My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Melarikan diri!



Para bawahan Nyonya Verena berkeliaran di sekitar Apartemen. Ntah kenapa mereka bisa datang kesini, apa mungkin wanita itu tahu jika mereka keluar dari Kediaman atau ada hal lain yang ingin di cari disini.


Castor yang mencoba memantau dari pintu terlihat gusar karna ini sudah larut malam. Akan sulit membawa Axton keluar kembali ke Kediaman.


"Kalian menginap saja."


"Bukan itu masalahnya." jawab Castor membuat Nicky terdiam beralih memandang Axton yang sedari tadi berdiam diri dengan pandangan kosongnya.


"Mereka masih di luar."


"Aku akan mengalihkan perhatiannya." lugas Nicky membuat rencana.


Mau tak mau itu memang harus di lakukan untuk menutupi semua ini. Namun, guratan cemas di wajah Castor bisa Nicky mengerti


"Tak usah cemas! Mereka tak akan mengenaliku."


"Kau yakin?" Castor mencoba meredakan kekhawatiran.


"Yah. Ini sudah lama."


Akhirnya Castor setuju memberi Nicky jalan melewati pintu. Pria bertubuh tinggi dengan wajah simetris itu meringsek membuka pintu dengan gaya yang tenang.


"Sorry.Mr!' sapa Nicky membuat wajah agak segan pada 3 pria tinggi berbadan kekar plus sangar ini.


"Ada apa?"


"Kalian mencari apa? Bukan aku mengganggu tapi kalian berdiri di depan pintu ruangan-ku. Apa ada masalah?"


Mereka saling pandang lalu mengangguk seperti memberi isyarat. Tentu Nicky yang seorang jiwa Psikolog itu tahu maksudnya.


"Tidak ada."


"Kalau begitu, apa bisa kalian pergi? istriku tak nyaman di dalam." ujar Nicky beralasan.


Mereka akhirnya melangkah pergi kembali ke arah Lift. Melihat itu Nicky tak seketika lega karna ia yakin bikan 3 orang itu saja. Jika mereka naik maka akan ada yang menjaga di bawah.


"Dia memang licik." umpat Nicky kembali masuk ke dalam Ruangannya.


"Bagaimana?"


"Mereka sudah turun!"


Jawab Nicky seraya menatap Axton yang terlihat merenung. Ada rasa kasihan di hatinya melihat pria ini selalu menjadi incaran empuk para musuh di luar sana ketika keadaan berbalik memburuk.


"Kenapa sedari tadi dia diam? Apa ada masalah?" bisik Castor cemas bersama Kellen yang berusaha mengajak Axton berkomunikasi.


"Biarkan saja. Dia sedang berusaha mencerna ucapanku."


"Apa tak masalah?" tanya Kellen beralih.


"Tidak. Jika dia sakit kepala, katakan untuk mencoba pelan. Walau itu akan sering terjadi."


Ucapan Nicky memang benar. Axton sering sakit kepala dan itu tak hanya pengaruh obat sialan itu tapi ia sudah mulai melihat kilatan ingatan lamanya.


"Ax! Mau minum?"


Axton menggeleng memilih memeluk Kellen yang terus memberinya kehangatan. Tangan lentik itu selalu menyangga keringat di keningnya.


"Kita pergi sekarang! tapi berpencar."


"Apa?" tanya Kellen agak syok.


"Aku akan turun pertama. Setelah itu kau bawa Axton tapi jangan sampai mereka curiga." jawab Castor tegas dan yakin.


Mau tak mau Kellen mengangguki itu karna tak ada pilihan lain.


"Ax! Pulang?"


"Hm."


Kellen membantu Axton berdiri dengan Castor yang sudah keluar lebih dulu.


"Hati-hati. Aku akan mengantar kalian."


"Apa tak masalah?"


"Lakukan dengan gesit." jawab Nicky beralih menyambar Jasnya yang ada di sofa.


Saat Castor sudah menghilang dari lantai ini. Barulah Nicky keluar memimpin jalan dengan Kellen yang menutupi wajah mereka dengan Topi yang di pakai.


"Kell!"


"Tak apa. Kita jalan-jalan." gumam Kellen menggenggam tangan Axton masuk ke dalam Lift.


Pintu Lift tertutup membawa mereka turun ke lantai dasar. Sekarang sudah pukul 12 malam dan pasti akan bertambah larut saat tiba di Kediaman.


"Tiba di lantai dasar. Kalian usahakan jangan terburu-buru. Itu akan di curigai."


"Aku mengerti."


Jawab Kellen memperbaiki Topi Hoodie Axton yang hanya diam.


Pintu Lift terbuka memperlihatkan pemandangan mewah di lantai bawah Apartemen.


Masih banyak yang beraktifitas disini bahkan tampak begitu sibuk.


"Itu mereka!"


"Mana?" tanya Kellen melihat ke seluruh sudut. Namun, ia segera mengeratkan genggamannya ke tangan Axton kala segerombolan pria kekar itu sudah berdiri di depan pintu kaca depan Apartemen.


"Kell!"


"Tenanglah. Berjalan seperti biasa." bisik Kellen mengiring Axton keluar Lift. Seperti saat masuk tadi, lagi-lagi mereka menjadi objek perhatian membuat Kellen di landa gugup.


Setiap gerak-gerik Axton dan Kellen seakan menjadi magnet menarik semua kefokusan mereka. Alhasil saat tiba di depan pintu, salah satu pria berbadan kekar itu menghadang jalan.


"Tunggu!!"


Kellen benar-benar gugup. Ia tetap menutupi wajahnya dengan Nicky yang maju untuk mengalihkan.


"Ada apa? Tuan!"


"Kau yang mengatakan jika Istrimu terganggu itu. Bukan?"


Nicky mengangguk seraya mengisyaratkan Kellen agar membawa Axton lewat pintu taman di samping.


Tentu Kellen mengerti menarik tangan Axton ke arah pintu itu.


"Kauu!!"


"Shitt. Apa dia tahu?"


Batin Kellen gugup. Pria itu mendekat ke arah Kellen yang berfikir cara lari dari sini bagaimana?


"Aku rasa aku kenal dengan postur tubuh pria itu."


"Dia suamiku!" jawab Kellen merubah suaranya agak rendah.


"Tuan! Itu.."


"Kau tahu kami ini siapa. Ha?" tanya pria itu dengan arogan pada Nicky yang terlihat mencari akal.


"Kalian dari Keluarga Miller!"


"Dan kau pasti tahu, apa akibatnya menyinggung kami?!"


Nicky mengangguk dengan wajah di buat pura-pura takut agar pria ini beralih padanya.


"Dimana istrimu itu? Ini bukan istrimu-kan?"


"Itu adikku, Tuan! Dia datang dengan suaminya karna Istriku tengah sakit." elak Nicky yang diangguki Kellen.


"Lumayan. Aku rasa kau perlu di beri pelajaran agar tak menghalangi pencarian kami lagi." desisnya mendorong bahu Kellen membuat wanita itu agak oleng.


"Tuan! jangan apa-apakan adikku!"


"Aku hanya mendorongnya. Kau marah? Berani kau padaku?" tantangnya membuat Nicky mengepal. Wanita itu benar-benar menggunakan nama keluarga Miller untuk menakuti semua orang.


"Bukan begitu. Tuan! aku hanya.."


"Cih. Kalau begitu, gantinya dengan adikmu!"


Ingin memeggang bahu Kellen namun seketika tangannya langsung di sambar oleh jemari kekar yang langsung meremasnya dengan kuat.


Gret..


"Kauu!!!"


Kellen terkejut kala Axton mencengkram tanpa ampun membuat pria itu meringis kala tangannya seakan mau patah.


Orang-orang di sekitar sini mulai berkerumun menyaksikan itu membuat sinyal ancaman bagi Axton.


Krekk...


Suara patahan jemarinya nyaring menghadirkan keramaian dan syok semua orang.


"Ax! Lepaskan itu." bisik Kellen tapi Axton tak perduli. Rahangnya mengetat dengan sorot mata membunuh tak di redakan.


"Kau memang ingin mencari mati. Ha????"


"Ada apa itu??" tanya para anggota lain di depan membuat Nicky menepuk bahu Kellen agar segera membawa Axton lari sebelum mereka tahu.


"Ax! Kita.. Kita pergi."


"M..Matii!!" geram Axton tak bisa menahan gejolak emosi kala Kellen di lecehkan begini. Ada rasa yang ia tahu sebagi bentuk ancaman yaitu ketidak nyamanan Kellen. Terbukti dengan tangan wanita ini berkeringat mendorong Axton bertindak.


"Tuan! Maafkan temanku. Dia.. Dia memang tempramen!"


"Cepat pukuli dia!!!" perintahnya membuat Kellen segera menarik lengan Axton berlari ke arah pintu samping.


Pria itu masih memberatkan langkah tetapi Kellen memelas agar lari saja. Alhasil ia menurut tak melepas genggamannya dari tangan lentik itu.


"Lari Ax!"


"Hm."


Axton menyimpan emosinya dengan mengikuti Kellen meloncati beberapa rerumputan taman. Mereka di kejar para bawahan Miller itu di kegelapan malam sekitar Apartemen.


"Ya Tuhan. kita harus kemana? Ax!"


Gumam Kellen mencari tempat bersembunyi. Ia keluar dari area Apartemen ke arah jalan yang cukup ramai di lalui beberapa pengendara.


Suara deru mobil itu membuat Axton membekap telinganya dengan satu tangan seraya terus mengikuti Kellen.


"Kell!"


"Cepat!! Kita harus bersembunyi." ucap Kellen mencari keramaian pejalan kaki. Ada beberapa yang berjalan di dekat Toko-Toko besar di kota ini tapi mereka kurang merapat untuk bisa di jadikan tameng.


"Kell!"


"Diam!! Aku tengah mencari cara." gumam Kellen pergi ke Toko Roti yang masih buka. Suasana cukup ramai membuat Kellen masuk dengan asal.


"Be'm Vindo. Mestre e senhorita." Sapa salah satu pelayan Toko menghampiri.


"Sorry! Can I go to the toilet?" ucap Kellen belagak ingin ke kamar kecil. Beberapa orang disini hanya menatap mereka dengan pandangan orang asing.


"Ouhh of course. Please!"


"Thank's."


Jawab Kellen segera menarik Axton ke arah yang di tunjukan Staf toko ini. Pria dengan balutan seragam Roti kue manis itu mengarahkan mereka ke Toilet Toko.


"Silahkan. Miss!"


"Terimakasih. Kau bisa bekerja lagi." segan Kellen ramah membuat pria muda itu mengangguk kembali bekerja.


Bangunan dengan dekorasi asri dan sangat ramai ini membuat Kellen yakin mereka tak akan sampai masuk ke area Toilet.


"Kell!"


"Ini semua karnamu. Kalau saja kau tak membuat ulah maka kita tak akan di kejar." kesal Kellen bersandar ke dinding Toilet.


"K..Kau marah?"


"Hm."


"K..Kell! D..dia p..peggang i..ini.." susah payah Axton mengatakan itu seraya memeggang bahu Kellen dengan sorot mata penuh amarah.


Walau bagaimanapun itu Kellen tak betul-betuk kesal. Ia mengerti kenapa Axton sampai seperti itu.


"Lain kali kau kendalikan emosimu. Hm?"


Axton mengangguk memainkan tali topi Sweater Kellen yang menjuntai.


"Mereka lari kemana?"


Degg..


Kellen tersentak kaget kala suara itu kembali datang. Sialnya ia sudah terjebak disini dan tak mungkin keluar dari jalur yang sudah di kelilingi.


"Aku ingin ke Toilet. berlari semalam ini membuat tubuhku pegal."


"Gawatt!! Mereka kesini."


Batin Kellen gelisah saat suara detakan sepatu itu mendekat. Ia ingin masuk ke dalam Toilet tapi bagaimana dengan Axton yang lebih tinggi darinya.


"Kell!"


"A..Ax! Aku..aku harus bagaimana?" panik Kellen mengigit bibir bawahnya memucat. Tentu hal itu tak lekang dari perhatian Axton yang suka dengan gerakan bibirnya.


"Ax! Kau.."


"B..Bibirmu!"


Gumam Axton menyentuhnya dengan jempol kekar itu. Kellen terdiam sejenak, kala langkah kaki pria itu semakin merapat Kellen segera membuka Sweaternya menyisakan Kaos biasa lalu membalikan tubuh Axton ke arah sudut ruangan.


"Kell!"


"Buka Hoodimu!"


"B..Buka.."


Tak ada banyak waktu lagi. Kellen lansung melepas Hoodie yang di pakai Axton hingga pria ini juga memakai baju kaos santainya.


"Kell! Kau..."


Cuppp..


Mata Axton spontan melebar saat Kellen menyambar bibirnya agresif. Ciuman yang sangat liar dengan tangan Kellen sengaja meremas rambut Axton agar terkesan panas dan lebih bergairah.


"Semoga dia tak mencurigai kami."


Batin Kellen terus mencumbu bibir Axton dengan keahliannya. Tanpa sadar Axton membalas dengan tangan beralih membelit pinggang Kellen yang merasa Axton ikut memperpanas tubuhnya.


"Kenapa tiba-tiba dia bisa berciuman begini? Dan..dan ini sangat berbahaya."


.......


...


Vote and Like Sayang..