My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kepulangan kembali!



Rembulan yang semalam tengah bersinar di pertengahan langit sana sudah di gantikan dengan kemilau mentari yang tampak menyala terang pagi ini.


Sinarannya cukup menghangatkan dan tak menyengat sama sekali. Tentu hal itu bisa menunjang aktifitas warga New York yang kali ini semakin di landa kesibukan.


Gemeriuh kota yang ramai tetapi sangat maju ini menghantarkan Mobil-Mobil mewah itu ke arah Bandara.


Mereka berbondong-bondong dengan penjagaan yang sangat ketat pada satu Mobil silver mewah yang membawa Nona besar keluarga Miller itu.


Tuan Benet ada bersama rekan lainnya sedangkan Nyonya Verena mendampingi Kellen bersama Baby San untuk pergi menunggu di Bandara.


"Kell! Bagaimana lukamu? Aku rasa ini terlalu cepat untuk keluar."


"Aku baik-baik saja. Mom! Lagi pula Dokter Terry merawatku dengan sangat baik." jawab Kellen seraya melempar pandangan pada Dokter Terry yang ikut duduk di kursi depan mengantisipasi jika nanti ada masalah.


Sedari tadi Kellen tak tenang melihat ke luar jendela. Ia meneliti penampilannya dimana hanya memakai Dress selutut tanpa lengan di lapisi Mantel ringan menutupi bagian dadanya yang menonjol. Bahkan, kancing atasannya sampai terlepas karna tak mampu menahan bobot berat itu. Faktor utama karna Kellen tengah menyusui dan tentu hal itu normal.


Setelah beberapa lama berkendara. Akhirnya mereka sampai di Bandara pribadi milik keluarga Miller yang memang sangat khusus.


Disini sudah banyak anggota yang berjaga mengejar ke arah Mobil mereka yang terhenti tak jauh dari tempat mendarat pesawat di depan sana.


"Mom! Aku berjalan saja."


"No! Naik kursi roda."


"Mom! Aku tak mau merepotkan kalian." gumam Kellen merasa tak enak. Nyonya Verena hanya tersenyum kecil keluar dari Mobil seraya menyuruh para anggota untuk mengeluarkan kursi roda.


"Aku saja."


"Dad!" gumam Kellen tak enak kala Tuan Benet yang mengeluarkan Kursi rodanya lalu membantu Kellen keluar dengan Baby San sudah beralih ke tangan Nyonya Verena.


Sedikit terasa nyeri karna tertekan tetapi Kellen tetap duduk seperti biasa dengan bantuan Dokter Terry yang siaga.


"Apa Pesawatnya sudah berangkat?"


"Dalam perjalanan kesini. Nona!"


Jawab para anggota membuat pola penjagaan yang ketat. Mereka tak mau kecolongan lagi dan bisa-bisa kali ini tak ada toleransi.


Setelah beberapa lama mereka menunggu. Akhirnya suara deru angin dan operator Bandara ini mulai berkumandang membuat Kellen tak sabar ingin melihat ke depan.


"Disini saja. Kau tak boleh terlalu dekat."


"Disitu saja. Dad!" gumam Kellen menunjuk ke arah pembatas lapangan. Alhasil Tuan Benet menurut mendorong kursi roda Kellen ke arah pembatas area landasan.


Mata mereka berbinar kala melihat Jet pribadi yang membawa Axton itu sudah menurun ke arah landasan dimana para Staf segera mengarahkan.


"Baby! Itu Daddy sayang." gumam Kellen pada Baby San yang ada di gendongan Nyonya Verena.


Mereka menunggu sampai Pesawat itu mendarat sempurna dengan angin yang terasa lumayan kencang menerbangkan pakaian mereka.


Para anggota bergerak mendekat ke arah pesawat memenuhi bagian depan Kellen membuat wanita itu sulit melihat ke depan.


"Mom! Aku ingin kesana."


"Disini saja. Axton bisa marah nanti."


"Tapi, aku tak bisa melihat ke sana." gumam Kellen susah bergerak. Tuan Benet hanya bisa tersenyum melihat bagaimana tak sabarannya ibu muda ini.


"Mereka telah turun. Tunggu saja disini."


"Benarkah?" gumam Kellen bersemangat. Ia menunggu seraya terus melihat para anggota yang tampak berbicara dengan mengurai barisan.


Seketika mata Kellen berbinar melihat 3 sosok pria yang turun dari Pesawat mendekat kesini dengan kacamata hitam dan Jaket yang sangat keren itu.


Fokusnya tertuju pada seorang pria yang memiliki bentuk tubuh kekar nan tinggi apalagi ia punya khas sendiri dalam berjalan.


"Aaaax!!!" teriak Kellen melambaikan tangannya tak perduli tatapan malu para anggota dan Nyonya Verena yang ikut senang.


Melihat Kellen yang menyambut kepulangannya, Axton segera mempercepat langkahnya. Ia melepas kacamata menatap tajam sosok yang sekarang sanga ia rindukan.


"Ax! Sinii!!!"


"Kenapa kau keluar Rumah Sakit?" tanya Axton menatap cemas Kellen yang membuka rentangan tangannya.


Dalam sekejap Axton sudah berjongkok lebih dulu masuk dalam pelukan hangat wanita ini membuat mereka menghangat.


"Ax! Aku sangat mencemaskan-mu."


"Aku tak apa. Kenapa kau keluar? Ini baru saja beberapa hari." ucap Axton mengusap kepala Kellen lembut.


Baby San juga tampak sehat padahal seharusnya masih belum boleh keluar. Tatapan tajam Axton menghunus Dokter Terry yang segera gelagapan.


"Tenang saja, Tuan! Nona dan Tuan kecil sudah memenuhi semua syarat untuk keluar, kami akan terus memantaunya."


"Bagaimana dengan lukamu? Kau jangan seenaknya saja." cemas Axton kala melihat Kellen masih sedikit pucat. Itu hal biasa karna butuh masa penyembuhan dan pemulihan selepas melahirkan.


"Nona berjanji jika hanya keluar sebentar, kami berusaha untuk tetap menjaganya. Tuan!"


"Kau ini.."


"Suutttt!!" Kellen membekap mulut Axton yang membuat kepalanya pusing. Ia tak mau merusak suasana yang ia bangun sejak tadi.


"Aku baik-baik saja. Ok?"


"Kau belum sepenuhnya sehat. Bagaimana jika lukamu terbuka dan kau masuk ke ruangan itu lagi? Kau ini kenapa sangat keras kepala. Ha?" peringat Axton kesal bukan main.


Bukannya minta maaf Kellen hanya memberi cengiran kuda menggemaskan itu membuat Axton tak bisa menunjukan wajah galaknya terlalu lama.


"Ayolah. Ax! Aku belum sembuh tapi kau sudah marah-marah."


Mendengar itu Kellen memekarkan senyumannya menarik leher Axton untuk melabuhkan kecupan ke bibir pria itu. Kellen tak lagi malu karna ia sudah biasa.


Namun. Nyonya Verena merasa aneh saat ada sesuatu yang janggal di depan sana. Ia merasakan jika ada aura kehadiran seseorang yang membuat matanya mencari.


"Ax! Bagaimana dengan tujuanmu?" tanya Nyonya Verena terlihat sangat menunggu.


Axton terdiam sesaat saling pandang dengan Kellen yang juga menatapnya penuh tanya.


"Apa Kakakku.."


"Hm." gumam Axton melirik ke arah Castor dan Nicky yang mengangguk. Mereka menatap kebelakang seraya menyingkir untuk memberi jalan pada sosok yang tampak mulai melangkah mendekat ke arah sini.


Nyonya Verena mematung kosong menatap tak berkedip pada sosok tak terurus ini. Dadanya terbungkam sesak dan sangat perih.


"I..ini.."


"Dia Tuan Fander."


Deggg..


Bukan hanya Nyonya Verena yang terkejut tetapi Kellen dan semua anggota yang tadi disini juga sama. Mereka dengan cepat membungkuk memberi penghormatan membuat Kellen ikut merasa segan.


"K..Kakak! Kau.. Kau..m..masih hidup?" tanya Nyonya Verena bergetar segera menyongsong ke arah Tuan Fander yang tampak menatap mereka dengan pandangan yang datar.


Manik elang itu terlihat bernostalgia pada masa Kepemimpinannya dulu.


Nyatanya sudah banyak yang berubah? disini penuh aura kehangatan.


"K..Kakak. Hiks! I..ini kau?"


"Tuan!"


Para anggota lain ikut merasa terharu. Mereka tak menyangka sosok besar yang membangun jalinan Klan itu masih berdiri setegap ini.


Air mata Nyonya Verena lolos kala melihat penampilan Kakaknya sudah jauh berubah. Apa ini dampak besar kematian Nyonya Dezee?


"K..Kak."


"Hm. Kau terlihat baik-baik saja." ucap Tuan Fander langsung mendapat tepukan kecil di bahunya oleh Nyonya Verena yang tak mampu membendung isak tangisnya.


"Kak! Kau..kau kemana saja? Aku sangat memcemaskanmu."


"Berhentilah menangis." gumam Tuan Fander beralih pada si kecil yang tengah menatapnya dengan pandangan datar di gendongan Nyonya Verena.


Tuan Fander sangat terbongkem akan pahatan mungil ini. Ia seakan melihat Axton kecil di dalam gendongan istrinya dulu.


"K..Kak ini.. Ini putra Axton, dia..dia cucumu. Kak!"


"Cucu?" gumam Tuan Fander tampak tak menyangka. relung hatinya menghangat seakan mempunyai semangat kembali melihat secercah harapan malaikat kecil ini.


"Kak! Ini anak Axton dan menantumu, dia...dia disana!"


Nyonya Verena berbalik menunjuk ke arah Kellen yang masih diam melihat ke arah Tuan Fander. Ada aura yang jelas sama dengan Axton membuat ia tunduk dan sangat menghormatinya.


"A.. Aku.." Kellen merasa segan duduk begini hingga ia ingin berdiri tapi Axton menahan pahanya.


"Ax?"


"Duduk." titah Axton tegas tetapi Kellen memelas. Ia segan pada Tuan Fander yang tampak sangat misterius. Kellen tak mau memberi kesan sombong saat pertama bertemu.


"Ax! Itu Daddymu, tak mungkin aku duduk saja."


"Tak apa. Dia juga tak ada niatan untuk kembali." jawab Axton membuat mereka semua diam kecuali Kellen yang masih belum mengerti bagaimana suasana hubungan Axton dan Ayah mertuanya.


"Ax! Jangan bicara begitu, buktinya dia kembali."


"Cih." decah Axton terlihat membelo jengah. Ia enggan berbalik melihat Tuan Fander yang tampak menarik sudut bibirnya kecil.


Suasana menjadi kaku kala Axton tak mau memperkenalkan Tuan Fander pada Kellen yang juga tak bisa melakukan apapun untuk bersosialisasi.


Ia di batasi Axton yang tak ingin Kellen dekat-dekat dengan Daddynya.


"Jangan sentuh anakku sebelum kau membersihkan dirimu."


"Aax! Kau.. " desis Kellen tak suka akan ketidak sopanan ini.


Axton masa bodoh. Ia memilih mendorong kursi roda Kellen kearah Mobil seakan tanpa beban meninggalkan putranya dengan Nyonya Verena.


"Kak! Kau tahu, Axton itu cemburu pada putranya sendiri."


"Aku tahu." gumam Tuan Fander kembali melihat Baby San yang tampak mulai menggeliat gelisah kala Kellen sudah ada di bawa pengaruh Axton.


Rengekan kecil itu terdengar membuat Kellen yang ada di dekat Mobil sana mulai cemas.


"Ax! Baby menangis."


"Biarkan saja." acuh Axton menggendong Kellen untuk masuk ke dalam Mobil. Ia tak mau Iblis kecil itu mengganggu momen bersama kesayangannya lagi.


"Ax! Sebentar saja, nanti aku kembali."


"TIDAK. Kau mengerti?" tekan Axton menutup pintu Mobil dengan rapat. Ia tak memberikan sedikit cela apapun hingga akhirnya tangisan Baby San melengking hebat membuat Kellen gelagapan.


Mau tak mau Axton tetap kalah karna Kellen memelas agar membiarkan Baby San untuk semobil dengan mereka.


...


Vote and Like Sayang..