
Jemari lentik itu saling meremas dengan pergerakan gelisah tepat di dekat ranjang kecil ini. Mata embernya menuai rasa bersalah pada sosok pria yang sudah tak sadarkan diri setelah di beri suntikan obat penenang medis oleh Castor yang memanggil Dokter Rubby wanita berkulit eksotis manis itu.
Axton tadi sempat lepas kendali sampai mendorong Kellen untuk kesekian kalinya dengan niat samar-samar menjauhi wanita itu tapi ia malah melukainya.
"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja?"
"Apa dia ini pemakai?" tanya Dokter Rubby kala melihat kecanduan Axton pada obat terlarang itu sangat tinggi.
Efek dari terlambat memakainya lagi maka akan seperti ini. Wajah pucat pasih dan bibir bergetar dengan keringat dingin bersimbah keluar.
Axton merasa tubuhnya sangat dingin padahal jelas jika mereka merasakan panas di sekujur raga kekar ini.
"Dia memang pemakai, tapi kenapa separah ini?" tanya Kellen merasa kasihan. Semua selimut tebal di kamarnya sudah ia bungkuskan ke tubuh Axton yang masih mengigil.
"Memang buruk. Apalagi dia terbiasa memakai itu untuk menenagkan diri dan sepertinya ini sudah di pakai semenjak 2 tahunan."
"D..Dua tahun?"
Castor mengangguki pertanyaan Kellen yang terlihat terdiam. Selama ini Axton masih bisa di rantai dan di kurung namun beberapa tahun terakhir Axton mulai tak bisa di kendalikan hingga memaksa mereka memberi obat terlarang ini.
"T..tapi kenapa tubuhnya masih.."
"Itu karna dia selalu beraktifitas di lorong." jawab Castor dengan helaan nafas halus. Kalau bukan Castor yang selalu memaksa Axton makan dengan cara kasar tapi itu ia lakukan agar Axton tetap hidup dan kuat.
"Dia memang susah makan tapi semenjak kau datang dia mulai makan dengan teratur." imbuh Castoe nanar.
Kellen diam membisu. Ada rasa bersalah di hatinya kala tadi ia meninggalkan Axton sendirian disana. Ia tak mengira Axton akan kambuh dengan pengaruh obat sialan itu.
"Sebaiknya cepat bawa dia ke tempat Rehabilitasi. Itu lebih baik karna bisa saja jika tak mendapatkan benda itu dia akan melukai siapapun termasuk kalian."
"Itu masalahnya Dok! I..itu.." gumam Kellen tak tahu lagi caranya.
Rehabilitasi membutuhkan waktu yang lama. Ia tak punya cukup peluang dan waktu untuk melakukan itu.
"Aku tak bisa membantu banyak. Yang jelas, jangan dulu menganggu ketenagannya. untuk sekarang tetap temani dia tapi pantau terus, jangan biarkan dia melukai dirinya sendiri."
"Aku mengerti." jawab Kellen mengangguk.
Dokter Rubby meninggalkan beberapa Tablet obat pereda pusing dan mengigil. Ia tadi sudah memberi suntikan penenang hingga Axton masih terlelap dengan tubuh mengigil.
"Jika dia bangun. Berikan obat ini, usahakan selalu tepat waktu memberinya."
"Baik. Terimamasih."
Dokter Rubby berdiri lalu pamit ke luar pintu. Castor menatap sejenak wajah pucat Tuannya dengan helaan nafas berat.
"Aku akan mengantar Dokter itu."
"Hm."
Castor melangkah pergi menutup pintu dengan pelan membiarkan Kellen yang tenggelam dalam rasa hening ini.
"Ax!" gumam Kellen beralih duduk di tepi ranjang. Tangannya perlahan beralih menyentuh puncak kepala Axton yang masih merspatkan selimut ke tubuhnya.
"Maaf." gumam Kellen mengusap kening beekeringat ini. Panas menjalar di tangannya tapi Axton malah mengigil. Sungguh ia kasihan melihat penderitaan pria ini yang harus menahan hasrat memakai itu.
"Seandainya aku tak meninggalkanmu. Kau...kau tak akan begini. Maafkan aku."
"K..Kell!"
Kellen tersentak kala racauan Axton menyebut namanya. Mata pria ini masih terpejam rapat dengan deru nafas bergetar menahan desiran beku di tubuhnya.
"Kell!!"
"Hm? Kau kedinginan?" bisik Kellen mengusap keringat berlebihan ini. Jelas jika Axton sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Kell!"
"Aku akan terus mencari cara agar kau bebas dari semua ini. Kau bantu aku melakukannya. Ya?"
Lirih Kellen seraya merapikan selimut Axton. Namun saat tangannya menaikan benda itu spontan tangan kekar Axton memeggang tangan Kellen yang terhenyak saat tubuhnya di tarik ke depan.
"Ax!"
Kellen beralih ke hadapan Axton tepat di pinggir ranjang kecil ini. Tak ada jarak sama sekali membuat Kellen menahan nafas.
"Kell!"
"K..kau.."
Axton tak sadar. Ia hanya mengigau tapi jelas jika di alam bawah sadarnya ia tahu Kellen ada di dekatnya. Aroma tubuh wanita ini sangat khas dan menarik jiwa seseorang.
"Kell!"
Wajah pria ini berusaha mencari tempat yang hangat hingga mau tak mau Kellen memasrahkan diri masuk ke dalam selimut seraya menarik kepala Axton untuk terbenam ke ceruk lehernya.
"Kell!"
"Tidurlah. Kau sudah lelah. Bukan?!" gumam Kellen mengecup puncak kepala Axton yang mengeratkan pelukan hangat ini.
Rasa dingin itu memang masih terasa tapi karna keberadaan Kellen yang mengalihkan Axton dan pikiran pria itu agar tenang dan rileks dalam tidurnya.
"Besok kau pasti akan lemah. tapi.."
Kellen berhenti bicara kala melihat memar di lengannya. Ini adalah tanda benturan yang tadi mengenai lengan Kellen ke dinding pemberhentian kebun.
"Aku tahu kau tak berniat melukaiku. Kau tak perlu marah pada dirimu sendiri, tak perlu sampai mengigit lenganmu juga, Ax!" gumam Kellen menyibak sedikit selimut melihat gigitan Axton ke lengannya sendiri tadi.
Masih lebam dan basah membuat Kellen hati-hati untuk menyentuhnya.
"Kau itu aneh. tapi aku lebih nyaman dengan pria sepertimu." sambung Kellen mengusap pelan luka itu.
Belaian lembutnya sangatlah berirama kasih sayang. Ntah mungkin Kellen sudah biasa merawat Tuan Benet di kala sakit atau memang wanita ini punya jiwa kelembutan di sisi lainnya.
"Kell!" igauan serak kembali melantun.
"Ada apa?"
"Kell!"
"Kau bangun?" tanya Kellen tapi nyatanya Axton masih tertidur. Mata pria ini terpejam rapat dengan helaan nafas berujung stabil.
"Night!" gumam Kellen akhirnya ikut menyusul mimpi Axton. Keduanya masih berpelukan dengan rasa hangat terus menjalar di tubuh Axton yang semakin merapatkan tubuh keduanya.
Kellen yang sudah terbiasa. Hanya bisa diam mengusap kepala Axton meredakan pusing pria itu. Kellen berharap, jika besok Axton akan baik-baik saja.
.......
Amarah pria dengan jambang hampir memutih itu seketika memuncak saat membayangkan bagaimana tadi sosok sialan sampah Keluarga Miller membunuh pelayan yang ia suruh dengan satu cekikan.
Jelas jika tadi Axton tengah marah dan tak stabil hingga dengan kejam membunuhnya tepat di hadapan kedua matanya.
"Siall!! Dia tak bisa ku dekati dengan mudah." umpat Groel mengumpat. Untung saja tadi saat ia lari Axton tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya hingga tak sempat mengejar Groel pergi.
"Seharusnya dia sudah memakannya. Dia.."
"Kau gagal?"
Groel berbalik hingga ia segera menunduk kala melihat Martinez yang baru pulang. Wajah oriontal pria ini menyimpan emosi pada Groel yang tetap patuh.
"Tuan!"
"Gagal?"
"Tapi.."
"Cih.. Memang tak berguna." umpat Martinez kasar. Ia kira saat ia pulang maka akan di sambut dengan kematian Axton tapi nyatanya pria itu hanya terkena Sakau.
"Tuan! Saya akan berusaha terus membunuhnya, anda tenang saja."
"Sampai kapan? Ha!" tanya Martinez sudah geram. Ia sangat muak dengan pria itu dan selalu mengutuknya.
"Tuan! Saya berjanji, saya akan terus melakukan apapun agar bisa menjalankan rencana ini."
"Terserah padamu." jawab Martinez duduk di sofa dekat ruang santai ini. Ia sudah malas mengurusi Axton karna wanita kutukan itu akan datang kesini besok.
"Saya akan melakukan yang terbaik. Besok akan saya buktikan. Tuan!"
"Hm. Bila perlu langsung bunuh dia di tempat."
Titah Martinez memijat pelipisnya pusing. Ia sudah berat dengan masalah pertunagannya di tambah Axton sialan itu. Cihh, menyebalkan.
Keduanya bicara sampai tak menyadari jika sedari tadi Castor mendengarnya. Kepalan tangannya menguat kala Groel mengatakan jika sudah menjalankan rencana pembunuhan ini.
"Bajingan!"
......
Vote and Like Sayang..