My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Masih ragu!



Setelah kejadian tadi. Axton benar-benar tak bicara lagi, ia enggan membuka mulut apalagi Kellen bersikeras untuk tetap disini dan alhasil ia juga tak mau merusak keinginan Kellen yang terlihat sangat ingin berkeliling.


Ia selalu diam kala tangannya di tarik ke berbagai objek yang ingin Kellen lihat. Dan tentu Kellen merasa tak nyaman dengan suasana canggung ini.


"Ax!" panggil Kellen yang tengah memainkan pasir pantai di bawah kakinya.


Angin lautan luas ini menerbangkan pakaiannya tapi lingkaran jaket Axton ke pinggang Kellen mencegah itu semua.


"Ax!"


"Hm."


"Kau masih marah?" tanya Kellen beralih menatap wajah datar Axton. Pantai ini sunyi dan hanya ada mereka berdua, ntah apa yang Axton lakukan sampai memboyong semua orang keluar dari arena ini.


"Menurutmu?"


"Tapi, apa salahku? Ini tak asik sama sekali." decah Kellen merasa bosan. Ia tak mengira akan secanggung dan sekaku ini.


"Hm."


Axton tetap memilih bungkam memandangi hamparan lautan luas di hadapannya. Air biru itu sangatlah indah dengan pepohonan kelapa yang tegak melengkung.


Tak tahan akan suasana menjengkelkan ini. Akhirnya Kellen memutuskan untuk pergi ke arah bibir pantai.


"Kau mau kemana?" tanya Axton tetapi Kellen hanya diam terus kesana. Ombak sekarang tengah tak bisa di ajak berteman dan itu menyimpan bahaya.


"Selalu saja semaunya! Aku tak bisa tahu apa yang sekarang ada di otaknya." gumam Kellen berdiri memainkan air yang terdorong menyapu kaki jenjangnya tanpa alas itu.


"Kesini!! Kau bisa jatuh!!"


"Hmm." jawab Kellen meniru gumaman Axton tadi. Ia terus memainkan air yang di dorong ombak ke tepi ini hingga Kellen benar-benar asik.


Ia mengubur kedua kakinya di dalam pasir yang dingin sedalam-dalamnya karna bosan dan tak ada yang mau di kerjakan.


"Dinginnya." gumam Kellen merasa segar. Ia berjongkok membelakangi pantai yang sekarang tengah tak baik-baik saja.


"Kelllen!!"


"Lupakan saja. Dia hanya akan merusak suasana hatimu." gumam Kellen terus mengabaikan panggilan Axton yang tengah merasa ada ancaman besar disini.


Kellen tadi mendesak ingin ke pantai dan Axton mau tak mau menyetujuinya. Tapi, tak di sangka wanita ini akan melakukan sesuatu yang di luar kehendaknya.


"Aax! kau pergi saja ke tempat lain. Nanti kau kesini lagi!!"


"Kauu.."


Axton menjeda kalimatnya kala melihat wanita itu tak memperdulikannya.


Kellen masih hanyut bermain pasir membuat Axton benar-benar merasa tak bisa diam di tempat.


"Kau jangan bermain terlalu di tengah."


"Ax! Kau pergi saja, aku ingin sendirian."


Jawab Kellen masih asik bermain pasir. Melihat itu, Axton segera mendekat menarik lengan Kellen kembali keatas.


"Aax!"


"Jangan terlalu ke tengah. Kau bisa hanyut." ucap Axton melihat hamparan lautan ini.


Kellen tahu itu tetapi ia merasa baik-baik saja. Tak ada yang perlu di takutkan disini.


"Hanya disana."


"Bermain di sekitar sini." tekan Axton menajamkan matanya. Alhasil mau tak mau Kellen mengangguk beralih ke pasir lembab yang agak jauh dari air yang tengah pasang surut.


Axton memandangi Kellen bak cctv berjalan membuat wanita itu risih.


"Jalan-jalan apa ini? dia selalu memantauku bak kamera berjalan." gumam Kellen mengubur kakinya dengan pasir lembut itu.


Namun. Mata Kellen melihat ada tempat minum kelapa muda disini dan itu sepi tak ada pengunjung lain.


"Aax!"


"Hm?" Axton mendekat kala Kellen membelakanginya.


Ia menatap ke arah pandangan wanita ini hingga sebuah tempat minuman segar itu terpampang nyata di dekat jalan sana.


"Kau mau itu?"


"Boleh?" tanya Kellen berbalik menatap berbinar Axton yang tak akan bisa menolak jika sudah begini.


"Hm. Ayo!"


"Thank's you." jawab Kellen menurut kala Axton menarik lengannya ke arah Resort yang memang menyediakan berbagai pilihan disini.


Tempat bersantai di suguhkan buah segar itu bisa menggugah selera siapa saja.


"Hello, Miss and Mr!"


"Hello!!!" sapa Kellen kala sudah mendekat kesini. Salah satu pria paruh baya dengan kacamata hitam ini tampak sudah menyiapkan segalanya membuat Kellen sangat kegirangan.


"Spesial untuk anda."


"I..ini.."


Dua buah kelapa segar dengan pahatan cantik itu sudah di ukir diatas nampan yang khas. Kellen tak menyangka akan secepat ini.


"Kebetulan ini Cocolove. Kami selalu menyediakannya untuk para pengunjung yang saling berikatan."


"Woww! Ini cantik." gumam Kellen melihat ada pita berwarna merah dan bentuk Kelapanya sengaja di buat seperti hati.


"Ini sangat spesial! Kami mencampurnya dengan coklat dan roti asli."


Kellen mangut-mangut mengerti Ia tak sabar untuk meminumnya hingga tanpa malu Kellen menghisap sedotan di atas Kelapa ini.


Axton hanya mengulum senyum beralih mengambil bagiannya. Agak sedikit menggelikan memeggang benda ini tapi tak apa jika untuk istrinya.


"Enak! Rasanya manis dan segar. Ada esnya juga, Ax!"


"Hm."


Axton hanya menjawab seadanya lalu membawa Kellen duduk di kursi pantai tepat di bawah pohon kelapa yang melindungi mereka dari sedikit sinaran mentari yang tak terlalu panas.


Disini Kellen menikmati suguhan manis itu. Ia sejenak menikmati pemandangan indah pantai seraya memainkan pasir di bawah kakinya.


"Bagaimana jawabanmu?"


"Ha?" tanya Kellen masih belum paham. Ia sibuk menyesap Cocolove itu sampai benar-benar puas.


"Tentang kita."


"Maksudmu?" tanya Kellen bertambah tak mengerti. Ia semakin sibuk mengamati panorama alam ini membuat Axton menghela nafas halus memainkan sedotannya.


"Kapan kita kau akan menerimaku?"


"Uhuuukk!!"


Kellen langsung terbatuk keras dengan air yang kembali keluar dari mulutnya. Axton terkejut segera mengeluarkan sapu tangan menarik dagu Kellen ke arahnya.


Kellen hanya diam menatap syok Axton. Ia tak menyangka Axton akan mengungkit pertanyaan pagi tadi dan sekarang ia benar-benar kebingungan.


"Kau ingin minum air putih?"


"A.. Apa yang akan ku jawab?"


Batin Kellen merasa kembali gugup. Ia hanya diam memeggang kuat Cocolovenya membiarkan Axton mengelap mulutnya yang basah.


"Ada yang sakit?"


"A.. Aku..."


Axton memijat tengkuk Kellen yang menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga dan itu pertanda ia tengah gugup.


"Aku baik-baik saja."


"Kau yakin?"


Pertanyaan itu di jawab anggukan oleh Kellen yang tak mau memandang wajah tampan Axton.


Melihat kegugupan Kellen. Axton merasa ia harus kembali bersabar, menaklukan wanita ini memang sangat sulit.


"Tak apa."


"Ax!" gumam Kellen kala Axton menggenggam tangannya dengan pasti.


"Aku akan selalu berusaha. Jujur aku tak bisa berlaku romantis dan semacamnya tapi.. Ini saran dari Nicky." gumam Axton jujur. Semalaman ia berfikir seperti ini dan Nicky yang paham soal wanita memberinya satu cara untuk meluluhkan Kellen.


Tapi. Nyatanya cara ini masih belum bisa berhasil dan ia harus berusaha kembali.


"Termasuk jalan-jalan?"


"Yah." jawab Axton membenarkan. Kellen diam memandangi Cocolove yang ada di tangannya. Memang benar Axton tak akan bisa membuat hal seperti ini dan lihat saja, sedari tadi Axton selalu terlihat kaku.


"Seharusnya kau tak perlu melakukan ini."


"Apa terlihat aneh?" tanya Axton mulai berwajah tegang.


"Yah. Tapi tak apa-apa karna kau sudah cukup baik."


"Hanya cukup?"


Tanya Axton karna tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia ingin mengajak Kellen memanjat tebing atau berlarian di hutan tetapi sepertinya itu bukan hal yang baik.


"Hm. Tak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri, aku juga tak tahu harus melakukan apa."


"Apa dia memang tak ada perhatian dengan hubungan ini?"


Batin Axton merasakan nyeri di dadanya. Ia hanya ingin memperbaiki ikatan mereka tetapi Kellen seperti tak mau bersamanya.


Melihat wajah Axton yang suram. Kellen menjadi cemas dan merasa bersalah, ia tengah gugup jadi tak tahu harus bicara apa.


"A..Ax! Aku mau satu lagi."


"Ini." Axton memberikan Cocolovenya ke paha Kellen yang terdiam. apa ia sudah keterlaluan?


"A..Ax! Aku..."


"Ini sudah mau sore. Ayo pulang!" ajak Axton yang sudah tak punya semangat untuk melanjutkan kegiatan ini.


Ia juga merasa kali ini ia gagal dan gagal lagi.


"A.. Ax! Maksudku itu.."


Drett..


Ponsel Axton berbunyi. Pria itu berdiri mengangkat telfon yang masuk.


"Hm."


"Ax! Kau sekarang dimana?"


Dahi Axton menyeringit mendengar suara Nicky yang terdengar panik.


"Ada apa?"


Tanya Axton seraya sedikit menjauh dari Kellen yang hanya diam memandangi lautan sana. Ia asik dengan dunianya sendiri sampai akhirnya Kellen melihat ada sesuatu yang tampak diambang ombak.


"I..itu siapa?" gumam Kellen melihat ada sesuatu di air sana. Seketika matanya terbelalak melihat ada bocah kecil yang tengah berusaha berenang ke tepian di tengah liukan ombak.


"A..Ax itu.."


Kellen tak bisa menunggu Axton yang tengah fokus menelfon. Tanpa pikir panjang, Kellen berlari ke arah air pantai sana dengan nekat terjun ke gebuan gelombang yang naik.


Kellen tak tahu jika ada yang tengah menyelam di dalam sana membawa senjata tajam mengincar tubuhnya.


"Heyy!! Peggang!! Peggang tanganku!!"


Kellen berenang menuju tubuh seorang anak yang sepertinya di tarik ke arah tempat yang lebih dalam. Anak lelaki kecil itu sudah tak mampu menahan tekanan di bawah sana hingga tak sadarkan diri di tempat.


"Bangun!! Peggang!! Peggang tanganku!!"


Kellen berusaha untuk berenang lebih jauh dan ia menyelam untuk mempercepat datang kesana. Namun. ia tersentak kala ada yang menarik kakinya dengan tali yang kuat.


"Ehmmmm!!!"


Kellen berteriak tertahan berusaha memberontak di dalam air. Ia berenang dengan stabil tetapi nyatanya tak hanya ada satu orang tetapi ada 3 yang mendekat kearahnya.


"Siapa mereka?"


Batin Kellen berusaha lepas. disuatu sisi ia harus melepaskan diri dan disisi lain ada anak kecil ini yang tengah menjadi umpan.


Saat kakinya ingin di tarik lebih dalam. Kellen dengan sekuat tenaga menerjang kuat menendang pinggang dan betis salah satu pria itu seraya menarik tubuh anak kecil yabg sudah tenggelam di sampingnya.


"A..aku tak bisa bernafas."


Batin Kellen mulai sulit berenang karna kakinya di ikat. Ia melihat 3 lelaki berpakaian renang itu tengah saking memberi isyarat mendekat kearahnya.


"A..aku..aku harus menyelamatkan anak ini. Dia sudah tak bisa di dalam air."


Sekuat tenaga Kellen berpeggangan ke tali yang masih mereka peggang. Tak bisa membuang waktu lama, Kellen mendorong anak kecil itu ke permukaan untuk meminta bantuan.


"Tolooooong!!!"


Teriak Kellen keras mengambil nafas tapi ia kembali di tarik ke dalam dengan air yang mukai masuk ke hidungnya.


Kesadaran Kellen mulai di ambang-ambang memberontak dengan mencakar bahu seorang pria yang tepat ada di sampingnya.


"Ax!"


Batin Kellen merasa tak bisa bernafas lagi. matanya hanya bisa melihat ada yang terjun dari atas sana beriring dengan tembakan ke arah air.


....


Vote and Like Sayang..