
Mata mereka melebar kala seulet tubuh itu meloncat ke dalam Bangkar beriring dengan terkaman dari seseorang Beruang ganas yang langsung menyabetkan cakaran brutalnya tepat di bagian perut wanita itu.
"Aaax!!" Jeritan Kellen jatuh tersungkur ke dalam tepat di kaki Axton yang menatap nanar darah berceceran di salju putih ini.
Mereka sangat syok sekaligus tak menyangka kalau Kellen akan meloncat ke dalam beriringan dengan serangan dari hewan buas itu.
Posisi Axton yang tengah berhadapan dengan hewan itu tak cukup bisa untuk menghentikan Kellen yang membuatnya sangat terkejut.
"A..Ax! Kau..kau tak apa?" tanya Kellen masih seakan tak perduli padahal darah itu sudah membanjiri kaos yang ia pakai.
Ntah apa yang sekarang Kellen pikirkan mereka tak akan pernah melupakan masa ini. suhu dingin es yang membeku selalu bisa di kalahkan oleh aura kelap yang sekarang tengah menjalar di kaki mereka.
Sangat tak bisa di tepis. Tatapan dingin Axton menjadi objek perhatian, mereka mundur dari dekat bangkar karna aura intimidasi itu tak bisa di tahan lebih lama.
"Menjauh-lah. Perasaanku tak begitu baik."
Gumam beberapa dari mereka tak mau mendekat. Apalagi untuk sekedar menatap kesana keberaniannya ciut.
Vatco yang merupakan pria berwajah cacat itu merasa ini tak akan baik-baik saja.
"Bawa wanita itu ke dalam!"
"Tapi..."
"Cepat bawa dia!" titahnya lagi mengantisipasi keadaan yang di luar kendali.
Karna tak punya pilihan lain. Mereka mendekat ke arah Bangkar dengan mata berjaga-jaga jika beruang asli dan aura beruang ini bisa saja menerkam mereka hidup-hidup.
"Cepat bawa!!!"
"Baiiik!"
Mereka meloncat masuk kedalam ingin mendekati Kellen tapi nyatanya. Axton sudah lebih dulu mengangkat wanita itu dalam rengkuhan tangan kekarnya.
Saat tubuh kekar Axton berdiri dan saat itulah beruang itu mundur dengan mata berubah melebar tak seganas yang terlihat tadinya.
"Kau lanjutkan saja ini. Kami akan mengurusnya."
Axton tak menjawab. Wajah dinginnya yang begitu beku tak mampu mereka bantah.
Ingin sekali Axton mengoyak binatang buas satu ini tapi sekarang Kellen tengah terluka. Ia memilih menahan emosinya sampai saat yang belum bisa di pastikan.
"Kami yang akan membawanya! Kalian lanjutkan pertarunganmu atau Tuan Johar akan melakukan hal yang membuat kau menyesal." desis Mereka pada Axton yang berusaha menahan diri.
Castor yang tampak baru sampai kesini. Seketika terkejut melihat keadaan Kellen bagaimana. Bukan itu saja, tatapan membunuh Axton padanya sudah lebih dulu menikam jantung Castor.
"Ke..Kellen!!"
Panik Castor mendekat ke bangkar. Axton tengah tak perduli, ia keluar dari kurungan ini seraya menggendong Kellen ringan untuk masuk ke arah pintu.
Tetapi. Ntah apa yang terjadi para anggota Johar itu menembakan sesuatu ke beruang yang tadi diam sekarang mulai tampak terpengaruh.
"Kalian!!!"
"Ini perintah. Tuan!" jawab mereka kala Vatco terkejut.
Mereka menepi seakan membiarkan hewan itu keluar dari pintu Bangkar yang di buka.
"A..Axton!"
Kellen meringis kala pinggangnya di remas kuat oleh Axton yang sekarang tengah memanas.
"Aku akan menangani ini. Kau pergilah bawa Kellen kedalam."
"T..tapi dia belakangmu." gugup Kellen pias melihat beruang itu sudah berlari ke arah sini.
Castor tak punya pilihan lain. Ia menyambar besi yang ada di samping tiang lalu menghadang hewan itu dengan pergerakan yang lumayan.
"Castoor!!!!"
"Biarkan dia mati."
Degg..
Kellen terkejut dengan suara kelam Axton yang tampak sudah tak bisa menahan rasa marahnya. Ia tak suka hal seperti ini.
"A..Ax!"
Axton menuli. Ia melangkah ke dalam membiarkan Castor melawannya sendirian.
Pria itu terlihat sangat kesulitan karna ada sesuatu yang membuat binatang liar ini bertambah kuat dan tak bisa di kendalikan.
"Kembalikan dia kedalam Bangkar!!!"
"Kami tak bisa. Tuan sudah mengatakan harus seperti ini."
Jawab mereka tak mau ikut campur. Vatco sungguh tak bisa diam saja. Ia langsung mendekati Castor yang berusaha menghindari cakaran Beruang itu.
"Dia sudah di pengaruhi obat. Kau tak akan bisa melawannya sendirian."
"Ini salahku." gumam Castor melirik Axton yang tampak membawa Kellen kedalam. Pasti Axton sangat murka padanya dan sudah tak perduli.
Vatco yang melihat itu segera mendorong Castor keluar arena membuat pria itu terkejut.
"Apa yang kau lakukan. Ha??" geram Castor pada pria paruh baya ini.
"Susul temanmu. Dia pasti membutuhkan peralatan obat."
"Kau..."
"Susul dia!!!"
Suara kerasnya keluar karna Beruang ini semakin tak bisa di kendalikan. ia tak akan bertahan lama jika begini.
Sementara di dalam sana tak jauh dari pintu keluar itu. Kellen tak bisa berkata-kata kala Axton mengoyak pinggiran baju kaosnya untuk menghentikan pendarahan di bagian perut dekat pinggang itu.
"Aku sudah bilang kau jangan keluar. Kau memang ingin mati. Ha?" geram Axton sudah kehilangan kendalinya.
Kellen hanya diam dengan mata ember nanar memandang wajah Axton yang tak lagi bisa ia kenal apa ini benar atau tidak?
"K..Kau..."
Grett...
Axton mencengkram kedua pipi Kellen yang mengigil meremas lengan kekar Axton yang tampak berubah.
"DIAM." geramnya penuh penekanan. Axton tak sadar jika semua ini benar-benar mengejutkan Kellen yang merasa sesak sekaligus terluka.
"K..Kau.. "
"Axtoon!!"
Castor datang tampak terengah karna berlari dari luar sesuai desakan Vatco tadi. Ia tampak merasa bersalah pada Kellen yang terluka karna kecerobohannya.
"Axton! Aku..aku minta maaf, aku tak sadar jika.."
Bughhh..
Castor terhantam ke dinding kala tinjuan panas Axton sudah melayang ke rahangnya. Bagaimana tidak? Axton sudah berusaha menahan diri untuk tak meluapkan rasa panas ini tapi melihat darah di telapak tangannya ia tak bisa menepis rasa itu.
"Aku menyuruh kau menjaganya. BUKAN?" sarkas Axton berdiri tegap dengan kedua tangan terkepal.
Castor sadar jika ia memang salah. Ia akui itu dan Axton pantas menghukumnya.
"Maafkan aku."
"Tak di terima." desis Axton ingin melakukan sesuatu yang lebih parah lagi tapi nyatanya Beruang yang tadi melawan Vatco sendirian sudah berlari masuk ke arah sini.
"Menjauh dari sanaa!!!!" teriakan Vatco melempar besi yang tadi ia dapatkan dari Castor ke arah beruang itu.
Namun. Sekilat kemudian besi itu sudah ada di genggaman kokoh Axton yang melepaskan dendam kusumatnya pada binatang sialan ini.
"Axton! Kau..."
Castor terdiam hebat kala Axton hanya diam berdiri di tempat tak bergeming membelakangi Kellen yang masih menatap kosong punggung kekar Axton di hadapannya.
"Cepat bantu dia!!!"
Teriakan Vatco ingin menembak Beruang lapar itu tapi sayangnya ia lebih dulu di buat tak percaya akan apa yang Axton lakukan.
"D..Dia..."
Mata Kellen melebar dengan jantung seakan mau melompat keluar. Darah kental menjiprat lantai dengan suara geraman yang masih terdengar menakutkan.
Bagaimana tidak? Dengan jelas Kellen melihat besi itu menembus tubuh besar Beruang ini dengan sangat dalam. Bahkan, tanpa terlihat menekan Axton bisa membuat besi itu semakin menusuk jantung sang Binatang.
"K..Kau.."
Kellen tak sempat bicara dan akhirnya ia tak sadarkan diri di tempat. Mereka semua masih termenung kosong melihat itu tetapi Axton sudah mengurung mereka dalam rasa takut dari kekuasaannya.
"Aku benar bukan?!"
"Dia?"
Batin Castor melihat wanita berambut pendek keriting itu muncul di belakang sana. Ini sangat berbahaya jika mereka tahu dan melaporkannya pada Johar.
"Kau sama sekali tak SAKIT!!"
Axton diam dengan tangan dialiri darah amis ini mencabut kembali besi itu hingga Beruang ini tumbang dalam keadaan leher hampir putus keatas.
"Kau pasti punya rencana untuk melawan Tuan kami!!! Benarkan??" imbuhnya membentak dengan pistol di arahkan ke punggung Axton.
"Seringaian itu?"
Vatco tersentak melihat wajah iblis Axton yang sepertinya sudah tak perduli lagi akan drama singkat ini.
Mereka semua di buat merinding jika salah bicara maka besi itu akan berpindah tempat ke kerongkongannya.
"Kau pasti punya rencana untuk..."
"Axtooonn!!!" teriak Castor terkejut kala Axton melibaskan Besinya kebelakang mengenai leher wanita itu dan sumpah demi apapun mereka semua langsung lemas kala melihat kepala wanita itu terputus di tempat.
"A..apa dia itu..."
"Putra Fander." sela Vatco menyunggingkan senyuman bahagia. Ia tak salah lagi, Axton memanglah penerus Klan dan pewaris tunggal Miller.
Vote and Like Sayang..