My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Menahan diri!



Percakapan antara Johar dan Nyonya Verena itu masih di dengar oleh Kellen yang terus mempertahankan tempat persembunyiannya disini.


Ia benar-benar syok. Kala Johar membahas tentang Axton dan pria itu menanyakan apa Axton sudah bisa di ambil alih?


"Seberapa lupa ia dengan masa lalunya?"


"Dia tak ingat apapun. Hanya saja, kita tak bisa mempengaruhinya secara cepat karna dia sudah bergantung pada seorang wanita." jelas Nyonya Verena duduk berhadapan dengan Johar.


Raut wajah datar dan misterius pria ini sangat sulit Nyonya Verena tebak. Johar sangatlah berhati-hati dan setia dengan atasannya Masimo portugis itu.


"Aku ingin menemuinya!"


"Tapi..."


"Kenapa kau melarangku?" tanya Johar menyipitkan mata besarnya. Pria berperawakan India ini tampak curiga pada Nyonya Verena yang tak mau Johar bertindak gegabah.


"Bukan itu. Jika dia melihatmu, kemungkinan besar itu akan memancingnya untuk mengingat segalanya."


"Melihatmu saja dia tak ingat. Apalagi aku. Hm?"


Akhirnya Nyonya Verena pasrah. Ia berdiri dari sofa singel itu, lalu mengisyaratkan Groel agar memimpin jalan ke arah bangunan kecil di samping Kediaman utama.


"Silahkan ikuti saya. Tuan, Nyonya!"


Groel melangkah ke arah pintu samping yang begitu megah dengan ukiran Relief kuno yang antik. Satu mata Johar yang masih berfungsi mengamati segalanya.


"Pantas kau nyaman di Kediaman semewah ini."


"Aku tak akan sia-sia menikmati hasil jerih payahku. Johar!"


Johar hanya menyeringai mendengar itu semua. Ia merasa kembali mengingat masa lalu, dimana dulu ia sangat setia mendampingi Tuan besar disini.


Melihat mereka ingin ke bangunan kecil di samping. Kellen segera berlari mendahului lewat pintu dapur yang memang dekat dengan kamarnya.


"Aku harus sampai duluan!"


"Nona!"


Yagatri yang terkejut kala Kellen berlari bak kesetanan. Tapi, ia hanya bisa diam karna tak mungkin mempersulit wanita itu.


Para penjaga yang melihat Kellen berlari kesini. Saling pandang heran sekaligus merasa panas dingin karna tubuh wanita ini terlalu sempurna untuk di ajak berlarian.


"Jangan memandangnya. Kau bisa di amuk Monster itu."


"Dia tak ada disini."


Jawab salah satunya mencari kesempatan menatap tubuh Kellen yang melewati mereka.


Kellen hanya acuh. Toh mereka hanya memandang tak bisa menyentuhnya, pikir Kellen yang sudah masuk ke dalam kamar.


"Castor!!"


Panggil Kellen kala melihat Castor yang masih duduk di tempatnya. Ia menyeringit kala Axton sudah terbaring diatas tempat tidur dengan mata terpejam seperti tak sadarkan diri.


"Kau..kau apakan dia?" panik mendekati ranjang.


"Dia ingin keluar dan memberontak. Aku tak punya pilihan lain."


"Kau memukulnya??" geram Kellen tapi Castor hanya diam menatap santai Axton yang tak bergeming.


"Pria bernama Johar itu sudah berjalan kesini. Dia ingin menemui Axton."


"Tenang saja. Axton sudah tak sadar, mereka tak akan bisa menanyainya."


Kellen terdiam sejenak. Ia mengusap puncak kepala Axton yang pasti sangat tertekan akan semua ini. Banyak orang yang ingin menjerumuskannya ke lembah hitam itu lagi.


"Buka pintunya!!!"


Suara Groel ada di depan kamar. Castor mengisyaratkan Kellen agar duduk di samping Axton dan tentu Kellen menganggukinya.


"Kau jangan menunjukan jika kau tahu siapa dia?! Tetap pura-pura tak tahu apapun."


"Aku mengerti."


Jawab Kellen memelankan suaranya. Castor segera membuka pintu kamar hingga terlihatlah Nyonya Verena dan Johar yang berdiri di jaga para pria berbadan kekar dan berwajah sangar itu.


Satu mata Johar langsung di hadirkan ke ranjang mini yang hanya muat satu orang. Ntah kenapa ia ingin melihat lebih dekat visual pria ini.


"Dia kenapa?"


"Tadi dia kembali kambuh. Dia ingin menghancurkan segalanya karna menginginkan obat itu, Nyonya!"


Jelas Castor membuat Johar menyeringai puas. Laporan yang Nyonya Verena berikan padanya tentang cara pengendalian Axton memakai obat terlarang itu benar adanya.


"Kau sangat cerdik dan bisa di andalkan. Verena!"


"Aku sudah mengatakannya. Bukan?! Dia tak akan lolos."


Johar mengangguk puas melangkah masuk kedalam. Ia berdiri di ujung Ranjang beralih memindai lebih intens.


Wajah tampan yang sangat berwibawah tapi arogan. Tubuh kekar dan jantan ini sangat pas jika di jadikan pion memimpin Klan mereka.


"Sangat mudah mencuci otaknya. Jika begini."


"Dia tak akan mengingat apapun. Sekarang, ku serahkan padamu." ucap Nyonya Verena menatap penuh kemenagan pada Kellen yang mengepalkan tangannya kuat. Wanita ini benar-benar iblis.


Tatapan Johar beralih pada Kellen. Ia memindai penampilan wanita ini dari ujung kaki sampai puncak kepalanya dan semuanya sangatlah sempurna dan pas.


"Ini yang kau maksud?"


"Yah. Kau mau apakan dia?"


Darahnya mendidih ke ubun kala mendengar suara para bajingan ini. Apalagi, ia bisa merasakan ketidak nyamanan Kellen yang meringsek ke arahnya.


"Apa putramu tak berminat?"


"Dia sudah punya tunangan, kau jangan ikut campur soal itu." ketus Nyonya Verena tak mau Martinez dilibatkan lagi.


Johar menghela nafas halus. Jika Kellen bisa mengendalikan Axton maka itu akan mempermudah rencananya, Masimo pasti juga akan senang mendengar laporan ini.


"Hay. Cantik! Dari mana kau di ambil mereka. Hm?"


Genggaman Kellen menguat ke tangan Axton. Ia tak suka di goda seperti ini dan apalagi Johar seakan merendahkan martabatnya.


"K..kau siapa?"


"Perlu berkenalan. Atau.."


Kellen menghindar kala Johar mengayunkan tongkatnya ingin menekan paha Kellen yang segera merapat ke tubuh Axton.


Emosi Axton benar-benar sudah meledak-ledak. Ia berusaha tak terpancing karna ia tahu Johar hanya ingin membuktikan sesuatu.


Melihat Axton yang cukup tenang. Castor lega karna pria ini tak menggagalkan rencana mereka nantinya hanya karna Kellen.


"Jangan malu. Kau mau ku bayar berapa? Tak perlu terlalu sungkan."


"Kau sudah tua."


Jleb..


Kalimat itu langsung menusuk harga diri Johar yang tercekat. Ia tak menyangka, wanita ini sangat berani mengatakan hal seperti itu tepat di hadapannya.


"Mulutmu sangat terdengar manis."


"Kau siapa? Aku tak mengenalmu." bantah Kellen masih mencoba menjauh. Tatapan tajam Johar membuat Kellen ingin mencongkel satu mata pria ini, bisa-bisanya ada mahluk mengerikan seperti Johar di dunia ini.


"Seandainya aku tak membutuhkanmu. Mungkin, kau tak akan bisa melihat dunia ini esok hari." desis Johar kembali menumpuhkan ujung tongkatnya ke lantai.


Johar kembali menatap Axton yang masih berusaha mengendalikan diri untuk tak menghantam wajah Johar dengan kepalan tangan kasarnya. Pria tua ini adalah awal mula perpecahan di keluarganya.


"Bawa dia ke Markas besar. Besok!"


"Kau mau memulainya?" tanya Nyonya Verena agak heran. Apa tak beresiko melakukan ini terlalu cepat?!


"Kita tak punya banyak waktu."


"Terserah. Yang jelas, aku tak mau mengurusnya lagi."


Johar menatap tajam Nyonya Verena yang bisa-bisanya lepas tangan. Ini adalah konspirasi besar mereka dan tak mungkin saling mengkambing hitamkan.


"Mau bagaimanapun. Kau tak bisa pergi bebas begitu saja, wanita tak tahu diri." desis Johar lalu melangkah pergi.


Nyonya Verena memejamkan matanya mencoba menahan luapan amarah. Sedari dulu Johar selalu menganggapnya bawahan yang bisa di tindas kapan saja.


"Tunggu saja bagianmu."


Geram Nyonya Verena lalu bertolak pergi keluar pintu kamar. Castor melihat keadaan sudah sunyi di depan hingga ia segera menutup pintu itu.


"Syukurlah. Mereka tak curiga."


"Dia itu sangat menjijikan!!" geram Kellen mendengus kasar. Kenapa setiap pria tua di dunia ini sama saja kecuali Daddynya?!


"Kau bertahan saja. Dia tak akan berbuat macam-macam padamu."


"Kalau aku tak mundur tadi. Tongkatnya itu sudah menyibak bagian bawah Dressku, dan kau bilang itu masih normal?"


Castor diam tak dapat lagi membantahnya. Ia tahu Kellen sangat tak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Dan kapan? Kapan aku bisa pulang? Kau bilang kau sudah punya rencana mengembalikan ingatan Axton. Tapi.. Auwww!!"


Pekik Kellen diakhir kalimatnya kala tangannya di remas kuat oleh Axton.


"S..Sakitt. Ax!!" imbuh Kellen melepas paksa genggaman tangan mereka.


Castor menelan ludah kasar melihat Axton sudah membuka matanya dengan sorot mata dingin dan mengeras.


"Kau mau mematahkan jariku. Ha?" umpat Kellen mengibaskan tangannya yang merah.


"Kellen! Sebaiknya kau.."


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Aku butuh kepastian kapan aku bisa pulang?! kau tak bisa menahanku setiap ha.."


Kalimat Kellen langsung terhenti kala rambutnya langsung di tarik kasar hingga terbaring ke atas ranjang.


Tak hanya itu saja. Mata Kellen melebar kala bibirnya langsung di sambar brutal oleh Axton yang sudah meledak menahan amarah dan rasa tak terima itu.


"Ehmmm!!!"


Castor memucat di tempat. Ia langsung pergi keluar tak mau menyaksikan adegan dewasa dan kekerasan ini.


Sementara Kellen. Ia memberontak agar bibirnya jangan di gigit lagi tapi Axton sudah kelut, ia tak suka kalimat itu keluar bahkan jiwanya seketika ingin menjadi iblis di tempat.


"Aaxmmmm!!"


"Aku masih menahan diri untuk tak memilikimu seutuhnya tapi kau selalu memaksaku melakukannya."


Batin Axton berperang dengan jiwa nurani yang tak mau memaksa Kellen. Tapi, sampai kapan ia akan tahan? Wanita ini terus mencoba melebihi batas kesabaran seorang Axton.


.............


Vote and Like Sayang..