
Mobil-Mobil mereka sudah melesat maju ke tempat dimana tadi Nicky memberi sinyal. Suasana sepi dan sunyi itu menghantarkan pada keterkejutan anggota yang sudah lebih dulu tiba atas kondisi jalan.
Castor menghentikan mobilnya lalu bergegas keluar bersama Axton yang memperhatikan daerah sekitarnya.
"Sepertinya sudah terjadi perkelahian disini." gumam para anggota penyidik yang melihat ada bekas Ban Mobil yang sepertinya mengerem mendadak.
Kondisi aspal juga agak rusak di tepian yang sepertinya di hantam benda keras. Belum lagi ada darah yang bercecer di aspal yang masih basah.
"Tuan! darah ini masih basah dan kemungkinan Tuan Nicky belum di bawa jauh."
"Cepat cari dia!!" titah Castor sudah kelut. sekarang musuh benar-benar tak lagi menunggu, ini sudah keterlaluan.
Sementara Axton. Ia hanya diam melihat semua kondisi jalan yang memperjelas apa yang telah terjadi.
"Ax! Kita tak bisa menunggu, Nicky tak terlalu bisa beladiri. Dia yang paling lemah dalam segi perlindungan dari kita bertiga."
"Dan sepertinya mereka memang menunggu saat kalian berpisah begini. Tuan." Timpal salah satu anggota yang tengah menunggu perintah lanjutan.
Separuh anggota disini sudah di kerahkan mencari keberadaan Nicky dan mereka menunggu apa yang akan di lakukan selanjutnya.
"Benar. Nicky itu termasuk lalai, dia bisa saja melakukan hal yang nekat dari kita. Ax!"
"Hm."
Gumam Axton beralih melihat pantai yang tak jauh dari jalan ini. Ia bisa memandang hamparan biru lautan yang sekarang tengah dalam masa tenang.
Melihat kebungkaman Axton. Castor jadi terdiam belum mengerti apa rencana Axton selanjutnya.
"Ax!"
"Terkadang butuh pengorbanan mendapatkan sesuatu yang lebih besar." gumam Axton dengan raut wajah tenang yang misterius.
Mereka saling pandang tak mengerti. Pemikiran Tuannya selalu sulit di baca dan tak akan bisa di tebak.
"Maksudmu? Kau mau mengorbankan. Nicky?" tanya Castor tak mengerti.
Axton menghela nafas halus. Netra elangnya melihat ada jarum suntik yang tak jauh dari sini dan kemungkinan besar Nicky telah di lumpuhkan.
"Ax! Aku bertanya padamu, kau jangan selalu membuatku cemas."
"Berbuatlah hal yang seharusnya terjadi. Itu yang mereka mau." ucap Axton menatap Castor yang termenung diam. kalau sudah begini, Axton pasti punya sesuatu yang akan di lakukan.
"Jadi, maksudmu kau membiarkan Nicky disana."
"Jangan terburu-buru. biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Dan aku.."
Axton menjeda kalimatnya sejenak. Ia menatap Castor penuh ketegasan dan tentu Castor mengerti.
"Aku mengerti. Serahkan padaku."
"Hm."
Axton kembali masuk ke mobil. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengaktifkan semua sinyal yang Nicky berikan.
Sementara Castor. Ia tengah berbicara dengan para anggota yang mengangguki hal itu lalu melangkah berpencar pergi ke tujuan masing-masing.
"Ax! Hubungkan Program milikmu dengan milik Nicky. Aku akan mengaktifkan suaranya."
"Hm."
Dalam beberapa detik saja. Ponsel Axton sudah memperlihatkan kemana arah Nicky di bawa sekarang.
Tugas Castor adalah menyambungkan koneksi mereka agar bisa mendengar dimana dan apa yang terlah terjadi sekarang.
"Para anggota sudah terhubung ke Earphone milikmu. Kau bisa memakainya!"
"Jangan arahkan anggota ke tujuan inti. Buat mereka mencari ke beberapa tempat!" titah Axton mengotak-atik ponselnya seraya memakai alat komunikasi itu.
Castor masuk ke dalam mobil dengan cepat memakai alat yang sama lalu memantau Jam tangan yang terus menunjukan arah lokasi yang berhubungan dengan ponsel Axton.
"Sepertinya sinyal di sana buruk."
"Ini akan sedikit kasar." gumam Axton memaksa Programnya untuk masuk. dari pantauan lokasi, terlihat mereka membawa Nicky ke arah pelabuhan yang jauh.
"Ax! sebentar lagi akan tersambung, kau bersiap dan aku akan membawa sedikit brutal."
"Hm."
Castor menyalakan mesin Mobil lalu bergerak melaju menyusuri aspal yang berdebu asap karna Ban mobil mereka.
.........
Mobil-mobil hitam pekat berkabut itu melaju cepat menapaki aspal yang bergeser panas karnanya. Satu mobil berwarna Silver tengah di jaga dengan sangat ketat menuju Tambang gas bumi yang berlawanan arah dengan semua jalur yang akan di perkirakan semua orang nanti.
"Mereka pasti tengah bergerak ke arah yang salah." gumam seorang pria berkepala plontos yang tengah mengendalikan Mobil Silver ini.
"Yah. Sangat lamban."
"Mereka tak tahu jika Tuan kita lebih cerdas." ejek dua manusia di kursi depan itu terbahak membayangkan anggota Darkness pasti tengah mencari keberadaan salah satu petingginya.
Sementara sosok yang tengah duduk di kursi belakang dengan tubuh setengah melumpuh bersandar masih sadar dunia ini bagaimana.
"Lihat! dia pasti sedari tadi sudah bergetar ketakutan."
Ejek salah satunya menoleh ke arah Nicky yang hanya diam duduk santai dengan wajah tak menyimpan rasa takut apapun.
Bahkan. Senyum remehnya keluar membuat dua pria itu saling pandang.
"Kau memang punya nyali besar."
"Kau tak mengenal lawanmu dengan baik." desis Nicky menggeleng miris. Tubuhnya memang tak bisa di gerakan karna obat sialan itu tapi ini tak masalah.
"Kacamata yang menyandang harapanmu itu sudah di bawa oleh mobil lain untuk mengalihkan perhatian mereka. Tuan kami begitu cerdik sampai tahu jika kalian sangat pandai membuat cadangan."
"Nyatanya. Kami begitu terkenal." kelakar Nicky puas melihat wajah emosi para anggota musuh yang sekarang ingin membawanya ke Tambang tua yang sudah terbengkalai.
Apa disini memang markasnya? Ia harus menyelidiki itu.
"Kau akan menyesal mengatakan itu semua."
"Ntahlah. Aku rasa tidak."
"Kauu.."
Pria yang tengah menyetir mencengkal tangan rekannya yang ingin menarik kerah jaket Nicky dengan wajah meradang. Nicky hanya melempar senyum remeh yang menyebalkan.
"Dia hanya ingin memancing mu. Tetap tenang dan fokus pada rencana."
"Selamat kau kali ini." umpatnya kembali ke posisi.
Mata penasaran Nicky melihat ada tato tengkorak di punggung tangannya dan tato ini adalah lambang Klan Darkness.
"Apa mungkin Masimo juga menggunakan nama Klan untuk menyerang?! Pria itu benar-benar licik."
Batin Nicky jijik. Dengan menggunakan nama Klan Dark maka Masimo bisa membuat kekacauan apapun dan imbasnya akan terkena pada mereka. Hal ini bisa menjadi senjata mematikan nantinya.
Setelah beberapa lama. Mereka sampai di Gerbang besi yang telah di buka oleh beberapa anggota yang sama. Dan kali ini tak memakai stelan jas melainkan hanya jaket hitam dan kaos biasa.
"Apa sudah siap?"
"Sepertinya sudah."
Nicky tak mengerti ada sebenarnya. Untuk apa membawanya ke tempat ini dan tak mungkin jika tempat adalah Markas Masimo.
Dreett..
Ponsel salah satu anggota musuh berdering dan Nicky memasang telinga dengan baik.
"Tuan!"
"Bawa dia masuk."
"Kami sudah sampai."
Suara itu samar-samar terdengar. Apalagi suara Mobil di belakang mengganggu Nicky untuk melakukan penelitian.
"Siall! Menyebalkan."
Batinnya mengumpat kala pria itu selesai bicara. Mobil ini berhenti dengan beberapa anggota yang mendekat mengacungkan senjata untuk berjaga.
"Berhenti memberi senyuman gila mu."
"Aku akan selalu tersenyum untuk kematian mu." jawab Nicky pasrah di bopong keluar.
Ia menatap sekeliling tempat dimana banyak Tangki yang besar sudah berkarat di tumbuhi lumut. Ada sebuah Gedung yang terbengkalai dan juga rusak menampung banyak anggota musuh yang tengah mengacungkan senjata ke arahnya juga.
"Mereka lebih banyak dari yang aku kira."
Batin Nicky melihat banyak sekali manusia disini. Ia tak pernah menduga jika anggota Masimo akan sebanyak ini bahkan sepertinya lebih terlatih dari miliknya.
"Kau mulai takut. Bukan?"
"Boleh aku tertawa?" tanya Nicky langsung mendapat pukulan di rahangnya.
"Jaga bicaramu."
"Sampai kapan kau mau menyembunyikan Tuan tikusmu itu. Hm?" desis Nicky meludahkan darah di mulutnya ke wajah pria itu.
"Kauuu!!"
Satu tembakan meluncur membuat pria itu yang seketika tumbang dan mengejutkan Nicky yang oleng di sangga anggota lain.
Tembakan itu tepat di bagian ulu hati dan tak bisa dielakan dari kematian.
"T..Tuaaan!!"
Mereka semua segera menunduk membuat Nicky menatap ke arah atas Gedung. Matanya menyeringit melihat seseorang berjubah hitam dengan Topeng Macan itu berdiri dengan sangat tegap.
"Apa dia Masimo?"
.....
Vote and Like Sayang..