
Langit di atas sana sudah berubah gelap. Suasana sekitar Rumah juga sudah remang dengan lampu-lampu Neon di pagar menyala terlihat indah dengan perpaduan lampu gantung di Taman mini di Rumah Kellen.
Suara jangkrik mulai bersenandung menyapa bulan yang bersinar cukup terang membantu para anggota Darkness yang tengah berjaga di sekitar Rumah.
"Ternyata tempat Nona sangat asri."
"Yah. Disini begitu hijau."
Puji mereka mengaggumi ingkungan rumah Kellen. suasana damai yang begitu menenagkan tetapi tak menyurutkan tingkat kewaspadaan mereka.
Dua anggota yang duduk di dekat taman karna tak mau terlalu mencolok terlihat oleh Aunty Ren yang turun dari rumahnya.
"Heey!!!" Aunty Ren menyapa dari seberang pagar membuat dua anggota itu berdiri siaga.
"Iya. Nyonya?"
"Kalian siapanya Kellen? Kenapa sedari siang begitu ramai di Rumahnya? Apa ada masalah?"
Keduanya saling pandang lalu mengangguk kecil dengan pikiran yang sama.
"Kami Staf Kliniknya Dokter. Hari ini ada pekerjaan mendadak"
"Ouuh.. Aku kira apa, sampaikan salamku pada Dokter Kellen. Ya?"
Keduanya mengangguk dengan pistol yang sudah siaga di belakang Jaketnya. Wajah ramah itu menutupi tambang bengis yang sebenarnya.
Melihat Aunty Ren sudah kembali ke rumah. Barulah mereka kembali duduk seakan terlihat bercanda mengelabui beberapa pejalan kaki yang melalui Rumah Kellen.
Tempat ini memang bisa di katakan seperti Kompleks perumahaan yang cukup Elit.
Setelah mengamati dengan teliti tempat ini, seketika mereka mencium aroma yang begitu harum dari Rumah.
"Ini sangat menggugah!"
"Sayangnya kita tak bisa masuk."
Gumamnya hanya bisa menelan ludah. Mereka tak mengira siapa yang sekarang tengah berkutat di dapur dengan tatapan intens ke arah Ponselnya.
Celemek warna merah itu menggantung di lehernya sedangkan kedua tangan kekar tengah mengaduk Sub di atas Kompor listrik yang menyala.
Pemandangan ini sangatlah langka dan luar biasa mengejutkan bagi Castor yang tengah termenung kosong melihat Axton sangat berniat untuk mencoba.
"Ax! Sudah berapa panci yang kau buang hanya demi memasak ini?!"
Axton hanya diam seakan menuli. Wajah tampan itu terlihat menyebalkan mencampur wortel, selada dan kentang yang sudah ia potong dadu tapi itu jauh dari kata indah.
"Aku rasa seperti ini cukup." gumam Axton memperkirakan penyedap rasa yang ia tambahkan ke dalam Panci. telinganya fokus mendengar Juru Masak yang berbicara di ponselnya seraya terus mengaduk bahan-bahan.
"Ax! Bereskan dapurnya, kau bisa saja membuat masalah lagi."
"Ambilkan aku bubuk Lada! "
"Ha?" gumam Castor tak paham. Ia mendekat ke arah Axton yang terlihat tak mengerti bahan-bahan yang di minta oleh orang di dalam ponsel itu.
"Apanya?"
"Dengar dia bicara apa? Bubuk LADA !"
Tekan Axton agar Castor memahami. Bukannya mengerti Castor juga tak tahu apa itu LADA dan terdengar asing di telinganya.
"Aku.."
"Cepatlah!!" geram Axton melihat subnya sudah mendidih. Aroma harum Seledry yang ia masukan memang sangat menggugah.
Sementara Castor. Ia mencari benda yang Axton katakan di atas lemari Dapur tetapi tak ada, ia juga membuka Kulkas dan hanya ada daging dan sayuran yang tak ia ketahui namanya.
"Ini?"
"Hm."
Axton menoleh dengan alis terangkat melihat Castor memeggang Paprika dan itu membuat Axton menggeram.
"Banci ini bilang bentuknya seperti bubuk. Ini berbeda. CASTOR!" emosi Axton membuang benda itu ke Wastafel.
"Lalu apa? Aku tak tahu."
"Cari!" titah Axton kembali mengulang bagian Vidio yang mengatakan jika taburkan Lada hitam secukupnya hanya menambah cita rasa alami.
"Lihat!! Lihat ini!" Axton menjeda Vidionya lalu memperjelas lada yang di maksud.
"Bubuk apa itu?"
"Kau sudah berlatih sepanjang tahun tapi juga MENYUSAHKAN?"
Castor diam dengan wajah malas. Ia berlatih bukan untuk memasak, tetapi pria tak berperasaan ini terlalu merendahkannya.
"Ax! tanya saja langsung pada Kellen apa susahnya dan.."
Axton mengacungkan pisau ke leher Castor yang terkejut menelan ludahnya.
"Cari!"
"B..baik."
Castor dengan gelagapan membuka kulkas lagi. Ia bergegas terus mencari tempat bumbu dapur tapi tak juga menemukannya. Ia mulai frustasi lalu melihat ada bubuk berwarna kehijauan dan binaran mata Castor memancar menembus dimensi.
"Ini dia!!"
"Berikan!"
Castor mengambil benda kotak ini lalu menyerahkannya ke tangan Axton.
"Kau cukup cerdas." puji Axton melihat bubuk itu. Tapi, seketika wajahnya mengeras kala ini tak sama.
"A..Ax! Itu.. Itu mungkin masih segar, aromanya juga harum."
"Dari mana kau tahu ini Lada?"
"Percayalah. Yang digunakan Banci putih itu hanya berbeda warna." ucap Castor penuh keyakinan.
Axton diam mempertimbangkannya. Pria Banci putih ini pasti tengah memperumit usahanya.
"Hm. Akan ku coba."
"Cobalah. Kellen pasti suka."
Akhirnya Axton mengikuti saran Castor menuangkan sebagian kecil bubuk hijau ini. Ia mematikan ponsel karna suara Pria bertopi putih dengan gaya seperti wanita itu membuatnya jijik.
"Ax! Kau juga membuat salad?"
"Hm."
"Sepertinya enak." gumam Castor melihat semangkuk Salad buah yang sudah di siapkan Axton diatas nampan di lengkapi susu rasa Strawberry kesukaan Kellen . Tak butuh waktu lama, akhirnya Sub itu matang dengan aroma yang agak berbeda.
"Mangkuk!"
"Dengan?" Castor bergegas ke arah lemari alat dapur.
"Sendok, garpu dan Sarbet!"
Castor mengambil semuanya lalu memberikannya pada Axton yang dengan hati-hati menuangkan Sub panas ini kedalam Mangkuk bening yang Castor sediakan. ia menatapnya kembali di atas Nampan lalu menatap sempurna hasil kerja kerasnya.
"Kau memang pejuang hebat." gumam Castor bangga.
"Hm."
"Bersihkan dulu dapurnya karna.."
Kalimat Castor terhenti kala Axton sudah melempar Celemek yang ia lepas ke arahnya.
"A..Ax! Kau.."
"Bersihkan!"
"Tapi..."
Axton hanya melenggang pergi meninggalkan Castor dengan tatapan sungguh berapi-api. Wajah datar tanpa bersalah Axton membuatnya sering tertindas.
"Shittt! Lagi dan lagi." umpat Castor melempar Celemek ke atas Wastafel.
Namun. Castor terdiam kala melihat ada Tuan Benet yang tampak melihat dari luar area dapur.
"Kau tenang saja. Aku tak seperti MENANTUMU!" tekan Castor membereskan dapur yang sudah seperti kapal pecah. Sampah sayuran dimana-mana dan peralatan dapur yang sudah terhempas ke Wastafel.
Tuan Benet hanya diam. Sedari tadi ia melihat Axton yang tampak sangat berusaha memasak walau terlihat jelas jika dia bukan pria yang pandai atau sekedar mengerti.
"Sebaiknya kau pertimbangkan. Dia pria yang bisa jadi apapun untuk putrimu." imbuh Castor lagi seraya mengelap kompor.
Tuan Benet hanya diam lalu pergi ke arah tangga dimana tadi Axton menaiki benda ini. sesampainya di atas, Tuan Benet melihat pintu kamar Kellen agak terbuka lalu ia mendekat berdiri di sana.
"Sayang!"
"Bangunlah!"
Kellen tak menjawab membuat Axton segera menarik pelan selimut yang menggulung tubuh istirnya. Merasakan gangguan ini Kellen yang tengah ngantuk berat tentu sangat kesal.
"Emm.. Aku mau tiduuur!!"
"Bangun!" ucap Axton mencubit pipi mulus Kellen gemas hingga mata amber ini terbuka malas.
"Hmm?"
"Makan. Sayang!"
Kellen terdiam mendengar kalimat lembut Axton yang terdengar penuh kasih. Ntah kenapa ia masih merasa malu dengan panggilan ini.
"Nanti sambung tidurmu. Makanlah dulu!"
"Emm.. Kenapa kau begitu romantis?" tanya Kellen menaikan alisnya menatap Axton yang terlihat berfikir.
"Apa seperti ini Romantis?"
"Menurutmu?" tanya Kellen tapi Axton terlihat kebingungan. Ini hanyalah inisiatifnya karna Kellen tak mau makan. Apa itu romantis?
"Aku rasa biasa saja."
"Hm. Terserah kau mau mengatakan apa." gumam Kellen malas melirik Nampan yang tampaknya menggiurkan.
Melihat Kellen yang tak merespon atau menjahuinya seperti tadi. Axton langsung bersiap memeluk wanita itu tapi..
"Axtooon!!" Kellen mendorong bahu Axton hingga pria itu terperanjat segera menjauh. tatapan tajam Axton terlihat berjaga dan mengerti.
"Maaf, aku kira kau.."
"Disitu saja."
Axton mengangguk memberi jarak pada Kellen. Ia merapat ke dinding kamar memperhatikan wanita itu mengambil nampan.
"Hati-hati."
"Daddy yang masak?" tanya Kellen memangku Nampan itu melihat ada Salad, Susu dan Sub yang sedikit aneh.
"Tak biasanya Daddy membuat Sub model begini."
"A... Itu.. Aku.."
Axton agak kaku mengatakan jika ia yang memasak. Pasti Kellen akan menertawakannya.
Melihat respon kaku Axton, Kellen langsung membekap mulutnya tak percaya.
"K..Kauu..."
"Kalau tak enak tak usah di makan." jawab Axton tanpa exspresi. Ia masih terlihat canggung mengakuinya.
Antara percaya atau tidak. Kellen merasa benar-benar syok, tetapi seketika matanya menyipit kala menduga sesuatu dan Axton tahu itu.
"Tak ada yang menyuruhku memasak!"
"Benarkah? Tapi, aku rasa ini Buku resep Nicky."
Axton menggeleng serius dan sangat menganggap ini begitu mempengaruhi hidupnya.
"Tidak."
"Ada kemajuan." gumam Kellen mulai mengambil sendok lalu dengan agak ngeri mengambil kuahnya dan mulai meniupnya.
Axton benar-benar menunggu tanggapan Kellen yang mulai mencicipinya dan..
"Hoeekmm!!"
"Kell!" panik Axton melihat Kellen ingin muntah membekap mulutnya. Dengan cepat Kellen mengambil serbet di dekat nampan lalu mengelap mulutnya.
"Kau..kau baik-baik saja?"
"I..ini.."
"Minum cepat!" gelisah Axton ingin mendekat tapi ia tahan. Kellen menegguk segelas susu itu lalu menatap Axton yang terlihat cemas.
"Kau baik-baik saja?"
"Emm.. Itu.. Kau campurkan bubuk mind ke dalam kuah Subnya?"
"Mind? Tapi.. Bukankah itu Lada Hitam?"
Seketika Kellen segera bersandar ke kepala ranjang dengan wajah lesu dan lidah masih terasa aneh.
"Ini bubuk Mind. Sayang! Bukan lada hitam."
"Tapi. Castor.."
Kalimat Axton terhenti dengan sorot mata berubah membunuh dan raut wajah kelam yang begitu mengerikan. Deru nafas Axton seakan ingin mengoyak sesuatu.
"Sialaan!!" umpat Axton langsung pergi ke arah pintu. Tuan Benet segera bersembunyi membiarkan Axton keluar dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
Kala Axton sudah menghilang di ambang tangga. Tuan Benet segera melihat ke dalam. Tatapannya di hadirkan oleh wajah geli Kellen yang mengaduk-aduk Sub itu.
"Cih. Dia sudah mulai bisa bersikap manis." gumam Kellen senyam-senyum sendiri. Ia dengan wajah senang mencicipi Salad yang rasanya tidaklah buruk. Ia suka dan lahap memakannya.
Sesekali Kellen terkekeh melihat potongan buah yang begitu tak beraturan dan menggelikan baginya.
"Ax! Ingin rasanya aku mengigit pipimu."
"Apa kau senang?"
Degg..
Kellen tersentak kala suara Tuan Benet sudah masuk ke dalam kamar berkumandang.
Garpu di tangan Kellen terlepas dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah sang ayah. Ada rasa bersalah di hati Kellen yang membuat kepala wanita itu tertunduk.
"D..Dad!"
Tuan Benet hanya diam berhenti di dekat ranjang. wajahnya masih terlihat tak bersahabat seperti sebelumnya.
"Kau terlihat senang!"
"D..Dad.. Kellen.."
"Apa dia lebih membahagiakanmu dari pada aku?"
Seketika Kellen tak lagi bisa menahan rasa sesak di dadanya. Tak pernah Tuan Benet berkata seperti itu dan sangat melukainya.
"D..Dad! Ke..Kellen minta maaf." isak tertahan Kellen dengan air mata kembali turun. terlihat jelas ia tengah menyesal dan sakit hati.
"Untuk?"
"K..Kellen salah. Kellen.."
"Apa yang terjadi?" tanya Tuan Benet. Tadi Axton ingin bicara dengannya tapi, dalam keadaan emosi Tuan Benet tak membuka diri alhasil Axton memberikan waktu beberapa saat.
"D..Dad! Kellen sangat mencintai Axton, dia..dia pria yang baik, dia pria yang bertanggung jawab. Dan.."
Kalimat Kellen terhenti kala ia berat hati mengatakan ini. Ia takut Tuan Benet bertambah kecewa.
"Dan apa?"
"K..Kellen sudah menikah dengannya!"
Tuan Benet kembali di buat syok dan itu menarik Kellen untuk segera meraih lengan Tuan Benet dengan wajah berlinang air mata.
"Dad! Kami menikah karna paksaan dari Mommy Axton, kala itu Axton sakit dan dia hanya mau denganku, aku..aku tak pernah berniat untuk menyakiti Daddy tapi.. Tapi Axton pria yang baik, Dad! Dia.. Dia bisa saja meninggalkanku karna dia sudah sembuh tapi, tapi dia tak melakukan itu dan Kellen sangat mencintainya." jelas Kellen dengan tatapan sungguh-sungguh dengan rasa cinta yang menggebu-gebu pada Axton.
Tatapan Tuan Benet masih datar dan tak terlihat akan memahami. Sungguh Kellen tak mau begini.
"D..Dad!"
"Lanjutkan makanmu!"
Tuan Benet melangkah pergi membuat Kellen mencengkram selimutnya. tak tahu lagi harus bagaimana dan apa yang akan di lakukan Axton?
Tentu Axton tak benar-benar pergi. Ia menyadari jika Tuan Benet sedari tadi mengawasinya, dan Axton tak semudah itu di untit.
"Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan putrimu." gumam Axton melihat kepergian Tuan Benet dari dekat dinding. Wajah dingin dengan tatapan ambisius itu sangat tak terkalahkan.
Jika di depan Kellen ia bertindak manis tetapi jangan harap akan melihat ini di depan orang lain.
...
Vote and Like Sayang..