesini tapi tak seperti Mobil Taksi pada umumnya di Negara ini.
"Maaf. Tapi, apa ini Taksi yang ku pesan?" tanyanya dengan ragu kala Mobil itu berhenti memperlihatkan sosok seorang pria yang tampan.
"Mau tumpangan?"
"A.. Kau.."
"Naiklah. Nona manis!" ucapan yang keluar dari bibir pria itu seakan menjadi bongkahan rasa malu di wajah wanita itu.
"A.. Baiklah!"
"Silahkan masuk!"
Membukakan pintu di sampingnya dari dalam. dengan malu-malu wanita itu melangkah memasuki Mobil. Semrawut merah di wajahnya begitu membuat suasana menjadi luar biasa.
"Siapa namamu. Sayang?"
"A.. N..Novena." jawabnya gugup memeluk beberapa Paper-bag itu dengan wajah tertunduk.
"Mau berkenalan denganku?"
"B..Boleh!"
Pria dengan kulit putih dan mata agak sipit dan bibir mungil ini terlihat begitu Maskulin dan rapi. Sodoran tangannya membuat Novena jantungan.
"Nicky!"
"N...Novena."
"Tanganmu sangat lembut, kau juga cantik." puji Nicky seraya melajukan mobil stabil melalui jalan kota yang gemerlap lampu malam ini.
Nicky melihat jika sosok muda ini tampak masih polos dan hanya menuruti keinginannya.
"Dimana Rumahmu. Noven?"
"A..aku tinggal di Repura dekat Gedung Hotel Gramdey."
"Benarkah? Aku juga tinggal disana." jawab Nicky membuat Novena bertambah malu. Keramahan Nicky yang bisa mengendalikan suasana membuat Novena rileks dan tak ada menaruh kecurigaan.
"Kau bekerja atau Kuliah?"
"Bekerja. Tapi, aku juga Kuliah paruh waktu."
"Ouh. Kau pekerja keras rupanya." puji Nicky membuat Novena semakin memerah. Nicky sang Psikologi itu menurunkan kaca jendela mobil membuat nuansa romantis.
"Malam ini sepertinya agak mendung."
"Yah. pasti dia tengah murung." jawab Nicky membuat Novena mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Karna bintang malam ini sudah ada bersamaku."
Seketika Novena benar-benar merasa terbang. Nicky yang tampan dan asik diajak bicara membuatnya tak lagi melihat kemana mereka sekarang.
Nicky hanya menyembunyikan seringaian liciknya kala Mobil ini sudah berbalik jalur menuju sebuah tempat yang bisa di katakan sebagai Pabrik penggilingan daging.
"K...Kita kita salah jalan. Nick!"
"Benarkah? Shitt.. Aku terlalu asik bersamamu sampai lupa jalan begini." umpat Nicky melihat suasana jalan sepi dan hanya ada Pabrik terbengkalai di depan sana.
Ia menghentikan Mobil tepat di dekat teras Bangunan tua gelap ini membuat Novena merinding.
"Nick!"
"Aku ingin buang air kecil." gumam Nicky tak tahan lagi hingga akhirnya ia keluar Mobil dan menghilang di kegelapan sana.
"Nickyy!!!" panggil Novena kala tak berani sendirian disini. Suara anjing liar meraung dari berbagai arah membuat bulu kuduknya merinding.
"Nick!! Apa kau sudah selesai?"
Tak ada jawaban apapun. Semilir angin semakin terasa dingin membuat Novena akhirnya memilih turun dari Mobil untuk mencari pria itu.
Tubuhnya mengigil takut melihat kegelapan yang hanya menelan lampu Mobil. Ia meninggalkan Paper-bagnya di dalam Mobil seraya melangkah mengitari Mobil.
"Nicky!! Kau.."
Tiba-tiba dua sosok tinggi besar berbadan kekar itu muncul diantara kegelapan langsung menyeret kedua lengan Novena kasar masuk ke dalam Pabrik.
"Tolong!!! Kau..kau siapaa??? Nickyy!!!"
Tak ada yang mendengar itu selain para anggota gelap yang menarik kasar tubuh mungil Novena masuk ke area berbahaya ini.
"Lepasss!!! Lepaskan aku!!"
Brugh..
Tubuh Novena di dorong ke sebuah ruangan dan sangat lembab dan amis. Suasana masih gelap tetapi, tiba-tiba ada cahaya yang menyala dari atas sana menunjukan seorang pria gagah yang tampak duduk di kursi tepat di hadapannya.
Mata Novena bergetar takut melihat ruangan yang tampak penuh dengan benda tajam karna ini memang Pabrik yang sudah tak beroperasi.
"K..Kau siapa?"
"Tuan!" para anggota mundur memilih berdiri di dekat pintu. Suasana berubah sangat kelam kala pria itu mulai menunjukan wajah dinginnya yang menarik nyawa Novena dalam.
"K..kau.."
"Dia baru saja selesai berbelanja." suara itu membuat Novena menoleh. Ternyata itu adalah Nicky yang datang bersama Castor.
"K..Kalian.."
"Maaf, Nona Manis. Kau tak beruntung kali ini." jawab Nicky memberi senyuman. Castor hanya setia dengan wajah datarnya menatap jijik Novena yang semakin memucat di tempat.
"K..Keluarkan aku.. Aku.. Aku mohon."
"Kau yang merusak nama baik ISTRIKU."
Duarrr..
Novena tercekat kuat. Keringat dingin itu keluar karna aura intimidasi dari seseorang yang sekarang tengah duduk bertopang kaki angkuh dihadapannya. Semua kegelapan itu seakan di gambarkan dari sosok mengerikan ini.
"A.. Aku.."
Melihat kebungkaman ini. Axton menatap Castor penuh isyarat hingga pria itu mengangguk pergi keluar sebentar. Tak la setelahnya, Novena di kejutkan dengan lemparan tubuh seorang wanita di sampingnya.
"Aaaaaa!!!" jeritan ketakutan itu melengking hebat melihat seorang wanita paruh bayah yang tampaknya masih hidup dengan keadaan wajah sudah menampakan tulang pipinya.
Tubuh Novena mengigil merapat ke dinding menatap pahatan mengerikan ini.
"T..tolong.. A..ku.."
"K..Kau hiks.. i..ini.. Aku..mohon." isak Novena sudsh sangat ketakutan.
"Dia adalah rekanmu. Wajahnya sudah di kikis membantu pengobatan luka itu. Sangat indah bukan?" tanya Castor dengan kalimat yang mengerikan.
"A..aku tak salah.. Aku.."
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"Dia.. Dia N..Nyonya besar di..di Keluarga yang..yang begitu ingin mengambil alih Klinik D..Dokter Kellen." gugup Novena dengan nafas terputus-putus. Ia tak mau melihat wanita yang sudah dikuliti hidup-hidup itu.
"Nyonya besar Keluarga siapa?"
"Aku..aku tak tahu. Aku bersumpah, dia terlihat kaya raya tetapi membenci Dokter Kellen. Aku..aku hanya di suruh olehnya. Hiks.. Aku..aku mohon lepaskan aku." isak Novena memohon ampun.
Axton terdiam sejenak. Sepertinya sekarang mereka tengah berurusan dengan orang yang berpengaruh di Negara ini.
"Katakan semua yang kau tahu!"
"A.. Itu.. Dia juga punya Klinik Kecantikan, dia bilang dia ingin Dokter Kellen bekerja untuknya tetapi.. Tetapi Dokter menolak, m..mungkin itu se..sebabnya. T..Tuan!"
Castor menatap Axton yang sepertinya sudah punya rencana untuk ini.
"Kurung mereka sampai besok!"
"Baik!"
Para anggota kembali menyeret dua wanita ini tetapi Novena memberontak. Ia berteriak minta di lepaskan membuat para anggota harus membuat dia pingsan dengan keadaan tak ramah.
Sekarang, tinggallah mereka bertiga yang tampak masih menikmati kesunyian.
"Apa ada Klinik yang tak jauh dari tempat istriku?"
"Ada. Ax! Tapi, Klinik itu sudah tutup semenjak Kellen membuka tempatnya. Itu punya Perusahaan Christofer." jelas Nicky sudah mencari semuanya. Namun, Castor ingat jika itu Perusahaan yang meminta janji temu dengan Kellen.
"Ax! Perusahaan itu yang menerima ajuan Kerja sama dari Klinik Kellen, mereka memiliki janji temu besok pagi."
"Besok pagi?" gumam Nicky agak heran. Pasalnya Perusahaan itu di pimpin oleh seorang Pria yang seumuran dengan mereka. Apa orang itu juga terlibat?
"Ax! Sekarang kita berada di Negara orang, ini bukan lagi Spanyol." imbuh Castor mengingatkan. Tetapi, bukan Axton namanya jika tak melakukan hal sesuka hati.
"Aku tak perduli." jawab Axton dingin lalu berdiri melangkah pergi keluar.
Castor menghela nafas mendapat tepukan bahu dari Nicky yang agak geli melihat raut wajah Castor.
"Kau seperti tak tahu Axton saja."
"Jika sampai dia membuat ulah lagi, penyamaran kita akan terbongkar. Kau tahu sendiri jika Klan selama ini di pimpin Johar dan pasti sudah merusak segala aturan Negara."
Nicky hanya menaikan bahu acuh. Jika Axton berkehendak, siapa yang bisa mencegahnya?
"Kita ini Mafia, Cas! Jangan terlalu suci."
"Kauu.."
Nicky berlari keluar kala Castor ingin meninjunya. Alhasil Castor hanya bisa mendesah kasar lalu ikut keluar.
Di depan sana. Axton tampak sibuk menelfon dan siapa lagi yang tengah mengomel.
"Kau kemana saja? kenapa tak pulang? Kau ke Club, ya?? Awas kau jangan datang ke rumahku lagi!!"
"Sejak kapan aku suka ke Club. Hm?" tanya Axton masuk ke Mobil yang tak jauh dari Mobil Nicky tadi.
"Lalu kemana? Kau sedang bersama siapa? Jangan-jangan kau keluar dengan wanita lain. Kau ini sangat menyebalkan!!"
"Tidak. Sayang! Aku bersama Castor dan Nicky."
"Hm. Pulang sekarang!"
Titahan itu sangat mutlak bagi Axton yang selalu mengutamakan suasana hati Bumil satu ini. Berjauhan saja sudah membuatnya sengsara dan jangan sampai dia marah dan minta berpisah, bisa-bisa Axton akan mengajak perang Dewa Zeus diatas sana.
"Kau ingin makan apa?"
"Pikir saja sendiri."
Jawab Kellen langsung mematikan sambungan. Axton menghela nafas dalam, memikirkan ini lebih berat dari pada menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Ada apa. Ax?"
Castor masuk ke mobil bersama Nicky yang tak mau memakai Mobil itu lagi. Ia enggan memakai barang bekas wanita itu.
"Istriku!"
"Kellen kenapa?" tanya Castor tetapi Nicky sangat paham apa yang Axton pikirkan.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Aku tahu dimana tempat enak mencari makanan."
"Hm."
Axton memejamkan matanya. Seketika sudut bibirnya terangkat menikmati masa-masa ini, Kellen jadi selalu mengandalkannya dan tak bisa jauh darinya.
Melihat senyum samar itu dari kaca spion. Castor merinding tak mau ikut-ikutan.
"Ax!"
"Hm."
"Martinez sudah ada di Negara ini." jawab Nicky yang tadi telah mendapat laporan jika Martinez datang bersama Miss Barbie untuk menyelesaikan urusannya.
"Apa kau mau berpura-pura di depannya. Ax?"
"Hm."
Nicky dan Castor saling pandang lalu menaikan bahunya tak bisa mengerti. Axton memang menjengkelkan.
"Hati-hati istrimu. Ax! Banyak yang akan mengincarnya."
"Ambil jika bisa."
"Cih. Kau ini seakan mau memerangi semua pria di dunia ini." umpat Nicky beralih memainkan ponselnya.
.....
Vote and Like Sayang..