
Sesuai dengan ucapan Kellen tadi siang. Malam ini mereka sudah bertolak dari Kediaman menuju Restoran yang di janjikan Miss Barbie.
Kellen menegaskan pada Martinez untuk keluar di waktu yang tepat. Ia ingin berbincang kecil dulu agar memahami kondisi wanita itu.
Karena rencana halus Kellen, akhirnya Martinez menyanggupi hal itu. Ia memilih untuk membuat persiapan sebelum berbicara.
Tak perlu waktu lama untuk pergi ke Restoran yang tampaknya tak begitu ramai dan terlihat dipenuhi lampu neon yang cantik mengelilinginya.
Pemandangan indah tempat ini patut untuk di kagumi apalagi letaknya sangat strategis dan sangat bersih.
"Sayang!"
"Hm." jawab Axton enggan untuk melepas belitan tangannya ke pinggang Kellen yang malam ini terlihat semakin cantik saja.
Kellen memakai Dress coklat selutut dengan atasan tanpa lengan tetapi ada kerah yang menjadi model di leher jenjangnya. Mantel hangat ini ia gunakan menutupi tubuhnya apalagi rambut indah itu tengah di gulung keatas menyisakan untaian ikal yang manis.
"Kau jaga Baby disini. Aku mau masuk ke dalam."
"Aku mau menemanimu."
"Ax! Kita sudah bicarakan ini saat di kamar tadi, ya?" tekan Kellen menatap tajam Axton. Akhirnya mau tak mau ia melepas belitannya seraya mengambil alih Baby San dari atas pangkuan Kellen.
"Hm."
"Aku pergi! Jangan aneh-aneh kalian berdua." ancam Kellen menyipitkan matanya lalu memberikan kecupan ke pipi gembul Baby San yang terlihat tak suka di paha kokoh Daddynya.
"Baby! Jangan nakal. Hm?"
"Mymymy!"
"Hanya sebentar. Sayang!" jawab Kellen lalu mengecup kilas rahang Axton dan barulah ia keluar dari Mobil.
Castor yang tengah duduk di kursi kemudi segera keluar melihat Kellen yang menggeleng tak perlu di dampingi.
"Tunggu saja disini. Awasi mereka berdua, Cas!"
"Baiklah." jawab Castor kembali masuk ke mobil. ia melirik ke arah spion dan seketika bibirnya menipis melihat kedua pasang mata ayah dan anak itu bagai laser membidik gerak-gerik Kellen dari dalam Mobil.
"Kellen memang sangat cantik malam ini. Padahal dia hanya ke Restoran." ujar Castor memanas-manasi Axton yang menendang kursi kemudinya.
Melihat Kellen sudah masuk ke dalam Restoran. Axton segera melirik ke samping dimana Mobil Martinez tepat terparkir di dekat Mobil mereka. Pria itu tampak gugup beberapa kali melihat penampilannya di kaca spion sampai akhirnya ia melihat Axton.
"Apa aku sudah tampan?" tanya Martinez meminta pendapat Axton. Seperti biasa Axton hanya menatapnya datar lalu kembali melihat kedepan seakan tak terjadi apapun.
Melihat itu Martinez mengumpat. Bisa-bisanya ia bertanya pada Robot Hidup perbucinan Kellen itu.
Sementara di dalam sana. Kellen tengah digiring masuk oleh para Pelayan Resto ke arah Meja khusus yang dibatasi untuk para pengunjung penting.
Beberapa orang menatap Kellen dengan heran. Mereka seperti tak asing dengan pahatan cantik ini.
"Disini. Nona!"
"Terimakasih." jawab Kellen masuk ke sebuah ruangan yang tampak sangat nyaman dan hangat.
Tubuhnya mematung melihat Miss Barbie yang langsung berdiri kala melihatnya sudah sampai.
"Kell!"
"Barbie!"
Miss Barbie segera memeluk Kellen yang ikut membalasnya. Disini tak ada Thomas dan sepertinya Miss Barbie memang ingin membicarakan sesuatu.
"Apa kabarmu?"
"Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku lihat kau semakin cantik." puji Kellen yang diiring duduk di kursi meja makan oleh Miss Barbie yang tersenyum kecil.
"Tidak. Itu pantas diucapkan padamu, beberapa bulan tak bertemu nyatanya sekarang kau sangat cantik dan seksi."
"Apanya? Aku biasa saja." malu Kellen menutupi dada sekangnya dengan Mantel yang ia eratkan.
Melihat itu Miss Barbie tersenyum menggeleng saja akan sikap merendah Kellen yang tak pernah pudar.
"Kau sudah melahirkan. Dimana ponakanku?"
"Bersama Daddynya." jawab Kellen menatap hidangan makan malam ini. Ia terdiam sejenak begitu juga Miss Barbie yang tak tahu ingin memulai dari mana.
"Ayo makan. Aku memesan camilan kesukaanmu."
"Apa yang terjadi?" tanya Kellen menghentikan tangan Miss Barbie yang tadinya ingin mengambil piring di dekatnya.
Seketika tatapannya berubah sendu tetapi masih berusaha tetap baik-baik saja.
"A..aku.."
"Katakan! Bukankah kita ini teman?" tanya Kellen memeggang bahu Miss Barbie yang terdiam memejamkan matanya.
Ia kembali duduk dengan tenang mengambil sikap yang baik-baik saja.
"Bukankah kau sangat mencintai Martinez? Apa cintamu sudah habis untuknya?"
"Aku..aku tak tahu." jawab Miss Barbie gagu dan memang sulit menjabarkan situasi yang sedari dulu membuatnya mundur.
"Ada apa? Jangan seperti ini. Kau bisa sakit dan terluka."
"Kau tahu.."
Miss Barbie menjeda ucapannya. Ia tampak berat mengatakan hal ini.
"Aku memang masih mencintai Martin. Bahkan, aku sangat mencintainya."
"Lalu.. Lalu kenapa kau melakukan ini? Dia sangat terpuruk karnamu. Barbie!".
Ucapan Kellen spontan membuat Miss Barbie menatap terkejut. Pandangan yang begitu cemas sekaligus tak percaya.
"M..Martin.."
"Yah. Semenjak kau pergi dia sudah banyak berubah. Selalu menanyakan tentangmu dan bahkan, saat pertama kita bertemu malam itu dia tiba-tiba menghilang dan pulang dengan kondisi mabuk. Keadaanya sangat menyedihkan setelah beberapa hari mengetahui kau sudah bertunagan. Barbie!" jelas Kellen menggenggam tangan Miss Barbie yang berkaca-kaca. Tak bisa ia bayangkan bagaimana kondisi hidupnya sekarang.
"A..aku.."
"Apa yang terjadi?" tanya Kellen mengusap punggung Miss Barbie yang tampak ingin menangis. Mata wanita ini sudah mengembun menampung cairan bening itu.
"Daddy! Dia.. Dia tahu jika Martinez itu hanya ingin mempermainkanku. Saat aku ada di Rumahmu hari itu, dia sudah menelfonku untuk segera kembali. Kell"
"Lalu. Apa yang terjadi?"
Miss Barbie mengusap tetesan air mata yang mulai merembes keluar. Ia takut dan sangat cemas kala itu karna Daddynya mengancam akan menyakiti Martinez.
"Daddy.. Daddy ingin membunuh Martinez jika aku masih tetap bersamanya. Aku..aku takut jika itu terjadi, kau..kau tahu sendiri Martinez pria yang ceroboh. Kell." jelas Miss Barbie menunduk.
Kellen paham akan respon Keluarga Miss Barbie yang pasti marah karna permainan kotor Nyonya Verena dulu. Apalagi Martinez juga seorang pemain wanita, ayah mana yang tak akan mencemaskan putrinya jika begitu.
"Aku..aku berusaha untuk menuruti permintaan keluargaku. Mereka sangat marah pada Martin bahkan, Daddy dengan cepat menjodohkan aku dengan Rekan kerjanya. Dan itu.. Thomas."
"Aku paham maksud Keluargamu. Dia ingin yang terbaik untuk Putrinya." gumam Kellen mendengarkan semuanya. Ini memang salah Martinez yang terlambat menyadari perasaanya.
"Dan.. Dan beberapa hari lagi aku akan menikah. Kell!"
"Menikah?" tanya Kellen agak ragu. Miss Barbie mengangguk beberapa kali mengusap air matanya agar tetap tenang.
Ia tersenyum tipis seraya berusaha tetap baik-baik saja. Ia sudah ikhlas dan tak ingin menuruti kemauannya lagi.
"Yah. A..aku akan menikah, dan.. kau harus ..d..datang. Hm?" suara bergetar dan parau.
"Barbie! Aku.."
"Tidak. Hanya kau yang bisa menguatkanku. Kell. Aku.."
Kellen segera merengkuh bahu Miss Barbie kedalam pelukannya. Ia tak bisa membayangkan jika menikah dengan orang yang tak di cintai. Walau ia dan Axton juga sama tapi Kellen saat itu tak mencintai orang lain.
"Doakan aku semoga aku bisa bahagia seperti kau dan Axton."
"Pasti! Kau harus bahagia. Sudah cukup menderita terus-menerus." bisik Kellen mengerti.
Miss Barbie mengambil sesuatu di dalam Tasnya. Itu undangan spesial yang beredar di Media tadi pagi.
"Ini untukmu!"
Miss Barbie tersenyum kecil mendengar ledekan Kellen yang begitu manis. Sebenarnya tak hanya itu, ia hanya ingin melepaskan perasan di hatinya sebelum memulai lembaran baru dengan orang lain.
"Dan.. Sampaikan terimakasihku pada Martin! Aku.. Aku juga.."
"Kau mengundangnya?" tanya Kellen kala melihat Miss Barbie memeggang undangan yang satunya.
"A..apa aku terlihat jahat?"
"Tidak. Dia juga pantas hadir, selama ini dia menyia-nyiakanmu. Dia pantas mendapatkan ini." jawab Kellen mengutarakan kekesalannya.
Miss Barbie hanya tersenyum pelit. Mungkin semua orang menganggapnya bodoh menyukai pria seperti Martinez tetapi ia tak tahu kenapa pendekatan yang dilakukan Martinez selama ini bisa membuatnya senyaman itu walau hanya sebuah kepalsuan.
"Aku tak apa. Tolong kau berikan ini padanya."
"Tidak. Kau yang harus memberikannya." jawab Kellen menolak undangan yang satunya. Miss Barbie terdiam lalu menggeleng tak bisa melakukan itu.
"Kell! Aku mohon. Aku.."
"Kau ingin mengakhiri perasaanmu. Maka berikan ini padanya, kau harus benar-benar memastikan jika tak ada lagi tempat untuk Martin. Dan.. "
"Aku tak bisa." sela Miss Barbie dengan penuh permohonan. Jika bertemu secara langsung, yang ada dia akan semakin terluka.
"Kau harus memilih, sekarang Martinez sudah menyadari perasaanya. Pikirkan lagi yang terbaik untukmu. Ingat itu."
"Tapi.."
"Ayo ikut aku!" ajak Kellen menarik lengan Miss Barbie untuk berdiri.
"Kau.."
"Aku ingin kau bahagia. Tentukan pilihanmu." tegas Kellen membuat Miss Barbie segera menyambar tasnya seraya berjalan keluar sesuai tarikan Kellen membelah para pengunjung Resto yang heran.
Mereka saling berbisik melihat ada Model Kenamaan di Restoran ini.
"Kell! Kau membawaku kemana?"
"Keluar. Ayo!"
Jawan Kellen membawa Miss Barbie keluar dari Restoran. Alhasil mereka kembali ke dekat Mobil dengan Castor yang segera turun dari Mobil.
"Kell!"
"Disini. Aku pergi dulu, ya?"
"Kau.."
Kellen sudah meninggalkannya disini dengan Castor yang membuka pintu Mobil untuk Kellen masuk kembali.
"Kellen! Kellen kau.."
"Ingat ucapanku tadi!!" jawab Kellen sedikit mengeraskan suaranya. Castor kembali masuk ke Mobil seraya memundurkan baja mewah ini untuk pergi ke tempat lain.
Melihat itu Miss Barbie langsung kebingungan. Ia melirik kiri kanan ditengah gemerlapnya lampu.
"Maksudnya apa ini?" gumamnya berjalan kedekat Mobilnya yang tak jauh dari sini.
Saat ia mencari kunci mobil di dalam tas. Tiba-tiba saja tubuhnya di peluk erat dan hangat dari belakang.
"Kauuu..."
"Aku sangat merindukanmu."
Duaarr...
Seakan disambar petir Miss Barbie terkejut hebat dengan tubuh meneggang sempurna. Matanya melebar dengan nafas tersendat begitu saja.
Hembusan nafas yang hangat dan aroma parfum ini membuat Miss Barbie mematung dengan jantung menggila didalam sana.
Begitu juga Martinez. Ia menikmati momen ini memanfaatkan kebungkaman Miss Barbie belum memberontak.
"Maafkan aku."
Seketika air matanya kembali jatuh mendengar kalimat itu keluar di sela telinganya. Rasanya begitu sesak dan ingin segera pergi dari sini.
"Maafkan aku."
"L..lepas!!"
"Maaf!"
"Lepaaas!!!" geram Miss Barbie memberontak ingin lepas tapi Martinez benar-benar membuatnya tak bisa bergerak. Tubuhnya benar-benar dikunci rapat.
"Barbie!"
"Lepaaas!! Kau tak mendengarku. Ha??" bentak Miss Barbie sekuat tenaga mendorong perut Martinez menjauh tapi tetap juga sama.
Alhasil ia langsung membekap wajahnya dengan isakan yang tak lagi tertahan.
"L..lepas. Hiks! Lepaskan aku."
"Tidak akan. Aku tak mau kehilanganmu lagi." jawab Martinez sangat trauma dan tak ingin itu terjadi lagi.
"L..lepaskan aku. Aku.."
"Katakan padaku. Apa yang terjadi?" tanya Martinez masih dengan posisi yang sama. Miss Barbie mengigit bibir bawahnya mencoba mengendalikan perasaanya.
"A..aku akan menikah."
"Aku tak bertanya itu. Jawab, kenapa kau pergi? Apa karna sikapku dulu atau.."
"Semuanya sudah usai." sela Miss Barbie menurunkan tangannya mencengkram lengan Martinez kuat.
"T..tak ada lagi alasan dan.."
"Apa kau tak mencintaiku lagi?"
Pertanyaan itu benar-benar terasa menikam baginya. Ia mengumpulkan keberanian untuk segera membuat keputusan.
"T..tidak."
"Katakan dengan tegas. Kau tak mencintaiku lagi?"
"Tidak!! Aku..aku tak mencintaimu. Sekarang pergilah dari hidupku!!! Pergiii!!" teriak Miss Barbie sekuat-kuatnya sampai orang-orang yang ada di dalam Restoran saling pandang.
Martinez terdiam segera membalikan tubuh Miss Barbie berhadapan dengannya. Ia beralih menangkup pipi wanita ini menatap mata yang tengah berair.
"Katakan sekali lagi!"
"A..aku.."
Bibir Miss Barbie bergetar tak bisa mengatakannya. Ia tiba-tiba tak sanggup kala melihat wajah dan mata Martinez yang begitu hangat padanya.
"A..aku.."
"Aku sangat mencintaimu. Aku mohon berikan satu kali lagi kesempatan untukku. Sayang!" pinta Martinez sangat serius. Tak pernah ia terlihat seserius ini dan begitu tulus tanpa kebohongan.
"K..kenapa b..baru sekarang?" lirih Miss Barbie menggeleng dengan kepala tertunduk.
"K..kenapa?"
"Aku tahu ini terlambat. Tetapi, aku bersumpah atas nama Mommyku aku tak akan mempermainkan-mu lagi. Aku .."
Sebelum ucapan Martinez selesai. Tiba-tiba saja segerombolan pria berbadan kekar dengan stelan jas rapi itu datang menarik Jas Martinez kebelakang lalu memukuli pria itu.
"Martiiiin!!" teriak Miss Barbie terkejut hebat melihat Martinez di tendang dan dikroyok seperti ini.
"Tolong!!! Tolooong!!!"
"Nona!" salah satunya menarik Miss Barbie pergi tetapi yang lain masib memukuli Martinez sekuat tenaga mereka.
.....
Vote and Like Sayang..