My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Keberanian Kellen



Mentari diatas sana sudah naik kepermukaan. Langit yang kemaren di landa kemendungan sekarang tampak lebih cerah dan cocok untuk aktifitas pagi.


Kesibukan Kediaman Miller menjadi objek fokus utama. Di tengah nuansa emas itu mengitari Barcelona tapi mereka masih saja fokus membersihkan setiap lekuk bangunan mewah ini.


"Apa Nyonya sudah pulang?"


"Aku rasa Nyonya akan pulang pagi ini. Aku harap tak ada keributan apapun lagi."


Perbincangan mereka terkesan lelah. Yagatri yang tengah memantau yang lain-pun terdiam membisu di tempat. Wanita paruh baya itu lagi-lagi menghela nafas halus.


"Kepala Pelayan!!"


Seorang wanita muda terpongoh-pongoh mendekati Yagatri dengan wajah pucat dan seragam kerja yang kusut.


Mereka mulai mengerumuni wanita itu dengan tatapan syok dan tak bisa di percaya.


"Ada apa?"


"A..aku..aku ingin berhenti bekerja."


Yagatri spontan terhenyak. Ia melihat mata sembab wanita muda ini dalam dan sepertinya dia menangis semalaman.


"Apa yang terjadi? Kau.."


"Aku ingin berhenti. Hiks! Aku..aku tak tahan lagi." isaknya memeluk dadanya sendiri. Rambut acak-acakan dan kondisi lebam di lengan dan lehernya itu sudah membuat mereka tahu.


"Kau..kau di bawa keatas?"


"I...Iya. Hiks! Aku..aku takut."


Yagatri terdiam membisu di tempat. Tangannya terkepal menahan emosi yang benar-benar sudah memuncak ruah, tapi apalah dayanya yang hanya bisa melihat dan mendengarkan.


"T..Tolong hiks, tolong aku..aku ingin pergi!"


"Maafkan kami." ucap mereka semua menunduk. Penderitaan seperti ini tak asing lagi bagi para pelayan muda yang selalu di jadikan pelampiasan hasrat birahi majikan mereka.


Isak tangis wanita itu terdengar oleh Kellen yang tadi melangkah ke dapur ingin mengambil makanan. Wanita cantik nan mempesona itu tertarik berjalan cepat ke sana.


"T..Tolong. Hiks! Tolong aku.."


"Ada apa ini?"


Mereka spontan menoleh. Seketika wanita muda itu langsung berlari mendekati Kellen yang terperanjat melihat keadaannya.


"Kau..."


"N..Nona, aku..aku mohon. Aku mohon bantu aku keluar dari sini, hiks!" isakan yang sangat putus asa.


Kellen tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yagatri yang melihat itu langsung mendekat.


"Nona!"


"Ada apa? Kenapa dia seperti ini?" tanya Kellen heran dan prihatin.


"Dia menjadi korban ke sekian dari Tuan Besar."


"Maksudmu?" tanya Kellen tak mengerti. Tuan besar yang mana, sedari semalam ia tak melihat orang lain disini.


Melihat ke tidak mengertian Kellen, Yagatri memberanikan diri untuk bercerita karna selama ini mereka selalu di ancam bungkam.


"Tuan Redomir! Dia sudah kembali dan melecehkan wanita-wanita muda disini. Nona!"


"Apaa???" pekik Kellen syok. Ia kembali memeggang bahu wanita muda ini dengan mata ember memindai semua luka dan seragam yang kusut.


Seketika ia benar-benar mendidih. Tak sepantasnya pria itu melakukan hal keji ini pada seorang gadis belia yang terkesan masih remaja.


"Nona! Kami sudah tak tahan lagi hidup disini, setiap mereka ingin melakukan hal kejam itu maka, kami tak bisa berbuat apapun."


"Iya. Nona! tolong.. tolong bantu kami!!"


Pinta mereka dengan mata berkaca-kaca memandang Kellen sebagai harapan.


"A..aku.."


"Kami mohon!!!"


Kellen tersentak saat mereka membungkukkan tubuhnya tepat di hadapan Kellen yang mundur selangkah karna syok.


Ia memandang Yagatri yang masih berdiri. Namun, dari raut wajah wanita ini, ia juga tengah putus asa.


"Kami mohon!!" ikut membungkuk.


Lagi-lagi Kellen terasa hampa di tempat. ternyata begitu banyak yang menderita disini bahkan, sudah terjadi selama puluhan tahun.


"Kami mohon. Nona!!! Bantu kami!!"


"Jangan begini, berdirilah!"


Segan Kellen menaikan bahu wanita muda yang tadi menghampirinya. Semuanya juga ikut berdiri kembali menatap penuh permohonan pada Kellen.


"Tolong kami! Hanya Nona yang bisa melawan Nyonya besar dan siapapun disini, kami tak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi. Nona!"


"Yahh. Kami..."


"Ada perbincangan apa ini?"


Deggg..


Mereka semua kembali memucat dan merapat ke arah Kellen selayaknya anak ayam. Yagatri diam di tempat memandang benci pada sosok tua yang tampak baru bangun tidur.


"T..Tuan!"


"Kenapa sangat ramai? Kalian ingin mengeroyokku. Hm?"


Tanya pria paruh baya itu. Ia masih memakai Kimono berwarna putih susu menunjukan leher keriput dan dagunya yang turun. Jambang agak panjang itu membuat Kellen jijik.


"Kau siapa?"


"Aku?" ia menunjuk dirinya sendiri. Tatapan mata nyalang Tuan Redomir sangat memindai lekuk tubuh Kellen yang dibaluti Dress Moca selutut tanpa lengan. Pita berwarna coklat tua itu mengikat pinggangnya hingga terkesan sangat manis.


Tak itu saja yang menyebar pesonanya pagi ini. Rambut pirang kecoklatan itu di gulung tinggi memamerkan leher jenjang dan rahang lancip miliknya.


"Apa kau yang melecehkan mereka?"


"Memangnya kau siapa mau mengaturku?"


"Kau ini sudah tua. Tapi, kau sangat tak tahu diri."


"Bicaramu sangat berani. Nona!"


Tuan Redomir berdecih mendekati Kellen memancing rasa takut di hati para pelayan di belakangnya. Kellen masih menjaga jarak dan sangat waspada.


"Kau mau apa?"


"Ntahlah. Kau pikir aku akan apa?" desis Tuan Redomir menaikan alisnya. Kellen melirik pisau dapur yang ada di dekat meja tepat di sampingnya.


Tatapan Tuan Redomir sangatlah nakal dengan langkah maju membuat mereka terdesak.


"Aku ingin memeriksa berapa besar ukuran Beramu!"


"You'r Fucking Shitt!!"


Umpat Kellen dengan cepat menghindar dari tangan Tuan Redomir lalu sigap mengambil pisau di atas meja dan mengacungkannya dengan berani.


"Woww!!!" Tuan Redomir mengangkat tangan waspada kala ujung pisau itu sudah mengarah ke dadanya.


Yagatri mencoba menenangkan para pelayan wanita yang lemas di balik tubuh Kellen yang tak bisa menyembunyikannya.


"Maju satu langkah. Aku akan membunuhmu!"


"Benarkah? Terdengar sangat menakutkan." desis Tuan Redomir belagak takut. Ia yakin Kellen si cantik dan bertubuh seksi ini tak akan berani melukai atau bermain pisau.


Wanita ini terlalu gemulai untuk menebas kulit lawan. Pikir Tuan Redomir yang percaya diri.


"Ayo! Buktikan ucapanmu, Baby!"


"Kau yakin?" geram Kellen bersiaga. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik pria ini. Tangan yang liar dan bisa saja memeggang tubuhnya.


"Bagaimana dengan ini!!!"


"Aaaa!!!" teriak para pelayan sana saat Tuan Redomir maju membuat Kellen nekat dan tak ambil pusing.


Sreett..


Sabetan pisau itu mengenai dada Tuan Redomir yang terkejut setengah mati merasakan luka di kulitnya. Tak mau sia-sia menyerang.


Ntah karna sudah naik pitam atau punya dendam lama, Kellen menusuk perut Tuan Redomir yang melebarkan pupil matanya.


"K..Kauu..."


Kellen diam. Ia tepat berada 1 meter di hadapan Tuan Redomir yang mematung dengan darah berceceran ke bawah.


Pandangan netra ember itu sangat kelap. Gigi Kellen merapat melihat ada bekas kismark panas di lengan wanita muda yang tadi di perkosa pria ini.


"Kau memang pantas mati. Sialan!!!"


"K..Kau..."


Tua Redomir memeggangi perutnya. Kellen menarik pisaunya hingga pria itu tersandar kemeja di sampingnya. Alhasil mereka semua syok melihat itu semua.


"N..Nona! Kau..kau ..."


"Jangan ada yang menolongnya!!" teriak Kellen pada para pelayan yang takut jika Nyonya Verena murka nantinya masalah akan bertambah besar.


"Jika kalian menyentuh tubuh kotor ini. Maka, kekotorannya tak akan hilang walau kalian mandi seribu kalipun." imbuh Kellen sudah tak bisa menahan amarah. Ia wanita dan ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang di lecehkan oleh aki-aki tua ini.


"Nona! Jika Nyonya Verena melihatnya, kami dalam masalah besar."


"Dan kalian takut?" tanya Kellen menatap Yagatri yang terbungkam. Darah yang menetes di pisau itu membuktikan perlawanan yang adil.


"Kalian takut dan itu karnanya dia bebas melakukan apapun."


"K..kami tak berani, jika kami macam-macam bukan hanya kami yang akan ditargetkan. Tapi, keluarga kami juga, Nona!" jawab mereka dengan lirihan tak berdaya.


Mendengar itu Redomir menyeringai puas. Luka ini memang menyakitkan tapi ia suka melihat wajah-wajah tak berdaya itu.


"Yaaah!! K..kalian memang harus takut?"


"DIAM KAU!!!"


Bentak Kellen meludahi Redomir yang menggeram. perlakuan Kellen sangat tak bisa ia terima.


"Mereka sebaya dengan anak-anakmu. Tapi kauuu..."


Kellen menggeleng sungguh tak bisa menerima. Ia kembali memandang wajah para pelayan yang masih belum menghilangkan rasa takutnya.


"Sekarang, apa kalian ingin membantunya?"


Mereka saling pandang membisu. Tak ada yang mampu bergerak termasuk Yagatri.


"Bantulah. Bawa dia ke rumah sakit, obati dan rawat dengan sepenuh hati. Lalu, setelah dia sehat. Sediakan tubuh kalian memenuhi hasrat kotornya. Pergilah!!"


"N..Nona!"


"Ayo!! Bantu dia, bantu!" imbuh Kellen.


Mereka menggeleng membuat Tuan Redomir mengepal. Seringaian Kellen tercipta melempar pisaunya ke arah Wastafel dapur.


"Membunuh parasit seperti ini itu sama sekali tak berdosa."


"Kami percaya pada anda. Nona!"


"Tinggalkan dia disini, jangan ada yang membantunya!" tegas Kellen lalu melangkah ke arah meja makan.


Ia seakan tak ada salah mengambil nampan dan piring lalu menyiapkan makanan. Yagatri menguatkan mentalnya, ia mengiring semuanya kembali bekerja lalu membawa pelayan wanita itu ke kamarnya.


"K..Kau memang sialan!!!"


"Sialan kepalamu!" maki Kellen membalas. ia masih fokus menyiapkan makanan tanpa mengetahui sedari tadi netra elang nan tajam itu tengah memperhatikan gerak-geriknya.


Sudut bibirnya terangkat mengukir lengkungan yang sangat mempesona.


"Kau milikku!"


.......


Vote and Like Sayang..