My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Pembalasan yang mengerikan!



Kondisi Pelabuhan yang tadi hanya ada para anggota Axton saja, sekarang terlihat berbeda. Para aparat Kepolisian sudah memasang garis polisi pertanda jika tempat ini tak bisa di tempuh sembarangan.


Rombongan Team Medis juga berdatangan mengangkut orang-orang yang terluka akan kejadian ini. Bertanya tentang Kellen, wanita itu sudah di bawa masuk ke dalam Mobil Ambulans bersama Axton yang terluka cukup parah tapi pria itu enggan untuk di tangani.


Ia terus mendesak Team medis untuk menangani istirnya lebih dulu padahal luka bakar di punggung dan lengannya terlihat sangat menyakitkan.


"S..Sayang! B..buka matamu." bisik Axton mengusap lembut pipi pucat dingin Kellen yang tak membuka mata. Ia sungguh takut, bahkan nafasnya tersendat menahan desakan sesak yang membeludak.


Saat Atap itu jatuh. Axton menjadikan tubuhnya tameng bagi Kellen lalu mencari cela untuk keluar dari kapal melawan arus ledakan besar itu. Tapi, Axton tak tahan merasakan Kellen tak merespon keberadaanya.


Raut tak berona Kellen membuat Axton sungguh terluka. Ia tak bisa melindungi wanita ini dan ia sangat benci itu.


"Sayang! A.. Aku mohon, maafkan aku!"


Axton berulang kali mengecup telapak tangan dingin Kellen. Ia tak menangis tapi matanya sudah merah melihat para Team medis menancapkan alat-alat bantu di tubuh Kellen.


Kau pasti kesakitan. Bukan? Aku..aku memang tak berguna. Sayang!


"Tuan! Nona mengalami pendarahan besar dan dia segera butuh pendonor." ucap salah satu Dokter wanita paruh baya yang tadi memeriksa Kellen.


"D..Darah?"


"Iya. Tuan! kami butuh itu secepatnya, dan tak bisa menunda." jawab mereka melakukan injeksi ke lengan Kellen.


Tanpa membantah apapun. Axton segera mengecup kening Kellen lama lalu segera ingin turun.


"Terlambat sedikit saja. Kami mohon maaf jika.."


Bughhh..


Mereka terkejut kala tubuh Dokter laki-laki yang tadi ada di samping rekan Dokter wanita itu terpental ke luar Mobil mengejutkan para petugas keamanan dan Media yang tadi berdatangan.


Dada Axton naik turun menahan luapan emosi yang sudah tak terkira membakar kesabarannya.


"Kauuu!!!"


"Axton!"


Castor yang tadi tengah mengurus anggota yang lain segera mendekat ketika melihat kekacauan ini. Pandangan tajamnya terlempar ke arah pria paruh baya itu.


"Axton! kendalikan dirimu."


"AKAN KU ROBEK MULUTMU!!!" geram Axton menggertakan giginya mendekati pria itu tapi Castor sudah lebih dulu menahan bahunya agar tetap di tempat.


Dalam situasi ini Castor paham jika Axton benar-benar sensitif apalagi menyangkut Kellen istrinya.


"Ax! Setidaknya lakukan demi Kellen." gumam Castor membuat Axton kembali melihat ke arah Mobik dimana Kellen tengah di tangani secara menyeluruh oleh Team Medis yang terlihat berkeringat.


"Berikan yang terbaik!"


"K..kami siap!" jawab mereka gugup segera menutup pintu Ambulan yang di bawa stabil ke arah jalur menuju Rumah Sakit pusat kota yang mumpuni.


Tatapan mata Axton belum terlepas dan enggan sampai Mobil itu benar-benar meninggalkan bayangan padanya.


"Kellen akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat."


"Yah." gumam Axton mengepalkan kedua tangannya. Perasaan marah, benci dan takut itu menyatu membuatnya selalu gelisah.


"Dia memang kuat."


"Ayolah. Lukamu juga sangat parah, Kellen akan mengomel untukmu jika melihat ini." ujar Castor melihat luka bakar Axton yang memang sangat menyakitkan.


Lengannya yang terkelupas dsn punggungnya juga sama. Tubuh kekar itu menjadi incaran para Media wanita yang malah asik melihat Axton.


"Luka ini tak seberapa dibanding rasa sakit yang istriku alami."


"Ax! Ini bukan salahmu, ini di luar kendalimu dan.."


"Jika aku tak meninggalkannya dia tak akan.."


Axton tak melanjutkan ucapannya karna percuma ia menyesali ini karna semuanya sudah terjadi. Sekarang, ia tak akan melepaskan satu orangpun yang membiarkan keringat dingin istrinya menetes keluar.


"Bawa aku padanya."


"Ax! Kau.."


Castor menjeda kalimatnya kala Axton sudah melangkah pergi ke arah Mobil yang tampaknya sudah dijaga dua anggota yang membantu Aparat Kepolisian.


"Tuan! Luka anda.."


"Dimana dia?" tanya Axton tak berniat menutupi luka di tubuh kekarnya. Aparat yang melihat itu hanya diam tak berani menegur karna mereka tahu jika ini adalah orang-orang Miller.


"Dia sudah ada di dalam Mobil yang di bawa ke tepian hutan dekat sini. Tuan!"


"Hm."


"Ax! Kau mau apakan dia?"


Tanya Castor masuk ke Mobil. Tak ada satu patah-katapun keluar dari bibir Axton yang sudah terkatub rapat menahan emosi yang meluap-luap.


"Ax! aku sudah menelfon Hugo, dia sudah menduga Kellen akan kehilangan banyak darah dan sudah membawa Tuan Benet pergi ke Rumah Sakit."


"Bagaimana dengan .."


Axton terdiam. Ia agak kaku menyebutkan hal itu karna rasanya tanpa Kellen ia tak punya keberanian mengakuinya.


"Bayi kalian juga sudah di bawa. Kau tenang saja."


"Hm." gumam Axton menghela nafas sedikit lega. Ia belum melihat anaknya karna tadi semua nyawa hidup dan perhatiannya tertuju lada Kellen yang menakuti hidupnya.


Melihat Axton yang sudah bisa di ajak untuk bicara. Castor segera melajukan Mobil keluar dari area pelabuhan. Ia melewati para Media yang berdatangan membuat keramaian yang sangat di benci Axton.


"Apa yang ingin kau lakukan? Ax!"


"Apa yang pernah dia lakukan pada Kellen-ku." gumam Axton tak menyembunyikan wajah iblisnya. Semua yang membuat orang-orang yang ia sayangi sampai di titik ini, tak akan ia lepaskan.


Mendapati tanggapan mengerikan Axton, Castor hanya bisa pasrah, ia juga sudah tak sabar ingin menguliti pria itu hidup-hidup.


Tak butuh waktu la bagi Castor untuk sampai memasuki Hutan yang sudah di jaga para anggota pengintai mereka.


Terlihat di dalam sana sudah ada kilatan cahaya pertanda disana titiknya.


"Tuaan!!"


Mereka menunduk membiarkan Mobil Castor terhenti tak jauh dari api unggun yang tengah menyala.


Tubuh seseorang tampak tergeletak di dekat kobaran yang menyala-nyala itu dengan tatapan sayu karna ia di ikat kuat disini.


"Lepaaas!!! Lepaskan aku!!!"


Suara itu sudah membuat darah Axton mendidih panas. Ia keluar dari mobil menghadirkan raut pucat Groel yang berkeringat dingin melihat kedatangan sosok ini.


"K..kenapa dia bisa selamat?"


Batin Groel terkejut menyaksikan Axton yang tampak masih berdiri tegap dan gagah mengerikan. Hanya luka-luka bakar itu saja yang mengenainya tapi itu gak mengurangi gejolak kematian bagi Groel.


"A..Axton!"


"Aku tak menyangka jika kau juga terlibat dalam hal ini." desis Castor geram bukan main.


Groel terdiam dengan jantung terasa ingin keluar kala langkah lebar Axton mendekat ke arahnya.


"A..Axton! Aku..aku di paksa, aku.."


Tanpa banyak bicara lagi. Axton menerjang pinggang Groel dengan injakan kaki kokohnya yang begitu kuat membuat pria itu menjerit karna tulang punggungnya patah.


"Aaaaaass Siaaaallaan!!!"


Axton diam membisu. Tanpa belas kasih sedikit-pun ia menginjak kuat lengan Groel sampai berbunyi retakan dan tak cukup di situ saja.


Dengan emosi dan amarah yang menyala-nyala Axton menendang kepala Groel sangat kuat bak hantaman besi bagi pria malang itu.


Para anggota hanya bisa menunduk mendengarkan alunan mengerikan yang sudah biasa terdengar oleh telinga mereka. Tak puas mematahkan tulangnya? Axton beralih menyeret Groel semakin dekat ke Api yang tengah kelaparan.


"T..tidak kau.."


"Berikan!" suara datar Axton hanya menatap dingin Groel yang sudah terlihat antara hidup dan mati.


Dua anggotanya membawa 3 botol minyak mendekat ke arah Groel yang menggeleng pucat. Ia sudah tak bisa bergerak tetapi ini akan sangat mengerikan.


"T..tidak.. Axton aku..am..ampuni aku.."


"Ampun. Hm?" gumam Axton mengepalkan tangannya kuat. Ia yakin Kellen mengalami hal yang lebih buruk dari ini dan ia tak akan melonggar begitu saja.


"Lakukan!" titah Axton mundur.


"Tidaaak!! Jangan.. Aku.. Aku mohon Jangan!!!" jerit Groel kala minyak itu sudah di tuangkan ke tubuhnya hingga kilatan api menyambar cepat membakar tubuh Groal yang memberontak bak kesurupan.


Pembalasan ini masih belum cukup bagi Axton yang ingin melihat Groel merasakan kesakitan yang bisa melebihi apapun di dunia ini.


"Jangan biarkan dia mati secepat itu. Kurung dia di dalam besi yang bisa memanggang tubuhnya." desis Axton melihat Groel menjerit hebat kara api ini membakar begitu ganas.


Bukannya kasihan mereka bahkan menuruti kemauan Axton yang ingin membuat Babi guling disini. Ini adalah Pesta kecil kelahiran putranya.


....


Vote and Like Sayang..